
Takdir bagaimana ia
menafsirkan tentang takdir, sedang ia sendiri tidak percaya akan takdir. Hidup
yang ia jalani selama 17 tahun ia hidup tidak lebih dari permainan takdir
untuknya. Jika ia mulai dari awal lagi, awal apa yang akan ia mulai? Ia sendiri
tidak punya tempat untuk kembali. Tidak ada yang menunggu dirinya. Kenapa
takdirnya begitu buruk? Untuk apa ia hidup?
Malam yang dingin telah
ia lalui dibalik pintu jeruji kurang lebih setengah bulan. Bagaimana dengan
esok, masih sanggupkah ia? Lambat laun keputusasaan itu semakin mendalam.
Kehampaan semakin menggerogoti dirinya. Menjeratnya ke dalam lubang kosong
tanpa celah untuk kembali. Ia akan mengakhiri semuanya.
“Kau terlihat putus
asa,” seseorang yang berasal dari sel sebelah selnya berujar. Mida tidak
menjawab, fokus matanya masih menatap lekat langit-langit jeruji.
“Kau tahu, besok aku
akan dibebaskan. Apa kau butuh bantuanku? Aku akan dengan senang hati
membantumu.”
“…..” masih tidak ada
jawaban dari Mida.
“Kau terlalu menganggap
remeh hidupmu. Kau hanya belum mengenal kesenangan dunia ini. Jika kau menyerah
sekarang, di akhirat kau akan sangat menyesal,” lagi-lagi orang itu berujar
mengabaikan Mida yang masih bungkam.
“Apa kau tidak punya
dendam dengan orang-orang yang telah menghancurkanmu? Mungkin kau punya dendam
tapi kau terlalu pengecut untuk membalas perbuatan mereka. Kau memiliki potensi
yang luar biasa, kau hanya perlu mengasahnya sedikit. Aku memberimu waktu
sampai besok pagi sebelum aku keluar dari penjara ini. Jawabanmu harus
memuaskan karena aku cukup tertarik dengan kepribadianmu.” Mida menoleh menatap
sosok yang terus-terusan mengajaknya berbicara.
“Tidak perlu menunggu
besok, aku bisa menjawabnya sekarang. Jadi pastikan saja kau menperlihatkan kesenangan
dunia itu kepadaku setelah bebas dari tempat ini.”
“Menarik, kau sungguh
membuatku semakin tertarik padamu.” Laki-laki itu tersenyum penuh makna
kemudian memperbaiki posisi tidurnya.
Sekitar jam 10
laki-laki dari sel sebelahnya mendapat surat pembebasan. Sebelum meninggalkan
sel, laki-laki itu mendekat ke sel Mida dan membisikkan sesuatu. Mida hanya
diam tidak memberi tanggapan berarti tapi ia menyimpan sedikit harapan atas apa
yang telah dijanjikan laki-laki yang baru 2 hari masuk penjara tapi hari ini
sudah dibebaskan. Ia akan bertahan sampai hari yang telah dijanjikan laki-laki
itu. Meski sedikit ia tidak mempercayai laki-laki itu tapi untuk pertama
kalinya ia akan bertaruh pada takdir.
Menunggu selama 2 hari
2 malam ternyata lebih lama dari yang Mida rasakan. Entah karena penasaran atau
hanya tidak tahan menunggu jawaban takdir yang ia pertaruhkan. Pintul sel
terbuka, Mida menoleh mendapati sorang penjaga membuka pintu sel yang ia
tempati.
“Tahanan 90012, anda
dibebaskan, ikut saya!”
Mida menurut, berjalan
di belakang penjaga tahanan. Melewati beberapa sel dan berakhir di sebuah
ruangan yang cukup familiar karena tempat itu adalah tempat pertama yang ia
tempati selama penangkapan dirinya.
“Tahanan 90012 anda
telah dibebaskan. Silahkan tanda tangan disini dan barang-barang anda akan
segera diantarkan kemari.” Tidak ingin berlama-lama lagi ditempat itu, Mida
langsung membubuhkan tanda tangan pada kertas yang diserahkan oleh petugas
tersebut.
Seorang pria dengan
pakain rapi menghampiri Mida, Mida mengernyit bingung. Laki-laki itu
menyodorkan tangannya.
“Perkenalkan saya, Don.
Tuan meminta untuk menjemput anda untuk
segera menemuinya.” Mida mengangguk dan laki-laki itu mempersilahkan dirinya
untuk berjalan lebih dulu.
