
Aku seharian hanya mengurung diri di kamar. Rasanya badanku mau copot semua akibat fitnes. Kutelungkupkan wajah ke bantal. Kuingat mengapa aku bisa jadi sebesar ini, dulu bb ku saat SMA hanya 46 kilo saja. Sejak papa meninggal aku mengalami stres berkepanjangan. Maklumlah aku dekat dengan papa serasa tidak terima begitu saja papa sudah berpulang dahulu kepada Tuhan apalagi secara mendadak. Siapa orang yang kuat ditinggal seorang yang sangat dicintainya? Aku melampiaskan kesepianku hanya kepada makanan. Sejak saat itulah aku kesulitan mengatur pola makan hingga membengkak hampir dua kali lipat berat badanku semula. Untuk diet sudah berulang kali aku coba tapi tiap aku stres pasti pelarianku hanya makanan. Karena tidak ada lagi yang mau mengerti aku.
"Pa, Alesha kangen." Air mataku mengalir membasahi pipi. Kenangan indah bersama papa masih saja terkenang sampai sekarang. Kupegangi foto papa sedang bersamaku saat di taman bermain saat aku masih duduk dibangku TK.
Flashback
"Alesha sayang, udah waktunya yuk berangkat." Papa sudah bersiap di mobilnya. Aku segera menyelesaikan sarapanku dan berangkat sekolah. Kami sering diantar papa.
"Belajar yang rajin ya, dan kamu Fira jangan sibuk kerjaan terus, kamu fokus aja sekolah," kata Papa didalam mobil.
"Iya, Pa." Kami kompak menjawab. Fira turun di SMP sedang sekolahku masih jauh. Sengaja Papa mendaftarkan aku di sebuah sekolah yang lumayan terkenal di kotaku. Rata-rata anaknya memiliki prestasi. Tapi aku beruntung, hanya biasa saja tapi bisa diterima.
"Pa, Alesha berangkat dulu, ya." Kusalami tangan papaku dan kukecup pipinya. Papa membalasnya, tiba-tiba papa memelukku erat sekali sampai aku kesulitan bernafas. Siapa sangka pelukan hangat pagi itu adalah pelukan terakhir papa di dunia ini sebelum beberapa jam beliau meninggalkan aku karena kecelakaan lalu lintas dan papaku dinyatakan meninggal di tempat.
"Pa, Alesha masuk ya." Papa melepaskan pelukannya. Papa adalah cinta pertamaku, jadi aku sudah SMA tak perlu memiliki pacar karena kasih sayang papa sudah lebih.
Meski aku sudah berseragam SMA tapi aku tidak malu dengan manja dengan papa.
Aku mengikuti pelajaran dengan hati gundah, entah kenapa. Aku ingin segera pulang.
Tok… tok… Pintu kelas kami diketuk. Terlihat guru piket berbisik kepada wali kelasku yang kebetulan sedang mengajar.
"Alesha, kamu ikut Bu Mukti dulu, ya." Aku mengangguk. Kuikuti Bu Mukti sampai di kantor.
"Ada apa, Bu?" tanyaku. Bu Mukti tidak langsung menjawab dia seperti mencari sesuatu.
"Ehm, kamu kemasi saja tasmu nanti om kamu akan jemput." Aku mengerutkan kening. Ini ada apa? Hatiku merasa curiga ada sesuatu yang kurang mengenakkan.
"Kenapa sih, Bu?" Belum juga Bu Mukti sempat menjawab, Om Hendri, adik papa sudah berdiri di depan ruang BK. Tanpa banyak tanya aku segera kembali ke kelas dan mengemasi tasku seraya izin dengan guru di kelasku.
"Om, ada apaan sih?" Om Hendri tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat masam seperti memikirkan sesuatu. Ah, kenapa orang-orang hari ini aneh. Apakah ini hari berkabung nasional? Semua wajah harus ditekuk?
Om Hendri menyetir pelan-pelan. Kuperhatikan rumahku ramai orang. Aku menoleh ke Om Hendri tapi malah beliau membuang muka. Seperti mau bilang sesuatu tapi ragu.
"Kok ramai Om?" Aku bertanya keheranan. Om Hendri mematikan mesinnya dan memelukku erat, seketika itu pecahlah tangisnya. Aku malah semakin bingung, ini ada apa sih? Om Hendri mengelus pucuk kepala.
