
"A-apa.. M-maksud anda Presdir" ucap Viona sedikit tergagap
"Lihat kau bahkan tak bisa berkata dengan benar"
Lalu Raymond mendekatkan tubuhnya lagi ke viona dan berbisik dengan suara deep voice nya.
"Katakan saja jika kau yang membunuh wanita itu hm" setelah berbisik seperti itu Raymond pun menatap lagi wajah viona, sambil di elus-elus nya pipi Viona.
"Kenapa dia bisa mengetahuinya? Cih habis sudah kau viona dia telah mengetahui yang sebenarnya" batin viona was-was
"Ternyata kau licik juga
hm,menggunakan wajah polos mu ini sebagai senjata untuk memanipulasi orang-orang. Tapi sayangnya kau tak bisa menipu ku" ucap Raymond dengan senyum iblisnya
"lalu apa yang akan anda lakukan Presdir setelah anda mengetahui Jika saya yang membunuh Claudia hm? Anda ingin membunuh saya juga? Atau anda ingin menyerahkan saya ke polisi?" Tanya viona sambil menatap tepat di mata Raymond,dia sudah tidak peduli lagi apa yang akan di lakukan pria di hadapannya ini.
Raymond sempat tertegun menatap mata indah viona, Dia merasa tidak asing dengan tatapan itu. Tak lama dia memutuskan kontak mata dengan Viona lalu berdehem sebentar, setelah itu dia kembali menatap Viona.
"Tidak seru jika aku membunuh mu mulai besok kau akan pindah dan tinggal di apartemen pribadi milikku tidak ada penolakan jika kau tidak ingin keluarga mu mengetahui tentang hal ini hm" setelah mengatakan hal itu Raymond kembali ke meja kerjanya.
"Jika bibi sampai mengetahui hal ini dia pasti kecewa..aku tidak boleh gegabah jika sampai berita tentang aku yang membunuh Caludia tersebar maka bibi dan paman akan menanggung malu dan kecewa padaku " batin viona merasa sedih
*
*
Tak berapa lama kemudian Raymond mendapat telfon dari seseorang.
"Halo" ucap Raymond singkat dengan nada bicara yg datar
"Hn aku segera kesana" setelah mengatakannya Raymond langsung mematikan telfon nya dan buru-buru bersiap untuk pergi
"Batalkan semua rapat untuk hari ini aku ada urusan penting" setelah mengatakannya dia langsung cepat pergi
"Ada apa dengan pria itu? Mentang-mentang dia pemilik perusahaan ini membatalkan semua rapat penting hari ini..nanti bagaimana aku harus menghadapi para klien-klien nya" ucap Viona yang kesal di buatnya.
*
*
*
Tadi setelah mendapatkan telfon dari tangan kanan Raymond dia segera bergegas pergi ke markas nya.
Bagi yg tidak tau selain Raymond menjadi CEO ternama di belahan dunia dengan perusahaan yang di pimpinnya Raymond juga menguasai dunia bawah tanah.
Dia adalah seorang mafia yg sadis dan juga kejam.Nama mafia mereka adalah 'BLACK DEATH' mafia yang paling terkenal dalam dunia bawah tanah juga mafia yang paling di takuti di belahan dunia karena juga memiliki anak buah yang begitu hebat dan juga cerdik hingga saat mereka melakukan aksi perdagangan organ tubuh manusia serta senjata dan juga transaksi narkoba tak pernah terendus atau di curigai oleh polisi dan pemerintah, sehingga mereka menduduki peringkat pertama mafia paling terkenal dan di takuti.
Dan disinilah Raymond telah tiba di markas BLACK DEATH. Di dunia bawah tanah Raymond mengunakan nama samaran agar semakin tidak di curigai..dia di kenal dengan Raygan sih Mafia berdarah dingin.
Dan saat ini Raymond sedang berada di ruang Cctv dia tengah melihat monitor yang memperlihatkan dimana di ruang senjata ada seorang penyusup yang ingin mencuri senjata mereka.
"Hm para tikus kotor ingin bermain-main dengan ku rupanya hm.. baiklah sepertinya hari ini aku akan melihat pertunjukan yang menarik" ucap Raymond dengan senyum iblis nya
Dia lalu pergi ke ruang senjata dan mengeluarkan pistolnya yang berjenis Smith and wesson 500 Magnum yang paling mematikan di dunia. Dengan akurasi yang sangat mematikan dan juga hebat tentunya. Juga dengan kecepatan peluru yang bisa menembus 2.075 kaki perdetik nya.
