MIDA

MIDA
Episode 2



Takdir bagaimana ia


menafsirkan tentang takdir, sedang ia sendiri tidak percaya akan takdir. Hidup


yang ia jalani selama 17 tahun ia hidup tidak lebih dari permainan takdir


untuknya. Jika ia mulai dari awal lagi, awal apa yang akan ia mulai? Ia sendiri


tidak punya tempat untuk kembali. Tidak ada yang menunggu dirinya. Kenapa


takdirnya begitu buruk? Untuk apa ia hidup?


Malam yang dingin telah


ia lalui dibalik pintu jeruji kurang lebih setengah bulan. Bagaimana dengan


esok, masih sanggupkah ia? Lambat laun keputusasaan itu semakin mendalam.


Kehampaan semakin menggerogoti dirinya. Menjeratnya ke dalam lubang kosong


tanpa celah untuk kembali. Ia akan mengakhiri semuanya.


“Kau terlihat putus


asa,” seseorang yang berasal dari sel sebelah selnya berujar. Mida tidak


menjawab, fokus matanya masih menatap lekat langit-langit jeruji.


“Kau tahu, besok aku


akan dibebaskan. Apa kau butuh bantuanku? Aku akan dengan senang hati


membantumu.”


“…..” masih tidak ada


jawaban dari Mida.


“Kau terlalu menganggap


remeh hidupmu. Kau hanya belum mengenal kesenangan dunia ini. Jika kau menyerah


sekarang, di akhirat kau akan sangat menyesal,” lagi-lagi orang itu berujar


mengabaikan Mida yang masih bungkam.


“Apa kau tidak punya


dendam dengan orang-orang yang telah menghancurkanmu? Mungkin kau punya dendam


tapi kau terlalu pengecut untuk membalas perbuatan mereka. Kau memiliki potensi


yang luar biasa, kau hanya perlu mengasahnya sedikit. Aku memberimu waktu


sampai besok pagi sebelum aku keluar dari penjara ini. Jawabanmu harus


memuaskan karena aku cukup tertarik dengan kepribadianmu.” Mida menoleh menatap


sosok yang terus-terusan mengajaknya berbicara.


“Tidak perlu menunggu


besok, aku bisa menjawabnya sekarang. Jadi pastikan saja kau menperlihatkan kesenangan


dunia itu kepadaku setelah bebas dari tempat ini.”


“Menarik, kau sungguh


membuatku semakin tertarik padamu.” Laki-laki itu tersenyum penuh makna


kemudian memperbaiki posisi tidurnya.


Sekitar jam 10


laki-laki dari sel sebelahnya mendapat surat pembebasan. Sebelum meninggalkan


sel, laki-laki itu mendekat ke sel Mida dan membisikkan sesuatu. Mida hanya


diam tidak memberi tanggapan berarti tapi ia menyimpan sedikit harapan atas apa


yang telah dijanjikan laki-laki yang baru 2 hari masuk penjara tapi hari ini


sudah dibebaskan. Ia akan bertahan sampai hari yang telah dijanjikan laki-laki


itu. Meski sedikit ia tidak mempercayai laki-laki itu tapi untuk pertama


kalinya ia akan bertaruh pada takdir.


Menunggu selama 2 hari


2 malam ternyata lebih lama dari yang Mida rasakan. Entah karena penasaran atau


hanya tidak tahan menunggu jawaban takdir yang ia pertaruhkan. Pintul sel


terbuka, Mida menoleh mendapati sorang penjaga membuka pintu sel yang ia


tempati.


“Tahanan 90012, anda


dibebaskan, ikut saya!”


Mida menurut, berjalan


di belakang penjaga tahanan. Melewati beberapa sel dan berakhir di sebuah


ruangan yang cukup familiar karena tempat itu adalah tempat pertama yang ia


tempati selama penangkapan dirinya.


“Tahanan 90012 anda


telah dibebaskan. Silahkan tanda tangan disini dan barang-barang anda akan


segera diantarkan kemari.” Tidak ingin berlama-lama lagi ditempat itu, Mida


langsung membubuhkan tanda tangan pada kertas yang diserahkan oleh petugas


tersebut.


Seorang pria dengan


pakain rapi menghampiri Mida, Mida mengernyit bingung. Laki-laki itu


menyodorkan tangannya.


“Perkenalkan saya, Don.