"Sha, kamu yang sabar ya." Mata Om Hendri masih merah.
"Ayo, turun." Om Hendri berusaha kuat. Kami turun dari mobil, sengaja Om Hendri hanya parkir di bahu jalan seberang rumah.
Deg… Ada bendera merah? Artinya ada yang meninggal tapi siapa? Kurasa bukan dari keluargaku? Hatiku semakin penasaran. Aku berjalan perlahan tapi pasti. Dadaku berdesir lagi, keringat dingin sudah mulai mengucur deras.
Mama berlari memelukku erat. Jangan-jangan? Pikiranku sudah melayang entah kemana. Kutatap mamaku, wajahnya sembab. Apa ini maksudnya?
"Ma, siapa yang meninggal?" tanyaku polos. Mendengar pertanyaanku mama semakin tergugu bahkan sampai lemas. Om Hendri menuntunku masuk.
Aku menutup mulutku rapat ketika melihat siapa yang terbujur kaku disana.
"Papa!!!" Aku berlari memeluk tubuh dingin tanpa ruh tersebut. Air mataku semakin deras.
"Papa….!!" Aku berteriak lagi berharap ada keajaiban seperti di film. Om Hendri menenangkanku. Dia juga tampak terpukul.
"Papa bangun, Pa. Jangan tinggalin Alesha, Pa!!!" Kuguncang tubuh papa, tapi hanya diam. Semua yang menyaksikan ikut menangis. Aku tak bisa mengendalikan diriku. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
"Alesha…." Suara itu lembut memanggil namaku.
"Papa!" Aku langsung terbangun, tapi tak kudapati papa disisiku, kecewa rasanya. Mama dan Om Hendri yang menemaniku. Mama kemudian memelukku erat.
"Ma, Papa dimana?" tanyaku lemah.
"Papa kamu sudah tenang sayang, jangan kamu bersedih ya, kamu doakan semoga papa di surga."
Pa, padahal kita masih mempunyai mimpi bersama yang belum bisa kita wujudkan.
Satu bulan kemudian…
Aku masih belum percaya Papa meninggalkan aku secepat itu. Kemana aku bisa curhat lagi, dengan siapa aku bisa bermain lagi Menghabiskan waktu sore hari dengan menanam sayuran di kebun belakang. Menanti mama dan Fira yang pulang dari pemotretan, memang adikku sudah jadi model di usia 12 tahun. Hari-hariku sepulang sekolah sepi. Mama bekerja sambil mengawasi Fira. Aku sering ditinggal sendiri. Saat sendiri inilah yang membuat kenangan dengan papa semakin kuat. Untuk melupakan kenangan itu pelampiasanku hanyalah ke makanan, dengan melahap apa saja aku bisa merasa sedikit lebih tenang. Selain bisa mengobati rasa sepiku juga bisa mengobati rasa rinduku dengan Papa. Tak terasa badanku semakin lama semakin bertambah, semula hanya 10 kilo saja. Ini membuatku lebih percaya diri dengan tampilan lebih berisi. Aku ingin juga menjadi model seperti Fir tapi mama melarangku denga alasan anak mama yang menjadi model hanya satu bukan semuanya. Aku yang semula sudah semangat diijinkan mama mengikuti kontes model harus menelan kekecewaan lagi.
"Kamu di rumah saja, biar Fira yang menjadi model. Jadilah yang kamu inginkan asal jangan model," kata mama suatu hari saat aku mengurtarakan keinginanku. Sampai sekara g aku tidak tahu alasan mama melarangku menjadi model. Lagi-lagi pelampiasanku hanyalah makan. Semakin hari badanku semakin gemuk. Aku mulai susah bergerak dan menjadi bahan bullyan. Beruntungnya waktu kuliah aku tidak perneh mengalami bully.
Kuhapus air mataku mengingat semua ini. Kenangan terburuk dalam hidup. Akan kurubaj semuanya, sekali lagi kubulatkan niat. Aku tidak boleh lemah, papa pasti akan sedih jika aku menagis disini sekarang.
"Alesha!" Mama berteriak dari luar. Hah, pasti ada maunya. Aku sebal.