
Hari pertama masuk kerja. Ya, inilah akhirnya aku diterima kerja meski bukan di PT. Rivan Gemilang setidaknya aku bisa bekerja di luar.
"Diterima di Rivan Gemilang, Sha?" tanya mama.
"Bukan, tapi ditempat lain, Ma."
"Yakin ada yang mau nerima kakak?" Fira mendelik, aku mengangguk mantap.
"Udah, aku takut telat," sahutku kemudian berlari keluar.
"Sarapan dulu, Sha!" Mama berteriak.
"Gak usah, Ma. Alesha udah bawa sarapan." Paling disuruh sarapan susu doang. Mana bisa, sejak rajin nge gym makananku memang sangat diperhatikan. Aku selalu makan sayuran dan protein tapi bukan makan sedikit mungkin. Aku tidak sanggup mengikuti diet dari mama.
Aku masuk ke ruangan Mbak Laras, bagian keuangan.
"Pagi Mbak." Ternyata seniorku sudah datang lebih dulu.
"Iya, nih tolong kamu fotocopy kan, ya." Mbak Laras menunjuk beberapa berkas di depannya tanpa matanya berpaling dari komputer. Aku agak keder juga. Dia sepertinya sangat kompeten sekali, padahal ini belum jam kerja masih 10 menit lagi, tapi di sudah standby di depan komputer.
"Iya Mbak, aku fotocopy dulu." Aku pun menutup pintu ruangannya dan mencari mesin fotocopy.
Setelah celingukan, akhirnya ketemu juga. Ternyata sudah ada yang memakai duluan, jadi aku ngantri di belakangnya.
"Anak baru?" tanya Mbak mbak di depanku.
"Iya Mbak." Aku tersenyum.
"Oh, nih tolong sekalian kamu fotocopy kan ya, aku mau ke dapur ambil kopi sebentar." Dia pergi begitu saja meninggalkan mesin fotocopy yang masih menyala. Aku bingung, belum sempat menjawab si Mbaknya udah pergi begitu saja.
"Huh, terus ini mana yang mau di fotocopy?" Aku bergumam sendiri sambil membolak-balikkan berkasnya. Mana banyak sekali.
Lima belas menit kemudian, aku sudah memfotocopy semuanya. Kini giliran dokumen dari Mbak Laras.
"Lho, kenapa kamu fotocopy semuanya? tanya Mbak tadi dengan nada tinggi.
"Emang Mbak tadi menyuruhku fotocopy yang mana?"
"Seharusnya kamu juga mikir dong, gimana dong? Awas saja kalau Pak Marvin tahu, abis kamu." Dia pergi meninggalkanku.
"Aneh," kataku sambil menggaruk kepala. Ada saja tingkah aneh orang-orang disekitar kita.
Selesai memfotocopy aku balik ke ruangan Mbak Laras.
"Lama sekali, ngantri ya?" Ekspresinya masih sama, tidak berpindah dari layar komputer di depannya.
"Iya Mbak."
"Kirain dikerjain sama teman-teman di luar, biasanya mereka jika anak baru di perbudak."
"Nggak kok, cuma ya ada sih tadi yang minta sekalian di fotocopy kan." Aku duduk di tempatku.
"Lain kali cuekin aja, kalau kamu main mau mau aja, gempor kamu." Ya, meski cuek Mbak Laras ini perhatian juga.
"Mbak, aku bolehkan sarapan dulu, tadi belum sempat?" Mbak Laras berhenti sejenak dan melirik arlojinya.
"Karena kamu tadi masuknya sebelum jam kerja, jadi nggak masalah deh kamu sarapan aja, tapi cepat." Aku mengangguk langsung membuka bekalku.
Selesai makan aku di panggil Marvin ke ruangannya.
Tok… tok…
"Masuk." Aku membuka pintunya.
"Duduk!" Marvin juga duduk.
"Ada apa?"
"Enggak, cuma mau tanya, kamu masih sering nge gym 'kan?" Aku mengerutkan dahi, kenapa di kantor dia masih membahas hal tersebut.
"Iy-iya masih kok, kenapa?"
"Bagus, tapi kamu jangan keras-keras dietnya." Aku tersenyum dan berkata, "Terima kasih."
"Yups, kamu boleh ke ruanganmu." Hah, seorang Marvin hanya bertanya sesuatu yang nggak penting-penting banget.
"Tunggu! Nanti makan siangnya bareng." Ku acungkan jempolku. Entahlah, aku merasa nyaman dengan Marvin meski belum kenal lama tapi rasanya sudah dekat.
