MIDA

MIDA
Episode 7



Bangunan terbengkalai


dibagian Utara ibukota, Fox mematikan mesin mobil. Setelah keluar dari dalam


mobil ia segera menghubungi salah satau anak buahnya yang ditugaskan untuk


mengikuti pergerakan musuh.


“Arah jam 2, Boss. Kami


akan bergerak sekarang.”


Suara dari balik handsfree yang sudah tersambung dengan


bawahannya terdengar.


“Tunggu! Jangan ada yang


bergerak, aku sendiri yang akan maju! Kalian tetap ditempat dan tunggu intruksi


dariku selanjutnya.”


“Baik.”


Dengan waspada yang


ditingkatkan, Fox mendekat kearah bangunan yang terbengkalai. Cukup sepi untuk


seukuran tempat transaksi berdasarkan informasi yang ia terima. Bangunan yang


sudah lapuk termakan usia, tumbuhan merambat menjalar hampir menutupi seluruh


bangunan. Tempat itu jelas terlihat lebih mirip sebagai sarang binaang melata.


Kedua tangan Fox sudah


menggenggam satu pistol yang siap untuk ditembakkan. Matanya liar menelisik


tiap sudut sebelum ia melompat masuk melalui jendela samping, gerakannya anggun


dan ringan hingga tidak terdengar suara benturan dari sepatu both yang


dikenakannya dengan lantai. Bergerak masuk lebih jauh, ia masih belum menemukan


jejak musuh yang sedang menempati lokasi tersebut.


Tidak puas, Fox tetap


fokus ingin memastikan jejak musuh yang mungkin jauh berada didalam bangunan.


Bangunan yang terdiri dari lima lantai, bisa Fox pastikan tempat ini dulu


adalah hotel. Dilihat dari lantai bawah yang begitu luas dibagian depan dan


pada lantai dua yang sempat ia telisik terdapat beberapa pintu meski sudah


terlihat lapuk dan tidak berbentuk lagi, cukup jelas itu sebuah pintu-pintu


kamar.


Plok! Plok!


“Rupanya ada tamu tidak


diundang.”


Dari jarak lima meter


darinya, Fox bisa mendengar nada suara mengejek. Musuh sudah mengetahui


kedatangannya. Secepat itukah? Ia tidak punya waktu untuk berpikir banyak saat


ini, Fox yang berniat menaiki tangga lantas memberbalikkan badan. Beberapa pria


berjas hitam muncul dari arah pintu masuk. Pakaian yang mencolok untuk seukuran


pengedar. Belum juga ia melakukan gerakan untuk menodongkan pistol ditangannya,


puluhan musuh bergerak dari arah lantai dunia. Situasi yang tidak mendukung, ia


tidak menyangka akan masuk ke dalam jebakan murahan seperti ini. Tatapannya


kemudian jatuh pada pria yang berdiri paling depan diantara pria yang


mengenakan setelan formal.


“Kejutan! Bagaimana


menurutmu Fox, terburu-buru untuk menangkap musuh tapi malah terjebak oleh musuh?


Sesuatu yang tidak pernah kamu duga, bukan?” Sosok itu mengeluarkan pistol dari


balik saku jaketnya.


“Cihh, rencana


murahan!”


Dor!


Satu tembakan melesat


melewati helaian rambut Fox, tembakan peringatan. Fox tidak menduga pimpinan


dari musuh tidak bisa diprovokasi dengan mudah. Dan lagi, kemana anak buahnya


yang ditugaskan untuk berjaga didepan?


“Seperti katamu, ini


hanya rencana murahan tapi lihatlah aku berhasil menangkap tangkapan yang


bagus. Bukankah ini luar biasa? Ayolah, jangan kaget dengan tembakan barusan,


aku tidak mungkin melukaimu saat ini.” Sosok itu kemudia berjalan mendekat.


“Pistol yang bagus.”


Komentarnya, mengetuk-ngetuk pistol yang ditodongkan Fox dengan pistolnya


sendiri.


“Jatuhkan!” Perintahnya


setengah membentak.


Fox menurut, melepaskan


genggamannya pada pistol kesayangannya.


“Bagus.” Komentarnya


lagi, berpuas diri.


“Kalian ikat dia dan


bawa keatas!” Perintahnya pada dua sosok yang berdiri menodongkan pistol pada


Fox.


“Bagus, hari ini akan ada


hadiah besar dari bos yang menanti diriku. Kalian jaga dia dengan ketat jangan


biarkan ia mengelabui kalian jika sampai ia berhasil kabur nyawa kalian


gantinya.” Ucapnya penuh penekanan pada bawahannya.


“Ohh, jangan khawatir


mengenai anak buahmu, sekarang mereka sudah terbebas dan saat ini sedang


menunggumu di neraka.” Ungkapnya lagi sebelum berbalik pergi.


Fox mengepal tangannya


kuat, mengingat betapa mudah dirinya terjebak oleh musuh. Ia benar-benar


habis-habisan.


“Jalan!”