Mida cukup takjub
dengan apa yang ia lihat dihadapannya saat ini. Rumah mewah khas Eropa berdiri
dengan megahnya ditengah lahan luas yang entah berapa hektar luasnya. Benarkah
ini hasil pertaruhan takdir yang ia lakukan 2 hari yang lalu?
“Silahkan ikuti saya,
menemui tuan Davin.” Pinta Don setelah memasuki pintu utama rumah megah
tersebut.
Ada banyak pelayan yang
hilir mudik, entah itu membersihkan atau menata sesuatu dan semua itu tak luput
dari pandangan Mida. Don berhenti tepat dibuah pintu yang cukup besar namun tak
sebesar pintu utama. Mengetuk pintu 3 kali dan terdengar sahutan perintah untuk
masuk, Don membuka pintu cukup lebar dan mempersilahkan Mida untuk masuk. Mida
mengangguk dan setelahnya Don pamit undur diri setelah menghadap kepada tuannya.
“Kita mengobrol cukup
lama malam itu tapi belum saling mengetahui nama masing-masing,” laki-laki itu
membuka percakapan. Dirinya yang sejak tadi duduk dibalik meja kebesarannya
berdiri dan menghampiri Mida.
“Davin Ellys,”
mengulurkan tangan dan tanpa ragu dibalas oleh Mida.
“Mida.” Balas Mida,
Davin mengerut. Mida yang mengerti akan tatapan itu itu kembali berucap.
“Namaku Mida hanya
Mida.” Davin tertawa, tawa yang cukup menggelegar. Mida yang mendengar tawa itu
hanya diam tidak merasa tersinggung sama sekali.
“Baiklah, hanya Mida.
Sesuai perjanjian yang saya ajukan kepadamu, mulai hari ini kau akan bekerja
dibawahku dan imbalannya saya pastikan akan sangat memenuhi apa yang pernah
saya janjikan. Saya memberimu waktu setengah tahun untuk menerima pelatihan dan
setelahnya adalah tergantung dari hasil pelatihanmu.”
“Tidak masalah.” Jawab
“Malam ini akan saya
tunjukkan secuil cara menjalani hidup dalam kesenangan jadi bersip-siaplah.
Pelayan akan mengantarmu ke salah satu kamar tamu di mansion ini.” Mida hanya
mengangguk kemudian berbalik meninggalkan Davin di dalam sana.
Malam menjelang dan
sesuai janji Davin, ia mengajak Mida ke suatu tempat yang Davin sebut sebagai
tempat mendapatkan kesenangan. Mobil yang dikendarai Davin berhenti disebuah
toko toserba. Davin turun dari mobil diikuti oleh Mida. Meski dalam kebingungan
namun Mida tetap mengikuti langkah kaki Davin yang memasuki toko toserba
tersebut. Davin memperlihatkan sebuah kartu pada penjaga toserba dan langsung
diangguki oleh penjaga toko tersebut. Davin melanjutkan langkahnya membuka
pintu kayu kecil. Di dalam sana hanya terdapat kursi kayu tua dan peralatan
minum tidak ada ke anehan ataupun berbau kesenangan. Mida tidak berniat untuk
bertanya dan Davin pun tidak ada niat untuk menjelaskan. Mereka berdiam diri
cukup lama sebelum penjaga toko itu juga muncul dibalik pintu kayu yang Mida
lewati bersama Davin.
“Maaf menunggu, tuan
Davin. Silahkan lewat sini.” Penjaga toko itu membungkuk setelah meminta maaf
dan mempersilahkan mereka untuk mengikutinya.
Penjaga toko meraih
bingkai foto kecil yang terpajang disudut ruangan, kemudian tangannya menekan
sebuah tombol yang Mida sendiri tak akan menyadari jika ada tombol dibalik
bingkai foto kecil itu. Perlahan sesuatu bergeser pelan setelah penjaga itu
menekan tombol dibalik bingkai foto tersebut. Sebuah pintu rahasia dan dibalik
pintu rahasia tersebut ada lift yang entah digunakan kemana, seingat Mida,
bangunan toko toserba ini tidak bertingkat. Masih dalam pertanyaan dibenaknya,
Davin mengintrupsi agar Mida memasuki lift. Mida lagi-lagi hanya bisa menurut.