DOR
DOR
DOR
Terdengar suara tembakan yang begitu kuat berasal dari ruang senjata. Raymond menembak orang yang menyusup di dalam ruang senjata nya sehingga mengenai bahu kirinya.
"Cih dasar tikus kotor beraninya menyusup kesini sudah bosan hidup ternyata" ucap Raymond dengan nada bicara yang sangat dingin.
"Cepat tangkap penyusup itu bawa keruang penyiksaan kita akan gali informasi siapa yang mengirim dia kemari" perintah Raymond kepada anak buahnya. Lalu dia pergi terlebih dahulu ke ruang menyisakan
Saat ini Raymond telah sampai di depan ruang penyiksaan di mana tempat dia sering menyiksa para musuh nya bau amis dari darah di tempat ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya. Tak lupa dia menekan kata sandi yang ada di pintu tersebut degan menggunakan tanggal lahir ibunya dan adiknya yang dia gabungkan.
Sekejam-kejam nya seorang Raymond Wijaya dia masih memiliki kasih sayang untuk wanita yang telah melahirkannya dan adik perempuan tersayangnya. Ruang kerja dan ruang-ruang rahasia yang ada di markas ini saja dia gunakan kata sandi menggunakan tanggal lahir ibu nya dan juga adik nya.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menyusup di markas ini hm" nada bicara yang sangat dingin dan mengintimidasi dari Raymond kepada penyusup tersebut dia hanya duduk dan menatap remeh penyusup tersebut.
"Walaupun kau membunuhku aku tak akan memberitahukan siapa yang telah menyuruh ku kemari" ucap sang penyusup tersebut
"Baiklah kalau begitu..Fabio cambuk dan tusuk perutnya mengunakan besi yang sangat panas" perintah Raymond kepada anak buahnya
"Baik Tuan" setelah mengatakan itu Fabio langsung melakukan apa yang di perintahkan untuknya
Di dalam ruangan itu hanya ada si penyusup, Raymond beserta ketiga anak buah kepercayaan nya.
"Ini tuan besi panasnya" ucap Fabio memberikan besi yang sangat panas ujung nya kepada Raymond
"Ikat dia di dinding paku itu" perintah Raymond lagi
Anak buahnya langsung melakukan apa yang di perintahkan, mengikat pria itu di dinding yang bnyk paku-paku tajam.
Setelah itu Raymond menghampiri pria itu dengan besi panas di tangannya,lalu dia menancapkan besi itu di leher pria tersebut.
"AAAAARRRGGGHH BRENGSEK SIALAN PANAS" Teriakan kesakitan dari pria tersebut membuat Raymond tersenyum senang melihat betapa menderitanya orang di hadapannya ini
"Katakan siapa yang menyuruh mu untuk menyusup kesini" lagi Raymond bertanya kepada pria itu tak lupa dengan nada bicara nya yang sangat dingin dan juga datar.
"A-ku..T-idak..A-akan.. M-memberitahukan nya..P-damu" ucap pria itu terbata-bata karena sudah sangat kesakitan dan juga panas akibat besi yang menancap di leher nya.
"Baiklah jika kau tak ingin mengatakannya maka aku bisa saja mencari tau ttg diri mu dan juga keluarga mu dengan begitu aku akan menghabisi semua keluarga mu tanpa tersisah"
Raymond mengambil cutter di saku nya dan menggoreskan cutter itu di wajah pria tersebut membuat pria itu berteriak dengan suara yang sangat memilukan.
"Lebih baik kau bunuh saja aku langsung dari pada seperti ini.. sunggguh menyiksa ku AAARRGGH!!"
"Cih dasar lemah"
DOR
DOR
DOR
setelah mengatakan hal itu Raymond langsung menembak pria itu di kepala nya membuat pria tersebut tewas seketika.
"Kalian penggal kepalanya dan jual organ tubuhnya hasilnya bisa kalian masukan ke rekening kalian aku tak Sudi menerima organ tubuh dari seorang penyusup apalagi jika dia utusan dari musuhku jangan lupa cari tau ttg pria itu lalu kirimkan kepala nya kepada orang yang telah mengirimnnya kemari" ucap Raymond lalu dia keluar dari ruang penyiksaan itu.
