Miss In 80 Kg

Miss In 80 Kg
Diabaikan



Mama hari ini pulangnya telat sedang Fira entah kemana dia sudah pergi lagi dijemput cowok yang tadi mengantarnya. Alhasil hanya Aku saja di rumah sendiri sebagai penunggu setia dari pagi hingga pagi lagi.


Tok… tok… tok… suara ketukan pintu tengah malam mengagetkanku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam lebih. Apa mama jam segini baru pulang?


Tok… tok… tok… kembali pintu diketuk, bikin malas saja. Bukankah semua orang rumah punya kunci cadangan? Dengan malas aku berjalan ke depan melihat siapa yang datang.


"Astaga, Fira!" teriakku. Kulihat adikku berdiri di depan pintu, kelihatannya habis minum bareng temannya. Untung saja yang buka pintu bukan mama, jika beliau bisa berabe jadinya. 


"Ayo, masuk!" Kutarik tangannya dan segera kukunci pintu kembali. Aku sempat menengok kamar mama, ternyata tidak nyala lampunya, artinya mama tidak pulang hari ini. Syukurlah, aku bisa bernafas lega. Setidaknya mama tidak tahu kelakuan anak kebanggaanya.


"Kamu ini apa-apaan sih,Fir." Aku melepaskan sepatu dan tasnya. Fira hanya diam tak menjawabku, matanya terpejam.


"Jawab Kakak dong!" sungutku. Oh, rupanya bocah itu sudah tidak sadar sama sekali, tapi siapa coba yang bawa pulang? Tidak mungkin kan dia bisa pulang sendiri. Ah, itu tidak penting. 


"Fir, woe bangun!" Kuletakkan segelas susu hangat dan beberapa potong roti bakar. Fira membuka sedikit matanya.


"Fir!" kataku agak keras. 


"Iya, iya aku dengar kok, bawel." Fira bangkit dari tidurnya, keadaan sungguh berbeda dari Fira biasanya. 


"Kamu tadi malam habis diantar siapa?" tanyaku, dia melirik ke arahku sekilas.


"Temen aku." Dia mengambil susu dan meminumnya. 


"Untung aja Mama nggak ada, kalau ada bisa habis kamu!" 


"Hehehe, aku tahu keles, mama itu kemarin sama hari ini nggak pulang, ada peninjauan proyek di luar kota." Penjelasan Fira membuatku tak mengerti, kok aku nggak dibilangin sih? Mungkin saja lupa.


     Fira sudah berangkat ke kampusnya, aku sendiri lagi di rumah. Melihat kebutuhan dapur dan kamar mandi mulai habis, aku ingin berbelanja bulanan. 


"Ini tinggal sedikit," gumamku sambil terus mencatat keperluan apa saja yang perlu dibeli.


     Aku menyambar sweater warna marun dan memakai sepatu kesayanganku meluncur ke pusat perbelanjaan di kotaku. Mungkin karena hari ini hari kerja, suasana mall memang tidak sepadat jika liburan. Aku bisa memilih apapun tanpa harus mengantri dengan orang lain. 


"Totalnya delapan ratus ribu lima ribu, Kak." Kuserahkan sejumlah uang tunai ke kasir. 


     Setelah puas belanja, aku jalan-jalan sebentar dan mampir beli siomay di dalam mall. 


"Alesha, lagi dimana?" sebuah pesan singkat masuk notifikasi handphoneku. Dari Salsa, sahabatku dari sekolah dulu.


"Aku lagi ngemall, kamu dimana, lagi libur nggak?"


"Tanyanya satu-satu bisa,Buk. Haha iya nih aku libur, otw tunggu aku." Iseng-iseng aku membuka notifikasi di novel onlineku. Wow jumlah pembaca ku bertambah, itu artinya pendapatanku juga bertambah.  Aku tersenyum membayangkan pendapatanku akan bertambah.


"Permisi, saya bisa gabung di sini?" Aku menoleh kepada dua gadis yang diperkirakan usia SMA.


"Ya, silahkan." Aku agak geser tempat dudukku agar muat dua orang.


"Nggak muat," bisik salah satu gadis itu. Sedang temannya hanya melirik tak suka. Daripada ribut, aku beranjak dari tempat itu. 


"Silahkan, temanku sudah datang." 


"Akhirnya, truk tronton sudah pergi." Gadis itu cekikikan, aku menoleh ke arahnya. Seketika keduanya terdiam. Sebenarnya hatiku tidak terima tapi aku malas ribut masalh berat badan lagi. 


"Alesha!" teriak Salsa dari kejauhan.


"Hai." Kulambaikan tanganku agar dia berjalan kesini.


