
"Astaga, Alesha!" Teriak Mamanya dari belakang. Bagaimana tidak syok, berat badanku naik 10 kilo dalam waktu sebulan saja.
"Kenapa bisa begini sih, kamu sudah over obesitas, Sha!" Mamanya menunduk ke lantai. Aku hanya diam tak bergeming dari timbangan.
"Pokoknya nanti Mama nanti atur diet kamu," kata Mama berlalu ke dapur. Aku mendesah galau. Aku sebenarnya juga diet tapi akhir-akhir ini karena pekerjaanku membutuhkan konsentrasi tinggi, Alhasil aku gampang stres. Pekerjaan yang kulakukan saat ini adalah sebagai penulis novel online.
"Ma, sarapannya mana?" tanyaku. Mama membawakanku sarapan ubi saja hanya sebiji.
"Cuma ini, Ma?" tanyaku keheranan.
"Itu harus cukup Sha, kalau enggak badan kamu malah semakin besar, susah dapat pacar dong apalagi pekerjaan." Aku merengut mendapati sarapan yang berbeda. Kulihat sarapan mama ada rendang, capcay, sayur santan kesukaanku. Air liurku mengalir deras melihat semua menu itu. Mama dan adikku, Fira makan dengan lahap tanpa peduli aku.
"Ma, boleh aku minta sedikit saja rendangnya?" Aku memelas.
"Nggak bisa, kamu makan saja ubi," ketus Mama. Aku tidak bertanya lagi, ku makan ubi rebus dengan rasa nikmat. Sesekali melirik mereka berdua makan makanan enak.
"Kamu harus diet biar kaya Fira itu." Mama menghampiriku di teras depan. Aku mendengus kesal, selalu saja mama menginginkan aku seperti Fira, dia kan model wajar harus menjaga berat badan idealnya. Sedang aku, bukan.
"Ma, aku berangkat dulu ya," kata Fira. Aku tahu hari ini dia ada pemotretan.
"Iya, hati-hati, jangan lupa oleh-olehnya."
"Siap deh, Ma, nantikan honorku turun, Mama mau apa?" tanyanya dengan keras, pasti sengaja mau memanasi aku.
"Ayam goreng saja cukup kok." Mama menyahuti dari dalam.
"Kak, aku berangkat."
"Hemm, ati-ati." Aku cuek melanjutkan tulisanku.
"Alesha… Alesha kapan sih kamu bekerja seperti adikmu." Mama duduk di sampingku.
"Iya doakan saja, Ma," jawabku sambil tersenyum.
"Mama itu malu lho, Sha punya anak gadis sebesar gitu." Mama menunjuk perutku. Penuh dengan lipatan lemak yang mengumpul.
"Apa kamu nggak risih?" tanya Mama lagi.
"Bukannya begitu Ma, tapikan Mama tahu sendiri aku nggak tahan lapar, bisa-bisa aku sakit nanti," sungutku tak terima ditanyain Mama begitu. Siapa yang mau diberi tubuh seperti kambing guling begini. Tapi semuanya takdir.
"Kamu seharusnya berusaha lagi agar bisa berkurang, Mama kasihan lho sama kamu." Kutatap mamaku dan kuraih tangannya.
"Aku akan berusaha, Ma." Seketika mata mama berbinar mendengar penuturan barusan.
"Jadi kamu mau diet lagi?" Au mengangguk.
"Baik, tapi kali ini Mama yang ngatur diet kamu."
"Boleh Ma, asal jangan menyiksa." Mama hanya berlalu dari hadapanku. Aku melanjutkan tulisanku, rencananya aku akan update gila-gilaan minggu ini.
Pagi menjelang, Mama menyiapkan sarapan untukku sekeluarga. Kami hanya tinggal bertiga sedang ayahku sudah meninggal ketika aku berusia 17 tahun dan mama enggan menikah lagi. Mama adalah sosok ayah dan ibu bagiku. Meski terkadang mama terkesan membedakan diriku dan Fira.
"Nih, sarapan kamu." Aku melihatnya sekilas, bukan ubi tapi sayur sawi. Aku benci sawi kenapa malah diberi makanan sawi.
"Kok ini, Ma?" Aku tak terima mama mengatur makanku dengan paksaan.
"Iya Kak, makan aja. Biar badan kamu nggak kaya gentong." Fira menimpali. Sial, anak itu selalu saja mengejekku.
