
Fox duduk menyandar
dikursi santai balkom kamarnya, rambutnya yang berwarna jingga melambai-lambai
ditiup angin malam. Ditangan kanannya terdapat gelas anggur yang tengah
digoyang-goyangkan dengan perlahan. Matanya yang tajam namun kosong memandang
kegelapan malam. Inilah rutinitas yang ia lakukan ketika tidak ada tugas.
Dibalik pintu kamar
miliknya Joan mengetuk pintu. Tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka, Joan
memutar knop pintu tersebut. Pintu terbuka dan suasana kamar yang gelap. Tirai
jendela yang meliuk-liuk karena tertiup angin. Joan melangkah masuk lebih dalam
lagi. Tujuannya cukup jelas terhadap kebiasaan-kebiasaan Fox saat berada di
apartemen mereka.
“Lagi-lagi disini
rupanya?” Joan buka suara saat melihat tubuh Fox yang tengah duduk bersandar di
kursi malasnya, Fox tidak merespon bahkan melirik kearah Joan pun tidak.
Fokusnya masih sama, menatap langit malam.
“Bagaimana dengan tugas
yang menunggu di Indonesia?” Joan bertanya lagi, mengharapkan respon balasan
dari Fox.
“Entahlah, belum aku
pikirkan.” Gumam Fox masih terdengar ditelinga Joan.
“Aku akan ikut
denganmu!” ucap Joan.
“Bukankah kamu masih
ada tugas disini?” Fox bertanya, kala Joan menawarkan diri padanya.
“Akan segera aku
selesaikan selama tiga hari tersisa.” Jawabnya.
“Baiklah.”
“Rasanya seperti baru
kemarin kita bertemu, satu tahun berlalu tapi sayang aku masih belum bisa
mengerti akan dirimu.” Entah mengapa Joan ingin berbicara banyak dengan Fox
malam ini.
“Yahh, sepertinya
memang begitu.” Jawab Fox dan menyesap anggur dari gelasnya.
“Aku tahu, mungkin ini
akan sedikit lancang tapi bisakah kau bersandar dan percaya padaku?” Joan
menutup kedua matanya, menunggu respon dari Fox.
“Aku hanyalah wadah
kosong, jangan berharap banyak dariku bahkan sedikitpun jangan!” Joan bergerak
maju ingin menyentuh kedua pundak Fox, belum sempat tangan itu menyentuh pundak
Fok sebuah pistol sudah menempel didadanya.
Dengan sigap Joan
mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia menyerah. Fox yang sebelumnya
duduk santai menjadi sedikit kesal karena tindakan yang ingin dilakukan Joan
untuk menyetuhnya.
“Tinggalkan aku
sendiri!” memutar kembali badannya dan meletakkan pistol ditangannya keatas
meja.
“Baiklah.”
Kejadian semalam,
lagi-lagi menjadi penyebab suasana dingin diantara Joan dan Fox. Joan yang
sudah duduk santai menikmati sarapannya dimeja makan berniat ingin mencairkan
suasana kembali dengan menegur Fox yang tengah berdiri didepan kulkas mengambil
air putih. Suaranya tercekat dari tenggorokan saat melihat Fox yang telah
berbalik arah kembali tanpa memperdulikan dirinya.
Mengenakan mantel tebal
dan kupluk dikepalanya, Fox meninggalkan apartemen tempat ia tinggal bersama
Joan. Berjalan kaki disekitar mungkin akan mengembalikan moodnya. Cukup jauh ia berjalan hingga ia berhenti disebuah café,
memesan satu organic jus dengan the rad muffin. Setelah menyelesaikan
sarapannya ia kembali melanjutkan perjalannya. Tidak ada tugas membuatnya bisa
menikmati harinya di Los Angeles. Setengah tahun hanya bermain dengan senjata
adalah pengalaman pertama yang membuatnya terasa lebih hidup. Dan membunuh
target adalah hal yang selalu menumbuhkan rasa percaya dirinya. Katakan saja ia
takdir kotornya itu.
Sekarang ditempat ini
ia bukan lagi Mida, ia adalah Fox si pembunuh berdarah dingin. Mengingat nama
itu lagi-lagi membuatnya teringat akan keputusan tuannya yang akan membawanya
kembali. Ia belum ingin kembali tapi perintah adalah hal mutlak yang harus ia
lakukan untuk menghormati tuannya itu.
Didepan toko barang
antik ia berhenti, mendorong pintu hingga mengasilkan bunyi bel yang cukup
nyaring ia masuk kedalam. Seorang laki-laki paruh baya menyapa dirinya.
“Fox?”
Yang disebut namanya
hanya mengangguk.
“Elliot ada
diruangannya.” Ucap laki-laki paruh baya tersebut.
Fox memasuki pintu besi menekan tombol angka
yang akan membawanya kepada sosok bernama Elliot. Pintu besi terbuka
menampilkan kemputer-komputer raksasa yang menampilkan suasana Los Angeles yang
setiap lima menit berganti tempat. Di tengah ruangan sana sosok laki-laki
bertubuh kecil dengan topi miring yang selalu bertengger dikepalanya. Fokus
matanya sama sekali tidak teralihkan dari tiga computer yang ada dihadapannya.
Jelas ia sudah tahu siapa yang masuk kedalam ruangannya itu.
“Lama tidak jumpa, Fox?”
sambutnya namun tidak mengalihkan tatapannya dari layar Komputer.
Fox tidak menjawab, ia
terus melangkah mendekati Elliot berada.
“Sudah ada pergerakan
terbaru dari ‘BLAME’?” tekan Fox diakhir kalimatnya.
“Ya, salah satu anak
buah Blame bergerak ke Asia, sisanya masih menyebar di Eropa.” Jelas Elliot dan
menunjukkan jejak-jejak merah dilayar komputer kepada Fox.
“Apa kamu yakin, tidak
ada pergerakan mencurigakan lainnya lagi?” tanya Fox memastikan.
Mengingat beberapa
bulan terakhir Fox hampir terjebak andaikan saja Elliot tidak cepat menyadari
kejanggalan yang terjadi.
“Iya sudah aku cek
berkali-kali tapi semua masih sama. Dan Fox, akan ada bahaya yang lebih besar
jika tidak segera ada pertahanan di Asia. Aku yakin kamu sudah dapat pesannya,
bukan?”
Fox lagi-lagi diam, ini
sesuai perintah dari Davin, apa mungkin sasaran mereka Indo? Mungkin akan lebih
buruk jika ia kembali tapi mengabaikan juga bukan keputusan yang tepat.
“Akan aku pikirkan,”
putusnya kemudian.
“Fox, ini bukan ancaman
biasa. Semua tim berharap kamu tidak memutuskan semuanya tanpa pertimbangan.” Mendengar
nada bicara Elliot yang meninggi membuat Fox sedikit merasa tidak tenang sekali
lagi.
Kenapa disaat-saat
seperti ini, kejadiannya harus bersamaan?
“Kirim daerah mana saja
yang menjadi target Blame, aku tunggu 1 jam mulai dari sekarang. Aku pergi.” Tidak
menunggu Elliot menjawab, Fox berlalu meninggalkan ruangan.
“Anak itu, mengapa kaku
sekali?” gumam Elliot sesaat setelah Fox menghilang dibalik lift.
Fox sampai di
apartemen, cukup sepi. Bisa ia pastikan Joan sedang berada ditempat latihan
khusus sekarang. Melepas mantel dan sepatu ia masuk kedalam kamar miliknya dan
menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.
Ia sudah putuskan dan
semoga keputusannya tidak salah.