*
*
*
Saat ini jam sudah menunjukkan waktu istirahat makan siang dan semua karyawan di kantor beristirahat untuk mengisi perut mereka di kantin kantor.
Dan disinilah viona dan Dhea sedang makan di kantin kantor sambil sesekali bercerita ttg hal-hal random.
"Eh Vio gue mau nanya dong sama lu boleh gk?"
"Iya apa yang ingin kau tanyakan padaku Dhea?"
"Begini lu ada hubungan yah sama pak Presdir?" Tanya dhea yang kepo
"Hah? Gimana? Aku tidak ada hubungan dengan Presdir tidak mungkin aku yang hanya karyawan biasa menjalin hubungan dengannya"
"Hmm gitu eh tapi kalau di lihat-lihat kalian berdua itu cocok loh, yang satu kayak kutub sangat dingin juga irit kata dan satunya lagi cerewet" Dhea mengatakannya sambil tertawa kecil
"Heh jadi maksud mu aku cerewet begitu? Enak aja gk yh lagipula siapa juga yg suka padanya aku, tak akan pernah menyukai nya"
"Hn iain deh awas telen ludah sendiri lu nantinya"
"Gk akan sudahlah lebih baik kita lanjut makan saja sebentar lagi istirahat makan siangnya akan berakhir"
Lalu setelah itu mereka melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
*
*
*
Sementara itu di tempat lain tepatnya di depan pintu pagar sekolah seorang gadis remaja sedang menunggu untuk di jemput jangan lupakan wajah kesalnya dan juga dia terus saja mengomel karena jemputan nya yang lama sekali datangnya
Dan setelah menunggu sejam lebih akhirnya jemputan nya datang juga. Dia langsung berlari ke arah mobil sport yang berhenti di depan pintu pagar sekolah nya.
"Iiih pantesan lama jemput adek ternyata Abang yang jemput" setelah mengatakannya dia langsung naik ke mobil dan duduk di kursi depan.
"Maaf yh sayang Abang lama jemput kamu ada urusan soalnya tadi" ucap pria yang di panggil Abang oleh gadis remaja tadi
"Ia Anneth maafin tapi bang Ray beliin adek Eskrim sebagai permintaan maafnya gimana?" Ucap gadis remaja itu yang ternyata adalah adik dari Raymond yaitu Anneth Andrometa Wijaya.
"Baiklah sesuai permintaan adik kesayangan Abang ini hm kita pergi beli eskrim"
Lalu setelah itu Raymond menjalankan mobilnya menuju kedai Eskrim. Tadi pas dia selesai menghabisi penyusup tadi dia berencana untuk kembali ke kantor tapi karena dia mengingat adik nya jam segini sudah pulang sekolah jadi dia langsung bergegas untuk menjemputnya.
Setelah sampai di kedai Eskrim anneth pun langsung memesan 2 cup eskrim dengan tiga rasa lalu memakannya. Dia sangat senang bisa menghabiskan waktu dan membeli eskrim bersama Abang nya Raymond, karena selama ini Raymond sering sibuk dan jarang berada di rumah dan selebihnya selalu pulang ke apartemen pribadi milik nya.
"Adek suka Eskrim na enak hehe"
"Baguslah jika kau suka"
"Oh ia bang,kapan Abang kembali ke mansion utama? Bunda sudah sangat merindukan Abang tau"
"Nanti jika Abang ada waktu Abang akan berkunjung dan menginap beberapa hari di mansion utama, apakah kau kesepian tanpa Abang?"
"Ia Anneth kesepian gk ada Abang di rumah tapi untungnya bunda sering menghabiskan waktu di rumah jadi anneth tidak terlalu kesepian"
Raymond jika bersama dengan adiknya memang akan bersikap lembut dan perhatian,kepada bunda nya juga dia akan berbicara lembut dan bersikap kekanak-kanakan juga kadang-kadang.
Dia hanya memperlihatkan sifat nya itu di depan orang yg benar-benar dia sayangi, tapi jika dengan orang lain dia akan bersikap dingin dan cuek.
"Sudah selesai makan eskrim nya? Ayo kita pulang" ajak Raymond setelah melihat anneth telah menghabiskan eskrim terkahir nya
Anneth hanya mengangguk sebagai jawaban lalu mereka kembali lagi ke mobil untuk pulang ke mansion utama.
