Mafia Boss & Manipulative Girl

Mafia Boss & Manipulative Girl
Chapter 7




• Di Tempat Dhea Dan Fabio•


Saat ini Dhea di bawa oleh Fabio kedalam mobilnya, Dhea yang takut di apa-apain terus memberontak.


"Tolong jangan bunuh aku Tuan, aku gak akan bilang pada siapa-siapa kalau Presdir adalah seorang mafia, jadi lepaskan aku"


"Kau bisa diam?, Kau berisik sekali dari tadi. Lagi pula siapa juga yang ingin membunuh mu, Tidak ada untungnya juga"


Fabio masih fokus menyetir dan sesekali menatap kearah Dhea.


"Kau tidak akan membunuh ku?, Syukurlah kalau..eh Anjir!! viona di bawa oleh Presdir gimana kalau dia di siksa atau paling parah di bunuh" ucap Dhea yang tiba-tiba panik akan keadaan viona


"Berisik!!,Tuan Raygan tak akan membunuhnya kau tenang saja, katakan sekarang rumah mu berada di mana? Biar ku antar kau kesana"


"Oh rumah ku?, Di jln ***"


Fabio pun mulai menambah kecepatan mobil nya dan langsung mengantarkan Dhea pulang kerumahnya.


Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah yang tampak sederhana tapi cukup nyaman untuk di tinggali.


Dhea pun turun dari mobil, dan langsung mengucapkan terimakasih kepada Fabio dari luar kaca mobil.


"Makasih udah mau nganterin, kau tidak ingin mampir dulu?"


"Hn tidak, terimakasih tawarannya aku permisi"


Fabio pun mulai menjalankan mobilnya dan langsung pergi.


"Dia salah satu dari mafia sama seperti Presdir, eh tapi kalau modelan mafia kayak dia boleh juga mana ganteng lagi.Eh tunggu,apa sih kok gue malah kesemsem sama tu orang iih... mending gue masuk aja "


Dhea pun masuk kedalam rumah dan langsung mengunci semua pintu dan jendelanya, hari ini adalah hari yang paling berat untuknya.


•Di Tempat RayVio•


Sesampainya di rumah Raymond langsung membanting viona dengan kasar di kasurnya.


"KENAPA KAU MELANGGAR PERINTAH KU VIONA?!!. KENAPA KAU PERGI KE TEMPAT PELELANGAN ITU? APAKAH KAU INGIN MENJADI PELACUR DAN DI JUAL DI SANA HAH??!!" teriak marah Raymond ke arah viona


Viona hanya diam, dia begitu terkejut dengan kemarahan Raymond. Dia begitu tidak suka di Katai pelacur dan juga di tuduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia lakukan.


"JAWAB PERTANYAAN KU VIONA!!, KENAPA KAU PERGI KE TEMPAT ITU?!!APA TIDAK CUKUP GAJI YANG KAU DAPAT DARIKU SAAT BEKERJA DI RD CORPS HAH!!!"


"AKU PERGI KESANA UNTUK MEMBALASKAN DENDAM ORANG TUA KU!!!" habis sudah kesabaran viona,Dia pun menjawab pertanyaan Raymond dengan suara yang tak kalah keras, dia merasa tidak terima di sebut pelacur oleh Raymond.


Dia pun bangun dari kasur dan langsung menghampiri Raymond, dia mencengkam kuat kerah baju Raymond memandang pria itu dengan tatapan mata yang begitu tajam.


"kau pikir aku kesana untuk menjadi wanita bayaran dan ingin di jual begitu? TIDAK TUAN RAYMOND DENDRA WIJAYA, AKU KESANA UNTUK MEMBUNUH JHONATAN ALRET YANG TELAH MEMBUNUH KEDUA ORANG TUA KU DENGAN BEGITU KEJAM DI DEPAN MATA KU SENDIRI 11 TAHUN YANG LALU!!!" Meledak sudah kemarahan viona, dia berteriak di hadapan Raymond.


Raymond terdiam mendengar teriakan kemarahan viona.


"Balas dendam? Maksud mu Jhonatan Alret telah membunuh kedua orangtua mu?" Tanya Raymond dengan nada bicara yang kembali normal, dia sedikit merasa bingung dengan perkataan Viona tersebut.


