MIDA

MIDA
Episode 3



Satu tahun kemudian….


Los Angeles,


California


Suara sol sepatu


menggema dipenjuru ujung lorong, beberapa pria memakai tuksedo berjalan


beriringan. Sedang disebuah kamar hotel seorang memakai masker hitam bersiap


dengan bidikannya.


Dor!


Satu tembakan bersarang


dikepala salah satu pria yang sedag berjalan beriringan itu. Suasana yang


awalnya hanya terdengar suara sol sepatu berubah menjadi suara kepanikan.


Bagaimana tidak salah jaksa penuntut mengenai kasus pembunuhan keluarga Dilliar


Ameston kini sudah berlumuran darah dan diperkirakan mati ditempat.


“Target berhasil


dieksekusi!” ucap si pemakai masker, kemudian berjalan meninggalkan kamar hotel


dengan tas gitar dipunggungnya.


“Bertemu di bar Nixon,


tuan ingin bertemu denganmu disana.” jawab si penerima.


Ia tidak menjawab.


Tangannya mencabut earphone yang


tertempel ditelinganya. Satu tahun sudah berlalu dan mereka tidak pernah lagi


bertemu setelah malam mereka pergi ke pasar gelap dunia bawah. Bahkan setelah


masa pelatihannya selesai, ia langsung menerima tugas.


Tangannya yang lentik


melepas masker diwajahnya dan memasukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan.


Wajah yang dulu hitam dekil kini elegan. Wajah putih bersih yang terlihat tegas


juga mengerikan yang didukun dengan sorot mata tajam miliknya.


Ia berhenti disamping


sebuah mobil sport aston martin miliknya, membuka kemudi mobil dan duduk setelah meletakkan barang bawaannya


dikursi samping kemudi. Membela jalan dikawasan Bunker Hill, menuju tempat yang rekannya intruksikan.


Nixon Bar, salah satu


bar yang sering dikunjungi oleh kalangan elit, mulai dari artis, pejabat dan


pengusaha-pengusaha berkantong tebal lainnya. Berhenti tepat didepan bar, ia


keluar dari dalam mobil sport miliknya dan melempar kunci kesalah satu petugas


yang berjaga disana. Langkah kaki yang terbilang santai tapi dengan sorot mata


tajam cukup mengintrupsi laki-laki hidung belang yang hendak mendekat kala ia


masuk kedalam bar agar enyah dari hadapannya.


“Tumben tidak bersama


Joan,” seorang laki-laki berkaca mata menghadang dirinya, namun ia acuhkan dan


tetap berjalan ketempat tujuannya.


Ruangan VIP, ia berdiri


didepan pintu cukup lama. Hingga tangannya memutar knop pintu tersebut. Didalam


ruangan, sosok tuan yang telah membawanya sampai kedunia yang jauh beda dengan


kehidupan sebelum mengenal tuannya itu. Lagi-lagi pemandangan yang sama saat


pertama ia pergi kesebuah bar hanya kali ini berbeda. Didalam ruangan bukan


hanya tuannya tapi juga beberapa rekan yang sekaligus seniornya didunia hitam.


“Bintang utama kita


sudah hadir rupanya,” sambutan meriah yang sama sekali tidak ia duga, ia hanya


mengangguk dan memilih duduk disalah satu sofa kosong.


“Tidak ingin kembali?”


sebuah kalimat tanya membuat ia menengadah ke sumber suara.


Ia tidak menjawab,


tangannya memilih meraih sebotol ber yang tersaji diatas meja. Membuka


penutupnya dan menenggaknya dengan rakus seakan itu hanya air putih biasa.


“Apa yang terjadi, Fox?


Aku bertaruh kau bertengkar lagi dengan Joan.” Dari arah samping ia mendengar


nada ejekan dari salah satu seniornya.


Ia, Fox hanya mendengus


setengah botol ber yang ia konsumsi tapi sudah membuatnya sakit kepala. Itulah


alasan mengapa ia tidak suka dengan perkumpulan seperti ini. Jika bukan karena


tuannya yang ingin bertemu dengannya, ia akan memilih tidur diapartemen sebelum


ada panggilan tugas berikutnya.


“Aku ingin mengajakmu


kembali ke Indonesia.” Kalimat itu terasa berat untuk ia terima, bukan karena


tidak ingin tapi kepalanya yang terus-terusan berdenyut sakit.


Kebodohannya sendiri


karena langsung menenggak ber dari dalam botol. Hanya satu orang yang tahu


tentang kelemahannya ini. Senior dan rekan seperlatihannya tidak ada yang tahu


bahkan tuannya sendiri. Mereka hanya tahu Fox yang sempurna tanpa kecacatan


secuil pun.


Tidak tahan dengan


sakit kepala yang menderanya, meski tidak ingin menghubungi sosok itu terpaksa


ia lakukan. Menekan tombol panggil secara diam-diam dibalik saku jaketnya.


“Ber ini sangat segar,


kenapa senior-senior sekalian tidak menikmatinya?” ucapnya saat panggilannya


sudah tersambung.


Berharap sosok itu


segera datang menjemputnya, sebelum para seniornya menyadari ketidakberesan


tingkahnya saat ini. Tak selang berapa menit pintu ruangan itu kembali terbuka,


menampilkan sosok pria blasteran dengan mata biru.


“Hey, bodoh! Apa kau


minum ber lagi, bukankah dokter menyarankan untuk tidak minum minuman keras


untuk sementara waktu? Maag mu bisa kambuh idiot!” teriaknya setelah berada


didekat Fox, Fox mengernyit. Ide bodoh apa yang ia gunakan, kenapa tidak


sekalian mengatakan ber adalah sesuatu yang tidak bisa ia minum karena ia bisa


sakit kepala? Pikirnya mengutuk kebodohan Joan.


“Kau punya penyakit


maag,” suara itu datang dari sosok pria yang tengah diapik oleh dua wanita


panggilan.


“Tidak parah, hanya


saja untuk sementara dilarang minum minuman keras seperti ber,” jawabnya.


“Ahh, dan lagi Joan


bagaimana bisa kau tahu kami ada disini? Bukankah kau ada tugas?” tanya sosok


itu pada Joan.


“Soal itu sudah saya


kerjakan. Aku kemari untuk membahas duel yang akan kami lakukan,” ia merangkul


leher Fox yang langsung mendapat sikukan karena tidak terima perlakuan Joan.


“Ku pikir kalian sedang


bertengkar.” Salah satu senior menimpali.


“Tentu saja tidak, kami


adalah patner yang sudah terikat dari lahir. Bagaimana mungkin kami sampai akan


bertengkar.” Joan menjawab diselingi dengan senyum menggoda kearah Fox.


Fox meringis menahan


sakit dikepalanya. Berpikir untuk meninggalkan tempat itu tidak mungkin bisa ia


lakukan. Harapannya hanya satu, waktu secepatnya berlalu.


“Bersiaplah, tiga hari


lagi aku akan membawamu ke Indonesia. Ada beberapa hal yang harus kamu


selesaikan disana,” Davin angkat bicara lagi setelah mendengar perdebatan


bawahannya.


Fox hanya mengangguk. Ia


bisa bernafas lega setelah melihat Davin meninggalkan ruangan dengan dua wanita


panggilan yang sejak tadi menemaninya. Melirik kearah Joan, mengintrupsi agar


mereka juga segera meninggalkan tempat. Joan mengannguk dan tanpa kata ia


melambai kearah seniornya bahwa merekapun akan segera pergi.