
Gadis kecil dengan wajah yang penuh debu
bercampur lelehan ingus berjalan sempoyongan melewati pagar-pagar kayu. Ada
rasa takut yang melingkup diwajahnya. Ia terlambat pulang sesuatu yang buruk
akan terjadi ketika ia sampai rumah. Ia berhenti melangkah mata kecilnya
menatap rumah kecil yang tak jauh dari arahnya. Ada keenggangan untuk terus
melangkah dilihat dari kaki kecilnya yang mulai gemetaran. Cukup lama ia
mematung disana hingga kaki kecilnya kembali melangkah. Membuka pintu pagar dan
suara dentingan lonceng dari pagar kayu yang ia tarik membuatnya menahan nafas
sejenak. Seharusnya ia membuka pintu pagar lebih pelan lagi. Ketakutannya makin
menjadi saat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka lebar menampakkan wajah garang
dari si pembuka pintu.
“Dari mana saja kau Mida, kau anak tidak
berguna yang hanya tahu menghabiskan makanan. Kau ingin menjadi wanita murahan
seperti ibumu yang lupa untuk pulang itu, huh!” itu teriakan amarah dari
neneknya saat mereka berpapasan di depan pintu.
“….” Mida gemetar ketakutan. Setelah
amarah neneknya yang menjadi sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada
dirinya.
“Apa kau tuli, aku tanya darimana saja
kau Mida?”
“….” Mida masih diam tidak menjawab.
“Bagus, sudah berani rupanya, huh!”
menarik tongkat kayu yang tak jauh dari arahnya. Tongkat kayu yang besarnya
menyamai kepalan tangan bayi kini mendarat dengan keras dipunggung kecil Mida.
Suara tangisan keras menjadi melodi memengkakkan telinga di sore itu. Bukan
hanya satu pukulan tapi beberapa kali pukulan. Akankah Mida kecil bertahan?
Malam menjelang, isak tangis dari Mida
kecil masih terdengar meski samar. Apakah ada yang peduli? Sayangnya tidak ada,
Mida kecil ada disana duduk meringis menahan sakit dipojokan. Terlalu lama
menangis dan menahan rasa sakit akhirnya Mida kecil tertidur disana. Tepat
tengah malam Mida terbangun. Merasakan seluruh tubunya seperti terkoyak-koyak,
Mida mencoba menggerakkan tangan kanannya mencoba menggapai apa saja di
sekitarnya sebagai pertahanan agar ia bisa berdiri dari sana. Perlahan ia
berdiri sesekali meringis menahan sakit, kaki kecilnya melangkah pelan ke arah
pintu. Memutar kunci pintu secara perlahan agar tidak menimbulkan suara, Mida
akhirnya berhasil ia pun kembali melangkah pelan keluar rumah setelah ia
menutup kembali pintu dari luar.
Duduk dibawah pohon jambu, tubuhnya
menyandar sedang matanya menatap bulatnya bulan diatas sana. Ada kerinduan yang
amat besar tersirat di kedua bola mata cokelat itu. Adakah yang tahu? Sayangnya
ia sendiri tidak tahu untuk siapa dadanya berdenyut sakit? Air mata itu kembali
mengalir. Malam yang masih panjang rupanya.
Pagi menyambut sedang tubuh ringkih itu
menggigil dan mata yang terpejam erat. Apakah sudah berakhir? Ia merasakan
panas dan dingin disaat bersamaan. Sebuah tendangan keras di rusuknya tidak
membuat dirinya berteriak kesakitan seperti biasa. Saat ini tubuhnya seakan
mati rasa. Adakah yang bersedia menggenggam tangan mungilnya dan membacakan
mantra penyembuh untuknya? Siapapun tolonglah Mida kecil yang malang?
***
10
tahun kemudian….
Disebuah sekolah Menengah Atas hiruk
pikuk siswa-siswi dengan beragam aktivitas. Seorang gadis dengan tubuh kurus
dengan tinggi berkisar 160 an melangkah masuk ke dalam kelas yang bertuliskan
XI IPS 1. Di punggungnya terdapas tas lusuh yang sudah robek bagian atasnya.
