
Aku kembali ke kamar melanjutkan aktivitasku daripada mendengar mereka bergosip ria. Masih terdengar suara obrolan mereka dan sesekali diiringi dengan cekikikan sambil menyebut-nyebut gajah. Ah, biarkan saja mungkin bukan aku yang dibahas, aku nggak boleh baper.
"Okelah, hari ini lima bab cukup deh," kataku. Kurenggangkan tubuh ini. Terdengar dari luar masih ada suara cekikikan mama dan teman-temannya. Sudah jam 6 sore mereka belum juga pulang.
"Kak… " Suara Fira memanggilku.
"Iya, Fir, ada apa?"
"Aku sama Mama mau keluar makan ikut nggak, kata Mama kamu boleh makan selain makanan diet." Aku sih mau mau saja, tapi kalau sama mama sama teman-temannya kayaknya aku lebih baik nggak ikut deh.
"Gimana?" tanya Fira dari luar.
"Nggak usah deh, Fir. Aku makan di rumah aja."
"Ya udah, nanti bukain pintu ya kalau kita pulang."
"Nggak mau." Aku masih melanjutkan aktivitasku menulis. Tiba-tiba terbersit secercah pikiran untuk berdiet agar bisa lebih sehat dan lebih enak juga dipandang, tapi selalu saja masih gagal.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berderu meninggalkan rumah. Ya begitulah, aku minder kalau harus bersama teman-teman mama. Pasti kalau pulang aku akan diomelin karena makan banyak.
Pagi menyapa, sengaja aku bangun agak siang, jam 6.
"Aduh Alesha, kok baru bangun sih?" Mama sudah sibuk di dapur.
"Maaf, Ma, Alesha ngantuk banget, semalam pulang jam berapa?" Aku duduk menunggu mama masak sarapan untuk kami.
"Jam 12, kita gedor-gedor kamu malah diem aja." Haha, dalam hati aku ingin tertawa. Memang sengaja aku tidur lebih awal.
"Ajak adikmu sarapan, tau nggak kemari itu Fira dapat tawaran lagi." Wajah mama bersinar bila menceritakan hal baik tentang Fira. Aku sih cuek saja bangkit ke kamar Fira.
"Fir… "
"Masuk aja." Aku membuka pintunya. Astaga, kenapa berantakan sekali kamar ini.
"Kok berantakan gini sih?" Fira menoleh kepadaku.
"Aku nanti ada photoshoot Kakak, aku milih baju yang bagus." Fira meneruskan mengacak adul seluruh isi lemarinya. Aku bengong melihat aksinya tersebut.
"Kak," kata Fira setelah selesai berdandan.
"Tolong nanti kakak beresin ya."
"Ogah banget deh, beresin aja sendiri." Alu memajukan bibirku.
"Bener kata Fira, kamu bereskan aja deh, Sha." Mama nemimpali kami berdua.
"Tuh, dengerin mama, lagian Kakak juga nggak kemana-mana 'kan?" tanya Fira seperti meledekku.
"Atau Kakak jadi asistenku saja, gimana?" Darimana dia dapat ide gila seperti itu, masak aku jadi asisten ini bocah.
"Gimana Sha?" tanya mama.
"Nggak mau ah."
"Lah daripada nganggur di rumah cuma makan tidur lebih baik to kalau bekerja. Jangan numpang hidup mama terus," cetus Fira. Mama menatapku beberapa saat.
"Kamu bantuin adek kamu tuh, itung-itung buat beli skincare kamu sendiri, udah gendut kusam lagi siapa yang mau, Alesha." Aku hanya diam tidak mau menjawab. Benar juga sih perkataan mama, tapi kok ya langsung nyeplos di depanku kaya gitu.
"Tapi, Ma." Aku masih berat bila harus menjadi asistennya Fira. Bisa jadi anak itu malah mengejekku.
"Udah cepetan beresin ya kamarku nanti, gara-gara kalian aku hampir telat." Fira terlihat kesal.
"Loh, nggak sarapan dulu?!?" teriak mama.
"Nggak usah, Ma, takut kalau telat." Fira langsung pergi begitu saja, mungkin dia sudah memesan kendaraan online.
Aku merasa sudah kenyang melihat seisi kamar Fira berantakan tak beraturan. Sepatu campur baju jadi satu di lantai, di ranjang. Aku mendengus kesal,seenaknya saja dia menyuruhku.
"Mama berangkat dulu, Sha."
"Iya, Ma," jawabku dari dalam kamar Fira.
"Kamu bersihkan dulu ya, Sha."
"Iya iya Ma." Aku mulai memunguti satu persatu pakaian Fira. Berbeda dari model baju yang kumiliki, semua punya Fira sangat elegan, trendy, kelihatannya pas gitu kalau dipakai. Sedang punyaku, jangan ditanya, orang gendut hanya nyaman memakai celana dan kaos saja.
Pernah suatu hari aku ingin sekali memakai gamis seperti yang baru tren sekarang, tapi apalah. Malah bentuk badanku tidak karuan lebih mirip karung beras.
Drttt… drttt…. Handphoneku bergetar.
"Kak, nanti jemput aku jam 5 ya."
"Biasanya ada yang nganterin," jawabku sekenanya.