Viona pun melepaskan cengkeramannya di kerah Raymond dan sedikit menjauh darinya.


"Ya Jhonatan Alret, menyuruh anak buahnya 11 tahun yang lalu untuk membunuh kami, alasan nya karena ayah ku adalah seorang komisaris di kepolisian, mengetahui markasnya dan juga tindakan kriminal dari kelompok mafia mereka.Sehingga membuat mereka marah dan membalaskan dendam mereka dengan cara membunuh kedua orang tua ku. Saat itu di depan mataku sendiri hiks orang tua ku di bunuh dengan begitu kejam hiks mereka hiks membunuh kedua orang tua ku hiks..maka dari itu aku membalaskan dendam ku pada pria tua itu!!!" ucap Viona menjelaskan alasannya untuk membalaskan dendam kepada Jhonatan Alret, dengan meninggikan suaranya di akhir kalimat.


Viona kembali teringat kejadian yang menimpanya 11 tahun silam air mata nya pun sedari tadi sudah menetes saat menjelaskan yang sebenarnya pada Raymond.


Dan Raymond pun hanya terdiam, dia merasa iba mendengar penjelasan dari viona. Saat melihat viona menangis dia pun langsung memeluk viona dan memenangkan nya, serta meminta maaf atas apa yang dia lakukan tadi.


"Maafkan aku, maaf karena aku sudah menampar mu dan juga berkata kasar padamu tadi. Aku tidak tau jika kamu pergi ke sana untuk tujuan balas dendam, maafkan aku vi" permintaan maaf yang tulus keluar dari mulut Raymond,yang tidak pernah dia ucapkan kepada orang lain selain pada ibu dan juga adiknya kini dia mengucapkan nya dengan tulus kepada viona.


Tangan nya mengelus lembut kepala viona sambil menenangkan nya.


"Hiks...mereka membunuh ibu dan ayah ku, hiks mereka membuat ku terpisah dari kedua orangtua ku hiks" tangis Viona yang masih berada dalam pelukan Raymond


"Tenanglah, jika kau mau aku akan membantu mu untuk membalaskan dendam mu"


Tidak tahukah Raymond jika saat ini viona sedang tersenyum sambil memikirkan sebuah rencana.


Viona pun mendongak setelah mendengar perkataan Raymond tersebut.


"Benarkah? Kau ingin membantu ku?" Tanya Viona dengan menahan sisa air matanya, hidungnya yang memerah karena habis menangis membuat Raymond gemas sendiri.


"Hn benar aku akan membantu mu" jawab Raymond


Dan viona pun tanpa sadar langsung memeluk Raymond dengan erat dan mengucap terimakasih.


"Terimakasih, Terimakasih banyak kau ingin membantu ku"


Raymond yang di peluk erat pun hanya membalas pelukan viona tersebut, lama mereka berpelukan akhirnya Viona tersadar karena telah memeluk erat Raymond.


"Maafkan aku,karena tiba-tiba lancang memeluk mu"


"Tidak papa, sekarang kau kembalilah ke kamar mu, besok hari libur jadi kau bisa berisitirahat"


Viona mengangguk mendengar perkataan Raymond, kemudian mereka berdua memasuki kamar nya masing-masing.




Saat ini viona sedang melihat pemandangan kota dari atas jendela kamar apartemen nya.


"Ada untungnya juga aku menangis dan terlihat sangat rapuh di depan almond, karena hal itu aku jadi di tawarkan bantuan oleh nya,yang juga seorang mafia. Dan mulai dari sini pembalasan dendam ku akan semakin mudah untuk di jalankan" ucap Viona dengan senyum licik nya


Dia tadi memang sengaja terlihat rapuh dan juga terlihat seperti orang yang sangat menderita di depan Raymond.


Tujuannya agar Raymond menawarkan untuk membantu dirinya,dan ternyata rencananya pun berhasil kini dia hanya tinggal melanjutkan ke tahap yang selanjutnya. Misi pembalasan dendamnya pun belum berakhir.




🌥️ Sunday,Jam 7:00🌥️


Hari ini adalah hari Minggu, di mana semua orang berhenti dari aktivitas pekerjaan mereka dan beristirahat di rumah, serta menghabiskan waktu mereka dengan keluarga.


