
Bangunan terbengkalai
dibagian Utara ibukota, Fox mematikan mesin mobil. Setelah keluar dari dalam
mobil ia segera menghubungi salah satau anak buahnya yang ditugaskan untuk
mengikuti pergerakan musuh.
“Arah jam 2, Boss. Kami
akan bergerak sekarang.”
Suara dari balik handsfree yang sudah tersambung dengan
bawahannya terdengar.
“Tunggu! Jangan ada yang
bergerak, aku sendiri yang akan maju! Kalian tetap ditempat dan tunggu intruksi
dariku selanjutnya.”
“Baik.”
Dengan waspada yang
ditingkatkan, Fox mendekat kearah bangunan yang terbengkalai. Cukup sepi untuk
seukuran tempat transaksi berdasarkan informasi yang ia terima. Bangunan yang
sudah lapuk termakan usia, tumbuhan merambat menjalar hampir menutupi seluruh
bangunan. Tempat itu jelas terlihat lebih mirip sebagai sarang binaang melata.
Kedua tangan Fox sudah
menggenggam satu pistol yang siap untuk ditembakkan. Matanya liar menelisik
tiap sudut sebelum ia melompat masuk melalui jendela samping, gerakannya anggun
dan ringan hingga tidak terdengar suara benturan dari sepatu both yang
dikenakannya dengan lantai. Bergerak masuk lebih jauh, ia masih belum menemukan
jejak musuh yang sedang menempati lokasi tersebut.
Tidak puas, Fox tetap
fokus ingin memastikan jejak musuh yang mungkin jauh berada didalam bangunan.
Bangunan yang terdiri dari lima lantai, bisa Fox pastikan tempat ini dulu
adalah hotel. Dilihat dari lantai bawah yang begitu luas dibagian depan dan
pada lantai dua yang sempat ia telisik terdapat beberapa pintu meski sudah
terlihat lapuk dan tidak berbentuk lagi, cukup jelas itu sebuah pintu-pintu
kamar.
Plok! Plok!
“Rupanya ada tamu tidak
diundang.”
Dari jarak lima meter
darinya, Fox bisa mendengar nada suara mengejek. Musuh sudah mengetahui
kedatangannya. Secepat itukah? Ia tidak punya waktu untuk berpikir banyak saat
ini, Fox yang berniat menaiki tangga lantas memberbalikkan badan. Beberapa pria
berjas hitam muncul dari arah pintu masuk. Pakaian yang mencolok untuk seukuran
pengedar. Belum juga ia melakukan gerakan untuk menodongkan pistol ditangannya,
puluhan musuh bergerak dari arah lantai dunia. Situasi yang tidak mendukung, ia
tidak menyangka akan masuk ke dalam jebakan murahan seperti ini. Tatapannya
kemudian jatuh pada pria yang berdiri paling depan diantara pria yang
mengenakan setelan formal.
“Kejutan! Bagaimana
menurutmu Fox, terburu-buru untuk menangkap musuh tapi malah terjebak oleh musuh?
Sesuatu yang tidak pernah kamu duga, bukan?” Sosok itu mengeluarkan pistol dari
balik saku jaketnya.
“Cihh, rencana
murahan!”
Dor!
Satu tembakan melesat
melewati helaian rambut Fox, tembakan peringatan. Fox tidak menduga pimpinan
dari musuh tidak bisa diprovokasi dengan mudah. Dan lagi, kemana anak buahnya
yang ditugaskan untuk berjaga didepan?
“Seperti katamu, ini
hanya rencana murahan tapi lihatlah aku berhasil menangkap tangkapan yang
bagus. Bukankah ini luar biasa? Ayolah, jangan kaget dengan tembakan barusan,
aku tidak mungkin melukaimu saat ini.” Sosok itu kemudia berjalan mendekat.
“Pistol yang bagus.”
Komentarnya, mengetuk-ngetuk pistol yang ditodongkan Fox dengan pistolnya
sendiri.
“Jatuhkan!” Perintahnya
setengah membentak.
Fox menurut, melepaskan
genggamannya pada pistol kesayangannya.
“Bagus.” Komentarnya
lagi, berpuas diri.
“Kalian ikat dia dan
bawa keatas!” Perintahnya pada dua sosok yang berdiri menodongkan pistol pada
Fox.
“Bagus, hari ini akan ada
hadiah besar dari bos yang menanti diriku. Kalian jaga dia dengan ketat jangan
biarkan ia mengelabui kalian jika sampai ia berhasil kabur nyawa kalian
gantinya.” Ucapnya penuh penekanan pada bawahannya.
“Ohh, jangan khawatir
mengenai anak buahmu, sekarang mereka sudah terbebas dan saat ini sedang
menunggumu di neraka.” Ungkapnya lagi sebelum berbalik pergi.
Fox mengepal tangannya
kuat, mengingat betapa mudah dirinya terjebak oleh musuh. Ia benar-benar
habis-habisan.
“Jalan!”
