
“Bagaimana?” Sosok itu
berdiri angkuh, satu batang rokok tersulut diujung bibir.
“Belum ada jejak, Tuan.”
Sosok lain yang ditanya menjawab, kepala menunduk sebagai bentuk penghormatan
kepada tuannya.
“Tetap cari!” Perintah
sang Tuan dan berbalik pergi, beberapa bawahan berpakaian rapi berbaris rapi
mengikuti kepergian sang Tuan.
“Joan, dimana bocah
itu?” Sejenak keheningan terjadi saat nama Joan disebutkan.
“Ma_maaf Tuan Abe, Tuan
Joan pergi dan belum kembali setelah mendengar kabar hilangnya Tuan Fox.” Lapor
salah satu dari bawahan Abe.
“Ckk, jangan sampai
bocah itu berulah. Cari dan bawa dia kehadapanku!” Perintahnya kemudian mutlak.
“Baik Tuan.”
Bau dari bangunan yang
belum lama terlahap api, sosok jangkung berdiri menatap bangunan dihadapannya
yang sudah hancur di lahap oleh api. Matanya menyiratkan kemarahan yang tidak
akan selesai dengan satu bangunan yang terbakar habis. Disekelilingnya puluhan
mayat bertaburan, itu hanya sebagian tidak tahu sudah berapa nyawa yang
melayang sejak ia tidak menemukan Fox dimana pun ia mencari.
Sedikit puas dengan apa
yang sudah terbakar habis didepannya, matanya beralih pada sosok yang sudah
berlumuran darah namun masihlah hidup. Entah siksaan seperti apa yang ia
terapkan pada pria yang sudah setengah sekarat itu. Tangan yang berlapis sarung
tangan hitam mencengkram kerah dari pria sekarat didepannya.
“Katakan!” Ancamnya mutlak.
“Bunuh saja aku, itu
lebih baik daripada menghianati kelompok kami.” Ucap sosok itu lemah, suaranya
kecil hampir tidak akan terdengar.
Joan terkikik
mendengarnya, ia memang sudah menduga akan kegigihan mereka dalam
menyembunyikan rahasia. Tentu ini tidak akan mudah, satu-satunya cara adalah
yang biasa ia terapkan pada musuh-musuhnya di LA.
“Jangan berpikir mati
akan sangat mudah untukmu!” Joan menghempaskan kerah baju dari sosok tersebut.
“Bereskan dia, jangan
biarkan ia mati tanpa perintah dariku!” Perintahnya pada bawahan yang ikut
bersamanya.
Pakaian putih yang
dikenakan telah berlumur darah, beberapa luka sabetan dan peluru nyasar
terdapat pada beberapa bagian dari tubuhnya. Namun sosoknya masih berdiri tegap
dan kokoh seolah ia masih mampu untuk menaklukkan kota Jakarta sampai ia bisa
menemukan Fox.
Tujuan mereka datang ke
Negara ini memang bukan tanpa tujuan, Fox mendapat perintah langsung dari Tuan
mereka. Bagaimana kejadian yang terjadi sampai belum sehari mereka berada di
Indo dengan Fox yang tiba-tiba menghilang?
Joan berjalan menjauh
dari kekacauan yang baru saja ia ciptakan, pergi tanpa sedikitpun jejak bukan
rencananya. Ia akan sedikit bersabar untuk tidak membantai seluruh area
persembunyian musuh yang ia ketahui.
“Tuan Joan, anda
menerima telepon langsung dari Boss Besar.” Seorang bawahan datang melapor dan
menyodorkan benda pipih ditangannya terhadap Joan.
“Ck!” Dengusnya, namun
tetap menerima ponsel yang diulurkan kearahnya.
Kecepatan informasi
memang mengganggu disaat yang tidak dibutuhkan. Sudah pasti laporan akan
dirinya yang sudah membuat kekacauan ditiga tempat dalam sehari semalam sampai
pada Tuan mereka. Ia akan siap menerima hukuman jika saja Fox sudah ditemukan,
itu adalah prinsipnya saat ini.
secepatnya, tugas ini sepenuhnya aku serahkan padamu. Ingat! Fox harus ada
dihadapanku dalam keadaan hidup!” Suara yang penuh penekanan itu terdengar
diindera pendengar Joan. Tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan tapi ini jauh
lebih baik. Ini sama artinya dengan ia bisa berbuat sesukanya pada musuh yang
sudah berani menargetkan Fox.
