Mafia Boss & Manipulative Girl

Mafia Boss & Manipulative Girl
chapter 3







Tepat jam 9 pagi semua karyawan di kumpulkan dan di suruh berbaris untuk menyambut kedatangan Presdir mereka.


Viona sudah berbaris rapi,dan dia berbaris di bagian depan jadi bisa melihat dengan jelas nanti wajah pemimpin dari RD Corps.


"Eh Vio, menurut lu Presdir kita masih muda atau udah tua?" Pertanyaan tiba-tiba datang dari dhea yang berdiri di samping viona


Yang di tanya hanya melirik dan menjawab seadanya.


"Tidak tau yang pasti mau Presdir tua ataupun muda semoga saja tidak galak"


"Yah juga sih ada bener nya juga lu"


"Tapi kenapa perasaanku jadi tak enak begini yh....ah mungkin hanya perasaanku saja" batin viona yang tiba-tiba merasa tidak enak dari tadi.


Dan orang yang di tunggu-tunggu akhirnya pun datang. Seorang pria bertubuh tinggi dan atletis mulai berjalan masuk dan jangan lupakan wajah tampan nya yg bak dewa Yunani itu membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh cinta.Di tambah kesan wajahnya yang datar dan minim ekspresi itu tak mengurangi kesan tampan pada dirinya.


Para karyawan wanita menahan diri untuk tidak berteriak histeris karena melihat ketampanan Presdir mereka.


Berbeda dengan satu orang yang sekarang diam mematung di tempatnya, di pikirannya hanya terpikirkan untuk lari dan tidak ingin bertemu dengan pria yang berdiri di depan sana.


"Baiklah semuanya mungkin untuk para karyawan yang sudah lama bekerja disini sudah mengenal orang yang ada di hadapan kalian ini. Tapi bagi yang masih karyawan baru saya akan memperkenalkan siapa orang yang di hadapan kalian ini, dia adalah Tuan Raymond Dendra Wijaya pemimpin RD Corps.Dan sebagai info mulai saat ini saya pensiun menjadi sekertaris nya Tuan Raymond jadi beliau sendiri yang akan memilih sekretaris pribadi nya yang baru" ucap sekertaris nya Raymond sekaligus memberitahu bahwa dia akan pensiun dikarenakan faktor umur


Raymond sedari tadi sudah melihat viona dan dia hanya melihat dengan jelas wajah terkejut nya Viona.


Dia lalu berjalan mendekat ke arah viona, membuat para


karyawan-karyawan yang lain berbisik-bisik akan hal itu.Setelah sampai di depan viona, Raymond menampilkan smirk nya dan memandang viona.


"Kau" ucap Raymond singkat dan dingin membuat viona tak mengerti apa yang dia ucapkan


"Hah? Maksud anda apa Presdir?" Viona hanya bisa bertanya dengan sopan karena tak paham maksud perkataan dari pria di hadapannya ini


Ia lah dia berkata sopan kalau tidak bisa habis nyawanya seperti wanita yang semalam di lihatnya.


"Kau yang akan menjadi sekretaris pribadi ku" ucap Raymond dengan nada bicara yang masih sangat dingin


Setelah itu Raymond berjalan menjauh dari hadapan Viona tapi sebelum itu dia mengatakan sesuatu hal lagi.


"Saya tunggu kau di ruangan ku" ucap nya lagi setelah itu langsung pergi ke ruangannya yang berada di lantai paling atas.


"Mampus. kenapa aku harus bertemu dengannya lagi bisa habis aku nanti" batin viona


"Eh viona ada hubungan apa kamu dengan Presdir? Kenapa dia bisa memilihmu untuk menjadi sekertaris nya? Apa bagusnya sih orang kayak kamu bagusan juga aku yg jadi sekertaris pribadi nya Presdir secara udah lebih berpengalaman dan juga lebih cantik dari kamu" ucap senior nya Viona di kantor yang bernama Claudia sambil membanggakan dirinya dengan menghina Viona.


Viona yang mendengar hinaan dari seniornya itu hanya diam tak membalas perkataannya.


"Heh kalau punya mulut itu di jawab..udah ngelunjak yh kamu sekarang apa orang tua kamu gak ajarin kamu sopan santun? Atau orang tua kamu hanya biarin anaknya sehingga tak punya sopan santun sama sekali oh ia kamu kan tak punya orang tua Yh haha kasihan sekali..hanya karena di pilih jadi sekertaris sombong sekali menjawab pertanyaan ku saja tidak,pasti orang tua mu di atas sana merasa miris melihat kelakukan anaknya sekarang" ucap Claudia lagi dengan menghina


"Heh cabe murahan lu kalo ngomong di jaga yh mau gw cabik-cabik mulut lu itu hah? Percuma cantik kalau hati lu busuk kek bangkai tau gk, mending ngaca deh penampilan lu udah kek ****** yang mau mangkal di club malam aja belagu..liat tuh rok kekurangan bahan, lu pendek amat. Lu mau kerja apa jual diri pamer-pamerin bagian tubuh" Ucap dhea membela viona


Dia hanya tak terima jika teman nya ini di hina seperti itu apalagi hinaan mereka sudah keterlaluan.