Begitupun dengan Raymond, saat ini dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah orangtuanya.Untuk mengajak adiknya jalan-jalan Sekalian untuk sarapan di sana.


Dia pergi ke kamar viona dan mengetuk pintu kamarnya, dia sedikit merasa bersalah kepada wanita itu karena telah memarahi nya dan juga berbuat kasar padanya. Raymond yang seorang mafia kejam dan tanpa belas kasih kini merasa kasihan pada seorang wanita yang belum lama di kenalnya.


Tok


Tok


Raymond pun mengetuk pintu kamar viona tak berselang lama viona pun membuka pintu kamarnya.


"Iya ada apa?, Kau membutuhkan sesuatu? Atau ada berkas yang harus ku kerjakan lagi?"


"Hn tidak. Bersiap-siaplah kau akan ikut denganku"


"Kemana? Kita akan pergi kemana memangnya?"


"Bersiap-siap saja tidak usah banyak bertanya, ku tunggu di mobil selama 15 menit"


Setelah itu Raymond pun langsung pergi ke mobil nya dan menunggu viona.


~15 Menit Kemudian~


Setelah 15 menit viona telah selesai bersiap dan langsung pergi ke mobil karena tidak mau membuat Raymond menunggu terlalu lama.


Ketika sampai di mobil, viona langsung duduk di kursi depan samping tempat duduk Raymond. Tak lupa dia memasang seatbelt dan duduk dengan tenang.


Raymond sedari tadi memperhatikan viona, dia sedikt terpesona dengan penampilan viona pagi ini, walaupun tertutupi dengan wajahnya yang selalu datar itu jadi tidak memperlihatkan bahwa dia sedang terpesona akan penampilan dan kecantikan viona.


Viona memakai dress selutut berwarna navy menambah kesan cantik pada dirinya. Membuat Raymond tak bisa melepaskan pandangannya dari viona.



(Anggep aja bajunya kayak gini yah 😊)


Viona yang merasa di tatap pun langsung beralih menatap Raymond.


"Apa ada yang salah dengan penampilan ku? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya viona bingung


"Tidak" Raymond hanya membalas dengan singkat dan langsung menjalankan mobilnya.


Saat ini tidak ada yang memulai pembicaraan di dalam mobil, keduanya hanya diam tanpa ada satupun obrolan diantara keduanya.


Lama mereka terdiam akhirnya Viona memulai pembicaraan diantara mereka.


"Begini, apa kau serius dengan perkataan mu semalam untuk membantu ku?" Tanya viona yang sedari tadi menatap jalanan kota pun langsung beralih menatap Raymond.


"Ya, aku akan membantumu. Lain kali kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku" ucap Raymond tetap fokus menyetir


"Kenapa kau ingin membantu ku? Bukankah kau seorang mafia sekaligus CEO tidak ingin terlibat akan hal-hal yang merepotkan seperti ini?


Raymond hanya terdiam, dia pun tak mengerti kenapa dia mau membantu Viona, kalau orang lain yang meminta bantuan nya maka dia tidak akan perduli sedikitpun.


Dan saat ini dia merasa peduli dan ingin membantu Viona membalaskan dendam nya.


"Yh sudah kalau kau tidak mau mengatakan alasannya kau ingin membantu ku"


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi antara mereka, benar-benar diam dan hening di dalam mobil.


Tak berapa lama mereka pun tiba di Mansion utama, Raymond memasukan mobil nya di parkiran dan langsung turun bersama viona.


Mereka berjalan bersama-sama menuju pintu utama, dan langsung di bukakan pintunya oleh para maid yang ada.


"Tuan silahkan masuk, nyonya dan Tuan besar sudah menunggu anda di meja makan" ucap maid di mansion itu dengan sopan


Viona sedari tadi hanya mengekor di belakang Raymond, dia sangat takjub melihat mansion utama milik keluarga Wijaya. Benar-benar besar bak istana, berbeda dengan mansion utama keluarga Alexander mansion mereka memang besar, tapi tidak sebesar ini.


