Miss In 80 Kg

Miss In 80 Kg
Tidak Tega



    Aku keluar dari kamar dengan langkah gontai.


"Kamu sakit, Sha?" Aku menggeleng.


"Kenapa, Ma?" 


"Ini Mama minta tolong kamu bereskan semua ini, angkut aja ke gudang." Barang-baeang milik Fira rupanya.


"Udah nggak dipakai ya, Ma?" Mama mengangguk meninggalkanku.


    Aku berdecak kesal. Bagaimana tidak, kenapa juga harus aku yang membersihkan sedang kulihat tadi Fira di kamarnya enak-enakan tidur. Dengan hati dongkol mulai kupindahkan barang Fira ke gudang belakang. 


    Saat keluar di gudang, kulihat tempat duduk rotan yang dulu sering aku gunakan bersama papa disini. Kami selalu melepas lelah disini, ngobrol bersama, bercanda. Sejak papa nggak ada, semuanya terbengkalai. Aku sendiri juga enggan singgah ke sini. Waktuku habis di kamar.


"Sha, temanmu datang nih!" Mama memanggilku dari dalam.


"Iya, Ma." Aku balik ke dalam. Salsa rupanya datang kemari, senyum sumringah bibirku mengembang.


"Salsa, udah lama?" Aku memeluk sahabatku.


"Baru aja." 


"Kamu aja yang Mama panggil dari tadi nggak denger. Ngapain sih di belakang?" Mama ikut menyambung. Aku menoleh dan berkata, "Maaf Ma, aku nggak dengar."


"Ya udah kalian lanjutkan aja ngobrolnya, Mama mau keluar ya." Aku menggelengkan kepala. Mama dan Fira sepertinya tidak betah di rumah. Selalu saja kerjaannya keluar sedang aku di rumah sepanjang waktu.


"Sa, ke kamar saja yuk!" Aku menggandeng tangan Salsa. 


"Nih, minum dulu." Kukeluarkan minumanku dari lemari.


"Gila ya, masak nyimpen makanan di kamar?" Aku tertawa.


"Biarin aja, suka kelaparan, ini kan low fat." Salsa menggelengkan kepala.


"Oke deh, terserah kamu aja, aku minum." Kami pun cerita ngalor ngidul hingga menjelang malam. Hanya Salsa yang bisa menjadi tempat curhatku selama ini.


    Hari ini adalah jadwalku ke gym. Sesuatunya sudah kusiapkan seperti air minum dan handuk kecil. Mumpung suasana rumah sedang sepi aku cepat-cepat berangkat. Setengah jam kemudian aku sudah sampai dan mulailah nge gym. 


"Satu… dua… tiga… " Peluhku menetes, tapi aku tak peduli itu. Meski badanku masih sakit tapi semangatku semakin membara.


"Lho itu kan asistennya si Fira." Terdengar suara di belakangku. 


"Udah sadar kali dia, makanya nge gym. Udah over kapasitasnya." Sahut temannya satu lagi. Aku pura-pura tidak dengar daripada membuat ribut. 


"Eh, kamu!" Dengan tidak sopan temannya Fira memanggilku. Aku masih fokus di treadmill.


"Oe, budek ya?!" Deg, rasanya aku ingin meledak diriku mendengar perkataannya.


Aku menoleh padanya," Ada apa?" 


"Hahaha, lagi usaha nih ya?" Aku mengangguk. Aku tahu mereka mencibirku.


"Aduh, namanya gentong mau gimana juga tetep gentong." Dia kemudian tertawa. Aku diam tak menanggapi walau rasanya ingin ku timpuk pakai sepatu itu mulutnya, pedas sekali. Aku terus menatapnya.


"Kenapa melotot gitu? Nggak terima aku katain gentong gitu?" Ia tertawa kembali. Aku pindah dari treadmill, istirahat dulu menjauh dari teman-temannya Fira daripada mendengarkan ocehan nya malah semakin sakit hati ini. 


      Aku duduk dengan wajah bersembunyi dibalik tangan di loker sambil sesenggukan. Malu rasanya, dikatain di depan umum apalagi suasana fitnes ramai pengunjung. 


"Kalau kamu selalu dengerin orang lain kamu akan capek sendiri." Suara laki-laki disampingku. Aku menghentikan tangisku dan melihatnya. 


"Sudah jangan menangis lagi, sayangi air matamu." Dia menatap lurus ke depan sambil memberiku handuk.


"Segera hapuskan air mata itu. Besok saja kamu kembali. Sekarang pulanglah dan tenangkan hatimu."


"Terima kasih." Aku menerima handuknya. Dia malah ikutan duduk dilantai. 


"Hai, sudah beberapa kali bertemu tapi belum sempat kenalan, namaku Marvin." Cowok tersebut mengulurkan tangannya. Deg, baru kali ini ada cowok yang mau berkenalan denganku. 


"Alesha," sahutku sambil membalas tangannya.