"Heh cewek jadi-jadian kamu bilang apa tadi? Udah kamu diam aja yh gk usah ikut campur Jan sok jadi pahlawan deh bela-belain wanita ini" Ucap Claudia membalas perkataan Dhea


Dhea yang berencana untuk membalas perkataan wanita ular di depannya ini harus terhenti karena viona menahannya.


"Udah-udah Dhea gpp tak usah di ladenin yh ayo mending kamu bantuin aku memasukkan barang-barang ku ke kardus buat di pindahkan ke ruangan Presdir" ucap Viona lalu menarik tangan dhea menjauh dari sana


"Kali ini kau sudah keterlaluan caludia kalian boleh menghina diriku sepuasnya tapi jika menyangkut kedua orang tua ku maka ku jamin hidup kalian tak akan selamat " batin viona dia memang sengaja diam tadi walaupun dia benar-benar ingin menampar wanita tadi.


Selesai membereskan barang-barang nya Viona langsung pergi ke lantai atas.


Viona dan Dhea berada di devisi yang sama yaitu di bagian marketing,jadi ruangannya berada di lantai 7.


Setelah viona sampai dia mengetuk pintu terlebih dahulu dan setelah mendapat ijin untuk masuk baru dia masuk ke dalam ruangan itu,tak lupa dia menutup pintunya kembali.


"Ini tugas-tugas mu selama menjadi sekretaris pribadi ku" ucap Raymond dengan nada bicara yang dingin


Viona berjalan mendekati meja Raymond dan mengambil gulungan kertas tersebut.Lalu di bukanya kertas tersebut dan melihat tugas-tugas apa saja yang akan di kerjakan olehnya.


"Selama kau jadi sekertaris ku kau akan mengatur semua jadwal ku dan besok jangan lupa untuk datang ke mansion ku pagi-pagi sebelum aku bangun kau mengerti?"


"Baiklah saya mengerti" jawab Viona


"Hm kau bisa langsung bekerja itu meja kerjamu di sana" ucap Raymond sambil menunjuk meja kerja viona yg tak jauh dari nya.


Viona langsung pergi menuju meja kerjanya dan tak lupa dia mengambil berkas-berkas yang harus dia kerjakan.


"Ku pikir dia akan membunuhku tadi ternyata hanya hal yang biasa Bos dan sekertaris bicarakan" pikir viona bernafas lega


*


*


Kini viona sibuk mengerjakan berkas-berkas yang di berikan Raymond sampai tak menyadari jika sedari tadi dia di perhatikan oleh Raymond.


Sebenarnya tadi Raymond ingin sedikit bermain-main dengan Viona tapi karena mood nya lagi tidak bagus jadi dia urungkan. Karena jika suasana hatinya sedang tidak bagus maka dia akan cepat emosi dan akan melampiaskan nya kepada orang di sekitarnya.


Puas memperhatikan viona Raymond pun kembali mengerjakan berkas-berkas yang sudah lama di biarkan nya karna sesuatu hal, sehingga semakin menumpuk dan membuatnya sedikit pusing.


Skip


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan semua karyawan sudah bergegas untuk cepat-cepat pulang. Ada juga beberapa karyawan yang memilih lembur untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Saat ini viona sudah selesai mengerjakan semua berkas-berkas yang diberikan oleh Presdir nya itu. Dia ingin sekali cepat pulang karena sudah merasa sangat lelah, tapi tidak baik jika sekretaris pulang duluan dari Presdir itu tidak sopan menurutnya.


Sedari tadi Viona ingin bertanya kepada Presdir nya itu apakah Presdir nya itu sudah mau pulang atau tidak.


Lalu dia memberanikan diri bertanya kepada Presdir nya itu.


"Presdir maaf apakah saya boleh bertanya?" ucap Viona meminta ijin untuk bertanya


"Hm" dan hanya di balas dengan jawaban singkat dari Raymond


"Apakah Presdir belum mau pulang?"


"Hm" lagi hanya di balas dengan jawaban yg tak dapat di mengerti


"Baiklah jika Presdir masih ingin menyelesaikan pekerjaan Presdir dulu..tapi apakah ada tugas untuk ku?" Tanya viona lagi yang entah bagaimana bisa memahami maksud dari jawaban singkat Raymond itu.


