MIDA

MIDA
Episode 6



“Aku memutuskan untuk


kembali.” Ucap Fox tiba-tiba.


Joan yang sudah berada


diambang pintu mengehentikan langkahnya, lantas berbalik menatap kearah Fox.


“Aku pun demikian, akan


ikut denganmu.” Jawab Joan.


“Yah, terserah!” Ucap


Fox acuh.


Tidak bisa mengutarakan


bahwa ia senang mendengar keputusan Joan yang akan ikut dengannya, ia memilih


menjawab asal dan menyibukkan diri dengan pakaian ditangannya kembali.


Sebuah garis tipis


tertarik ke atas dari bibir Joan, ia senang wanita itu baik-baik saja. Siapa


sangka alarm yang ia siapkan di apartemen sebagai penanda jika ada penyusup


terlambat merespon.


Di medan perang ia


tidak akan mengkhawatirkan wanita itu tapi berbeda jika wanita itu berubah jadi


wanita rumahan biasa. Pertahanannya sangat buruk.


“Perbaiki pintunya,


semua harus sempurna saat kita menjual apartemen ini. Konsumen banyak yang


tidak menyukai barang cacat.” Teriak Fox saat tubuh Joan sudah tidak terlihat


dari pandangannya.


“Sejak kapan kau


belajar mengenai produk gagal dan konsumen?” Itu suara teriakan balasan dari


Joan yang lebih terdengar mengejek.


Tidak mendengar balasan


dari Fox kembali Joan meneruskan langkahnya ke kamarnya sendiri. Ia yakin wajah


Fox saat ini menjadi tatapan laser pembunuh.


“Cih! Sejak kapan bocah


itu menjadi sangat berani.” Rutuk Fox.


Dua hari telah berlalu,


suasana padat ibukota Jakarta membentang didepan mata. Tiga menit lalu dua


sosok dengan pakaian mencolok keluar dari Bandar udara. Lambang rubah berwarna


putih berkibar di punggung sosok berpakaian bad boy. Mata cokelat yang berada


dibalik lensa hitam seolah menginfansi seluruh tempat yang matanya tuju. Satu


koper hitam kecil ditarik dengan santai. Sosok disampingnya terlihat lebih


santai dan natural, wajahnya yang putih khas bangsa asing cukup menarik


beberapa perhatian. Keduanya lebih terlihat perpaduan pria tampan dan


mempesona, siapapun bisa terjerat pesona dari keduanya.


Fox menarik kaca mata


hitam yang bertengger diatas hidungnya, kesan yang santai dan tidak dibuat-buat


malah membuat beberapa pasang mata berteriak histeris. Sosok memukau yang hanya


tampil dibalik layar. Ketampanan dan style keduanya seolah menjerat untuk


dikagumi. Tidak ada yang tahu status keduanya yang sebenarnya, dihadapan mereka


kini adalah sosok tampan yang mereka akan puja sejak pertemuan pertama. Tidak


melepas kesempatan untuk mengabadikan sosok memukau yang tidak sengaja mereka


temui, berbagai tipe ponsel merekam kehadiran keduanya. Cahaya lampu blits


menerangi hari yang terik, tidak ada kepedulian dari dua sosok yang berjalan


angkuh melewati kerumunan.


“Aku merasa seperti


bintang model.” Joan berkata, ia tersenyum simpul setelah melewati kerumunan


yang terus meneriakkan kehadiran mereka sebagai pangeran.


“Jangan banyak tingkah,


kita harus sampai sebelum jam makan malam.” Balas Fox dingin.


“Baiklah, baiklah!”


**


“Apa mereka sudah


sampai?”


Wajah yang tampak agung


yang tengah duduk dikursi kebesarannya, ditangannya terdapat gelas anggur


merah.


“Benar, Tuan. Mereka


sedang dalam perjalanan kemari.”


Sosok Tuan itu berdiri


dari singgasananya, melangkah mendekati kotak beludru yang sudah


dipersiapkannya jauh hari.


“Berikan kotak hadiah


ini padanya.” Ucapnya lantas berbalik pergi.


“Baik Tuan.”


Tidak lama ruangan itu


kembali terbuka, sosok itu muncul disana.


“Dimana Tuan?” Tanya


Fox tanpa membuang waktu.


“Kalian akan bertemu


dengannya saat pesta perayaan.” Sosok yang menunggu kedatangan mereka menjawab.


Fox menatap kearah


“Tuan menitipkan kotak


ini untuk Fox.” Sosok itu berjalan mendekat dan menyerahkan kotak beludru yang


Tuan mereka titipkan.


Tanpa ragu Fox menerima


kotak beludru dari satu-satunya sosok yang menunggu kedatangan mereka diruangan


itu.


