MIDA

MIDA
Episode 1



Gadis kecil dengan wajah yang penuh debu


bercampur lelehan ingus berjalan sempoyongan melewati pagar-pagar kayu. Ada


rasa takut yang melingkup diwajahnya. Ia terlambat pulang sesuatu yang buruk


akan terjadi ketika ia sampai rumah. Ia berhenti melangkah mata kecilnya


menatap rumah kecil yang tak jauh dari arahnya. Ada keenggangan untuk terus


melangkah dilihat dari kaki kecilnya yang mulai gemetaran. Cukup lama ia


mematung disana hingga kaki kecilnya kembali melangkah. Membuka pintu pagar dan


suara dentingan lonceng dari pagar kayu yang ia tarik membuatnya menahan nafas


sejenak. Seharusnya ia membuka pintu pagar lebih pelan lagi. Ketakutannya makin


menjadi saat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka lebar menampakkan wajah garang


dari si pembuka pintu.


“Dari mana saja kau Mida, kau anak tidak


berguna yang hanya tahu menghabiskan makanan. Kau ingin menjadi wanita murahan


seperti ibumu yang lupa untuk pulang itu, huh!” itu teriakan amarah dari


neneknya saat mereka berpapasan di depan pintu.


“….” Mida gemetar ketakutan. Setelah


amarah neneknya yang menjadi sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada


dirinya.


“Apa kau tuli, aku tanya darimana saja


kau Mida?”


“….” Mida masih diam tidak menjawab.


“Bagus, sudah berani rupanya, huh!”


menarik tongkat kayu yang tak jauh dari arahnya. Tongkat kayu yang besarnya


menyamai kepalan tangan bayi kini mendarat dengan keras dipunggung kecil Mida.


Suara tangisan keras menjadi melodi memengkakkan telinga di sore itu. Bukan


hanya satu pukulan tapi beberapa kali pukulan. Akankah Mida kecil bertahan?


Malam menjelang, isak tangis dari Mida


kecil masih terdengar meski samar. Apakah ada yang peduli? Sayangnya tidak ada,


Mida kecil ada disana duduk meringis menahan sakit dipojokan. Terlalu lama


menangis dan menahan rasa sakit akhirnya Mida kecil tertidur disana. Tepat


tengah malam Mida terbangun. Merasakan seluruh tubunya seperti terkoyak-koyak,


Mida mencoba menggerakkan tangan kanannya mencoba menggapai apa saja di


sekitarnya sebagai pertahanan agar ia bisa berdiri dari sana. Perlahan ia


berdiri sesekali meringis menahan sakit, kaki kecilnya melangkah pelan ke arah


pintu. Memutar kunci pintu secara perlahan agar tidak menimbulkan suara, Mida


akhirnya berhasil ia pun kembali melangkah pelan keluar rumah setelah ia


menutup kembali pintu dari luar.


Duduk dibawah pohon jambu, tubuhnya


menyandar sedang matanya menatap bulatnya bulan diatas sana. Ada kerinduan yang


amat besar tersirat di kedua bola mata cokelat itu. Adakah yang tahu? Sayangnya


ia sendiri tidak tahu untuk siapa dadanya berdenyut sakit? Air mata itu kembali


mengalir. Malam yang masih panjang rupanya.


Pagi menyambut sedang tubuh ringkih itu


menggigil dan mata yang terpejam erat. Apakah sudah berakhir? Ia merasakan


panas dan dingin disaat bersamaan. Sebuah tendangan keras di rusuknya tidak


membuat dirinya berteriak kesakitan seperti biasa. Saat ini tubuhnya seakan


mati rasa. Adakah yang bersedia menggenggam tangan mungilnya dan membacakan


mantra penyembuh untuknya? Siapapun tolonglah Mida kecil yang malang?


***


10


tahun kemudian….


Disebuah sekolah Menengah Atas hiruk


pikuk siswa-siswi dengan beragam aktivitas. Seorang gadis dengan tubuh kurus


dengan tinggi berkisar 160 an melangkah masuk ke dalam kelas yang bertuliskan


XI IPS 1. Di punggungnya terdapas tas lusuh yang sudah robek bagian atasnya.