"Kau minta data berkas keuangan tahun ini di bagian devisi keuangan aku membutuhkan nya..jam segini mereka belum pulang jadi kau bisa meminta berkas-berkas nya" ucap Raymond tanpa mengalihkan perhatian nya dari laptop


"Baiklah saya permisi dulu kalau begitu"


Setelah itu Viona pergi ke bagian devisi keuangan yang berada di lantai 9 untuk mengambil data keuangan tahun ini.


Di gedung perusahaan ini memiliki 13 lantai, di lantai teratas lah ruangan Raymond berada.


"Pertunjukan di mulai..kita lihat apakah kau masih bisa membanggakan diri mu dengan mulut busuk mu itu" gumam Viona dengan sangat pelan, lalu dia menghampiri Claudia


"Claudia, Pak Presdir meminta data keuangan tahun ini katanya kau yang harus mengantarya" ucap Viona berbohong dengan memasang wajah polos dan lugunya yang dapat menipu banyak orang jika melihatnya


"Benarkah? Baiklah aku akan pergi mengantarnya pasti dia terpesona tadi saat melihat kecantikan ku jadi dia mengatakan harus aku yang mengantarkan nya langsung" ucap caludia percaya dengan kata-kata nya Viona


Dan saat Claudia baru mau pergi viona buru-buru mencegahnya.


"Eh tapi lift nya aku lihat tadi lagi rusak jadi harus lewat tangga" ucap Viona lagi


"Hah? Liftnya rusak? Cih baiklah kalau begitu ayo kau temani aku sekalian bawa kardus itu" ucap Claudia memerintah viona


Viona pun menuruti perintah yang di berikan. Ini memang sudah menjadi bagian dari rencananya, setelah mengangkat kardusnya mereka berjalan bersama-sama dan pergi menaiki tangga.


Setelah mereka menaiki tangga yang ke 4 viona berpura-pura hampir terjatuh dan sengaja mendorong Claudia dengan sangat kuat sehingga Claudia terjatuh ke bawah, mengakibatkan kepala nya terbentur dengan sangat keras dan mengeluarkan banyak darah Sehingga dia tewas dengan posisi kaki terlipat ke belakang dan patah.


Tak ada yang melihat kejadian itu sama sekali karena hanya ada mereka berdua disitu dan viona tau di bagian tangga darurat ini tak di sediakan Cctv jadi dia dengan mudah melancarkan aksinya.


Viona mengambil kardus tadi dia bawa, yang berisi banyak lembaran berkas di dalam nya lalu dia melemparkan nya ke bawah seakan sebuah kecelakaan.


Lalu Viona turun kebawah mengambil berkas yang masih di pegang oleh Claudia,dia pura-pura terkejut dan tersenyum puas melihatnya.


"Eh yh ampun~kau terjatuh.. maafkan aku yah apakah itu sakit hm? Pasti tidak bukan, secara kau sudah mati jadi tidak akan merasakan sakitnya" setelah berkata seperti itu wajah viona berubah menjadi datar


Dia berjongkok di hadapan mayat nya Claudia dan memandang nya dingin.


"Itu akibatnya jika kau terlalu meremehkan ku dan menghina kedua orang tua ku" ucap nya dingin lalu pergi ke ruangan Raymond dengan menggunakan lift,meninggalkan jasat caludia yang terkapar mengenaskan itu.


"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Raymond dengan nada bicara yang datar kepada Viona


"Tidak ada Presdir hanya ada masalah kecil saja" jawab Viona


"Hm baiklah"


Setelah itu Raymond kembali fokus kepada pekerjaan nya. Dan hanya hening yg terjadi di antara keduanya


"KYAAAAAA"


Tiba-tiba ada suara teriakan yang membuat mereka termasuk beberapa karyawan yang lembur juga ikut terkejut mendengar teriakan itu.Dan suara itu berasal dari lantai 9.


"Ada apa itu" Raymond lebih dulu keluar dan meninggalkan viona sendiri di dalam ruangannya


"Hm sepertinya ini akan semakin seru" ucap Viona dengan smirk nya.




Setelah mendengar teriakan tersebut beberapa karyawan yang masih ada di kantor langsung ke tempat kejadian.


"yh Tuhan!!... Apa yang terjadi? Claudia!!"


Teriak histeris dari teman nya Claudia yg bernama Reni mereka berada di devisi yang sama jadi dia juga belum pulang karena ikutan lembur.


Tadi saat dia mau mengambil barang di lantai 10 dia juga melewati tangga kerena posisi lift nya lumayan jauh jadi dia memilih melewati tangga karena sangat dekat posisinya.


Dan betapa terkejutnya dia saat melihat teman kerjanya yang terkapar mengenaskan dengan posisi kaki terlipat kebelakang dan jangan lupakan kepalanya yang terus mengeluarkan banyak darah.


"Astaga apa yang terjadi dengannya?"


"Knp dia bisa jatuh?"