.
.
Fox sesekali merenggangkan
tangannya, luka-lukanya belum pulih sepenuhnya tapi ini sudah lebih baik dari
sehari sebelumnya. Perlahan ia bangkit dari tidurnya, otot-otot lain ditubuhnya
juga perlu ia renggangkan dan secepatnya pergi dari tempat ini. Hilang sebelum
pesta perayaan bukanlah sesuatu yang tidak akan lama untuk tidak diketahui oleh
Joan. Dan ia cukup hafal dengan tabiat anak itu, saat ini ia yakin beberapa
musuh yang tidak memiliki hubungan dnegannya akan ikut menerima dampak amukan
Joan. Hanya saja jika Joan terang-terangan mencari dirinya, keadaan dirinya
ditempat ini akan sama berbahayanya dikandang musuh.
Menghela nafas ia
perlahan beranjak dari tempat tidur, seketika nyeri dari luka pada bagian
tertentu berdenyut hebat. Bibirnya mendesis, pengalaman pertama menjadi tahanan
musuh memang tidak lebih baik dari sebuah kematian. Sudah berapa lama sejak
terakhir kali ia menerima kesakitan menyiksa seperti saat ini. Apa ini rasa
yang sama yang pernah dirasakan tubuh ringkih itu dahulu ataukah ini lebih
parah.
“Sudah bangun?” Sebuah
suara mengintrupsi dari arah pintu, Fox menoleh dan mendapati sosok agen yang
sudah menyelamatkan dirinya.
“Saya membawakan
sarapan untuk anda, tidak banyak tapi ini cukup enak untuk dinikmati.” Frank
berjalan mendekat dan segera meletakkan nampang ditangannya diatas nakas.
“Terima kasih dan
sekarang saya memutuskan untuk pergi, saya tidak ingin merepotkan anda lebih
dari ini dan mengenai biaya pengobatan akan saya kirimkan ke alamat ini segera
mungkin saat saya kembali ke tempat saya.” Fox menyuarakan niatnya, ia memang
harus pergi sebelum masalah semakin membesar ditangan Joan.
“Ahh, tidak ada masalah
dengan biaya pengobatan, anda jangan terlalu sungkan dan lagi anda belum
sepenuhnya pulih.”
Sekilas Fox merasakan
kilatan mata tidak senang dari reflex yang dilakukan Frank saat ia mengutarakan
niatnya. Apa yang salah dengan keinginannya, tidak ia akan menganggap itu hanya
kebetulan?
Memikirkan alasan ‘orang
tua’ itu akan sangat kekanak-kanakan, ia harus memberikan alasan yang masuk
akal tanpa menimbulkan sedikitpun kecurigaan.
“Yah, sayangnya ada
pekerjaan yang harus saya selesaikan secepat mungkin dan ini sudah lewat dari
waktu yang ditentukan. Saya hanya tidak ingin mengecewakan klienku lebih lama.”
Dengan sikap tenang Fox memberikan alasan. Ia yakin agen dihadapannya bukan
sosok yang bisa ditipu daya.
“Sepertinya anda
memliki pekerjaan yang sangat berbahaya sampai ada pihak yang menginginkan anda
dalam genggaman mereka.” Suara yang halus, namun Fox bisa merasakan sindiran
dalam kalimat yang ditujukan Frank terhadapnya.
“Yah, seseorang harus
berjuang untuk mendapatkan setumpuk uang untuk membiayai kebutuhan mereka yang
tidak sedikit.”
“Hahahah… Anda ternyata
seorang pekerja keras.”
Fox tidak lagi
menjawab, terlalau berhati-hati juga ada batasnya. Semakin hati-hati seseorang
menyembunyikan niatnya akan semakin cepat aromanya tercium.