Baju seragam yang seharusnya putih bersih tapi miliknya sudah berganti warna
kuning pucat pertanda bahwa itu hanya baju seragam bekas pemberian orang lain
untukknya. Sepatu hitam yang sudah bolong sebelah dibagian depan. Ia lebih terlihat
mirip gelandangan daripada seorang siswa, mungkin. Menghiraukan bisik-bisik
teman kelasnya kakinya melangkah menuju meja yang biasa ia tempati. Selang
beberapa menit bel masuk pun bebunyi menyebabkan keributan dan desahan tidak
berarti menit selanjutnya hanya keheningan hingga seorang guru memasuki kelas
tempat ia belajar. Pelajaran berlangsung cukup alot, mata gadis itu tak pernah
melepas gerak-gerik guru yang mengajar didepannya tapi siapa sangka kemana
pikiran gadis ini berlabuh. Menit-menit kelas belajar terus berlangsung hingga
tiba pada saat yang paling ditunggu seluruh siswa, jam istirahat. Seluruh siswa
berhamburan keluar kelas berlomba menuju arah kantin takut tidak mendapat
tempat. Hanya saja ada satu siswa yang masih berdiam duduk didalam kelas.
Matanya menatap iri para siswa yang ditangannya terdapat berbagai jenis makanan
ringan. Ia juga menginginkan itu tapi… Menatap tas lusuh miliknya yang sudah ia
letakkan diatas paha saat ia ingin memasukkan buku-buku yang sebelumnya ia
pakai. Apa yang ada didalam tas lusuh itu selain buku-buku lusuhnya? Tidak ada
tapi ia berharap ada sesuatu yang bisa ia makan, ia sangat lapar sejak pagi
belum ada sedikitpun makanan yang masuk kedalam perutnya. Mengangkat tas lusuh
itu ke atas meja selanjutnya ia meletakkan kepalanya di atas tas lusuh itu
meski tak emput tapi cukup nyaman. Ia menutup mata mencoba menghilangkan rasa
lapar yang terus menyiksanya. Bel pelajaran kembali berbunyi dan gadis itu
tidak menyadarinya. Terlalu nyaman mungkin dengan keadaannya sekarang. Derik
gesekan bangku dan lantai bersahutan barulah gadis itu terbangun, mengucek mata
dengan kedua tangannya setelahnya ia menoleh kearah samping kanannya. Seseorang
duduk disana bercahaya seperti malaikat. Siapa dia? Kenapa duduk disampingnya
dan sejak kapan? Matanya mengerjab berkali-kali mengagumi wajah dari gadis yang
duduk disampingnya itu.
“Perkanalkan namaku Angela Manof, kau
bisa memanggilku Angel” Gadis malaikat itu bersuara tapi gadis lusuh itu masih
pada dunianya sendiri tak menyadari tangan sosok gadis malaikat itu terulur
kepadanya.
“….” Angel, gadis malaikat itu
mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan gadis lusuh itu hingga membuat ia
tersadar.
“Si..siapa ka..kamu? Kenapa duduk di
Gadis lusuh itu berucap gagap, matanya bergerak liar mengobservasi ruang
kelasnya. Ia mendesah lemah. Hanya kursi disebelahnya yang kosong.
“Aku punya banyak parfum, kau tak perlu
khawatir, saat aku mencium bau yang tidak ku sukai aku akan menyemprotkan salah
satu parfumku.” Ucap gadis malaikat itu diselingi senyum lembut. Lagi-lagi
gadis lusuh itu terpaku akan gadis malaikat dihadapannya. Menggeleng kasar ia
memilih memandang keluar jendela, ia tak ingin disalah pahami menyukai sesama
jenis karena terus memandang wajah si gadis malaikat. Dan hari itu menjadi
pertemuan pertamanya dengan sosok gadis malaikat bernama Angela Manof.
Siang yang terik seakan membakar kulit,
Mida dengan tas lusuh dipunggung
berjalan tertatih-tatih dan sesekali
kedua tangannya *** bagian perut. Ia merasakan lapar yang luar biasa, bibir
pecah-pecah dengan keringat yang bercucuran ia masih harus berjalan kurang
lebih satu kilometer untuk sampai ke rumahnya. Sebuah suara klakson mobil yang
tiba-tiba dari arah belakang membuat tubuhnya berjengit kaget dan segera menepi
tapi ada yang aneh mobil itu masih saja mengeluarkan bunyi yang sama. Tidak
ambil pusing ia meneruskan langkahnya. Sedang sosok yang ada di atas mobil
menjadi kesal sendiri, niat ingin menolong tapi malah diabaikan.
“Hey, teman sebangku apa kau butuh
tumpangan?” teriak si pengendara mobil.
“….”
“Hey, lusuh. Aku memanggilmu?” teriaknya
lagi. Mida menoleh mendapati sosok Angel dengan senyum malaikatnya.