Tuan meminta untuk menjemput anda  untuk


segera menemuinya.” Mida mengangguk dan laki-laki itu mempersilahkan dirinya


untuk berjalan lebih dulu.


Mida cukup takjub


dengan apa yang ia lihat dihadapannya saat ini. Rumah mewah khas Eropa berdiri


dengan megahnya ditengah lahan luas yang entah berapa hektar luasnya. Benarkah


ini hasil pertaruhan takdir yang ia lakukan 2 hari yang lalu?


“Silahkan ikuti saya,


menemui tuan Davin.” Pinta Don setelah memasuki pintu utama rumah megah


tersebut.


Ada banyak pelayan yang


hilir mudik, entah itu membersihkan atau menata sesuatu dan semua itu tak luput


dari pandangan Mida. Don berhenti tepat dibuah pintu yang cukup besar namun tak


sebesar pintu utama. Mengetuk pintu 3 kali dan terdengar sahutan perintah untuk


masuk, Don membuka pintu cukup lebar dan mempersilahkan Mida untuk masuk. Mida


mengangguk dan setelahnya Don pamit undur diri setelah menghadap kepada tuannya.


“Kita mengobrol cukup


lama malam itu tapi belum saling mengetahui nama masing-masing,” laki-laki itu


membuka percakapan. Dirinya yang sejak tadi duduk dibalik meja kebesarannya


berdiri dan menghampiri Mida.


“Davin Ellys,”


mengulurkan tangan dan tanpa ragu dibalas oleh Mida.


“Mida.” Balas Mida,


Davin mengerut. Mida yang mengerti akan tatapan itu itu kembali berucap.


“Namaku Mida hanya


Mida.” Davin tertawa, tawa yang cukup menggelegar. Mida yang mendengar tawa itu


hanya diam tidak merasa tersinggung sama sekali.


“Baiklah, hanya Mida.


Sesuai perjanjian yang saya ajukan kepadamu, mulai hari ini kau akan bekerja


dibawahku dan imbalannya saya pastikan akan sangat memenuhi apa yang pernah


saya janjikan. Saya memberimu waktu setengah tahun untuk menerima pelatihan dan


setelahnya adalah tergantung dari hasil pelatihanmu.”


“Tidak masalah.” Jawab


“Malam ini akan saya


tunjukkan secuil cara menjalani hidup dalam kesenangan jadi bersip-siaplah.


Pelayan akan mengantarmu ke salah satu kamar tamu di mansion ini.” Mida hanya


mengangguk kemudian berbalik meninggalkan Davin di dalam sana.


Malam menjelang dan


sesuai janji Davin, ia mengajak Mida ke suatu tempat yang Davin sebut sebagai


tempat mendapatkan kesenangan. Mobil yang dikendarai Davin berhenti disebuah


toko toserba. Davin turun dari mobil diikuti oleh Mida. Meski dalam kebingungan


namun Mida tetap mengikuti langkah kaki Davin yang memasuki toko toserba


tersebut. Davin memperlihatkan sebuah kartu pada penjaga toserba dan langsung


diangguki oleh penjaga toko tersebut. Davin melanjutkan langkahnya membuka


pintu kayu kecil. Di dalam sana hanya terdapat kursi kayu tua dan peralatan


minum tidak ada ke anehan ataupun berbau kesenangan. Mida tidak berniat untuk


bertanya dan Davin pun tidak ada niat untuk menjelaskan. Mereka berdiam diri


cukup lama sebelum penjaga toko itu juga muncul dibalik pintu kayu yang Mida


lewati bersama Davin.


“Maaf menunggu, tuan


Davin. Silahkan lewat sini.” Penjaga toko itu membungkuk setelah meminta maaf


dan mempersilahkan mereka untuk mengikutinya.


Penjaga toko meraih


bingkai foto kecil yang terpajang disudut ruangan, kemudian tangannya menekan


sebuah tombol yang Mida sendiri tak akan menyadari jika ada tombol dibalik


bingkai foto kecil itu. Perlahan sesuatu bergeser pelan setelah penjaga itu


menekan tombol dibalik bingkai foto tersebut. Sebuah pintu rahasia dan dibalik


pintu rahasia tersebut ada lift yang entah digunakan kemana, seingat Mida,


bangunan toko toserba ini tidak bertingkat. Masih dalam pertanyaan dibenaknya,


Davin mengintrupsi agar Mida memasuki lift. Mida lagi-lagi hanya bisa menurut.