Perlahan pintu lift tertutup dan
bergerak kebawah dan terjawab pula pertanyaan yang bersarang dibenak Mida.
Bunyi denting dari lift menyadarkan
Mida dari pemikirannya. Pintu lift terbuka, Davin bergegas keluar diikuti oleh Mida. Detik berikutnya Mida
terperangah.
Ia ingin tidak
mempercayai apa yang ada dihadapannya sekarang ini tapi ia juga bukan orang
yeng terlalu bodoh untuk tidak tahu sama sekali tempat apa yang telah ia
datangi. Pasar gelap. Tempat yang menjadikan uang sebagai raja. Tempat
berkumpulnya berbagai informasi dengan hal rahasia sekaligus misterius lainnya
atau biasa juga dikenal sebagai tempat penjualan barang-barang ilegal. Mida
yang memang sudah terbiasa dengan kekerasan tidak akan merasa takut yang
berlebihan jika menghadapi situasi yang saat ini ia saksikan. Beberapa orang
yang terlihat melakukan transaksi jual manusia secara terang-terangan, lainnya
transaksi yang Mida duga sebagai hasil curian namun cukup berharga untuk dijual
dengan harga tinggi.
“Tidak usah khawatir,
aku tidak berniat menjualmu,” ucap Davin tiba-tiba.
“……” Mida tidak tidak menjawab, matanya yang sejak tadi liar
meneliti orang-orang yang telah mereka lalui kini menatap punggung kokoh orang
didepannya.
“Kita akan segera
sampai, persiapkan dirimu,” ucap Davin kembali.
Melewati lorong panjang
yang remang-remang, di depan sebuah pintu besar Davin berhenti. Mengetuk pintu
empat kali selanjutnya pintu besar itu terbuka. Dua orang berbadan kekar
berdiri disana. Didepan mereka masih ada pintu berukuran kecil, salah satu dari
pria berbadan kekar itu membukakan pintu. Selanjutnya bunyi dentuman keras
menyapa indera pendengar Mida. Diskotik, itulah tempat yang mereka datangi.
Ditengah-tengah ruangan terlihat beberapa wanita yang tengah menari dengan
lihainya, sesekali terlihat menggoda para pria yang berdiri tak jauh dari
panggung.
Davin menoleh, ingin
melihat reaksi apa yang ditunjukkan Mida. Tidak ada reaksi apapun. Mata itu
tetap menatap datar apa yang terjadi dihadapannya. Davin menyeringai. Menarik
batinnya.
Didalam ruangan VIP,
mereka ada disana. Mida duduk sendirian sedang Davin duduk disofa panjang
dengan wanita-wanita panggilan disisi kanan dan kirinya yang bergelanyut manja
dan saling mencumbu sana sini. Tidak lama seseorang masuk dengan beberapa
pelayan yang membawa beberapa botol beer.
“Tuan Davin, silahkan
nikmati pelayanan kami,” tutur salah satu dari mereka yang terlihat memegang
jabatan lebih tinggi, Davin hanya mengangguk dan memberi kode agar mereka
segera keluar.
“Apa kau tidak bosan
hanya duduk tegap seperti itu? Minunlah beberapa gelas, setelah kau mencobanya
tubuhmu akan terasa lebih ringan.” Davin berhenti mencumbu kedua wanita
disamping kiri dan kanannya, tangannya meraih salah satu botol beer diatas meja
dan langsung meneguknya.
“Apa saya harus
meminumnya?” Mida bertanya, sorot matanya menatap langsung ke mata Davin. Davin
terkekeh mendengar pertanyaan Mida,” tentu saja kau harus minum, aku mengajakmu
kemari untuk merasakan bagaimana indahnya dunia ini, jadi nikmatilah untuk mala
mini.
“….” Mida tidak
menjawab, ia hanya melirik botol-botol beer diatas meja.
“Kau kaku sekali, aku
harap setelah pelatihan kau melakukan banyak perubahan besar.” Davin kembali
berucap.
“Ya…” hanya kata itu
yang diucapkan oleh Mida.
Malam itu sungguh
panjang bagi Mida, duduk dengan posisi yang sama sampai jam menunjukkan pukul 1
dini hari dan barulah Davin muncul menemuinya kembali setelah sebelumnya ia
pergi dengan kedua wanita yang duduk bersamanya.
“Maaf membuatmu
menunggu lama,” ucap Davin yang dijawab anggukan oleh Mida.