“Kalian bisa memilih


ruangan kalian sendiri.” kata sosok itu dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


“Ini tidak adil, kenapa


hanya kamu yang mendapat kotak hadiah?” Dari arah samping Joan menggerutu.


“Kalau kamu tertarik


dengan isi dari kotak ini kamu bisa memilikinya dan pastikan kamu memakainya


malam ini.” Dengan acuh Fox menjawab setelah meletakkan kotak beludru


ditangannya ketangan Joan.


Sejenak Joan berfikir,


pakaian apa yang hendak ia kenakan malam ini. Mengingat identitas Fos yang


sebenarnya, Joan menelan ludah, tidak baik batinnya. Segera ia berbalik berlari


menyusul Fox, ia tidak akan cemburu dengan hadiah yang didapatkan oleh Fox


mulai dari hari ini, tekadnya.


“Fox jangan bercanda,


aku tidak akan menyukai pakaian wanita dikenakan ditubuhku.” Ucapnya setelah


berhasil menyamakan langkah Fox.


“Benarkah?”


‘Apa maksudnya?’batin Joan kembali berpikir keras untuk memaknai maksud ucapan dari Fox.


Didalam kamar Fox


tengah berdiri mengamati dress hitam yang baru ia keluarkan dari kotaknya.


Kerut diwajahnya menunjukkan ia tidak begitu menyukai pakaian yang dihadiahkan


oleh tuannya itu. Menyimpan dress itu asal, ia berjalan kearah kamar mandi. Ia


butuh menyegarkan kepalanya dengan air. Hampir 20 menit ia berendam didalam bathup


dan setelahnya ia keluar dan berpakaian santai, masih ada 2 jam sebelum acara


dimulai dan itu artinya ia masih punya waktu untuk sendiri. Tangannya yang


panjang bergerak menyalakan komputer, mengetikkan sandi dan masuk kedalam menu


email. Matanya bergerak kesana kemari membaca sederetan laporan dari salah satu


rekannya.


Ting!


Ia menoleh, satu pesan


masuk dari ponselnya menurunkan konsentrasinya pada komputer.


‘Musuh sedang bergerak!’


Tanpa repot membalas,


Fox bergerak mengambil dua pistol kesayangannya didalam laci. Dengan gerakan


cepat ia mengganti pakaian santai yang ia kenakan dengan pakaian tempur yang


biasa ia pakai. Celana kulit hitam ketat sudah membalut kaki panjangnya, tidak


lupa dengan jaket kulit yang menutupi tubuhnya dari dinginnya malam. Kedua kakinya


dibungkus sepatu both hitam, tidak lupa pada pinggangnya dua pistol yang


tersimpan apik. Penampiann yang lebih mirip gilr band yang akan mengadakan


konser rock and roll. Fox berjalan


keluar balkom kamar yang ditempatinya, tubuhnya yang ramping melompati pembatas


balkom, bangunan yang memiliki beberapa lantai tidak mengurungkan niatnya untuk


melompat langsung lantai terbawah. Gerakannya terlihat anggun saat kedua


kakinya sudah bertumpu pada tanah. Sejenak ia melirik keatas balkom kamarnya


memastikan tidak ada siapapun yang memperhatikannya.


Sepertinya ia akan


terlambat menghadiri pesta perayaan, sekarang itu bukan sesuatu yang penting


yang harus ia pikirkan. Mengetahui persembunyian utama musuh jauh lebih


penting. Memasuki garasi utama, ia berjalan kearah jejeran mobil yang terparkir


apik. Ia ingat salah satu dari mobil-mobil itu ada juga mobil khusus untuknya. Matanya


jatuh pada mobil dengan warna hitam mengkilat, ada gambar rubah dimoncong mobil


tersebut. Fox mendekat, benar saja itu mobil khusus untuknya. Mobil yang akan


mendeteksi langsung pemiliknya.


“Welcome Fox, saya siap melayani anda.”


Fox sejenak tersentak


dengan mobil yang tiba-tiba seolah bebicara padanya. Kakinya berjalan mundur


dua langkah, mobil dihadapannya benar-benar memiliki modifikasi yang amat


canggih. Ia takjub dengan mobil yang seolah bisa bicara padanya itu.


Menggeleng kepala


sejenak, ia tidak punya waktu untuk mengagumi kendaraan khusus yang sudah di persiapkan


untuknya itu. Tanpa ragu Fox, membuka pintu kemudi, dan langsung masuk kedalam


mobil.


“Ingin mengendarai


secara manual atau otomatis, Fox?” Lagi-lagi mobil itu berbicara padanya.


“Manual!” jawab Fox


singkat.


Ia sendiri tidak yakin


pada dirinya yang sudah berbicara pada benda mati yang dioperasikan oleh mesin


itu.