Baju seragam yang seharusnya putih bersih tapi miliknya sudah berganti warna


kuning pucat pertanda bahwa itu hanya baju seragam bekas pemberian orang lain


untukknya. Sepatu hitam yang sudah bolong sebelah dibagian depan. Ia lebih terlihat


mirip gelandangan daripada seorang siswa, mungkin. Menghiraukan bisik-bisik


teman kelasnya kakinya melangkah menuju meja yang biasa ia tempati. Selang


beberapa menit bel masuk pun bebunyi menyebabkan keributan dan desahan tidak


berarti menit selanjutnya hanya keheningan hingga seorang guru memasuki kelas


tempat ia belajar. Pelajaran berlangsung cukup alot, mata gadis itu tak pernah


melepas gerak-gerik guru yang mengajar didepannya tapi siapa sangka kemana


pikiran gadis ini berlabuh. Menit-menit kelas belajar terus berlangsung hingga


tiba pada saat yang paling ditunggu seluruh siswa, jam istirahat. Seluruh siswa


berhamburan keluar kelas berlomba menuju arah kantin takut tidak mendapat


tempat. Hanya saja ada satu siswa yang masih berdiam duduk didalam kelas.


Matanya menatap iri para siswa yang ditangannya terdapat berbagai jenis makanan


ringan. Ia juga menginginkan itu tapi… Menatap tas lusuh miliknya yang sudah ia


letakkan diatas paha saat ia ingin memasukkan buku-buku yang sebelumnya ia


pakai. Apa yang ada didalam tas lusuh itu selain buku-buku lusuhnya? Tidak ada


tapi ia berharap ada sesuatu yang bisa ia makan, ia sangat lapar sejak pagi


belum ada sedikitpun makanan yang masuk kedalam perutnya. Mengangkat tas lusuh


itu ke atas meja selanjutnya ia meletakkan kepalanya di atas tas lusuh itu


meski tak emput tapi cukup nyaman. Ia menutup mata mencoba menghilangkan rasa


lapar yang terus menyiksanya. Bel pelajaran kembali berbunyi dan gadis itu


tidak menyadarinya. Terlalu nyaman mungkin dengan keadaannya sekarang. Derik


gesekan bangku dan lantai bersahutan barulah gadis itu terbangun, mengucek mata


dengan kedua tangannya setelahnya ia menoleh kearah samping kanannya. Seseorang


duduk disana bercahaya seperti malaikat. Siapa dia? Kenapa duduk disampingnya


dan sejak kapan? Matanya mengerjab berkali-kali mengagumi wajah dari gadis yang


duduk disampingnya itu.


“Perkanalkan namaku Angela Manof, kau


bisa memanggilku Angel” Gadis malaikat itu bersuara tapi gadis lusuh itu masih


pada dunianya sendiri tak menyadari tangan sosok gadis malaikat itu terulur


kepadanya.


“….” Angel, gadis malaikat itu


mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan gadis lusuh itu hingga membuat ia


tersadar.


“Si..siapa ka..kamu? Kenapa duduk di


Gadis lusuh itu berucap gagap, matanya bergerak liar mengobservasi ruang


kelasnya. Ia mendesah lemah. Hanya kursi disebelahnya yang kosong.


“Aku punya banyak parfum, kau tak perlu


khawatir, saat aku mencium bau yang tidak ku sukai aku akan menyemprotkan salah


satu parfumku.” Ucap gadis malaikat itu diselingi senyum lembut. Lagi-lagi


gadis lusuh itu terpaku akan gadis malaikat dihadapannya. Menggeleng kasar ia


memilih memandang keluar jendela, ia tak ingin disalah pahami menyukai sesama


jenis karena terus memandang wajah si gadis malaikat. Dan hari itu menjadi


pertemuan pertamanya dengan sosok gadis malaikat bernama Angela Manof.


Siang yang terik seakan membakar kulit,


Mida  dengan tas lusuh dipunggung


berjalan tertatih-tatih  dan sesekali


kedua tangannya *** bagian perut. Ia merasakan lapar yang luar biasa, bibir


pecah-pecah dengan keringat yang bercucuran ia masih harus berjalan kurang


lebih satu kilometer untuk sampai ke rumahnya. Sebuah suara klakson mobil yang


tiba-tiba dari arah belakang membuat tubuhnya berjengit kaget dan segera menepi


tapi ada yang aneh mobil itu masih saja mengeluarkan bunyi yang sama. Tidak


ambil pusing ia meneruskan langkahnya. Sedang sosok yang ada di atas mobil


menjadi kesal sendiri, niat ingin menolong tapi malah diabaikan.


“Hey, teman sebangku apa kau butuh


tumpangan?” teriak si pengendara mobil.


“….”


“Hey, lusuh. Aku memanggilmu?” teriaknya


lagi. Mida menoleh mendapati sosok Angel dengan senyum malaikatnya.


