Mafia Boss & Manipulative Girl

Mafia Boss & Manipulative Girl
Chapter-6




Viona membersihkan dapur dan juga piring kotor terlebih dahulu setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mengerjakan berkas-berkas yang di berikan oleh Raymond, tak lupa dia juga membawa beberapa cemilan dan air putih untuk menemani dirinya begadang malam ini.


Dan disinilah viona harus rela begadang malam ini untuk mengerjakan berkas-berkas yang begitu banyak.


"Haah dia menjadi sangat arogan dan juga galak sekali setelah dewasa mana menyeramkan juga lagi,padahal dulu dia itu gemoy apalagi kalau saat mengucapkan janji-janji nya yang tak pernah di tepati nya itu" ucap Viona yang hanya tersenyum miris kemudian dia langsung lanjut mengerjakan pekerjaan nya itu.


•KEESOKAN PAGINYA•


Pagi ini viona bangun terlambat karena mengerjakan semua berkas yang di berikan Raymond kepadanya.


Dia masih tertidur dengan nyaman di kasur nya, tidak tau saja jika Raymond telah menunggu nya sedari tadi.


Karena merasa jengah terlalu lama menunggu Raymond langsung masuk kedalam kamarnya viona dan dia melihat viona yang masih tidur dengan nyaman di atas kasurnya.


"Viona bangun mau sampai kapan kau tidur terus hah!"


Bentak Raymond dengan nada bicara yang meninggi membangunkan viona, membuat dirinya terperanjat kaget dan langsung terbangun dengan tiba-tiba.


Dia langsung menatap Raymond yang dalam ekspresi datar sedang menahan marah.


"M-maaf A-aku K-kesiangan maafkan aku" viona meminta maaf kepada Raymond dengan nada bicaranya yang terbata-bata karena takut


"Cepat bersiap dan turun ke bawah" ucap Raymond dan langsung pergi dari kamar viona


"Habis sudah kau viona kenapa juga aku lupa memasang alarm nya" setelah itu dia langsung pergi ke kamar mandi dan langsung mandi dengan cepat dan bersiap-siap dengan cepat tak sampai 5 menit dia sudah siap dan langsung turun menyusul ke bawah.


"Maaf karena lama" ucap Viona menyesali keterlambatan nya untuk bangun pagi


"Hn" hanya jawaban singkat yg di berikan Raymond lalu dia langsung berjalan duluan dan pergi ke dalam mobilnya disusul oleh viona yang langsung duduk dgn tenang di sebelahnya.


•🏢RD CORPS•


Saat ini di kantor Raymond hanya bersikap cuek dan lebih dingin pada Viona, membuat viona merasa bersalah dan juga dia jadi merasa tidak enak pada Presdir nya itu.


Tok


Tok


Ketukan pintu terdengar dari luar dan setelah mendapatkan izin dari orang yang berada di dalam ruangan tersebut dia pun masuk dan tak lupa mengetuk pintunya.


Viona yang melihat bahwa yang datang itu adalah Dhea merasa senang dan tersenyum kearah temannya itu.


"Permisi Presdir ini saya mau menyerahkan data-data penjualan tahun ini"Ucap dhea dengan nada bicara yang formal dan juga sopan.


"Hn letakan saja di meja akan saya periksa" balas Raymond singkat dan masih fokus dengan laptopnya


"Baiklah Presdir" setelah mengatakan hal itu Dhea pun meletakkan berkas nya di atas meja Raymond lalu di permisi untuk pergi, tapi saat dia ingin keluar viona memanggil nya.


"Dhea..kemarilah " panggil viona


Dhea pun mendekat dan menatap Viona dengan pandangan yang bertanya ada apa.


"Ada apa vio?"


"Eh nanti jam istrihat makan siang temani aku yah ke suatu tempat" pinta viona pada Dhea


"Oh okok emang nya mau kemana?"


"Nanti ku beritahu sekarang kau kembali sana ke ruangan mu nanti Presdir marah kalau kita kelamaan mengobrol" ucap Viona seperti berbisik dan perkataan nya itu hanya di dengar oleh Dhea dan dirinya sendiri.


Lalu setelah itu dhea langsung keluar dari ruangan Presdir nyai itu dan lanjut bekerja di meja kerjanya.


Tak berapa lama kemudian Raymond pun mendapatkan telfon dari orang kepercayaan nya.


"Hn ada apa?" Tanya Raymond singkat


..."Tuan kami telah mengetahui rencana Red Blood dan apakah Tuan punya tugas dan rencana untuk kami? " Tanya Fabio orang kepercayaan Raymond di telfon...