Di dalam mobil terjadi keheningan dan anneth yg tidak suka hening mulai membuka pembicaraan.
"Emm bang Ray... anneth boleh bertanya gk bang?" Ucap anneth sambil melihat ke arah Raymond
"Hn boleh tanyakan saja tidak perlu meminta izin seperti itu" jawab Raymond sambil fokus menyetir sesekali dia akan melirik ke arah adiknya juga.
"Apakah Abang masih mencari sahabat masa kecil Abang itu?" Tanya anneth penasaran pasalnya Abang nya itu masih terus mencari seorang wanita yang dulu saat Raymond dan wanita itu masih kecil sempat memiliki hubungan persahabatan.
Tapi karena Raymond dan keluarganya pindah ke luar negeri membuat mereka terpisah dan saat itu Raymond juga tidak mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu.
Selama Raymond terpisah dengan sahabat nya itu dia mengalami demam selama seminggu karena sangat merindukan sahabat masa kecil nya itu.
"Tidak Abang belum menemukan nya sulit menemukan dia hanya dengan nama panggilan nya saja" jawab Raymond setelah terdiam begitu lama.
"Dan di kantor Abang ada wanita yang namanya sama seperti sahabat masa kecil Abang" lanjut Raymond sambil mengingat viona
"Benarkah? Mungkin saja dia sahabat masa kecil Abang"
"Tidak mungkin anneth dia tidak mungkin sahabat masa kecil Abang" ucap Raymond menyangkalnya dia tidak ingin berharap terlalu lebih
Dulu sewaktu kecil Raymond di jauhi dan tidak memiliki sama sekali teman dalam hidupnya, orang-orang menganggap dirinya aneh karena mudah marah dan sangat tempramental.
Tapi semenjak dia bertemu dengan seorang gadis kecil di sebuah taman disaat dia sedang duduk sendirian, saat itu juga dia langsung tertarik untuk menjadikan gadis kecil itu sebagai teman nya.
Flashback On
14thn yang lalu saat Raymond masih berusia 9 tahun dia sedang duduk sendiri di taman tak ada yang mau berteman dengan nya.
Karena dirinya yang mudah emosi dan juga tempramental, dia pernah berkelahi dengan teman satu kelas nya dulu hanya karena anak itu menghina Raymond memiliki gangguan jiwa sehingga membuat Raymond emosi.
Dia hampir membuat anak itu koma di RS karena dia menikam dada anak itu menggunakan pensil yang tajam, dia juga memukuli anak itu dia bagian kepalanya menggunakan kursi kayu yang ada di kls nya mengakibatkan kepala anak itu mengeluarkan banyak darah.Sehingga anak itu di bawa larikan ke RS dan di beri penanganan dan di rawat selama 3 bulan lamanya.
Orang tua Raymond juga sering membawa nya ke psikiater untuk di beri penanganan agar tempramen juga emosi nya yang mudah sekali terpancing itu tidak semakin parah.
Hal itu membuat dirinya di jauhi oleh orang-orang tidak termasuk keluarga nya sendiri,dan dia juga tidak memiliki satu pun teman.
Dan disinilah dia setelah pulang dari psikiater dia duduk sendiri memenangkan diri nya di taman yang tampak mulai sepi.
Lalu pandangan nya tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang bermain pasir sendiri, hati nya tergerak untuk menghampiri gadis itu. Biasanya Raymond tidak tertarik untuk berurusan dengan anak lain karena baginya itu merepotkan apalagi mengajak mereka berkenalan dia memiliki gengsi yang sangat tinggi.
Setelah sampai di depan gadis itu Raymond pun sedikit mengejeknya karena melihat penampilan gadis itu yang tampak kotor di bagian pipi dan juga pakaian nya karena bermain pasir tadi.
"Hei gadis kotor sampai tahun depan pun kau akan sulit membuat istana pasir dengan pasir yang sangat kering itu" ucap Raymond mengejek gadis kecil tersebut
Mendengar ejekan tersebut gadis kecil itu langsung mendongak dan menatap tajam Raymond yang sayangnya tatapannya itu bukannya seram tapi terlihat menggemaskan di mata Raymond,dia lalu berdiri dan berkacak pinggang.