Perlahan pintu lift tertutup dan


bergerak kebawah dan terjawab pula pertanyaan yang bersarang dibenak Mida.


Bunyi denting dari lift menyadarkan


Mida dari pemikirannya. Pintu lift terbuka, Davin bergegas keluar diikuti oleh Mida. Detik berikutnya Mida


terperangah.


Ia ingin tidak


mempercayai apa yang ada dihadapannya sekarang ini tapi ia juga bukan orang


yeng terlalu bodoh untuk tidak tahu sama sekali tempat apa yang telah ia


datangi. Pasar gelap. Tempat yang menjadikan uang sebagai raja. Tempat


berkumpulnya berbagai informasi dengan hal rahasia sekaligus misterius lainnya


atau biasa juga dikenal sebagai tempat penjualan barang-barang ilegal. Mida


yang memang sudah terbiasa dengan kekerasan tidak akan merasa takut yang


berlebihan jika menghadapi situasi yang saat ini ia saksikan. Beberapa orang


yang terlihat melakukan transaksi jual manusia secara terang-terangan, lainnya


transaksi yang Mida duga sebagai hasil curian namun cukup berharga untuk dijual


dengan harga tinggi.


“Tidak usah khawatir,


aku tidak berniat menjualmu,” ucap Davin tiba-tiba.


“……” Mida tidak  tidak menjawab, matanya yang sejak tadi liar


meneliti orang-orang yang telah mereka lalui kini menatap punggung kokoh orang


didepannya.


“Kita akan segera


sampai, persiapkan dirimu,” ucap Davin kembali.


Melewati lorong panjang


yang remang-remang, di depan sebuah pintu besar Davin berhenti. Mengetuk pintu


empat kali selanjutnya pintu besar itu terbuka. Dua orang berbadan kekar


berdiri disana. Didepan mereka masih ada pintu berukuran kecil, salah satu dari


pria berbadan kekar itu membukakan pintu. Selanjutnya bunyi dentuman keras


menyapa indera pendengar Mida. Diskotik, itulah tempat yang mereka datangi.


Ditengah-tengah ruangan terlihat beberapa wanita yang tengah menari dengan


lihainya, sesekali terlihat menggoda para pria yang berdiri tak jauh dari


panggung.


Davin menoleh, ingin


melihat reaksi apa yang ditunjukkan Mida. Tidak ada reaksi apapun. Mata itu


tetap menatap datar apa yang terjadi dihadapannya. Davin menyeringai. Menarik


batinnya.


Didalam ruangan VIP,


mereka ada disana. Mida duduk sendirian sedang Davin duduk disofa panjang


dengan wanita-wanita panggilan disisi kanan dan kirinya yang bergelanyut manja


dan saling mencumbu sana sini. Tidak lama seseorang masuk dengan beberapa


pelayan yang membawa beberapa botol beer.


“Tuan Davin, silahkan


nikmati pelayanan kami,” tutur salah satu dari mereka yang terlihat memegang


jabatan lebih tinggi, Davin hanya mengangguk dan memberi kode agar mereka


segera keluar.


“Apa kau tidak bosan


hanya duduk tegap seperti itu? Minunlah beberapa gelas, setelah kau mencobanya


tubuhmu akan terasa lebih ringan.” Davin berhenti mencumbu kedua wanita


disamping kiri dan kanannya, tangannya meraih salah satu botol beer diatas meja


dan langsung meneguknya.


“Apa saya harus


meminumnya?” Mida bertanya, sorot matanya menatap langsung ke mata Davin. Davin


terkekeh mendengar pertanyaan Mida,” tentu saja kau harus minum, aku mengajakmu


kemari untuk merasakan bagaimana indahnya dunia ini, jadi nikmatilah untuk mala


mini.


“….” Mida tidak


menjawab, ia hanya melirik botol-botol beer diatas meja.


“Kau kaku sekali, aku


harap setelah pelatihan kau melakukan banyak perubahan besar.” Davin kembali


berucap.


“Ya…” hanya kata itu


yang diucapkan oleh Mida.


Malam itu sungguh


panjang bagi Mida, duduk dengan posisi yang sama sampai jam menunjukkan pukul 1


dini hari dan barulah Davin muncul menemuinya kembali setelah sebelumnya ia


pergi dengan kedua wanita yang duduk bersamanya.


“Maaf membuatmu


menunggu lama,” ucap Davin yang dijawab anggukan oleh Mida.