Tiba-tiba terlihat anneth yah sedang berlari dan langsung memeluk erat Raymond.


"Abang, adek rindu sama Abang hehe. Oh ia Abang datang sama siapa?" Anneth pun melepaskan pelukannya dan menatap wanita di samping Raymond.


"Hai perkenalkan,Nama saya Viona Alexander. Sekertaris nya Tuan Raymond" viona mengatakan nya dengan senyuman yang tulus dan nada bicara yang sopan


"Hai juga, Aku anneth adik kesayangannya Abang hehe" balas anneth juga ikut memperkenalkan dirinya


"Dek, kamu mau tidak habis sarapan kita jalan-jalan?" Tanya Raymond tiba-tiba pada adik nya itu dengan nada bicara yang lembut


"Hn mau-mau bang, adek mau banget. Kalau gitu ayo kita ke ruang makan bunda dan ayah sudah menunggu"


Anneth pun langsung menggandeng Raymond menuju ruang makan dan meninggalkan viona berjalan sendiri di belakang.


Viona melihat keluarga yang begitu harmonis itu dengan pandangan sedih, seandainya kedua orangtuanya masih hidup. Mungkin saat ini dia juga akan merasakan hal yang sama dengan yang anneth rasakan.


Tanpa terasa air mata nya menetes dari matanya yang indah itu, dia begitu sangat merindukan ayah dan ibunya.


Dia rindu makan masakan buatan ibunya, dia rindu saat-saat dimana sering di jahili oleh ayahnya saat akan sarapan dan makan malam.


Viona begitu merindukan semua kenangan itu.


Anneth yang menyadari bahwa viona hanya berdiri diam pun langsung memanggil nya.


"Eh kak vio, ayo sini. Duduk disini ikut bergabung bersama kami" ajak anneth pada viona


Viona pun tersadar dari lamunannya dan langsung menghapus air matanya dengan cepat.


Dia pun langsung langsung menghampiri Raymond dan keluarganya, namun sebelum itu dia mengucapkan salam dulu pada orang tuanya Raymond.


"Selamat pagi Bu,Pak" ucap Viona sopan


"Oh ia nama kamu siapa nak?" Tanya bunda nya Raymond


"Nama saya Viona Alexander Bu, Sekertaris nya Tuan Raymond" Jawab viona dengan nada bicara yang lembut dan sopan.


"Wah Ray, kau tidak salah pilih sekertaris dia cantik, baik ,dan juga sopan bunda bisa lihat itu dari kejujuran matanya" ucap bunda Raymond yang langsung menyukai viona


"Ayo nak viona duduk, kita sarapan bersama" ajak bundanya Raymond.


Sedari tadi Raymond hanya asik dengan adiknya sendiri,seakan melupakan kehadiran nya viona.


Mereka pun makan dengan khidmat dan tenang, sesekali mereka akan mengobrol tentang keseharian Raymond dan tentang Anneth.


"Viona, kau sudah berapa lama menjadi sekretaris Raymond? Dan sudah berapa lama kau bekerja di RD Corps hm?" Tanya bunda nya Raymond kepada viona.


"Belum lama ini Bu, kalau soal berapa lama aku bekerja di RD Corps itu sudah 2 bulan Bu"


"Oh begitu, oh ia Viona jangan terlalu formal begitu panggilan saja Tante tapi kalau kamu mau, kau juga bisa memanggil Tante dengan sebutan bunda sama seperti anneth dan Raymond" ucap Bunda nya Raymond dengan nada bicara yang lembut sambil tersenyum tulus menatap Viona.


"B-baik Bu..eh maksud ku Tante" ucap Viona agak sedikit kaku


Setelah itu pun mereka melanjutkan makannya.





Selesai mereka sarapan Raymond pun mengajak Anneth untuk pergi untuk jalan-jalan.


Tak lupa membawa viona juga bersama mereka, sedari tadi Viona hanya diam saja di kursi belakang sambil memandang keluar dari dalam kaca mobil.


Dia hanya mendengarkan pembicaraan dari kedua kakak beradik di depannya yang sedang asik mengobrol dan bercanda ria.