     Kami pun mencari makan dulu.


"Gimana udah coba ngelamar kerja belum?" Aku menggeleng.


"Belum ada yang diterima." 


"Tapi nulisnya lancar?" 


"Alhamdulilah lancar sih, cuma kadang gemes juga." Aku masukkan beberapa potong kentang ke mulut.


"Pasti nyokap sama Fira 'kan?" Aku mengangguk mantap.


"Eh, tunggu kamu masukin lamaran ke kantor nyokap kamu 'kan?" 


"Iya sih, tapi tau nggak aku sama sekali nggak diterima." Salsa menatapku heran.


"Kenapa?" Aku menunjuk perutku.


"Hubungannya apa?" tanya Salsa lagi.


"Mana gue tau, katanya sih mama malu kalau aku bekerja disana, masak iya mama punya anak gajah." Aku merengut. Salsa memegang tanganku. Senyum ceria menghiasi wajahnya.


"Kamu nggak usah kecil hati gitu, lagian gak semua pekerjaan kok perlu badan ideal, kadang malah kaya kamu gini bikin orang iri loh." Salsa menatapku dalam.


"Iri gimana coba, cuma orang bodoh yang iri sama aku."


"Irilah, kamu di rumah bisa dapat uang sedang kita-kita harus keluar rumah, antri sana sini." Aku menghentikan makanku. Benar sih yang dikatakan Salsa, aku hanya di rumah tanpa keluar uang sudah bisa menghasilkan, tapi kata mama dan Fira aku hanya makan tidur saja. Itulah adalah satu alasanku untuk tetap melamar pekerjaan di kantoran, agar terlihat aku bekerja.


"Udah gak usah dipikir dalem, lanjut makan lagi," kata Salsa menyadarkan aku dari lamunan hidup yang keras.


"Sha, ngomong-ngomong kamu sudah kenyang belum?" 


"Udah, kenapa?"


"Boleh aku pesan lagi, masih lapar." Dia nyengir kuda.


"Okelah, pesen aja, nanti aku yang traktir." Aku heran dengan Salsa, makan saja banyak tapi mengapa kok badannya bisa bagus gitu. Sedang aku, berusaha makan sesehat dan seirit mungkin, badan masih saja kaya buletan donat. 


      Hari sudah sore, matahari telah condong ke barat. Aku pulang membawa belanjaanku. Sampai di rumah masih sepi, tak ada penghuni. Kutata semua belanjaanku dan aku gegas ke kamar mau istirahat dan menambah bacaanku.


"Kak, buatin jus ya." Tiba-tiba Fira berteriak di depan kamar.


"Kakak capek, kamu sendiri gimana?" 


"Kakak aja deh." Fira membuka pintu kamarku.


"Fir, aku capek." Aku ketus kepadanya.


"Dih, kakak, di rumah aja kok capek."


"Aku habis belanja." 


"Udah deh kak, nggak usah alesan, buatin jus aku tunggu di depan tv." Fira berlalu begitu saja. Aku mendengus kesal, kenapa sih dia seperti itu. 


     Aku melangkah ke dapur, terdengar suara riuh dari ruang tamu. Kuintip siapa yang datang, ada teman mama dua orang. 


"Eh, itu siapa namanya?" tanya salah satu teman mama yang berambut pirang. 


"Itu Fira," jawab mama dengan menarik tangan Fira mendekat.


"Lho, katanya anak kamu dua, satunya mana?" Mama tak langsung menjawab.


"Ada." Hanya itu saja jawabannya.


"Ini 'kan yang jadi model itu ya?" tanya tante satunya lagi.


"Iya tante." Fira terlihat senang ada yang mengenali sebagai model. 


"Fir, panggil kakakmu suruh bikin minuman." Mama menyenggol Fira dan ia pun langsung bergerak ke arahku. Sebelum ketahuan aku segera berjalan ke dapur.


"Kak, suruh bikin minum buat temen mama." Aku mengangguk. Kutuang jus jeruk ke tiga gelas. Setelah semuanya siap kuangkat nampan ke ruang tamu.


"Lho ini siapa, Ndun?" tanya tante berambut pirang. Ku letakkan gelas satu persatu. 


"Alesha." Singkat sekali mama menjawabnya. 


"Kakaknya Fira?" Kedua tante itu saling senggol. Pasti bila bukan di rumahku mereka akan tertawa kencang


"Iya, ayo silahkan diminum dulu." Aku seperti tak dianggap, aku pun berlalu dari situ. Sedang Fira bergabung ngobrol bareng tante-tante itu. Kelihatannya sih seru sekali tapi aku malu untuk bergabung apalagi mama seperti tidak mengharapkanku.