
Perlahan ia membuka
mata, rasa perih dan nyeri tidak lepas ia rasakan dari hampir sekujur tubuhnya.
Ia mendesis sakit saat ia berusaha menggerakkan tangannya. Ruangan putih itu
terlihat sepi dan tenggorokannya terasa amat kering. Menggerakkan kepalanya
untuk melihat sekitar, tidak ada siapapun didalam ruangan itu selain dirinya.
Sekali lagi ia berusaha menggerakkan tangannya, ditatapnya selang infus yang
menempel disana. Entah sejak kapan ia mulai tidak sadarkan diri dan bagaiamana
ia berada ditempat asing ini?
“Ehh, ternyata kamu
sudah sadar. Tunggu akan aku panggilkan dokter.” Sosok yang baru muncul dari balik
pintu kembali berbalik pergi. Belum sempat Fox mencegat, sosok itu sudah
menghilang dari balik pintu.
“Dimana aku?” Gumannya
pada diri sendiri.
Tidak lama sosok itu
kembali muncul dengan sosok lain berpakain khas seorang dokter. Keduanya
terlihat terburu-buru dan panik.
“Bagaimana Dok?” Belum
saja dokter itu selesai memeriksa kondisi Fox, sosok itu sudah memburunya
dengan pertanyaan.
Fox yang pada dasarnya
tidak banyak bicara, hanya menonton gerak-gerik dari keduanya.
“Tidak ada masalah
serius, terlalu banyak menerima pukulan jadi untuk beberapa hari kedepan
otot-ototnya akan sulit untuk digerakkan.”
Fox mengerti sekarang,
mengapa rasa sakit yang menjalar ditubuhnya begitu mengerikan? Selama pelatihan
mereka juga menerima perawatan khusus jadi untuk pengalaman pertamanya menerima
penyiksaan dari musuh memberinya banyak pelajaran. Lupakan mengenai pengalaman,
sekarnag ia butuh mengetahui dimana dirinya berada. Ia tidak tahu dirinya masih
ditangan musuh atau kawan.
“Maaf, ini pertama
kalinya saya melihat korban penculikan jadi tanpa pikir panjang saya membawa
anda pulang kerumah pribadi saya.” Sosok itu berbicara kearah Fox, wajahnya
terlihat canggung.
“Terima kasih.”
Dua kata dari mulut Fox
membuat wajah sosok pria itu tercengang, matanya sedikit melebar tidak
menyangka akan mendengar ucapan terima kasih dari Fox sedemikian rupa.
Pikirannya sempat mengatakan sosok yang terbaring diranjang adalah seorang nona
kaya angkuh. Yang kemungkinan hanya akan melontarkan kalimat pedas dan imbalan
yang setimpal karena telah menyelamatkannya. Meski wajah itu sedikit lebam
namun sorot matanya yang dingin menusuk dalam satu kali tatap telah meyakinkan
dirinya akan sosok yang sudha ia selamatkan dari aksi penculikan kemarin malam
di pinggiran kota.
“Ti_tidak masalah, saya
senang bisa menyelamatkan anda dari para penjahat biadab itu.” Balasnya
kemudian.
“Tuan, pemeriksaannya
sudah selesai, saya akan pamit pulang sekarang.”
Tanpa keduanya sadari,
dokter yang memeriksa Fox sudah selesai dengan alat-alatnya dan siap pergi.
“Ahh, ia. Terima kasih,
Dok.”
Beberapa kalangan
terkadang memanggil dokter pribadi kekediaman mereka. Sosok penolongnya ini
entah masuk dari kalangan mana. Keduanya yang tampak akrab satu sama lain
seolah sudah terbiasa dalam pertemuan seperti sekarang ini.
mengapa dirinya berada ditempat sosok dihadapannya. Ia akan mencari tahu
sendiri apa yang terjadi setelah keadaannya sedikit lebih pulih. Di pintu kamar
ia melihat sosok itu kembali berbincang dengan dokter yang sudah memeriksa
kondisi tubuhnya. Setelah sosok dokter yang telah memeriksa kondisinya
menghilang dibalik pintu sosok pria itu kembali mendekat kearah dimana Fox
terbaring. Senyum yang tampak ragu-ragu melengkung dibibirnya.
“Bagaimana? Apa kamu
butuh sesuatu?” Tanyanya sedikit lebih akrab.
“Saya sedikit haus.”
Keinginannya yang
sedari tadi tertunda, tanpa ragu-ragu sosok itu bergerak cepat kearah gelas air
yang terletak diatas nakas.
“Maaf, seharusnya saya
tahu anda akan sangat haus.”
Fox tidak membalas, ia
hanya menatap tangan yang terulur dengan air itu, sedikit mengangkat tangan.
“Dimana ini?” Ia
selesai dengan beberapa teguk air, matanya kembali beralih pada sosok pria yang
tengah berdiri disamping ranjang.
“Ahh, maaf saya sampai
lupa memperkenalkan diri. Saya Franklin, kebanyakan orang yang saya kenal
memanggil saya dengan panggilan Frank.” Ia tersenyum memperlihatkan deretan
gigi putih miliknya yang rapi.
Fox terdiam, jelas ia
menanyakan tempat tapi kenapa malah memperkenalkan diri. Apa kata dimana sudah
berubah artinya sejak ia jatuh ketangan musuh?
“Maaf, saya terlalu
gugup lupa menjawab pertanyaan anda. Ini dikediaman saya, Hutan Tandus.”
Tirai putih melambai-lambai tertiup angin, Fox mengalihkan tatapannya pada tirai tepat
dibelakan Frank berdiri. Wajahnya tidak terbaca, ada banyak pikiran yang
mengganjal diotaknya. Sosok dihadapannya adalah yang terbesar, jelas kediaman
ini bukan kediaman orang biasa. Rumah itu terlihat mewah meski ruangan yang ia
tempati terlihat biasa dan sederhana namun tidak menutupi ketidakbiasaan dari
tataletak dan arsitektur yang melekat pada tiap sudut ruangan itu dibentuk.
“Sepertinya anda
terbiasa mengucapkan kata maaf.” Sarkas Fox tiba-tiba, tatapannya menajam
seolah ingin menembus kepala sosok Frank hanya melalui tatapan.
“Ma_Maaf ma_maksud anda?”
Mulutnya gemetar, tatapan sosok yang sudah ditolongnya terlihat begitu
menakutkan.
“Cihh! Berhenti berpura-pura! Setelah berkali-kali saya pikirkan,
tidak akan mudah mengeluarkan saya dari sarang musuh. Jadi bagaimana kamu
mengeluarkanku dari sana? Oh, tidak! Tepatnya bagaimana kamu tahu aku adalah
sandera dan bagaimana kamu bisa menemukan tempat yang terpencil itu?”
Frank tidak menjawab,
sosoknya terlihat tenang tidak ada lagi gemetar ketakutan pada dirinya. Segala keraguan
dalam diri Fox akan terungkap jika laki-laki itu menunjukkan sedikit saja
taringnya.
“Apa anda akan percaya
jika saya mengatakan jika saya adalah seorang agen kepolisian? Akan mudah bagi
saya untuk menemukan sandera dari yang sudah lama kami incar bukan?”
Sejenak Fox terkejut
mendengar pengakuan dari Frank, namun keahliannya menyembunyikan emosi
menyelamatkan harga dirinya. Sekarang ia adalah seorang korban jadi ia akan
bertindak sebagai korban, identitasnya tidak boleh terungkap terlebih jika sosok
laki-laki didekatnya saat ini adalah seorang agen polisi.