Miss In 80 Kg

Miss In 80 Kg
Puncak Kemarahan



"Kak, tunggu!" Fira mencoba menahanku. 


"Aku mau pulang, bareng nggak?" Fira hanya diam saja.


"Ya udah kalau masih ingin disini ntar bareng temen kamu aja." 


"Tapi kan--" 


"Udahlah Fir, Kakak capek mau istirahat pulang." Aku pun segera keluar dari tempat ini. Tak kuhiraukan anak itu lagi, sesekali pelajaran agar tidak selalu meremehkanku. Aku juga benci dia tahu bila aku selama ini fitnes.


"Lho, Sha mana adikmu?" tanya Mama ketika melihatku sendirian.


"Bareng temennya, Alesha duluan, Ma." Aku berlalu begitu saja dari hadapan mama. Tampaknya mama juga tidak mood bertanya macam-macam lagi. Mood ku benar-benar dirusak oleh Fira. Dari awal dia mau ikut fitnes sampai ditempat fitnes. Semuanya rusak.


"Ma, tahu nggak tadi Fira kemana?" Kami berkumpul di ruang makan.


"kemana emangnya?" Mama heran.


"Tuh, ikut Kak Alesha, coba Mama tebak ngapain hayo?" Mama mengerutkan dahi dan sedetik kemudian menggeleng menatap Fira.


"Fitnes!!!" ucap Fira sangat kencang. Aku dan mama sampai terpengarah. Apa hebohnya coba cuma fitnes aja sampai segitunya. Kubuang tatapanku keluar.


"Kamu mulai fitnes, Sha?" Mama beralih menatapku.


"Iya, Ma." 


"Bagus dong kalau gitu." Mama tersenyum ke arahku.


"Fitnes sih, katanya udah lama tapi badannya aja masih sama tuh, Ma. Nggak ada yang kurang lemaknya." Mulai deh, Fira mau mengompori lagi.


"Namanya juga usaha, Fir." Aku mendelik mendengar Fira berceloteh.


"Terserah Kakak deh, maunya kek gimana, tapi kalau besok ikut aku nggak boleh ditinggal lagi."


"Emang mau ikut lagi?" Aku menatapnya dalam. Fira hanya mengangguk. Wah, kalau bisa jangan deh. Aku nggak mau Fira ikut lagi, cuma bikin gaduh dan penuh ketoxican.


    Dua hari kemudian, aku menerima telepon dari sebuah perusahaan memintaku untuk interview. Aku merasa biasa saja. Karena sebelumnya juga sering dapat panggilan tapi hanya sebatas interview setelah itu aku tidak pernah dipanggil lagi.


"Ma, aku berangkat duluan." Aku hanya menyambar susu Fira yang terhidang di meja.


"Lho, nggak sarapan dulu?" Aku menggeleng.


"Takut telat," jawabku.


"Interview dimana sih, Sha?" tanya Mama.


"PT. Rivan Gemilang."


"Semoga sukses."kata Mama. Aku tersenyum dan menyalami tangan beliau.


   Setelah parkir, langsung menuju ke meja resepsionis.


"Pagi Mbak, saya hari ini mau interview." Resepsionis tersebut hanya menganggukkan kepala tanpa tersenyum.


"Baik, silahkan tunggu, saya hubungi bagian personalia dulu, maaf dengan ibu siapa?" 


"Alesha Elisabeth." Aku pun duduk di meja tunggu. 


"Mbak Alesha." Aku berdiri ke depan resepsionis tadi.


"Silahkan ke ruangan Pak Hadijaya, dari sini naik terus ada pintu bertuliskan Mr. Hadijaya, ya." 


"Terima kasih banyak ya, Mbak." Aku berjalan ke lantai atas.


"Permisi." Aku berhenti di pintu bertuliskan Mr. Hadijaya. Mengetuk pintu sesuai dengan arahan dari resepsionis tadi.


"Masuk." Terdengar suara berat di belakang kursi.


"Maaf, Pak. Saya mau interview." Aku takut salah.


"Silah-" Dia tidak melanjutkan kalimatnya.


"Si-silahkan duduk, Alesha!" Rupanya sosok di balik kursi itu adalah seseorang yang sudah ku kenal yaitu Marvin Aditya. Cowok yang tempo hari berkenalan denganku di fitnes dan penyanyi di Torila cafe. Semoga menjadi hari yang baik untukku.


"Terima kasih." Aku pun duduk di kursi yang telah disediakan. Kali ini sikap Marvin berbeda, dia terlihat berwibawa dan profesional. Dia membuka berkas dan melihat sebentar CV ku.


"Ehm… jadi kamu belum pernah kerja dimana pun?" 


"Belum Pak." Aku harus memanggilnya formal, di sini adalah kantor. Marvin manggut-manggut. Kemudian dia bertanya banyak kepadaku seputar dunia kerja. Aku menjawab sebisaku karena memang aku belum pernah berpengalaman di perusahaan manapun sebelumnya.


"Oke, tapi maafkan kami, kami belum membutuhkan kriteria yang anda inginkan." Deg, kecewa sudah, tadi ada harapan diterima tapi ternyata masuk perusahaan itu nggak semudah itu. Aku mengangguk sedih, jika belum ada lowongan untuk yang aku lamar, kenapa mesti aku dipanggil?


"Baik terima kasih, Pak atas waktunya saya permisi dulu." Aku segera berdiri dari kursi. Sama seperti sebelumnya, aku hanya di tahap awal saja. 


"Mau kemana?" Tanya Marvin.