Kedua tangannya


terikat, tiga pistol terarah tepat dikepalanya, bergerak sedikit saja mungkin


peluru dari ketiga pistol itu akan bersarang di otaknya. Saat salah satu dari


ketiganya mendorong dirinya untuk berjalan ia bisa merasakan langkahnya yang


goyah. Keseimbangan tubuhnya tidak terlalu bagus terlepas tubuhnya yang sudah


memar menerima pukulan yang tidak main-main dari mereka. Sekarang dirinya


diapit oleh tiga musuh dengan pistol yang mengacung dikepalanya. Ia akan


baik-baik saja sampai pimpinan mereka belum memberi perintah untuk membunuh


dirinya.


Sekarang dirinya adalah


pion untuk mendapatkan Tuannya. Apakah tuannya akan menolong dirinya? Fox enggan


memikirkan hal yang kemungkinan besar mustahil itu. Ini karena ia gegabah jadi


sudah sepantasnya ia selesaikan sendiri. Ruangan yang ia tempati hanya


diterangi satu lilin kecil yang menyala redup. Jika tebakannya tidak salah,


pesta perayaan itu sudah berlangsung sejak 30 menit lalu. Sekarang ia terkurung


ditempat pengap ini sudah hampir satu jam. Setengah jam yang lalu ia berhasil


melepas ikatan tali ditangannya, namun masih enggan untuk bergerak. Rasa ngilu


di hampir sekujur tubuhnya adalah masalah utamanya saat ini. Dan lagi ia tidak


memegang senjata sedang didepan sana dua pria terus mengawasi dirinya dengan


senjata ditangan masing-masing.


Ini adalah pertama


kalinya ia tertangkap musuh. Selama ia mengembangkan tugas dirinyalah yang


selalu menyiksa musuh-musuhnya sampai mereka merasakan antara hidup dan mati


yang beda tipis.


Entah mengapa ia ingin


tertawa saat ini. Apa ia sudah putus asa? Apa karena luka ditubuhnya ia menjadi


bersikap tidak wajar?


“He…”


“Menarik!” Gumannya,


membuat dua sosok yang mengawasinya sontak menoleh kearahnya.


“Hahahahaha…. Ini sangat


menarik!” Tawanya menggelegar, dua sosok penjaga itu saling pandang dan


berjalan mendekat.


“Apa kamu sudah menjadi


gila karena tertangkap?”


Fox seolah tuli,


matanya menyipit memandang dua sosok dihadapannya. Baru kali ini ia merasakan


perasaan yang membuncah didadanya. Perasaan yang terlalu menarik untuk dilewatkan.


“Tutup mulutmu *******!”


Satu bogem mentah bersarang dipipi kanan Fox.


Seolah mati rasa, ia


ingin mendapatkan pukulan lebih. Ia kembali tertawa namun kali ini adalah tawa


mengejek untuk memprovokasi kedua penjaga dihadapannya.


“Brengsek!” Maki


keduanya dan langsung menyerang Fox secara bertubi-tubi dengan tendangan.


Fox berhenti tertawa


kala tendangan itu semakin keras dan mengenai uluhatinya, ia terbatuk keras. Darah


segar keluar dari batuknya. Tendangan dari keduanya yang tidak main-main, Fox


yang tanpa pertahanan mulai merasakan kepalanya berkunang-kunang. Sebelum kesadarannya


terkikis habis, ia masih menyempatkan memberi senyuman meremehkan kearah mereka


berdua. Satu tendangn terakhir membuatnya jatuh tersungkur kebelakang.


“Ayah, ayah! Kapan ibu pulang?” Anak kecil itu


berlari menerjang masuk kepelukan pria dewasa yang baru saja melewati pintu


pagar. Gurat lelah terpampang diwajah pria itu, melihat putri kecilnya yang


berlari kearahnya membuat gurat lelah itu menghilang ditelan senyum tipisnya.


“Hey, pelan-pelan!” Ucapnya tegas namun penuh


kelembutan.


“Ayah, bukankah ayah berjanji akan pulang bersama


ibu? Kenapa ayah masih pulang sendirian?” Menyembunyikan kepalanya


diperpotongan kepala ayahnya menyembunyikan rasa kecewa yang tidak berwujud


dimatanya.


“Maaf, ibumu masih sangat sibuk. Mida bersabar ya,


ibu pasti akan cepat-cepat pulang kalau pekerjaannya sudah selesai.”


“….” Anak kcil itu tidak menjawab, ia semakin


mengencangkan pelukannya pada leher ayahnya.


“Mida dengarkan ayah, ayah akan pergi untuk


sementara jadi Mida sekarang tinggal bersama nenek. Jangan nakal dan patuh pada


nenek, mengerti!”


“Mida tidak mau, Mida mau sama ayah dan ibu. Mida


mau ikut ayah saja.”


“Mida, ayah tidak akan lama. Jadi menurut ya sayang.”


“Tidak mau!”


“Mida!”


Anak kecil itu tersentak kala mendengar nada bicara


yang tidak biasa keluar dari mulut ayahnya. Perlahan ia melangkah mundur dan


berbalik berlari pergi meninggalkan sosok dewasa yang menatap sendu kearahnya.