
Bab 4
Aku diam sepanjang perjalanan. Motor sengaja kujalankan dengan kecepatan tinggi.
"Kak, bisa pelan nggak? Rambutku rusak nih," sungut Fira. Aku masih terdiam tak menjawab.
"Kak, dengerin aku nggak sih?" Fira tampak kesal.
"Biar cepat sampai," kataku enteng.
Motor telah memasuki halaman rumah. Rupanya mama sudah pulang.
"Hay, anak Mama, gimana photoshootnya?" Mama mengecup pipi Fira secara bergantian. Aku melajukan motor ke parkiran.
"Sukses Ma, malah nanti kata Tante Desinta aku akan diberikan project yang besar lagi." Mata mama langsung berbinar mendengar Fira. Sedang mereka tak menganggapku ada. Aku langsung berjalan masuk.
"Sha, Mama sudah siapkan makan kamu di dekat kulkas," kata mama. Aku mengangguk dan mengambil jatah makan malamku. Makan hari ini adalah kentang rebus dan tahu dua potong saja. Ya, gimana lagi. Sebenarnya aku cukup tersiksa dengan menu dietku tapi kalau nggak kumakan mama pasti akan marah lagi.
"Sha, besok pagi kamu timbang ya?" Mama menghampiri aku di ruang makan.
"Iya, Ma."
Aku langsung ke kamar setelah selesai makan, menulis kembali agar akhir bulan bisa mengejar target.
"Kak, bangun dong!" teriak Fira di dekat telingaku.
"Apaan sih? 'Kan masih pagi." Kutarik lagi selimut hingga menutupi kepala. Aku ngantuk sekali, tadi malam begadang untuk menambahkan bab berbayar.
"Kak, aku hari ini ada pemotretan lagi anterin dong," rengek Fira.
"Kemana?" Masih dengan selimut menutup kepala.
"Di luar kota, makanya kakak cepat bangun."
"Kamu sendiri aja deh, Kakak nggak mau."
"Kak, please dong, anterin!" Fira masih merengek seperti anak kecil. Huh, daripada nanti ribut dan mama turun tangan, aku segera membuka selimut dan merapikannya.
"Fira tunggu 15 menit."
"Oke." Aku masih malas untuk beranjak dari ranjang.
"O, iya nanti bawa mobil, Kak, aku sudah ijin Mama." Aku mendengus pelan. Padahal rencanaku aku akan terus up 5-6 bab per hari, karena Fira bisa terancam gagal. Mengesalkan.
Aku mengikuti arahan dari google map. Fira sejak tadi sibuk terus dengan handphonenya. Aku fokus menyetir.
"Sudah sampai, Fir." Kumatika mesin mobil.
"Oke, Kakak tolong turunkan barangku ya, aku mau masuk ke dalam." Aku melongo, seenak jidat saja menyuruhku membawa bermacam-macam barang.
"Nanti Kakak bawa ke tempat yang ada tulisan namaku," terang Fira.
"Bawa aja sendiri." Fira mendekatiku.
"Kakak kan asistenku, masih bagus lho tadi di rumah nggak aku ajak masukin, tinggal nurunin aja masih protes," sungut Fira.
Terpaksa aku menurunkan barangnya. Tak taulah isinya apa yang jelas itu lumayan berat. Aku masuk ruangan dan mencari ruang yang ada namanya Fira. Aku berjalan lurus, tepat disampingku terpampang nama Fira disana.
"Permisi." Kubuka pintunya. Ternyata ada Fira dan teman-temannya.
"Taruh di atas saja, Kak." Aku menuruti perintah Fira dan segera beristirahat.
"Ambilin minum kita dong, itu di depan." Salah seorang teman Fira menyuruhku.
"Eh, dengerin kita nggak sih, ambilin kita minum!"
"Ambil sendiri kenapa sih, Fir," kataku, aku malas berdiri. Fira malah melempar uang 50 ribuan kepadaku.
"Lah, kok gitu sih Fir punya asisten kok nggak sopan banget."
"Nanti gaji lu di potong tuh." Mereka semakin bersahutan mengataiku. Aku melotot ke arah mereka.
"Heran deh, lu dapat asisten model begini dari mana sih, Fir?" Fira hanya mengangkat bahunya sedang matanya sibuk dengan ponselnya. Aku berdiri dan membelikan minum di depan lokasi pemotretan.
Sambil menunggu Fira melakukan pemotretan, iseng kubuka situs khusus diet. Kubuka satu persatu artikelnya. Ada yang menarik perhatianku. Yaitu artikel tentang diet tanpa menyiksa. Setelah kubaca aku langsung tertarik untuk mencobanya. Jam 5 sore pemotretan telah selesai. Kami bersiap untuk pulang.
"Fir, dicariin Tante Desinta tuh."