"Biar bisa kerja, nggak cuma di rumah aja, emang nggak bosen?" sindir Fira. Mereka berdua tidak tahu kalau aku menulis online sekarang, ya meski bayaranku tak sebanyak Fira. Itulah sebabnya aku sedikit santai mencari pekerjaan.
"Iya tuh dengerin adikmu, Sha. Masa mau jadi pengangguran terus apa nggak kasihan lihat Mama berangkat pagi pulang larut malam." Kutatap mama dengan seksama. Ingin rasanya aku berteriak bahwa aku sebenarnya juga bekerja, tapi biarkan saja, biar mereka puas bicara dulu.
"Alesha akan berusaha, Ma," jawabku sekenanya malas menanggapi mama dan Fira.
Selesai sarapan aku langsung ke kamarku.
"Tuh, lihat anak mama, habis makan balik lagi ke kamar." Fira mencibirku, dia masih saja menjadi kompor mama.
"Heran juga Mama, kok bisa ya dia sebesar itu." Kudengar bisik-bisik mama dan Fira di ruang makan. Aku pura-pura tidak mendengar mereka. Malah semakin sakit hati saja nanti. Fokusku saat ini adalah bisa menambah bab sebanyak-banyaknya agar nanti bisa mendapat bonus lagi. Lumayan kan bisa untuk menyambung hidup biar tidak dikira benalu.
"Sha, Mama berangkat dulu. Makan siangmu di meja, jangan ambil yang lain!" Teriak Mama dari luar.
"Baik, Ma."
Setelah mereka pergi aku berjalan menuju dapur lagi, berharap ada makanan selain sawi. Ya aku menemukan, memang bukan sawi tapi makan siang hanya kentang rebus dan sebuah apel saja. Mana bisa bertahan, saat ini saja perutku sudah kembali keroncongan. Periksa semua tempat penyimpanan makanan. Tapi nihil tidak ada makanan sama sekali. Pasti mama sengaja menyembunyikan agar aku tidak makan. Aku ada ide, bagaimana bila aku pesan makanan online saja, pasti bisa kenyang. Kukeluarkan handphone dari dalam saku dan kupencet aplikasi hijau untuk memesan makanan.
"Akhirnya." Aku lega sebentar lagi bisa makan.
Tak sampai satu jam, abang ojeknya sudah sampai.
"Makasih Bang." Aku menerima pesanan.
"Sama-sama, Neng."
"Hati-hati." Aku langsung masuk ke dalam rumah. Ahay, girangnya hati ini akhirnya aku bisa makan sepuasnya tanpa ada yang meneriaki. Aku memesan bakso aci, siomay, sama es boba kesukaanku. Dengan terburu aku memasukan satu persatu makanan ke mulut sebelum ada yang datang.
"Nikmatnya." Suapan terakhir kumasukkan. Selesai makan, kembali kubungkus rapi sampah dan sengaja ku buang ke depan rumah agar mama dan Fira tidak curiga denganku. Aku cekikikan ternyata aku cerdik juga.
Menjelang sore baru Fira kembali pulang, kuintip dari jendela, dia diantar temannya cowok. Huh, dasar.
"Hem…. diantar siapa?" kutanya anaknya saat tiba di ruang tamu.
"Pacar akulah." Jawabnya dengan melenggang ke kamarnya tanpa peduli diriku yang sedang berbicara dengannya.
"Ganti lagi?"
"Iya, kenapa? Kakak iri gitu?" Aku mendelik, jangankan iri ngelirik aja nggak.
"Nggak kok, cuman kamu keseringan ganti cowok nggak baik." Aku berusaha menasehati adik sendiri, sebagai kakak aku tidak mau Fira terjerumus ke hal-hal yang negatif.
"Eleh, bilang aja kamu iri, gentong!" Kurang ajar sekali dia mengataiku dengan gentong.
"Aku cuma ingetin kamu aja, Fir. Nggak usah ngegas gitu!" sengit aku tak mau kalah.
"Makanya kecilin tuh badan biar ada cowok yang mau, kalau sekarang mah mana ada yang nyantol, kalau diajak boncengan motor mana kuat, kalau diajak mobil mana muat." Fira tertawa lebar sekali, dia puas menghinaku seperti itu.
Aku masuk ke kamarku, rasanya sakit juga, meski adik sendiri yang berkata begitu. Kubenamkan wajahku di sela-sela bantal. Aku menangis sejadinya disana.
"Benar juga aku terlihat seperti monster raksasa." Aku mematut diri di cermin kamar. Cermin nya kecil jadi bayanganku hanya ngepas di cermin itu. Sepertinya memang Fira itu benar.