"Hn kita akan bicarakan ini di markas"dia pun mematikan sambungan telepon nya dan menatap Viona


"Lihat jadwal hari ini apakah ada rapat penting?" Tanya Raymond secara tiba-tiba kepada viona


"Eh sebentar Presdir saya lihat dulu" viona mengambil jadwal nya dan langsung membacanya


"Ada Presdir hari ini jam 11 nanti anda ada rapat dengan JA Corps"


"Hn baiklah siapkan semua berkas-berkas yang di perlukan untuk meeting nanti" Perintah Raymond setelah itu beralih ke laptopnya


•Skip Time•


Setelah rapat selesai Raymond langsung bergegas menuju ke markas 'Black Death' di sana para anak buahnya sudah menunggu diri nya.


Dan disinilah Mereka sedang berdiskusi tentang rencana untuk menyerang kelompok mafia 'Red Blood'


"Jadi apakah kalian sudah mengerti rencananya?" Tanya Raymond


"Iya kami mengerti Tuan" jawab mereka semua


"Hn baiklah kita pergi menuju pelabuhan untuk mencegah rencana mereka" Raymond pun langsung bergegas menuju mobilnya dan pergi ke pelabuhan bersama para anak buahnya.


•AUTHOR POV ON•


Para ketua mafia memiliki masing-masing satu pelabuhan pribadi mereka, agar lebih mudah untuk mereka melakukan transaksi ilegal dan Raymond memiliki sekitar 10 pelabuhan pribadi yang sangat rahasia dan juga tak pernah di ketahui oleh para polisi.


Di setiap pelabuhan milik Raymond itu sangat rahasia jadi hanya sesama para mafia yang bisa mengetahui nya dan karena dia memiliki 10 pelabuhan pribadi jadi saat melakukan transaksi dia bukan hanya di satu pelabuhan saja tapi di pelabuhan yang lain juga.


Dan pelabuhan yang di tuju oleh Raymond itu tidak jauh dari lokasi markas mereka sehingga mereka bisa dengan cepat sampai sebelum para kelompok mafia 'Red Blood'.


•AUTHOR POV END•


Setibanya mereka di pelabuhan yang bernama pelabuhan "ekpress" mereka semua langsung bergegas turun dan mengepung pelabuhan itu sambil bersembunyi di tempat yang tak terlihat oleh kelompok mafia 'Red Blood', dan benar saja dugaan Raymond bahwa mereka belum tiba di sini karena kapal yang datang membawa persenjataannya akan tiba sekitar 20 menit lagi.


Tak berapa lama kemudian mereka melihat segerombolan kelompok mafia 'Red Blood' sedang bersiap-siap untuk mencegat awak kapal.


Raymond mulai memberi kode kepada para anak buahnya, Fabio yang mengerti kode tersebut langsung menyuruh para anggota Black Death lain untuk keluar mengepung mereka.


Para anggota kelompok mafia 'Red Blood' yang terkepung pun sangat terkejut, mereka pun memberikan perlawanan. Sehingga saat ini terjadi adengan baku tembak di antara mereka.


Raymond mengambil Revolver miliknya dan langsung menarik pelatuknya, menembak dengan satai memandang dingin ke arah kelompok mafia 'Red Blood'.


Cukup lama mereka bertarung akhirnya pertarungan itu di menangkan oleh Raymond dan anak buahnya,terlihat banyak jasat para kelompok mafia 'Red Blood' yang terkapar tak bernyawa, bau amis dari darah yang keluar dari tubuh anak buah kelompok mafia 'Red Blood' menguar di tempat itu.


Ada yang sebagian tewas tertancap besi di leher dan juga dada mereka,ada yang sebagian tewas dengan kepala yang berlubang akibat tembakan, ada juga karena di bakar hidup-hidup dan di kuliti membuat pelabuhan itu menjadi tempat pembantaian untuk para kelompok mafia 'Red Blood'


"Jual organ tubuh mereka yang masih berfungsi dan ambil untuk kalian hasil penjualan organ mereka sbg hadiah dari ku karena telah berhasil melakukan misi ini dengan sangat baik" Puji Raymond kepada anak buahnya yang telah bekerja dengan sangat baik


"Terimakasih Tuan,sekali lagi Terimakasih.Oh ia Tuan bagaimana jika saya memberi saran nanti malam kita pergi ke pelelangan wanita dan juga senjata yang akan di adakan oleh Tuan Jhonatan di distrik Phoenix " Ucap Fabio menawarkan


"Hn pelelangan senjata, menarik baiklah nanti malam kita pergi kesana...dan jangan lupa jika senjata nya tiba langsung bawa ke markas" Raymond pun langsung pergi ke mobilnya dan menuju ke kantor karena hari sudah mulai sore.


