MIDA

MIDA
Episode 4



Fox duduk menyandar


dikursi santai balkom kamarnya, rambutnya yang berwarna jingga melambai-lambai


ditiup angin malam. Ditangan kanannya terdapat gelas anggur yang tengah


digoyang-goyangkan dengan perlahan. Matanya yang tajam namun kosong memandang


kegelapan malam. Inilah rutinitas yang ia lakukan ketika tidak ada tugas.


Dibalik pintu kamar


miliknya Joan mengetuk pintu. Tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka, Joan


memutar knop pintu tersebut. Pintu terbuka dan suasana kamar yang gelap. Tirai


jendela yang meliuk-liuk karena tertiup angin. Joan melangkah masuk lebih dalam


lagi. Tujuannya cukup jelas terhadap kebiasaan-kebiasaan Fox saat berada di


apartemen mereka.


“Lagi-lagi disini


rupanya?” Joan buka suara saat melihat tubuh Fox yang tengah duduk bersandar di


kursi malasnya, Fox tidak merespon bahkan melirik kearah Joan pun tidak.


Fokusnya masih sama, menatap langit malam.


“Bagaimana dengan tugas


yang menunggu di Indonesia?” Joan bertanya lagi, mengharapkan respon balasan


dari Fox.


“Entahlah, belum aku


pikirkan.” Gumam Fox masih terdengar ditelinga Joan.


“Aku akan ikut


denganmu!” ucap Joan.


“Bukankah kamu masih


ada tugas disini?” Fox bertanya, kala Joan menawarkan diri padanya.


“Akan segera aku


selesaikan selama tiga hari tersisa.” Jawabnya.


“Baiklah.”


“Rasanya seperti baru


kemarin kita bertemu, satu tahun berlalu tapi sayang aku masih belum bisa


mengerti akan dirimu.” Entah mengapa Joan ingin berbicara banyak dengan Fox


malam ini.


“Yahh, sepertinya


memang begitu.” Jawab Fox dan menyesap anggur dari gelasnya.


“Aku tahu, mungkin ini


akan sedikit lancang tapi bisakah kau bersandar dan percaya padaku?” Joan


menutup kedua matanya, menunggu respon dari Fox.


“Aku hanyalah wadah


kosong, jangan berharap banyak dariku bahkan sedikitpun jangan!” Joan bergerak


maju ingin menyentuh kedua pundak Fox, belum sempat tangan itu menyentuh pundak


Fok sebuah pistol sudah menempel didadanya.


Dengan sigap Joan


mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia menyerah. Fox yang sebelumnya


duduk santai menjadi sedikit kesal karena tindakan yang ingin dilakukan Joan


untuk menyetuhnya.


“Tinggalkan aku


sendiri!” memutar kembali badannya dan meletakkan pistol ditangannya keatas


meja.


“Baiklah.”


Kejadian semalam,


lagi-lagi menjadi penyebab suasana dingin diantara Joan dan Fox. Joan yang


sudah duduk santai menikmati sarapannya dimeja makan berniat ingin mencairkan


suasana kembali dengan menegur Fox yang tengah berdiri didepan kulkas mengambil


air putih. Suaranya tercekat dari tenggorokan saat melihat Fox yang telah


berbalik arah kembali tanpa memperdulikan dirinya.


Mengenakan mantel tebal


dan kupluk dikepalanya, Fox meninggalkan apartemen tempat ia tinggal bersama


Joan. Berjalan kaki disekitar mungkin akan mengembalikan moodnya. Cukup jauh ia berjalan hingga ia berhenti disebuah café,


memesan satu organic jus dengan the rad muffin. Setelah menyelesaikan


sarapannya ia kembali melanjutkan perjalannya. Tidak ada tugas membuatnya bisa


menikmati harinya di Los Angeles. Setengah tahun hanya bermain dengan senjata


adalah pengalaman pertama yang membuatnya terasa lebih hidup. Dan membunuh


target adalah hal yang selalu menumbuhkan rasa percaya dirinya. Katakan saja ia


takdir kotornya itu.


Sekarang ditempat ini


ia bukan lagi Mida, ia adalah Fox si pembunuh berdarah dingin. Mengingat nama


itu lagi-lagi membuatnya teringat akan keputusan tuannya yang akan membawanya


kembali. Ia belum ingin kembali tapi perintah adalah hal mutlak yang harus ia


lakukan untuk menghormati tuannya itu.


Didepan toko barang


antik ia berhenti, mendorong pintu hingga mengasilkan bunyi bel yang cukup


nyaring ia masuk kedalam. Seorang laki-laki paruh baya menyapa dirinya.


“Fox?”


Yang disebut namanya


hanya mengangguk.


“Elliot ada


diruangannya.” Ucap laki-laki paruh baya tersebut.


 Fox memasuki pintu besi menekan tombol angka


yang akan membawanya kepada sosok bernama Elliot. Pintu besi terbuka


menampilkan kemputer-komputer raksasa yang menampilkan suasana Los Angeles yang


setiap lima menit berganti tempat. Di tengah ruangan sana sosok laki-laki


bertubuh kecil dengan topi miring yang selalu bertengger dikepalanya. Fokus


matanya sama sekali tidak teralihkan dari tiga computer yang ada dihadapannya.


Jelas ia sudah tahu siapa yang masuk kedalam ruangannya itu.


“Lama tidak jumpa, Fox?”


sambutnya namun tidak mengalihkan tatapannya dari layar Komputer.


Fox tidak menjawab, ia


terus melangkah mendekati Elliot berada.


“Sudah ada pergerakan


terbaru dari ‘BLAME’?” tekan Fox diakhir kalimatnya.


“Ya, salah satu anak


buah Blame bergerak ke Asia, sisanya masih menyebar di Eropa.” Jelas Elliot dan


menunjukkan jejak-jejak merah dilayar komputer kepada Fox.


“Apa kamu yakin, tidak


ada pergerakan mencurigakan lainnya lagi?” tanya Fox memastikan.


Mengingat beberapa


bulan terakhir Fox hampir terjebak andaikan saja Elliot tidak cepat menyadari


kejanggalan yang terjadi.


“Iya sudah aku cek


berkali-kali tapi semua masih sama. Dan Fox, akan ada bahaya yang lebih besar


jika tidak segera ada pertahanan di Asia. Aku yakin kamu sudah dapat pesannya,


bukan?”


Fox lagi-lagi diam, ini


sesuai perintah dari Davin, apa mungkin sasaran mereka Indo? Mungkin akan lebih


buruk jika ia kembali tapi mengabaikan juga bukan keputusan yang tepat.


“Akan aku pikirkan,”


putusnya kemudian.


“Fox, ini bukan ancaman


biasa. Semua tim berharap kamu tidak memutuskan semuanya tanpa pertimbangan.” Mendengar


nada bicara Elliot yang meninggi membuat Fox sedikit merasa tidak tenang sekali


lagi.


Kenapa disaat-saat


seperti ini, kejadiannya harus bersamaan?


“Kirim daerah mana saja


yang menjadi target Blame, aku tunggu 1 jam mulai dari sekarang. Aku pergi.” Tidak


menunggu Elliot menjawab, Fox berlalu meninggalkan ruangan.


“Anak itu, mengapa kaku


sekali?” gumam Elliot sesaat setelah Fox menghilang dibalik lift.


Fox sampai di


apartemen, cukup sepi. Bisa ia pastikan Joan sedang berada ditempat latihan


khusus sekarang. Melepas mantel dan sepatu ia masuk kedalam kamar miliknya dan


menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.


Ia sudah putuskan dan


semoga keputusannya tidak salah.