Kedua tangannya
terikat, tiga pistol terarah tepat dikepalanya, bergerak sedikit saja mungkin
peluru dari ketiga pistol itu akan bersarang di otaknya. Saat salah satu dari
ketiganya mendorong dirinya untuk berjalan ia bisa merasakan langkahnya yang
goyah. Keseimbangan tubuhnya tidak terlalu bagus terlepas tubuhnya yang sudah
memar menerima pukulan yang tidak main-main dari mereka. Sekarang dirinya
diapit oleh tiga musuh dengan pistol yang mengacung dikepalanya. Ia akan
baik-baik saja sampai pimpinan mereka belum memberi perintah untuk membunuh
dirinya.
Sekarang dirinya adalah
pion untuk mendapatkan Tuannya. Apakah tuannya akan menolong dirinya? Fox enggan
memikirkan hal yang kemungkinan besar mustahil itu. Ini karena ia gegabah jadi
sudah sepantasnya ia selesaikan sendiri. Ruangan yang ia tempati hanya
diterangi satu lilin kecil yang menyala redup. Jika tebakannya tidak salah,
pesta perayaan itu sudah berlangsung sejak 30 menit lalu. Sekarang ia terkurung
ditempat pengap ini sudah hampir satu jam. Setengah jam yang lalu ia berhasil
melepas ikatan tali ditangannya, namun masih enggan untuk bergerak. Rasa ngilu
di hampir sekujur tubuhnya adalah masalah utamanya saat ini. Dan lagi ia tidak
memegang senjata sedang didepan sana dua pria terus mengawasi dirinya dengan
senjata ditangan masing-masing.
Ini adalah pertama
kalinya ia tertangkap musuh. Selama ia mengembangkan tugas dirinyalah yang
selalu menyiksa musuh-musuhnya sampai mereka merasakan antara hidup dan mati
yang beda tipis.
Entah mengapa ia ingin
tertawa saat ini. Apa ia sudah putus asa? Apa karena luka ditubuhnya ia menjadi
bersikap tidak wajar?
“He…”
“Menarik!” Gumannya,
membuat dua sosok yang mengawasinya sontak menoleh kearahnya.
“Hahahahaha…. Ini sangat
menarik!” Tawanya menggelegar, dua sosok penjaga itu saling pandang dan
berjalan mendekat.
“Apa kamu sudah menjadi
gila karena tertangkap?”
Fox seolah tuli,
matanya menyipit memandang dua sosok dihadapannya. Baru kali ini ia merasakan
perasaan yang membuncah didadanya. Perasaan yang terlalu menarik untuk dilewatkan.
“Tutup mulutmu *******!”
Satu bogem mentah bersarang dipipi kanan Fox.
Seolah mati rasa, ia
ingin mendapatkan pukulan lebih. Ia kembali tertawa namun kali ini adalah tawa
mengejek untuk memprovokasi kedua penjaga dihadapannya.
“Brengsek!” Maki
keduanya dan langsung menyerang Fox secara bertubi-tubi dengan tendangan.
Fox berhenti tertawa
kala tendangan itu semakin keras dan mengenai uluhatinya, ia terbatuk keras. Darah
segar keluar dari batuknya. Tendangan dari keduanya yang tidak main-main, Fox
yang tanpa pertahanan mulai merasakan kepalanya berkunang-kunang. Sebelum kesadarannya
terkikis habis, ia masih menyempatkan memberi senyuman meremehkan kearah mereka
berdua. Satu tendangn terakhir membuatnya jatuh tersungkur kebelakang.
“Ayah, ayah! Kapan ibu pulang?” Anak kecil itu
berlari menerjang masuk kepelukan pria dewasa yang baru saja melewati pintu
pagar. Gurat lelah terpampang diwajah pria itu, melihat putri kecilnya yang
berlari kearahnya membuat gurat lelah itu menghilang ditelan senyum tipisnya.
“Hey, pelan-pelan!” Ucapnya tegas namun penuh
kelembutan.
“Ayah, bukankah ayah berjanji akan pulang bersama
ibu? Kenapa ayah masih pulang sendirian?” Menyembunyikan kepalanya
diperpotongan kepala ayahnya menyembunyikan rasa kecewa yang tidak berwujud
dimatanya.
“Maaf, ibumu masih sangat sibuk. Mida bersabar ya,
ibu pasti akan cepat-cepat pulang kalau pekerjaannya sudah selesai.”
“….” Anak kcil itu tidak menjawab, ia semakin
mengencangkan pelukannya pada leher ayahnya.
“Mida dengarkan ayah, ayah akan pergi untuk
sementara jadi Mida sekarang tinggal bersama nenek. Jangan nakal dan patuh pada
nenek, mengerti!”
“Mida tidak mau, Mida mau sama ayah dan ibu. Mida
mau ikut ayah saja.”
“Mida, ayah tidak akan lama. Jadi menurut ya sayang.”
“Tidak mau!”
“Mida!”
Anak kecil itu tersentak kala mendengar nada bicara
yang tidak biasa keluar dari mulut ayahnya. Perlahan ia melangkah mundur dan
berbalik berlari pergi meninggalkan sosok dewasa yang menatap sendu kearahnya.