"Alesha, semangat yok kamu bisa!" Dia mengepalkan tangan menyemangatiku.


"Maaf kapan ya sepertinya kita sudah pernah ketemu tapi aku lupa?" Kutatap wajah berlesung pipi dan senyum manisnya.


"Haha, astaga wajah setampan aku mudah kamu lupakan." Dia tertawa, please tolong berhentilah, kamu sangat tampan bila tertawa begitu. 


"Sumpah aku lupa." Aku berusaha mengingatnya dimana aku pernah bertemu dengannya.


"Di depan Torila cafe." Oh, iya aku ingat, dia bukankah yang buru-buru waktu itu. 


"Iya, aku kerja di sana." 


"Oalah, aku kira kamu menyanyikan lagu itu karena…." Aku terputus berbicara melihat kedua temannya Fira juga ke loker. Dia menoleh ke arah mereka, mereka pun menjadi salah tingkah.


"Ayo, kita cari minum dulu." Marvin mengulurkan tangan padaku. Aku ragu menerima tangannya. 


"Ayo bangun!" lanjutnya. Melihat Marvin menggandeng tanganku, kedua teman Fira itu hanya melongo. Haha, biarkan saja sekali-kali perlu dikasih pelajaran. Kami berjalan ke luar menuju parkiran.


"Aku pulang dulu ya,"pamitku.


"Nggak jadi cari minum dulu?" 


"Lain kali saja." Aku naik ke sepeda motorku.


"Oke deh, hati-hati. Dagh" Aku pun membalasnya. Kami berpisah di parkiran karena ternyata beda arah. 


    Sesampainya di rumah rupanya Fira sedang menonton tivi sedang mama belum pulang.


"Kakak dari mana saja?" tanya Fira kurang senang.


"Kelayapan." Sengaja ku jawab ketus.


"Oh, sekarang berani main-main ya," katanya lagi.


"Kenapa? Nggak masalah juga kan buat kamu?" Aku berkacak pinggang.


"Sebenarnya sih masalah, kalau kamu nggak laku kerja itu di rumah aja, Kak. Beresin tuh rumah biar selalu bersih. Udah nggak punya kerjaan malah ngelayap terus." Andai kamu bukan adikku, pasti tanganku sudah melayang ke bibir tipismu itu, Fir. Tanpa menunggu Fira selesai ceramahnya aku pun berlalu darinya. 


"Kak." Entah dapat angin darimana dia berani ke kamarku.


"Apa?" Aku masih cuek, malas meladeninya. 


"Kapan mau ngegym lagi?" Aku meliriknya sekilas dan berkata, "Mau ngapain?"


"Ikut ya."


"Terserah kamu deh," kataku. Pasti teman- teman Fira sudah bercerita tentang diriku sewaktu di gym.


"Kakak kenal sama Marvin?" Tiba-tiba Fira menanyakan Marvin. 


"Kenapa?" 


"Enggak sih." Dia berdiri dan meninggalkan kamarku dengan senyam-senyum sendiri.


    Besoknya Fira ikut aku fitnes, males sih tapi nggak tega mau nolak, tapi kalau bikin gaduh awas aja tuh anak.


" Kak, aku udah cantik belum begini?" Aku membuang muka.


"Kak!" Aku menolehnya dengan malas.


"Iya cantik kok." Hem,setidaknya biar dia senang bila dipuji cantik. Ya meski disadari bahwa Fira memang cantik. 


   Sejam kemudian.


"Kak, capek banget." Kulihat keringat membasahi pelipisnya. Belum ku sempat berbicara dengannya, teman-teman Fira sudah datang.


"Halo gaes!" Fira melangkah menyambut kedua temannya.


"Cie, enak ya ditemani asistennya." Fira mengangguk. Kulanjutkan olahragaku. 


"Eh, yang bener!!!?" Tiba-tiba suara Fira seperti sedang di pantai saja, berteriak-teriak. Aku berdecak kesal melihat kelakuan adikku dan teman-temannya. Andai saja aku tadi tidak mau diboncengi Fira, meski adikku.


"Eh, Fir gimana kami sama yang kemarin itu?" 


"Hahaha, kayak nggak tahu Fira aja." Mereka kemudian tertawa serempak. Aku menggeleng kesal, bukannya olahraga malah bergosip ria.


"Kalian bisa diem nggak?!" Karena aku sudah tidak tahan dengan cara bercanda mereka yang terlalu berisik.


"Lah gitu aja marah,padahal kan tempat umum,"  cibir temannya Fira kepadaku.


"Tapi sadar nggak sih, kalian itu mengganggu." 


    Aku memutuskan menyudahi fitnes hari ini. Malas melanjutkan. 


"Kak, mau kemana?" 


"Pulang." Mood ku hancur, benar feelingku Fira tidak pernah serius berbaikan denganku. Dia sangat toxic kepadaku sejak dulu padahal kami itu saudara kandung.