
“Aku memutuskan untuk
kembali.” Ucap Fox tiba-tiba.
Joan yang sudah berada
diambang pintu mengehentikan langkahnya, lantas berbalik menatap kearah Fox.
“Aku pun demikian, akan
ikut denganmu.” Jawab Joan.
“Yah, terserah!” Ucap
Fox acuh.
Tidak bisa mengutarakan
bahwa ia senang mendengar keputusan Joan yang akan ikut dengannya, ia memilih
menjawab asal dan menyibukkan diri dengan pakaian ditangannya kembali.
Sebuah garis tipis
tertarik ke atas dari bibir Joan, ia senang wanita itu baik-baik saja. Siapa
sangka alarm yang ia siapkan di apartemen sebagai penanda jika ada penyusup
terlambat merespon.
Di medan perang ia
tidak akan mengkhawatirkan wanita itu tapi berbeda jika wanita itu berubah jadi
wanita rumahan biasa. Pertahanannya sangat buruk.
“Perbaiki pintunya,
semua harus sempurna saat kita menjual apartemen ini. Konsumen banyak yang
tidak menyukai barang cacat.” Teriak Fox saat tubuh Joan sudah tidak terlihat
dari pandangannya.
“Sejak kapan kau
belajar mengenai produk gagal dan konsumen?” Itu suara teriakan balasan dari
Joan yang lebih terdengar mengejek.
Tidak mendengar balasan
dari Fox kembali Joan meneruskan langkahnya ke kamarnya sendiri. Ia yakin wajah
Fox saat ini menjadi tatapan laser pembunuh.
“Cih! Sejak kapan bocah
itu menjadi sangat berani.” Rutuk Fox.
Dua hari telah berlalu,
suasana padat ibukota Jakarta membentang didepan mata. Tiga menit lalu dua
sosok dengan pakaian mencolok keluar dari Bandar udara. Lambang rubah berwarna
putih berkibar di punggung sosok berpakaian bad boy. Mata cokelat yang berada
dibalik lensa hitam seolah menginfansi seluruh tempat yang matanya tuju. Satu
koper hitam kecil ditarik dengan santai. Sosok disampingnya terlihat lebih
santai dan natural, wajahnya yang putih khas bangsa asing cukup menarik
beberapa perhatian. Keduanya lebih terlihat perpaduan pria tampan dan
mempesona, siapapun bisa terjerat pesona dari keduanya.
Fox menarik kaca mata
hitam yang bertengger diatas hidungnya, kesan yang santai dan tidak dibuat-buat
malah membuat beberapa pasang mata berteriak histeris. Sosok memukau yang hanya
tampil dibalik layar. Ketampanan dan style keduanya seolah menjerat untuk
dikagumi. Tidak ada yang tahu status keduanya yang sebenarnya, dihadapan mereka
kini adalah sosok tampan yang mereka akan puja sejak pertemuan pertama. Tidak
melepas kesempatan untuk mengabadikan sosok memukau yang tidak sengaja mereka
temui, berbagai tipe ponsel merekam kehadiran keduanya. Cahaya lampu blits
menerangi hari yang terik, tidak ada kepedulian dari dua sosok yang berjalan
angkuh melewati kerumunan.
“Aku merasa seperti
bintang model.” Joan berkata, ia tersenyum simpul setelah melewati kerumunan
yang terus meneriakkan kehadiran mereka sebagai pangeran.
“Jangan banyak tingkah,
kita harus sampai sebelum jam makan malam.” Balas Fox dingin.
“Baiklah, baiklah!”
**
“Apa mereka sudah
sampai?”
Wajah yang tampak agung
yang tengah duduk dikursi kebesarannya, ditangannya terdapat gelas anggur
merah.
“Benar, Tuan. Mereka
sedang dalam perjalanan kemari.”
Sosok Tuan itu berdiri
dari singgasananya, melangkah mendekati kotak beludru yang sudah
dipersiapkannya jauh hari.
“Berikan kotak hadiah
ini padanya.” Ucapnya lantas berbalik pergi.
“Baik Tuan.”
Tidak lama ruangan itu
kembali terbuka, sosok itu muncul disana.
“Dimana Tuan?” Tanya
Fox tanpa membuang waktu.
“Kalian akan bertemu
dengannya saat pesta perayaan.” Sosok yang menunggu kedatangan mereka menjawab.
Fox menatap kearah
“Tuan menitipkan kotak
ini untuk Fox.” Sosok itu berjalan mendekat dan menyerahkan kotak beludru yang
Tuan mereka titipkan.
Tanpa ragu Fox menerima
kotak beludru dari satu-satunya sosok yang menunggu kedatangan mereka diruangan
itu.