"Sebenarnya apa gunanya aku di ajak, kalau hanya di acuhkan seperti Ini,keberadaan ku tidak di anggap disini. Almond.. apakah kau benar-benar belum melupakan ku? Atau kau sudah melupakan ku, heh menyedihkan sekali kau berbohong dan memberikan harapan palsu padaku, katanya seorang ketua mafia tapi mencari sosok Ona saja selama ini tidak bisa " batin viona yang masih kecewa dengan Raymond, sekaligus dia mencibir tentang janji-janji yang tidak pernah di tepati oleh Raymond.


Walaupun dia hanya menyuarakan nya di dalam hati, dia tidak ingin mengatakan nya dulu kepada Raymond kalau dia adalah ona.


"Kenapa kau hanya diam saja sedari tadi?" Tanya Raymond tiba-tiba pada viona sambil fokus menyetir.


"Apa yang harus ku bicarakan? Tidak ada bukan" jawab Viona seadanya dan kembali menatap jalanan kota dari dalam mobil.


"Eh maaf ya kak vio karena kami keasikan ngobrol sampai kau di acuhkan" ucap anneth meminta maaf


"Iya tidak masalah, lagipula juga aku tidak ada hal yang ingin di bahas" ucap Viona sambil tersenyum pada anneth


•TAMAN BERMAIN•


Ya saat ini Raymond, Viona,dan juga Anneth sedang berada di taman bermain.


Anneth memutuskan untuk datang kesini dan menikmati permainan-permainan yang ada di taman tersebut.


Dia menarik tangan Raymond untuk naik ayunan, dan Raymond yang sebagai tukang dorong ayunannya.


"Ayo bang dorong lagi...hahah ini sangat menyenangkan" ucap bahagia anneth saat Raymond terus mendorong ayunannya


Sedangkan viona, dia kembali teringat masa kecilnya ketika bermain bersama Raymond dulu. Dia melihat ada gadis kecil yang sedang bermain pasir sendirian, dia jadi teringat akan dirinya yang selalu bermain pasir dan mencoba membuat istana pasir yang besar.


Dia pun menghampiri anak kecil itu dan berjongkok di hadapannya.


"Hai adik kecil, kau sedang membuat istana pasir yh?"


"Emm..iya kak aku sedang berusaha membuatnya. Tapi tidak jadi-jadi juga karena pasirnya terlalu kering"


"Mau kakak bantu?"


"Mau,mau kak. Aku mau banget" ucap anak itu dengan semangat


Viona pun tersenyum lalu dia mengambil air dari kran yang ada di taman itu, disisi nya botol kosong itu dengan air. Lalu dia menghampiri gadis kecil itu lagi.


"Nah kita tambahkan air di pasirnya, biar nanti mudah di bentuk"


Lalu Viona pun langsung menuangkan air di pasir tersebut, dan mulai membuat istana pasirnya.


"Waah sudah mulai jadi, kakak hebat heheh makasih yh kak udah mau bantuin"


"Sama-sama, oh ia siapa namamu?"


"Namaku Yerin kak"


Sementara itu di tempat Raymond baru selesai membelikan adiknya Eskrim setelah selesai bermain ayunan.


Dia pun melihat viona sedang bersama gadis kecil sedang bermain pasir.


"Dek, ayo kita ke tempat viona" ajak Raymond


Anneth pun mengangguk dan langsung pergi ke tempat viona bersama-sama dengan Raymond.


"Kalian sedang apa?" Tanya Raymond berbasa-basi


"Kami sedang memasak" jawab viona asal sambil fokus membuat istana pasirnya


"Memasak? Tapi yang ku lihat kalian sedang bermain pasir"


"Kalau sudah tau bermain pasir kenapa harus bertanya? Kan sudah jelas bukan tanpa kami harus menjawabnya" ucap Viona membalas pertanyaan Raymond


"Pffftt...hahah Abang lucu, udah jelas-jelas kak viona main pasir masih bertanya lagi" ucap anneth menahan tawanya karena Abangnya yang mencoba berbasa-basi itu.


Raymond pun ikut berjongkok dan ingin membantu mereka membuatnya.