"Kenapa senyam-senyum begitu keluar dari ruangannya Pak Marvin?"
"Nggak ah, siapa sih Mbak yang senyum." Aku malu melanjutkan pekerjaanku kembali.
Jam istirahat siang telah tiba. Sesuai janji aku dan Marvin memilih makan keluar. Kali ini dia memilih restoran jepang. Katanya disana ada makanan sehat. Aku nurut saja apa maunya.
"Sha, ntar pulang kerja langsung nge gym yuk!" Hampir saja makanan yang berada di rongga mulutku keluar saking kagetnya.
"Hah, nanti?" Dia mengangguk. Aku berpikir sebentar. Mungkin lebih baik daripada diikuti Fira.
"Oke deh, tapi aku nggak persiapan bawa baju."
"Gampang, ntar kita beli dulu." Jawabnya dengan enteng.
"Tuh, tugasmu hari ini, aku nggak bisa sampai sore, kamu sendirian tolong handle ya," kata Mbak Laras.
"Iya Mbak." Aku menuruti perkataan Mbak Laras. Selepas Mbak Laras menutup pintu, aku tidak langsung fokus ke pekerjaanku. Aku malah memikirkan Marvin.
"Beneran dia akan mengajakku nge gym bareng?" gumamku lirih. Aish, segera kutepis pikiranku yang sudah mulai kemana-mana.
Jam 5 sore pekerjaanku sudah beres semua, saatnya pulang.
"Gimana kamu siap?" tanya Marvin.
"Oke deh." Kami pun meluncur ke tempat fitnes.
Sejak saat itulah aku dan Marvin mulai sering fitnes bersama tanpa diikuti oleh Fira lagi dan yang lebih membahagiakan Fira semakin sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untuk menggangguku.
"Sha, gimana pekerjaan kamu?" Tumben Mama menanyakan pekerjaanku..
"Baik Ma," kataku singkat.
"Berat badan kamu Mama lihat juga sedkit berkurang." Aku mengangguk, sejujurnya aku ingin Mama meneriakiku untuk olah raga dan menyiapkan menu diet yang membuatku seakan mati kelaparan. Tapi tiga bulanan ini mama agaknya sibuk dengan Fira yang kudengar dia akan memulai di agensi barunya dikota besar.
Mama dan Fira akhirnya berangkat ke kota, sedang aku ditinggal sendiri di rumah. Sepi juga rasanya. Jika ada Fira pasti rame meskipun ya paling mengejekku. Tapi bila sepi begini malah kaya kuburan.
Tiga bulan kemudian…
Mama semakin sibuk mengurusi Fira yang katanya dia mendapat job baru yang fantastis. Mama mulai cuek dengan penampilan diriku.
"Ma, aku tadi sudah nimbang lho." Aku mendekati mama yang sedang masak. Mama hanya tersenyum sekilas dan melanjutkan lagi masaknya, tidak ada kata selamat untukku meski hanya turun 3 kilo saja, tapi mama sudah tidak excited beliau terlalu sibuk dengan anak kesayangannya.
"Mama nanti akan keluar kota sebentar, Sha. Kamu dirumah sendirian nggak masalah 'kan?" Aku mendengus kesal. Sebenarnya aku tidak suka di rumah sendiri tapi mau merengek malu.
"Iya nggak papa, Ma," lirihku sambil minum jus jeruk di depanku.
"Mama berangkatnya nanti."
"Iya Ma."
Aku berangkat kerja tidak ada semangatnya. Meski aku dan Marvin dekat tapi kami hanya sebatas atasan dan bawahan serta teman fitnes saja. Mau menghubungi Salsa, tapi dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Melamun aja pagi-pagi." Mbak Laras menggebrak lirih mejaku.
"Hehe, nggak kok Mbak, cuma kesepian aja."
"Marvin kemana?" Mbak Laras melirikku. Mbak Laras memang tahu kedekatanku dengan Marvin.
"Apaan sih Mbak Laras, diakan juga sibuk," kilahku.
"Tapi sepertinya dia perhatian banget ya sama kamu?" Aku malu mendengar penuturan Mbak Laras.
"Mbak Laras terlalu cepat menilai, mana mungkin Marvin tertarik dengan si Big begini. Dia itu tampan lho Mbak." Aku tidak mau berandai-andai dengan Marvin. Dia itu punya segalanya tidak pantas bersamaku yang sering dikatai gembul, gentong, gendut, truck tronton. Alah banyaklah sebutanku didunia ini.