"Apa maksud mu dengan sebutan gadis kotor tadi hah? memangnya knp kalau istana pasirnya ku buat dari pasir ini,lagi pula aku bisa menambahkan air agar mudah dibentuk" ucap gadis kecil itu sambil marah-marah ke Raymond
Raymond yang di marahi oleh gadis kecil itu hanya tersenyum tipis,merasa lucu dengan ekspresi gadis kecil di depannya ini.
Lalu dia mengulurkan tangannya guna mengajak gadis tersebut berkenalan.
"Namaku Raymond..kau bisa memanggilku Almond itu nama panggilan dari keluarga ku untuk diriku"
Gadis kecil itu yang melihat tangan Ray terulur langsung membalas jabatan tangannya sambil tersenyum manis.
"Panggil saja aku ona salam kenal Almond" setelah mengatakannya gadis kecil yang di panggil ona itu tertawa kecil
"Baiklah ona apakah kau mau berteman dengan Almond?" Tanya Raymond kepada ona
"Hm ona mau kebetulan ona tidak punya teman mulai sekarang almond dan ona berteman yh" ucap ona dengan semangat
Raymond hanya tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban dari ona, dia sangat senang memiliki teman walaupun hanya satu bagi nya sudah lebih dari cukup.
"Almond ayo kita buat istana pasir nanti kita buat istana nya yg besar almond mau kan?"
"Hm baiklah ayo,tapi tambahkan sedikit air di pasirnya biar mudah di bentuk"
Dan mereka pun bermain hingga sore hari menjelang. Saat ini mereka sudah akan pulang ke rumah masing-masing.
"Ona berjanji lah bahwa kau akan selalu menjadi sahabat almond dan tidak akan pernah meninggalkan almond kau harus berjanji hm?" Ucap Raymond sambil mengangkat jari kelingking nya guna membuat janji dengan ona
"Hm ona janji tak akan meninggalkan almond sendiri" jawab ona lalu mereka saling menautkan jari kelingking nya
"Baiklah kalau begitu ona pulang dulu yah nanti mama khawatir jika ona belum pulang..dadah almond" setelah mengatakan itu ona langsung berlari pulang ke rumahnya
Raymond hanya tersenyum melihat kepergian ona teman baru nya dan sudah di anggap sahabat olehnya walaupun mereka baru kenal.
Singkat cerita hubungan persahabatan mereka sudah terjalin selama 8 bulan lamanya membuat mereka mengetahui sifat masing-masing dan ona juga sudah mengetahui sifat emosian dan tempramental Raymond.
Tapi dia tidak meninggalkan nya dia justru menerima kekurangan yang ada dalam diri Raymond.
Dan saat ini mereka tengah duduk di rumah pohon yang ada di taman itu, yang biasa menjadi tempat mereka bermain dan menghabiskan waktu bersama,mereka sedang menikmati matahari yang akan tenggelam sebentar lagi.
"Ona.. terimakasih sudah mau menjadi sahabat almond dan trimakasih juga sudah menerima segala kekurangan almond walaupun terkadang almond sering melampiaskan kemarahan almond kepada ona tapi ona ttp mau bersama dan berteman dengan ku, almond janji kepada ona akan terus menjaga dan melindungi ona dan juga akan membuat ona bahagia selalu" ucap Raymond sambil berjanji akan membahagiakan ona
"Ternyata kau bisa bicara panjang lebar juga yh ku pikir kau orang yang irit kata" ucap ona sambil terkekeh geli mendengar perkataan dan juga janji yang di ucapkan oleh Raymond.
"Iih ona aku serius jangan bercanda dulu" ucap Raymond kesal kerena dia tadi berbicara serius malah di tanggapi bercanda oleh ona
"Baiklah-baiklah aku minta maaf yh hehe habisnya ini pertama kali nya aku mendengar kau bicara panjang lebar seperti itu..dan kau harus menepati janji mu itu yh" ucap ona sambil tersenyum manis kearah Raymond
"Hn ia aku akan selalu menepati janjiku ayo kita pulang langit sudah mulai gelap" mereka langsung bergegas turun dari rumah pohon itu dan pulang ke rumah masing-masing.
Setelah tiba di rumahnya Raymond merasa heran melihat bunda dan ayahnya yang berkemas-kemas, dia melihat ada banyak koper dan barang di ruang tamu.