“Apa
ia memanggilku?”pikir Mida
mendapati Angel yang sedang melihat kearahnya. Mida menggeleng pelan, mungkin
ia salah beranggapan. Mida mempercepat langkahnya.
“Orang ini benar-benar aneh,” guman
Angel, ia kemudian menghentikan mobilnya dan mengejar Mida yang sudah berjalan cukup
jauh.
“Hey, aku memanggilmu.” Menarik tangan
Mida agar berhenti berjalan.
“Maaf, aku tidak mengerti apa maksudmu?”
cicit Mida khawatir dan tidak ingin berbuat masalah.
“Jangan takut, aku bukan untuk
menyakitimu. Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Dimana rumahmu?” tak ingin di
tolak Angel langsung memberi penjelasan akan tujuannya. Mida tersenyum detik
berikutnya ia terlihat bingung membuat Angel secara reflex mencubit pipi Mida
gemas. Tanpa menunggu jawaban lagi Angel menarik tangan Mida untuk menaiki
mobilnya.
“Dimana rumahmu?” Tanya Angel kembali.
“Koplex Bunga.” Jawab Mida singkat.
Angel tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya.
Satu minggu berlalu sejak hari Angel
mengantar Mida pulang ke koplex Bunga dan hari ini hari kelima anak itu tidak
muncul dan tanpa informasi sedikitpun. Guru-guru yang mengajar pun seakan acuh
tak acuh atas keabsenan Mida selama lima hari. Dua hari yang lalu Angel
mendatangi kompleks bunga tapi tak seorang pun penghuni disana yang mengenal
anak SMA bernama Mida. Angel bertanya kepada wali kelasnya tapi respon yang ia
terima tidak sesuai harapan. Mida dinyatakan keluar dari sekolah tepat lima
hari yang lalu.
“Mida, anak itu sungguh misterius,
tiba-tiba menghilang begitu saja,” guman Angel pada dirinya sendiri mendapati
sosok yang ia cari takkan muda ia temui lagi.
Siang dengan terik matahari bukanlah
ketakutannya, ia sudah terbiasa dengan hal itu tapi sekarang adalah sosok
bongsor ibu paruh baya yang menatap nyalang kearahnya. Peluh membasahi. Tangan
yang mulai gemetaran itu sesekali mengusap keringat di dahi. Tubuh ringkih
dengan lebam disekujur betis. Siapapun akan menyadari anak gadis itu baru saja
menerima siksaan dari majikannya. Apakah ia menangis? Tidak, sorot matanya
kosong tidak ada rasa sakit disana. Mungkin ia telah mati rasa. Menyelesaikan
sisa jemuran terakhirnya, Mida melangkahkan kaki kecilnya memasuki rumah sang
majikan.
Ia telah menyelesaikan tugas-tugasnya,
sekarang ia akan kembali ke gudang untuk beristirahat dan memakan sepotong roti
yang ia sisa kemarin. Belum sempat tubuhnya berbalik, sebuah teriakan kembali
menyebut namanya. Menghela nafas pasrah, Mida berjalan kearah ruang tamu. Disana
ada sang majikan dan anaknya yang baru berusia 12 tahun. Lagi-lagi tatapan
tajam itu terarah padanya.
“Apa saja yang kau lakukan, anakku sudah
kelaparan dan kau sama sekali belum menyiapkan makan siang untuknya? Apa kau
mau bermalas-malasan? Dasar anak pelacur!” bagai bom waktu, kalimat terakhir
dari sang nyonya seakan mengahantam sampai ke titik terendah dari pertahanan
Mida.
Tangannya mengepal erat siap menghantam
sang majikan. Mida berjalan mendekat tangan kanannya menyambar vas bunga diatas
meja. Detik selanjutnya vas bunga tersebut sudah bersarang di kepala sang
majikan dengan darah segar yang mengalir disana. Sebuah tangisan keras dari
sang anak melihat ibunya yang jatuh pingsan dengan darah yang terus mengalir.
Mida berdiri kaku disana tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Derap
langkah kaki mulai terdengar saling bersahut-sahutan. Mida menoleh, diarah
pintu sana orang-orang mulai berdatangan. Mida menjatuhkan sisa vas bunga
ditangannya.
Mata kosong itu menatap mantan majikan
yang masih memberi sumpah serapah untuknya. Dua hari yang lalu adalah hari
terakhirnya menatap sinar matahari dunia luar. Sekarang ia duduk lesu menatap
dinding yang penuh goresan tidak jelas didepan sana. Tempat yang akan ia
tinggali selama 2,5 tahun. Takdir yang buruk, pikir Mida dan memilih memejamkan
mata.