
Satu tahun kemudian….
Los Angeles,
California
Suara sol sepatu
menggema dipenjuru ujung lorong, beberapa pria memakai tuksedo berjalan
beriringan. Sedang disebuah kamar hotel seorang memakai masker hitam bersiap
dengan bidikannya.
Dor!
Satu tembakan bersarang
dikepala salah satu pria yang sedag berjalan beriringan itu. Suasana yang
awalnya hanya terdengar suara sol sepatu berubah menjadi suara kepanikan.
Bagaimana tidak salah jaksa penuntut mengenai kasus pembunuhan keluarga Dilliar
Ameston kini sudah berlumuran darah dan diperkirakan mati ditempat.
“Target berhasil
dieksekusi!” ucap si pemakai masker, kemudian berjalan meninggalkan kamar hotel
dengan tas gitar dipunggungnya.
“Bertemu di bar Nixon,
tuan ingin bertemu denganmu disana.” jawab si penerima.
Ia tidak menjawab.
Tangannya mencabut earphone yang
tertempel ditelinganya. Satu tahun sudah berlalu dan mereka tidak pernah lagi
bertemu setelah malam mereka pergi ke pasar gelap dunia bawah. Bahkan setelah
masa pelatihannya selesai, ia langsung menerima tugas.
Tangannya yang lentik
melepas masker diwajahnya dan memasukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan.
Wajah yang dulu hitam dekil kini elegan. Wajah putih bersih yang terlihat tegas
juga mengerikan yang didukun dengan sorot mata tajam miliknya.
Ia berhenti disamping
sebuah mobil sport aston martin miliknya, membuka kemudi mobil dan duduk setelah meletakkan barang bawaannya
dikursi samping kemudi. Membela jalan dikawasan Bunker Hill, menuju tempat yang rekannya intruksikan.
Nixon Bar, salah satu
bar yang sering dikunjungi oleh kalangan elit, mulai dari artis, pejabat dan
pengusaha-pengusaha berkantong tebal lainnya. Berhenti tepat didepan bar, ia
keluar dari dalam mobil sport miliknya dan melempar kunci kesalah satu petugas
yang berjaga disana. Langkah kaki yang terbilang santai tapi dengan sorot mata
tajam cukup mengintrupsi laki-laki hidung belang yang hendak mendekat kala ia
masuk kedalam bar agar enyah dari hadapannya.
“Tumben tidak bersama
Joan,” seorang laki-laki berkaca mata menghadang dirinya, namun ia acuhkan dan
tetap berjalan ketempat tujuannya.
Ruangan VIP, ia berdiri
didepan pintu cukup lama. Hingga tangannya memutar knop pintu tersebut. Didalam
ruangan, sosok tuan yang telah membawanya sampai kedunia yang jauh beda dengan
kehidupan sebelum mengenal tuannya itu. Lagi-lagi pemandangan yang sama saat
pertama ia pergi kesebuah bar hanya kali ini berbeda. Didalam ruangan bukan
hanya tuannya tapi juga beberapa rekan yang sekaligus seniornya didunia hitam.
“Bintang utama kita
sudah hadir rupanya,” sambutan meriah yang sama sekali tidak ia duga, ia hanya
mengangguk dan memilih duduk disalah satu sofa kosong.
“Tidak ingin kembali?”
sebuah kalimat tanya membuat ia menengadah ke sumber suara.
Ia tidak menjawab,
tangannya memilih meraih sebotol ber yang tersaji diatas meja. Membuka
penutupnya dan menenggaknya dengan rakus seakan itu hanya air putih biasa.
“Apa yang terjadi, Fox?
Aku bertaruh kau bertengkar lagi dengan Joan.” Dari arah samping ia mendengar
nada ejekan dari salah satu seniornya.
Ia, Fox hanya mendengus
setengah botol ber yang ia konsumsi tapi sudah membuatnya sakit kepala. Itulah
alasan mengapa ia tidak suka dengan perkumpulan seperti ini. Jika bukan karena
tuannya yang ingin bertemu dengannya, ia akan memilih tidur diapartemen sebelum
ada panggilan tugas berikutnya.
“Aku ingin mengajakmu
kembali ke Indonesia.” Kalimat itu terasa berat untuk ia terima, bukan karena
tidak ingin tapi kepalanya yang terus-terusan berdenyut sakit.
Kebodohannya sendiri
karena langsung menenggak ber dari dalam botol. Hanya satu orang yang tahu
tentang kelemahannya ini. Senior dan rekan seperlatihannya tidak ada yang tahu
bahkan tuannya sendiri. Mereka hanya tahu Fox yang sempurna tanpa kecacatan
secuil pun.
Tidak tahan dengan
sakit kepala yang menderanya, meski tidak ingin menghubungi sosok itu terpaksa
ia lakukan. Menekan tombol panggil secara diam-diam dibalik saku jaketnya.
“Ber ini sangat segar,
kenapa senior-senior sekalian tidak menikmatinya?” ucapnya saat panggilannya
sudah tersambung.
Berharap sosok itu
segera datang menjemputnya, sebelum para seniornya menyadari ketidakberesan
tingkahnya saat ini. Tak selang berapa menit pintu ruangan itu kembali terbuka,
menampilkan sosok pria blasteran dengan mata biru.
“Hey, bodoh! Apa kau
minum ber lagi, bukankah dokter menyarankan untuk tidak minum minuman keras
untuk sementara waktu? Maag mu bisa kambuh idiot!” teriaknya setelah berada
didekat Fox, Fox mengernyit. Ide bodoh apa yang ia gunakan, kenapa tidak
sekalian mengatakan ber adalah sesuatu yang tidak bisa ia minum karena ia bisa
sakit kepala? Pikirnya mengutuk kebodohan Joan.
“Kau punya penyakit
maag,” suara itu datang dari sosok pria yang tengah diapik oleh dua wanita
panggilan.
“Tidak parah, hanya
saja untuk sementara dilarang minum minuman keras seperti ber,” jawabnya.
“Ahh, dan lagi Joan
bagaimana bisa kau tahu kami ada disini? Bukankah kau ada tugas?” tanya sosok
itu pada Joan.
“Soal itu sudah saya
kerjakan. Aku kemari untuk membahas duel yang akan kami lakukan,” ia merangkul
leher Fox yang langsung mendapat sikukan karena tidak terima perlakuan Joan.
“Ku pikir kalian sedang
bertengkar.” Salah satu senior menimpali.
“Tentu saja tidak, kami
adalah patner yang sudah terikat dari lahir. Bagaimana mungkin kami sampai akan
bertengkar.” Joan menjawab diselingi dengan senyum menggoda kearah Fox.
Fox meringis menahan
sakit dikepalanya. Berpikir untuk meninggalkan tempat itu tidak mungkin bisa ia
lakukan. Harapannya hanya satu, waktu secepatnya berlalu.
“Bersiaplah, tiga hari
lagi aku akan membawamu ke Indonesia. Ada beberapa hal yang harus kamu
selesaikan disana,” Davin angkat bicara lagi setelah mendengar perdebatan
bawahannya.
Fox hanya mengangguk. Ia
bisa bernafas lega setelah melihat Davin meninggalkan ruangan dengan dua wanita
panggilan yang sejak tadi menemaninya. Melirik kearah Joan, mengintrupsi agar
mereka juga segera meninggalkan tempat. Joan mengannguk dan tanpa kata ia
melambai kearah seniornya bahwa merekapun akan segera pergi.