"Eh Ray? syukurlah sayang jika kau sudah pulang,sini bantu bunda sebentar kau gendong dulu adik mu anneth" ucap bunda nya Raymond menyerahkan anneth adik nya yang masih berusia 3 tahun itu ke dalam gendongannya
"Bun kita mau kemana? Dan kenapa ayah dan bunda mengemasi semua barang?" Tanya Raymond merasa bingung sambil menggendong adik kesayangannya anneth
"Kita akan ke Amerika perusahaan ayah di sana sedang bermasalah jadi kita malam ini harus segera bergegas pergi kesana 2 jam lagi pesawat nya akan lepas landas" jawab ayahnya Raymond membuatnya sangat terkejut
"Kau tidak usah bersiap-siap Ray begitu saja kita terburu-buru nah semuanya sudah siap.. ayah cepatlah nanti kita ketinggalan pesawat" ucap bunda nya Raymond memanggil suaminya
"Bunda bisakah aku mengucapkan salam perpisahan dulu kepada teman ku?" Tanya Raymond meminta ijin
"Ray sayang nanti kita akan terlambat kau tau kan jarak rumah kita ke bandara itu lumayan jauh ini juga sudah malam mungkin mereka sudah tidur kita tidak punya banyak waktu nak" ucap bunda nya Raymond
"Sudah Bun ayo kita pergi" ucap ayahnya Raymond lalu sopir nya mengangkat barang-barang mereka meletakan nya di dalam mobil lalu pergi menuju bandara.
Selama di mobil Raymond hanya diam tanpa terasa air mata nya menetes.
"Maafkan almond ona..almond meninggalkan mu tanpa mengucapkan salam perpisahan.. almond janji akan cepat pulang dan menemui mu lalu kita bisa bermain dan bersama lagi" batin Raymond sedih, dia sangat sedih dan tidak mau berpisah dengan Ona sahabatnya tapi dia juga tak bisa menolak perkataan ibu dan ayahnya.
Skip
Keesokan harinya ona sudah menunggu Raymond di taman biasa mereka bermain, lama dia menunggu sampai sore Raymond tak kunjung datang.
"Ray kemana yah? apakah dia ada urusan? sehingga tidak datang hari ini,yh sudahlah besok saja aku datang lagi kemari siapa tau besok dia akan datang menemui ku di sini" ucap Viona lalu kembali ke rumahnya
Hari berganti hari Minggu berganti Minggu bulan berganti bulan tak terasa sudah setahun lamanya ona ttp menunggu kedatangan Raymond di taman itu dia sangat merasa sedih, sebulan yang lalu dia baru mengetahui bahwa keluarga Raymond pindah ke Amerika dan tidak tau akan kembali kapan.
"Kau mengingkari janji mu Ray...kau berbohong kau berjanji akan terus bersama ku hiks kenapa kau tak mengucapkan salam perpisahan dengan ku..hiks apakah kau sudah tak ingin berteman dengan ku? Hiks...hiks"ucap ona sambil menangis sesenggukan dia merasa sangat sedih Raymond tak mengucapkan salam perpisahan dan juga tak mengirimkannya surat, apakah dia disana sudah memiliki teman baru? Begitu pikir nya.
"Viona sayang..nak ayo pulang sudah Sore" terdengar suara ibunya Viona memanggil.
Yh nama asli ona adalah viona Alexander dan nama ona hanya khusus nama panggilan Raymond untuk Viona dan hanya Raymond yang boleh memanggil nya dengan panggilan ona.
Viona pun langsung berlari kearah ibu nya dan langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Apa kau masih menunggu nya sayang?" Tanya ibu nya sambil mengusap lembut kepala viona
"Hiks apakah hiks dia sudah melupakan ku Ma? Hiks dia tak mengirim ku surat ataupun mengucapkan salam perpisahan saat dia pergi hiks" ucap Viona masih menangis dalam pelukan ibunya.
Ibunya hanya tersenyum mendengar perkataan dari anak semata wayangnya nya ini.
"Vio.. bagaimana bisa dia mengirimkan mu surat sedangkan alamat rumah kita saja dia tidak tau" ucap ibunya Viona
"Hiks..tapi hiks setidaknya hiks dia mengucapkan salam perpisahan tapi hiks ini tidak hiks"
"Yh sudah hm nanti juga dia akan kembali lagi vio jangan sedih yh.. lebih baik kita pulang hm mama sudah buatkan makanan kesukaan vio"
Mereka pun pulang dan setelah itu Viona sudah mulai terbiasa bermain sendiri tanpa adanya Raymond.
Flashback off