"Kau sedang apa?" Tanya viona


"Tentu saja membantu kalian" jawab Raymond singkat


"Oh ia Yerin, apa kau tidak punya teman untuk di ajak bermain disini?" Tanya viona masih fokus membuat istana pasirnya


"Ada, tadi katanya dia mau ikut bermain kesini tapi tau nya dia pergi bersama orang tuanya untuk pergi jalan-jalan, padahal dia sudah janji akan selalu bersama ku dan akan terus bersama ku dan menemani ku bermain tapi dia tidak menepati janjinya" jawab Yerin


Entah kenapa Raymond seperti merasa tersindir dengan perkataan Yerin tadi, dia juga dulu pernah berjanji pada ona. Tapi dia tidak menepati nya.


"Terkadang kau jangan terlalu percaya sepenuhnya dengan janji yang teman mu ucapkan, bisa saja janji-janji nya yang manis itu dia lupakan dan ingkar"


Raymond yang mendengar jawaban dari viona itu pun merasa bingung, dia lalu beralih menatap Viona.


"Bisa saja temannya itu sedang ada urusan keluarga yang penting jadi dia tidak datang dan menepati janjinya" ucap Raymond seakan sedang menceritakan dirinya sendiri


"Lalu? Apakah dia tidak bisa untuk mengirimkan surat atau menelfon?, Bahkan salam perpisahan pun tidak dia ucapkan dan hanya pergi begitu saja tanpa ada kabar sama sekali" ucap Viona yang kelepasan mengatakan hal itu.


"Yah bisa saja di- , sebentar kau tadi mengatakan apa? Salam perpisahan? Tidak menelfon dan mengirim surat? Apa maksud perkataan mu itu"


"Bukan apa-apa, lupakan" viona pun berdiri dan hendak pergi tapi Raymond lebih dulu menahan tangannya


"Jawab dulu pertanyaan ku, apa maksud mu mengatakan hal seperti itu?"


"Sudah ku bilang kan bukan apa-apa jadi lepaskan tanganku, aku ingin ke toilet"


"Tidak sebelum kau berkata jujur padaku, apa maksud mu mengatakan hal itu?" Tanya Raymond lagi kali ini dengan pandangan yang tajam kearah viona, dia pun mencengkeram kuat pergelangan tangan Viona membuat wanita itu meringis kesakitan karena cengkraman Raymond yang tidak main-main.


"Akhhh sakit, lepaskan kau ini kenapa? Sudah kubilang lepaskan dan lupakan lah tentang perkataan ku tadi"


Viona masih terus memberontak agar tangannya di lepaskan


"Katakan dulu padaku apa maksud perkataan mu tadi!!" Bentak Raymond yang sudah habis kesabarannya dia makin memperkuat cengkraman nya mengakibatkan pergelangan tangan viona memerah


"kubilang lepaskan Almond!!!.. kenapa kau selalu marah akan hal kecil? Kenapa tempramen mu tidak pernah hilang dari dulu hah? Kenapa kau selalu saja melampiaskan Kemarahan mu itu padaku? Lepaskan tanganku Almond!!" Ucap Viona yang nada bicaranya meninggi karena demi apapun pergelangan tangannya benar-benar hampir remuk di cengkram kuat oleh Raymond


"Almond?..kau memanggil ku dengan sebutan almond?" Tanya Raymond yang masih tak percaya dia pun melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan viona.


Viona pun terdiam,dia baru sadar memanggil Raymond dengan panggilan almond. Dia pun hendak pergi lagi tapi tangannya di tarik kembali dan langsung di bawa kedalam pelukan eratnya Raymond.


Mereka tidak sadar bahwa kini mereka berdua telah menjadi pusat perhatian para pengunjung taman tersebut.


"Katakan lagi, kau memanggil ku almond? Hanya keluarga ku dan ona yang mengetahui panggilan itu, katakan sekali lagi, kau benar-benar ona kan?" Kini Raymond benar-benar erat memeluk viona seakan tak mau kehilangan


Viona yang di peluk pun masih memberontak, dia mencoba melepaskan pelukan Raymond.