“Kalian bisa memilih
ruangan kalian sendiri.” kata sosok itu dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Ini tidak adil, kenapa
hanya kamu yang mendapat kotak hadiah?” Dari arah samping Joan menggerutu.
“Kalau kamu tertarik
dengan isi dari kotak ini kamu bisa memilikinya dan pastikan kamu memakainya
malam ini.” Dengan acuh Fox menjawab setelah meletakkan kotak beludru
ditangannya ketangan Joan.
Sejenak Joan berfikir,
pakaian apa yang hendak ia kenakan malam ini. Mengingat identitas Fos yang
sebenarnya, Joan menelan ludah, tidak baik batinnya. Segera ia berbalik berlari
menyusul Fox, ia tidak akan cemburu dengan hadiah yang didapatkan oleh Fox
mulai dari hari ini, tekadnya.
“Fox jangan bercanda,
aku tidak akan menyukai pakaian wanita dikenakan ditubuhku.” Ucapnya setelah
berhasil menyamakan langkah Fox.
“Benarkah?”
‘Apa maksudnya?’batin Joan kembali berpikir keras untuk memaknai maksud ucapan dari Fox.
Didalam kamar Fox
tengah berdiri mengamati dress hitam yang baru ia keluarkan dari kotaknya.
Kerut diwajahnya menunjukkan ia tidak begitu menyukai pakaian yang dihadiahkan
oleh tuannya itu. Menyimpan dress itu asal, ia berjalan kearah kamar mandi. Ia
butuh menyegarkan kepalanya dengan air. Hampir 20 menit ia berendam didalam bathup
dan setelahnya ia keluar dan berpakaian santai, masih ada 2 jam sebelum acara
dimulai dan itu artinya ia masih punya waktu untuk sendiri. Tangannya yang
panjang bergerak menyalakan komputer, mengetikkan sandi dan masuk kedalam menu
email. Matanya bergerak kesana kemari membaca sederetan laporan dari salah satu
rekannya.
Ting!
Ia menoleh, satu pesan
masuk dari ponselnya menurunkan konsentrasinya pada komputer.
‘Musuh sedang bergerak!’
Tanpa repot membalas,
Fox bergerak mengambil dua pistol kesayangannya didalam laci. Dengan gerakan
cepat ia mengganti pakaian santai yang ia kenakan dengan pakaian tempur yang
biasa ia pakai. Celana kulit hitam ketat sudah membalut kaki panjangnya, tidak
lupa dengan jaket kulit yang menutupi tubuhnya dari dinginnya malam. Kedua kakinya
dibungkus sepatu both hitam, tidak lupa pada pinggangnya dua pistol yang
tersimpan apik. Penampiann yang lebih mirip gilr band yang akan mengadakan
konser rock and roll. Fox berjalan
keluar balkom kamar yang ditempatinya, tubuhnya yang ramping melompati pembatas
balkom, bangunan yang memiliki beberapa lantai tidak mengurungkan niatnya untuk
melompat langsung lantai terbawah. Gerakannya terlihat anggun saat kedua
kakinya sudah bertumpu pada tanah. Sejenak ia melirik keatas balkom kamarnya
memastikan tidak ada siapapun yang memperhatikannya.
Sepertinya ia akan
terlambat menghadiri pesta perayaan, sekarang itu bukan sesuatu yang penting
yang harus ia pikirkan. Mengetahui persembunyian utama musuh jauh lebih
penting. Memasuki garasi utama, ia berjalan kearah jejeran mobil yang terparkir
apik. Ia ingat salah satu dari mobil-mobil itu ada juga mobil khusus untuknya. Matanya
jatuh pada mobil dengan warna hitam mengkilat, ada gambar rubah dimoncong mobil
tersebut. Fox mendekat, benar saja itu mobil khusus untuknya. Mobil yang akan
mendeteksi langsung pemiliknya.
“Welcome Fox, saya siap melayani anda.”
Fox sejenak tersentak
dengan mobil yang tiba-tiba seolah bebicara padanya. Kakinya berjalan mundur
dua langkah, mobil dihadapannya benar-benar memiliki modifikasi yang amat
canggih. Ia takjub dengan mobil yang seolah bisa bicara padanya itu.
Menggeleng kepala
sejenak, ia tidak punya waktu untuk mengagumi kendaraan khusus yang sudah di persiapkan
untuknya itu. Tanpa ragu Fox, membuka pintu kemudi, dan langsung masuk kedalam
mobil.
“Ingin mengendarai
secara manual atau otomatis, Fox?” Lagi-lagi mobil itu berbicara padanya.
“Manual!” jawab Fox
singkat.
Ia sendiri tidak yakin
pada dirinya yang sudah berbicara pada benda mati yang dioperasikan oleh mesin
itu.