"Kamu 'kan sekarang asisten aku kak. Pokoknya jemput." Fira langsung memutuskan telepon.
Semakin lama rasanya aku mirip pembantu saja. Harus mengabdi kepada Fira. Kukeluarkan sepeda motor dari parkiran. Aku akan menjemput tuan putriku pulang, manja banget deh, padahal biasanya ada yang nganterin. Kulajukan sepeda motor dengan kecepatan sedang.
"Fir, kamu dimana?" Tak lama malah ada telepon masuk dari Fira.
"Kenapa lagi?" Kesabaranku sudah habis menjemput dirinya.
"Aku lagi hangout di cafe Tolira, Kakak kesana saja." Klik, dimatikan lagi. Dasar anak seenaknya begitu. Terpaksa aku putar balik ke cafe yang dimaksud Fira.
Sesampainya disana kucari dimana Fira berada. Tapi ada pesan dari Fira.
"Kakak, tunggu aja diluar nanti kalau temanku tahu kalau kakak itu kakakku malah repot." Aku menghela nafas, apa sebegitu buruknya diriku hingga Fira saja malu mengakui aku sebagai kakaknya. Mau tak mau aku hanya menurut saja, duduk kembali di parkiran sambil menunggu Fira selesai dengan teman-temannya.
Tak berapa lama, datang seorang cowok dengan pakaian rapi turun dari motor persis disebelahku. Kulirik sekilas, sepertinya dia buru-buru. Hingga tidak sadar bahwa kunci motornya jatuh ketika akan memasukkan ke dalam sakunya.
"Mas, Mas, tunggu!" Aku berusaha mengejarnya. Cowok itu tadi berhenti dan menoleh kepadaku.
"Ini." Kuserahkan kunci motornya yang tak sengaja terjatuh.
"Makasih ya Mbak." Aku mengangguk dan cowok itu langsung ke dalam. Sampai di dalam terdengar suara riuh. Seperti menyambut artis saja. Tak sengaja kulihat cowok itu naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu yang tak ku tahu, karena memang selama ini aku kurang mengikuti perkembangan musik.
Kuperhatikan gerak bibirnya ketika bernyanyi. Meski aku tidak hafal liriknya tapi aku menikmati suaranya.
"Kakak, lihatin apa sih?" Fira sudah berdiri di belakangku.
"Enggak kok, udah selesai?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, pasti liatin Marvin lagi nyanyi 'kan?" Oh, ternyata cowok itu namanya Marvin.
"Kakak nggak tahu."
"Iyalah, mana tahu, Kakak 'kan cuma di ruamh sepanjang hari." Aku diam saja tak menanggapi ujaran Fira. Sudah biasa mendengar ejekan Fira setiap hari.
"Ngapain masih di situ?" Aku gelagapan Fira sudah bersiap di motor dan teman-temannya Fira juga sudah keluar dari kafe Torila tersebut.
"Hey, Fira di jemput siapa tuh?" tanya salah satu temannya.
"Asisten baru ya, Fir?" tanya temannya lagi. Fira diam seperti nemimbang sesuatu.
"Eh, iya iya." Dadaku bergemuruh, Fira mengatakan aku asistennya di depan para temannya.
"Yaelah, habis dapat proyek baru langsung sekarang punya asisten. Hebat lu!" terdengar suara tawa mereka yang menggelegar. Aku hanya berdiri di belakang mereka.
"Fir!"
"Hem--" Dia masih asyik dengan ponselnya.
"Kenapa? Marah dengan yang tadi." Fira melirik ke arahku. Aku hanya diam.
"Maaf ya, Kak, tapi Fira malu kalau ---"
"Malu kalau mempunyai kakak gendut sepertiku?" Aku memotong pembicaraannya.
"Nggak bukan gitu."
"Ayo pulang, keburu mama pulang." Ku starter motorku. Aku tak mau mendengar alasan Fira lagi.
Dalam hati aku bertekad untuk bagaimana cara mengubah takdir ini. Aku tidak membenci takdirNya padaku tapi kenapa aku selalu menjadi sasaran empuk bagi mereka, seolah aku ini tidak mempunyai hati dan pantas disakiti. Fira dan teman-temannya selalu membully bahkan orang yang tidak mengenalku pun ikut membully padahal aku tidak pernah mengusik hidup mereka. Hanya karena aku segendut ini. Bahkan teman mama yang sudah berumur pun ikutan membully diriku.
Tring… Notifikasi m-banking berbunyi, segera kulihat ada apakah gerangan. Yes! honorku juga turun bulan ini. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung 29 juta. Mataku berbinar. Sungguh aku tak menyangka.
"Kak, temani aku yuk keluar bentar." Seperti biasa Fira merengek padaku.
"Ogah, Kakak capek!" Kukunci pintu kamarku dari dalam.
"Bentar kenapa sih, aku bilangin Mama lho!" ancam Fira. Bodo amat, kamu fikir kakakmu ini pembantu beneran. Biar saja sekali-kali aku menolak ajakan Fira.
"Kakak lupa? Kakak 'kan asistenku."
"Itu kalau kamu pas kerja, kalau di rumah bukan!" jawabku tegas. Kumatikan lampu dan kututupi seluruh tubuhku dengan selimut. Masih terdengar suara Fira merengek dari luar. Biarlah!