"Ya. aku ona kau puas? Sekarang lepaskan pelukannya..aku tak bisa bernafas"


Raymond pun melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Viona, dia menatap penuh rindu pada wanita di depannya ini. Gadis kecil yang menjadi sahabatnya dulu ternyata selalu berada di sampingnya.Tapi dia tidak pernah menyadari hal itu.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau adalah ona? Kenapa kau hanya diam saja hm? Kau tau aku mencari mu selama 7 tahun. Aku mencari mu dan selalu mengharapkan bahwa aku bisa menemukan mu. Tapi ternyata hasilnya tetap nihil, aku benar-benar merindukan mu ona" ucap Raymond mengatakan segala kerinduan nya di dalam hatinya


"Katanya ketua mafia, tapi untuk mencari diriku saja susah dasar" batin viona mencibir Raymond.


Viona melepaskan tangkupan Raymond dari pipi nya, dia melihat sekitar dan sekarang mereka sedang jadi pusat perhatian.


"Kita menjadi pusat perhatian, lebih baik kita pergi dari sini" ucap Viona menatap Raymond kembali


Raymond pun mengangguk dan langsung memanggil anneth, mereka bertiga pun langsung pergi dari taman itu.


•Skip Time•


Hari semakin sore anneth pun sudah di antar pulang kembali ke mansion utama, kini Raymond dan viona pun sudah pulang ke apartemen.


Raymond dan viona sudah ada di dalam apartemen dan sekarang.


"Ray,kau ingin ku buatkan..." Perkataan Viona terhenti karena terkejut Raymond yang tiba-tiba memeluk nya


"Ray, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba memelukku?"


"Hn tidak hanya ingin saja" Raymond pun mencium dahi viona dan tersenyum tulus, senyum yang selalu dia tunjukkan kepada viona dulu saat masih kecil.


"Aku merindukanmu.. benar-benar sangat merindukanmu. Jangan tinggalkan almond lagi ya, kau janji kan ona?"


Viona yang di peluk pun hanya tersenyum, dia membalas pelukan Raymond.


"Iya ona janji gak akan ninggalin almond hm,sekarang udah ya pelukannya kita udah kaya Teletubbies aja berpelukan terus" ucap viona sedikit bercanda


Raymond pun melepaskan pelukannya,dan menyentil dahi viona.


"Aduh kenapa kau menyentil dahi ku, sakit tau"


Viona pun mengusap-usap dahinya yang di sentil dan menatap Raymond tajam, tapi sayangnya bukannya terlihat seram malah terlihat menggemaskan di mata Raymond.


Tampaknya bertambah satu orang yang di sayangi oleh Raymond, memang sejak kecil Raymond sudah sangat menyayangi Viona karena hanya viona lah yang menerima semua kekurangannya, walaupun dia yang tempramen dan juga mudah marah.


Raymond sangat bersyukur akhirnya bisa di pertemukan lagi dengan gadis kecil yang dulu menjadi sahabatnya, Dan Raymond bertekad juga berjanji dalam hatinya tidak akan pernah melepaskan viona untuk selamanya.


•Markas Red Blood•


"Brengsek!!!...jika seperti ini terus aku akan bangkrut dan mafia 'Red Blood' akan hancur, aku harus meminta bantuan mafia lain dan mengajak mereka bekerja sama untuk menghancurkan Black Death. Tunggu pembalasan ku nanti Mr. Raygan!!!" Ucap ketua mafia 'Red Blood' yang begitu marah, karena rencananya sering di gagalkan oleh Ketua mafia Black Death. Mengakibatkan dirinya rugi besar dan kehilangan sebagian anak buahnya.


"Tuan bagaimana jika kita bekerja sama dengan mafia Dark Devil, mereka menduduki peringkat kedua sebagai mafia paling kejam dan di takuti, jika kita bisa bernegosiasi maka kita bisa meminta bantuan mereka" saran anak buahnya


"Saran yang bagus, aku yakin pasti mereka juga menginginkan kehancuran Mafia Black Death. Baiklah persiapkan segalanya kita akan pergi ke markas mereka"


"Baik tuan sesuai perintah"


anak buah nya pun langsung menyiapkan hal yang di perlukan.


"Tunggu pembalasan ku Mr. Raygan, akan ku buat kau bertekuk lutut di kaki ku HAHAHAHAHA"


ketua mafia Red Blood pun tertawa senang dia sudah membayangkan nanti jika dia memang melawan Ketua mafia Black Death.