"Tunggu, aku akan datang." Fira bersiap menemui tante Desinta, designer kenamaan yang karyanya sudah melejit dimana-mana.
"Kakak ikut nggak?" tanyaku.
"Nggak usah, disini aja." Fira melenggang dengan langkah ringan. Aku menggelengkan kepala.
"Yes!" teriak Fira kegirangan, aku masih diposisiku semula.
"Kenapa?" Aku kepo.
"Tante Desinta puas dengan kerjaku," sahutnya dengan tawa terus mengembang di bibirnya.
"Oh gitu." Aku cuek tak menanggapi malah memilih fokus ke pekerjaanku selama ini.
Pagi ini aku sengaja bangun telat, rencanaku setelah Fira dan mama berangkat aku akan ke pasar membeli makanan untuk diet. Aku malas bila ada mama dan Fira pasti mereka akan menertawaiku.
"Sha, bangun." Mama berkata dibalik pintu kamarku.
"Nanti aja, Ma. Alesha masih ngantuk." Kutarik selimut hingga menutupi seluruh badanku.
"Bangunlah, Kak cepetan. Olahraga sana biar makin kurus. Jangan pelihara dong kelebihan berat badannya. Biar dua kursi muat dua orang, bukan dua untuk satu." Fira ikutan nimbrung mama. Sebenarnya ingin marah, tapi aku pikir lagi hanya sia-sia tak ada manfaatnya. Mulai sekarang aku harus menjadi Alesha yang baru.
Mama dan Fira telah berangkat, aku bangkit mengganti bajuku dan bersiap belanja ke pasar. Suasana pasar yang sedikit sepi membuatku leluasa memilih. Aku membeli sayuran, susu low fat, tentu saja buah-buahan. Untuk cemilan sehatnya aku memilih pesan online. Sesampainya di rumah segera kumasukkan kedalam kulkas, tapi untuk susunya aku bawa ke kamar supaya mama dan Fira nggak tahu. Bisa nyinyir dia nanti.
Semuanya beres, aku bergegas ke tempat gym. Aku ingin memulai berolahraga di sana. Jujur, selama berat badanku naik aku belum pernah pergi gym sekalipun. Aku malu ke gym dengan badan segini. Tapi kali ini ku kuatkan niat untuk ke gym. Lebih baik aku nge gym daripada di rumah selalu ditertawai saat olahraga. Sudah pasti Fira akan berteriak-teriak menyemangati tapi dibubuhi dengan ledekan.
Tempat fitnes dari rumah memang agak jauh memakan waktu hingga setengah jam tapi niatku sudah bulat. Aku lelah terus dibully, bahkan orang yang tak kenal pun ikutan membullyku. Sedih memang. Tapi inilah yang mengajariku kuat. Karena sudah kebal air mataku tak lagi bisa menetes hanya hati yang masih dongkol.
Setibanya disana beruntung lagi sepi. Tapi orang-orang melihatku aneh. Biarkan, anggap saja mereka tidak ada. Dengan langkah pasti aku masuk dan mendaftar menjadi member di sana.
"Ma, aku pamit." Mama heran melihatku rapi memakai sepatu.
"Kemana?"
"Cari angin sebentar." Fira ikut duduk di samping mama menatapku curiga. Aku berlalu begitu saja dihadapannya.
"Kakak mau kemana sih, kok sering banget akhir-akhir ini keluar terus?" tanya Fira menghentikan langkahku, kepo saja.
"Nggak kok," jawabku cuek. Fira tidak luas dengan jawabanku. Tak kuhiraukan Fira lagi segera aku naik sepeda motorku dan menuju tempat fitnes.
Sepulang dari gym, aku sengaja berjalan-jalan dulu. Agar mama dan Fira tidak curiga. Baru jam 6 sore aku kembali ke rumah dengan badan tidak bau keringat.
"Sha, itu makanan kamu di meja," kata Mama sibuk mempersiapkan makan malamnya. Aku mengangguk mengambil jatah makanku. Tahu satu potong dan telur separo. Aku tersenyum, untung saja sudah menyembunyikan cemilan sehat dan susu low fat di kamar. Akupun melahap makanan yang diberikan mama dan kembali ke markasku.
"Untung saja," gumamku. Kuambil susu dan meminumnya, lumayan bisa mengganjal perut. Jadi aku bisa konsentrasi bekerja.
"Lelah sekali." Kurebahkan badanku ke kasur yang empuk. Baru pertama latihan saja capeknya minta ampun. Badan rasanya malah pegal semua dan kaki terasa senut-senut seperti orang habis berjalan kaki jauh.
"Ayo Alesha semangat!" Kusemangati diriku sendiri dari cermin. Aku harus bisa membuktikan kalau aku bisa. Aku tidak pantas dibully.