MIDA

MIDA
MIMPI BURUK



Perlahan ia membuka


mata, rasa perih dan nyeri tidak lepas ia rasakan dari hampir sekujur tubuhnya.


Ia mendesis sakit saat ia berusaha menggerakkan tangannya. Ruangan putih itu


terlihat sepi dan tenggorokannya terasa amat kering. Menggerakkan kepalanya


untuk melihat sekitar, tidak ada siapapun didalam ruangan itu selain dirinya.


Sekali lagi ia berusaha menggerakkan tangannya, ditatapnya selang infus yang


menempel disana. Entah sejak kapan ia mulai tidak sadarkan diri dan bagaiamana


ia berada ditempat asing ini?


“Ehh, ternyata kamu


sudah sadar. Tunggu akan aku panggilkan dokter.” Sosok yang baru muncul dari balik


pintu kembali berbalik pergi. Belum sempat Fox mencegat, sosok itu sudah


menghilang dari balik pintu.


“Dimana aku?” Gumannya


pada diri sendiri.


Tidak lama sosok itu


kembali muncul dengan sosok lain berpakain khas seorang dokter. Keduanya


terlihat terburu-buru dan panik.


“Bagaimana Dok?” Belum


saja dokter itu selesai memeriksa kondisi Fox, sosok itu sudah memburunya


dengan pertanyaan.


Fox yang pada dasarnya


tidak banyak bicara, hanya menonton gerak-gerik dari keduanya.


“Tidak ada masalah


serius, terlalu banyak menerima pukulan jadi untuk beberapa hari kedepan


otot-ototnya akan sulit untuk digerakkan.”


Fox mengerti sekarang,


mengapa rasa sakit yang menjalar ditubuhnya begitu mengerikan? Selama pelatihan


mereka juga menerima perawatan khusus jadi untuk pengalaman pertamanya menerima


penyiksaan dari musuh memberinya banyak pelajaran. Lupakan mengenai pengalaman,


sekarnag ia butuh mengetahui dimana dirinya berada. Ia tidak tahu dirinya masih


ditangan musuh atau kawan.


“Maaf, ini pertama


kalinya saya melihat korban penculikan jadi tanpa pikir panjang saya membawa


anda pulang kerumah pribadi saya.” Sosok itu berbicara kearah Fox, wajahnya


terlihat canggung.


“Terima kasih.”


Dua kata dari mulut Fox


membuat wajah sosok pria itu tercengang, matanya sedikit melebar tidak


menyangka akan mendengar ucapan terima kasih dari Fox sedemikian rupa.


Pikirannya sempat mengatakan sosok yang terbaring diranjang adalah seorang nona


kaya angkuh. Yang kemungkinan hanya akan melontarkan kalimat pedas dan imbalan


yang setimpal karena telah menyelamatkannya. Meski wajah itu sedikit lebam


namun sorot matanya yang dingin menusuk dalam satu kali tatap telah meyakinkan


dirinya akan sosok yang sudha ia selamatkan dari aksi penculikan kemarin malam


di pinggiran kota.


“Ti_tidak masalah, saya


senang bisa menyelamatkan anda dari para penjahat biadab itu.” Balasnya


kemudian.


“Tuan, pemeriksaannya


sudah selesai, saya akan pamit pulang sekarang.”


Tanpa keduanya sadari,


dokter yang memeriksa Fox sudah selesai dengan alat-alatnya dan siap pergi.


“Ahh, ia. Terima kasih,


Dok.”


Beberapa kalangan


terkadang memanggil dokter pribadi kekediaman mereka. Sosok penolongnya ini


entah masuk dari kalangan mana. Keduanya yang tampak akrab satu sama lain


seolah sudah terbiasa dalam pertemuan seperti sekarang ini.


mengapa dirinya berada ditempat sosok dihadapannya. Ia akan mencari tahu


sendiri apa yang terjadi setelah keadaannya sedikit lebih pulih. Di pintu kamar


ia melihat sosok itu kembali berbincang dengan dokter yang sudah memeriksa


kondisi tubuhnya. Setelah sosok dokter yang telah memeriksa kondisinya


menghilang dibalik pintu sosok pria itu kembali mendekat kearah dimana Fox


terbaring. Senyum yang tampak ragu-ragu melengkung dibibirnya.


“Bagaimana? Apa kamu


butuh sesuatu?” Tanyanya sedikit lebih akrab.


“Saya sedikit haus.”


Keinginannya yang


sedari tadi tertunda, tanpa ragu-ragu sosok itu bergerak cepat kearah gelas air


yang terletak diatas nakas.


“Maaf, seharusnya saya


tahu anda akan sangat haus.”


Fox tidak membalas, ia


hanya menatap tangan yang terulur dengan air itu, sedikit mengangkat tangan.


“Dimana ini?” Ia


selesai dengan beberapa teguk air, matanya kembali beralih pada sosok pria yang


tengah berdiri disamping ranjang.


“Ahh, maaf saya sampai


lupa memperkenalkan diri. Saya Franklin, kebanyakan orang yang saya kenal


memanggil saya dengan panggilan Frank.” Ia tersenyum memperlihatkan deretan


gigi putih miliknya yang rapi.


Fox terdiam, jelas ia


menanyakan tempat tapi kenapa malah memperkenalkan diri. Apa kata dimana sudah


berubah artinya sejak ia jatuh ketangan musuh?


“Maaf, saya terlalu


gugup lupa menjawab pertanyaan anda. Ini dikediaman saya, Hutan Tandus.”


Tirai putih melambai-lambai tertiup angin, Fox mengalihkan tatapannya pada tirai tepat


dibelakan Frank berdiri. Wajahnya tidak terbaca, ada banyak pikiran yang


mengganjal diotaknya. Sosok dihadapannya adalah yang terbesar, jelas kediaman


ini bukan kediaman orang biasa. Rumah itu terlihat mewah meski ruangan yang ia


tempati terlihat biasa dan sederhana namun tidak menutupi ketidakbiasaan dari


tataletak dan arsitektur yang melekat pada tiap sudut ruangan itu dibentuk.


“Sepertinya anda


terbiasa mengucapkan kata maaf.” Sarkas Fox tiba-tiba, tatapannya menajam


seolah ingin menembus kepala sosok Frank hanya melalui tatapan.


“Ma_Maaf ma_maksud anda?”


Mulutnya gemetar, tatapan sosok yang sudah ditolongnya terlihat begitu


menakutkan.


“Cihh! Berhenti berpura-pura! Setelah berkali-kali saya pikirkan,


tidak akan mudah mengeluarkan saya dari sarang musuh. Jadi bagaimana kamu


mengeluarkanku dari sana? Oh, tidak! Tepatnya bagaimana kamu tahu aku adalah


sandera dan bagaimana kamu bisa menemukan tempat yang terpencil itu?”


Frank tidak menjawab,


sosoknya terlihat tenang tidak ada lagi gemetar ketakutan pada dirinya. Segala keraguan


dalam diri Fox akan terungkap jika laki-laki itu menunjukkan sedikit saja


taringnya.


“Apa anda akan percaya


jika saya mengatakan jika saya adalah seorang agen kepolisian? Akan mudah bagi


saya untuk menemukan sandera dari yang sudah lama kami incar bukan?”


Sejenak Fox terkejut


mendengar pengakuan dari Frank, namun keahliannya menyembunyikan emosi


menyelamatkan harga dirinya. Sekarang ia adalah seorang korban jadi ia akan


bertindak sebagai korban, identitasnya tidak boleh terungkap terlebih jika sosok


laki-laki didekatnya saat ini adalah seorang agen polisi.