"Lah katanya tadi perusahaan ini belum butuh kriteria seperti saya," ucapku dengan nada agak tinggi.


"Memang kamu belum diterima disini tapi kamu bisa bekerja sama denganku." Aku tidak mengerti ucapan Marvin.


"Maksud kamu gimana ya?" Kini aku berbicara agak santai.


"Inikan perusahaan om aku, sementara ini dia lagi di Brasil, jadi aku disuruh mewakili sebentar, memang disini nggak butuh posisi yang kamu inginkan tapi aku merasa butuh kamu." Aku mengernyitkan dahi. 


"Aku sengaja memanggill kamu." Marvin tersenyum kecil.


"Terus?" 


"Kamu bisa bekerja sama denganku, di perusahaanku." Aku sejujurnya masih bingung dengan arah dan tujuan pembicaraan Marvin kali ini.


"Nanti kamu bisa datang ke sini, aku tunggu pas makan siang." Dia memberiku kartu nama.


    Menunggu jam makan siang memang agak lama, apalagi aku tadi datang ke Rivan Gemilang sangat pagi. Tapi demi pekerjaan pertama nggak apa-apalah, siapa tahu Marvin beneran mau ngajak aku kerja. Sesampainya di kantor Marvin aku duduk di ruang tunggu sambil menunggu jam istirahat, aku pun melanjutkan aktivitasku menulis dulu.


"Hem… lagi asyik ya?" Marvin berdiri dibelakangku. Kulihat jam sudah tengah hari, aku memang suka lupa waktu bila telah berkutat di dunia kehaluan.


"Eh, maaf iya." Kututup kembali laptopku.


"Makan dulu yuk!" Aku mengangguk mengikutinya. Kami berdua masuk mobil.


"Kamu pesan aja sesukamu." Kulihat menu yang tertera, aku segera memesan makanan.


"Jadi kamu mau memberiku pekerjaan apa?" Aku membuka percakapan kali ini.


"Kamu bersedia nggak tapi cuma staf biasa saja?"


"Nggak masalah asal aku dapat pekerjaan dulu deh." Aku pasrah dia mau memberiku pekerjaan asal halal dan bisa keluar rumah.


"Oke, nanti habis ini masuk ke ruanganku." Aku mengangguk.


     Singkat cerita, sehabis waktu makan aku masuk ke ruangan Marvin, lumayan besar juga ruangannya. Dibanding ruang staf diluar tadi. Ini lebih nyaman dan luas. Ya, pastilah namanya juga ruangan pimpinan.


"Kamu besok sudah boleh masuk, membantu Mbak Laras bagian keuangan ya," kata Marvin. 


"Baiklah, aku akan berusaha yang terbaik." 


"Maaf Alesha, ini kantor tolong bicaralah dengan formal." 


"Maaf, baik Pak Marvin." Dia tersenyum. Kemudian aku diajak ke ruangan yang namanya Mbak Laras. Dia hanya melirik sekilas. 


"Mbak, mulai besok Alesha akan membantu Mbak disini." 


"Oke," kata Mbak Laras dengan mata tanpa berpaling dari komputer.


"Semoga betah." Aku bergidik, kelihatannya dia orangnya dingin.


"Semoga besok berhasil ya," bisik Marvin.


     Baru saja aku merasa mencari pekerjaan itu sulit tapi ada kemudahan tapi dibalik kemudahan ada saja rintangannya, semoga saja orang yang namanya Mbak Laras ini nggak seperti yang aku pikirkan.


"Ngelayap terus!!!" Fira ternyata sudah menungguku di teras. Aku malas menanggapi karena masih marah dengan kejadian kemarin.


"Bukan urusan kamu!" Aku tak berniat meladeni perdebatan lagi.


"Oh, ya satu lagi, besok-besok nggak usah ngajak fitnes bareng lagi." Aku melotot tajam ke Fira.


"Ya ampun Kak, kok sampai segitunya sih?" 


"Ya karena kamu dan teman kamu itu suka banget bikin masalah." 


"Kok malah nyalahin aku sama teman-teman?" Ku hembuskan nafas penuh kekesalan.


"Alah bodo, pokoknya aku nggak mau kami ikuti. Titik!" Aku berlari ke kamar. 


"Ya namanya gendut, gitu aja marah!" Aku kembali menuju ke arah Fira. Tanpa basa-basi tanganku langsung mendarat di pipinya. Matanya memerah berkaca-kaca. Aku sudah berada di puncak kemarahan. 


"Kakak menamparku?" tanyanya lirih.


"Ya, kenapa?" Aku menantangnya.


"Setega itukah, Kak?" Aku mengangguk mantap.


"Jahat!" teriaknya kepadaku sambil terus memegangi pipinya.


"Apa kamu bilang?! Kakak jahat!?" Aku menatap tajam.


"Ya, Kakak tega menamparku, Kakak fikir itu tidak sakit?" 


"Sesakitnya aku menamparmu, itu baru satu kali, dibanding kamu yang selalu mengataiku, bahkan sampai teman-temanmu pun ikutan membully kakak, apa kamu pikir Kakakmu ini akan terus diam?" kataku dibarengi keluarnya buliran bening di pelupuk mata. Aku sungguh tak bisa menahan semuanya. Fira tak menjawabku langsung meninggalkanku sendiri di teras.


    Setiap aku melihat Fira pikiranku penuh dengan amarah. Bisa jadi karena aku terlalu lama diam memendam kekesalan ku kepadanya. Hanya karena dia berisik saja darahku sudah naik dan sulit melupakan. Untungnya mama belum pulang, jadi aku bisa puas mengatai adikku tersebut.