"Apa yang terjadi sebenarnya disini?"


Dan begitulah pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh karyawan lain saat melihat kondisi Caludia yang terkapar mengenaskan seperti itu.


"Apa yang terjadi disini?" Tanya seseorang dengan suara deep voice nya dan jangan lupakan nada bicaranya yg terkesan dingin itu.


"P-pak Presdir...Caludia pak...dia... meninggal" ucap salah satu karyawan


"Astaga Claudia!! Hiks... caludia apa yang terjadi denganmu? Hiks kenapa kau bisa seperti ini? Hiks...hiks.. padahal tadi kau baik-baik saja hiks apa yang terjadi hiks..hiks" viona yang juga baru datang setelah Raymond dia pun memulai Aktingnya


Dia pura-pura menangis dan memaksakan air mata nya agar keluar supaya tidak ketahuan kalau dia sedang berbohong.


saat ini dia sedang berdiri di samping Reni, tak tega melihat viona yang menangis seperti itu Reni pun memeluk viona untuk memenangkan nya.


"Hiks sudah jangan menangis viona..hiks ini mungkin sudah takdir hiks mungkin ini karma untuknya yang sering menghina mu mangkanya dia menjadi seperti ini" ucap Reni sambil mengusap-usap bahu Viona guna menenangkan nya.


"Hiks..hiks..aku..hiks hanya hiks tak menyangka hiks kenapa hiks dia harus meninggal dengan hiks sangat


mengenaskan seperti itu hiks" ucap Viona masih menangis


Mereka yang melihat viona menangis tak habis pikir padahal caludia semasa hidupnya sangat jahat dan sering membully viona, tapi kenapa dia masih tetap baik kepada Claudia.


"Cepat hubungi ambulans untuk mengurus jasat nya ini" ucap Raymond agar jasat nya Claudia cepat-cepat di bawa ke RS agar cepat di tindak lanjuti nantinya


Dia sedari tadi merasa ada yang aneh dari kematian Claudia,tidak mungkin kalau Wanita itu terjatuh secara tidak sengaja seperti itu.


Setelah ambulans datang mereka langsung membawa jasat caludia ke RS. Dan saat ini orang-orang kantor tak ada yang mencurigai Viona sama sekali, mereka beranggapan kalau Caludia jatuh karena terpeleset dari tangga begitu pikir mereka.


Skip


Keesokan pagi nya terlihat di kantor sudah sangat ramai membicarakan ttg kematian Claudia.


"Eh Vio..lu pasti semalam melihat jasat nya Claudia kan? bagaimana? kenapa dia bisa meninggal seperti itu?"tanya Dhea kepada Viona yang sedang mengambil berkas-berkas yang di perlukan untuk di bawa ke ruang kerjanya.


"Tidak tau aku juga sangat terkejut melihatnya..aku tidak menyangka kalau dia bisa meninggal seperti itu"ucap Viona dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Mungkin itu karma untuknya..lagi pula dia sudah terlalu banyak menghina dan membully mu jadi dia mendapatkan ganjarannya"


"hm yh sudahlah tidak usah membahasnya lagi aku jadi mengingat kejadian semalam,nanti aku tak bisa melupakannya.aku pergi ke ruang kerja ku dulu yh bye dhea" setelah mengucapkan itu viona pun langsung kembali ke ruangannya bersama Raymond.


Setelah sampai di ruang kerjanya bersama Raymond viona pun langsung duduk di meja kerjanya tak lupa dia memeriksa kembali berkas-berkas yg telah dia kerjakan.


Viona tak menyadari jika sedari tadi Raymond memperhatikan nya.


"Ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Raymond kepada Viona dengan nada bicara yang datar dan jangan lupa mata setajam elang nya yang terus menatap Viona.


"Apa maksud anda Presdir?" Bukan nya menjawab viona malah balik bertanya karena merasa bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba di lontarkan oleh Raymond.


"Tak ada hanya saja semalam saat kau selesai mengambil berkas data keuangannya kau mengatakan padaku sedang mengurus masalah kecil,boleh ku tau masalah apa itu" lagi Raymond bertanya ke viona karena merasa curiga dengan wanita itu


"Emm itu ada sedikit masalah saat mengambil berkasnya orang-orang di bagian devisi keuangan salah memberikan berkas jadi aku kembali lagi untuk mengambil berkas yang benar" ucap Viona memberikan alasan agar tak di curigai


Raymond langsung berdiri dan menghampiri Viona,saat sampai di meja kerjanya viona Raymond pun lebih mendekatkan tubuhnya kearah viona membuat viona harus memundurkan sedikit tubuhnya.


"Kau mungkin bisa menipu orang lain,tapi tidak denganku" ucap Raymond dengan smirk nya


"A-apa.. M-maksud anda Presdir" ucap Viona sedikit tergagap