“Apa


ia memanggilku?”pikir Mida


mendapati Angel yang sedang melihat kearahnya. Mida menggeleng pelan, mungkin


ia salah beranggapan. Mida mempercepat langkahnya.


“Orang ini benar-benar aneh,” guman


Angel, ia kemudian menghentikan mobilnya dan mengejar Mida yang sudah berjalan cukup


jauh.


“Hey, aku memanggilmu.” Menarik tangan


Mida agar berhenti berjalan.


“Maaf, aku tidak mengerti apa maksudmu?”


cicit Mida khawatir dan tidak ingin berbuat masalah.


“Jangan takut, aku bukan untuk


menyakitimu. Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Dimana rumahmu?” tak ingin di


tolak Angel langsung memberi penjelasan akan tujuannya. Mida tersenyum detik


berikutnya ia terlihat bingung membuat Angel secara reflex mencubit pipi Mida


gemas. Tanpa menunggu jawaban lagi Angel menarik tangan Mida untuk menaiki


mobilnya.


“Dimana rumahmu?” Tanya Angel kembali.


“Koplex Bunga.” Jawab Mida singkat.


Angel tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya.


Satu minggu berlalu sejak hari Angel


mengantar Mida pulang ke koplex Bunga dan hari ini hari kelima anak itu tidak


muncul dan tanpa informasi sedikitpun. Guru-guru yang mengajar pun seakan acuh


tak acuh atas keabsenan Mida selama lima hari. Dua hari yang lalu Angel


mendatangi kompleks bunga tapi tak seorang pun penghuni disana yang mengenal


anak SMA bernama Mida. Angel bertanya kepada wali kelasnya tapi respon yang ia


terima tidak sesuai harapan. Mida dinyatakan keluar dari sekolah tepat lima


hari yang lalu.


“Mida, anak itu sungguh misterius,


tiba-tiba menghilang begitu saja,” guman Angel pada dirinya sendiri mendapati


sosok yang ia cari takkan muda ia temui lagi.


Siang dengan terik matahari bukanlah


ketakutannya, ia sudah terbiasa dengan hal itu tapi sekarang adalah sosok


bongsor ibu paruh baya yang menatap nyalang kearahnya. Peluh membasahi. Tangan


yang mulai gemetaran itu sesekali mengusap keringat di dahi. Tubuh ringkih


dengan lebam disekujur betis. Siapapun akan menyadari anak gadis itu baru saja


menerima siksaan dari majikannya. Apakah ia menangis? Tidak, sorot matanya


kosong tidak ada rasa sakit disana. Mungkin ia telah mati rasa. Menyelesaikan


sisa jemuran terakhirnya, Mida melangkahkan kaki kecilnya memasuki rumah sang


majikan.


Ia telah menyelesaikan tugas-tugasnya,


sekarang ia akan kembali ke gudang untuk beristirahat dan memakan sepotong roti


yang ia sisa kemarin. Belum sempat tubuhnya berbalik, sebuah teriakan kembali


menyebut namanya. Menghela nafas pasrah, Mida berjalan kearah ruang tamu. Disana


ada sang majikan dan anaknya yang baru berusia 12 tahun. Lagi-lagi tatapan


tajam itu terarah padanya.


“Apa saja yang kau lakukan, anakku sudah


kelaparan dan kau sama sekali belum menyiapkan makan siang untuknya? Apa kau


mau bermalas-malasan? Dasar anak pelacur!” bagai bom waktu, kalimat terakhir


dari sang nyonya seakan mengahantam sampai ke titik terendah dari pertahanan


Mida.


Tangannya mengepal erat siap menghantam


sang majikan. Mida berjalan mendekat tangan kanannya menyambar vas bunga diatas


meja. Detik selanjutnya vas bunga tersebut sudah bersarang di kepala sang


majikan dengan darah segar yang mengalir disana. Sebuah tangisan keras dari


sang anak melihat ibunya yang jatuh pingsan dengan darah yang terus mengalir.


Mida berdiri kaku disana tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Derap


langkah kaki mulai terdengar saling bersahut-sahutan. Mida menoleh, diarah


pintu sana orang-orang mulai berdatangan. Mida menjatuhkan sisa vas bunga


ditangannya.


Mata kosong itu menatap mantan majikan


yang masih memberi sumpah serapah untuknya. Dua hari yang lalu adalah hari


terakhirnya menatap sinar matahari dunia luar. Sekarang ia duduk lesu menatap


dinding yang penuh goresan tidak jelas didepan sana. Tempat yang akan ia


tinggali selama 2,5 tahun. Takdir yang buruk, pikir Mida dan memilih memejamkan


mata.