•SEMENTARA ITU DISISI LAIN•


Di sebuah cafe yang terlihat sangat sederhana dan juga tidak ramai pengunjung, terlihat viona dan juga dhea yang duduk di salah satu meja caffe sambil menunggu seseorang.


"Eh Vio sebenarnya ini kita mau nungguin siapa?"


"Aku sedang menunggu kakak sepupuku namanya Juliany, dia mengatakan akan memberitahukan ku sesuatu hal yang penting dan karena aku tidak ingin pergi sendiri jadi aku mengajakmu dan juga nanti kau akan sedikit membantu ku nanti" jelas viona kepada Dhea


Dhea hanya mengangguk dan meminum orange jus nya lagi. Dan orang yang di tunggu pun datang, Juliany datang dengan tergesa-gesa dan langsung duduk di hadapan mereka.


"Maaf kakak terlambat yh vio" ucap Juliany lalu dia meletakan map dan juga tas nya di atas meja


"Tidak apa-apa kak aku tau kau juga mungkin sibuk dan harus mengurus pekerjaan mu dulu,jadi informasi apa yang kakak dapatkan?"


"Begini vio menurut data dan informasi yang kakak dapat orang-orang yang membunuh kedua orang tuamu adalah suruhan dari Jhonatan Alret, dia dulunya adalah seorang ketua mafia 'Dragon' karena ayah mu telah mengetahui markas nya dan juga berhasil menjebak mereka, dan mengakibatkan mereka bangkrut sehingga mereka membalaskan dendam mereka dengan cara membunuh ayah dan juga ibu mu"


Juliany menjelaskan semuanya dengan seksama kepada viona sambil mengeluarkan beberapa foto orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibunya Viona.


Dhea sedari tadi hanya diam menyimak penjelasan dari Juliany dia sempat terkejut ternyata orang tua Viona meninggal di bunuh oleh komplotan mafia.


Viona mengambil foto-foto tersebut dan memandang foto itu penuh kebencian.


"Apakah kakak tau orang-orang yang ada di foto ini berada di mana?" Tanya viona


"Hm aku tau, mereka ada di distrik Phoenix dan sekarang mantan ketua mafia 'Dragon' itu menjadi ketua dari pelelangan senjata ilegal dan juga menjual para wanita" ucap Juliany menjawab pertanyaan viona


"Itu Sungguh gila menjual para wanita dan juga senjata ilegal apa mereka tidak takut tertangkap polisi lagi?" Dhea yang tadi mendengar jawabannya Juliany terkejut dan tak habis pikir dengan orang-orang itu


"Begitulah adanya Dhea..jika kau ingin bertahan di dunia ini kau harus mampu menghadapi beribu-ribu banyak orang kejam dan juga licik yang ada,dan juga jangan mudah di bodohi dan di perdaya oleh mereka" nada bicara yang datar keluar dari mulut viona dia menatap tajam dan meremas kuat foto tersebut.


Dhea baru pertama kali melihat tatapan dan nada bicara datar dari viona sedikit terkejut melihat sosok lain dari viona.


"Sebenarnya apa saja yang kamu sembunyikan dari ku viona,kau begitu sangat berbeda seperti bukan Viona yang biasanya" batin Dhea masih menatap viona


"Dan kamu beruntung Vio, malam ini mereka akan mengadakan pelelangan senjata dan Jhonatan Alret ada di sana juga"


"Baiklah kak terimakasih atas semua informasi nya, dan aku boleh minta sesuatu hal lagi?" Tanya viona sambil menatap kearah Juliany


"Kau ingin aku membantumu menyusup dan menyerang mereka secara diam-diam bukan" Juliany yang sudah mengerti arti tatapan itu pun langsung tersenyum


"Iya Kakak benar dan kali ini aku tak akan menjalankan misi nya sendirian" viona pun beralih menatap Dhea


Dhea yang di tatap pun merasa bingung


"Ada apa? Kenapa kau menatap ku seperti itu?"


"Dhea kau akan ikut dengan ku menyusup kedalam Gedung pelelangan itu pasti di sana akan ada banyak tamu. Kita akan menyamar sebagai pelayan pengantar minuman dan beberapa kudapan" viona mengatakan nya dengan smirk licik nya


"Apa kamu sudah gila hah?, Di sana ada begitu banyak orang jahat dan juga para mafia. Bisa-bisa kita berdua yang di lelang di sana gk, gk. Aku gak mau" tolak dhea dengan keras


"Ayolah Dhea aku butuh bantuan mu juga, aku tak bisa melakukan ini sendirian aku ingin membalas perbuatan keji mereka atas apa yang telah mereka perbuat pada ayah dan ibuku"


Dhea hanya menghela nafas pasrah mendengar perkataan Viona, dia juga ingin membantu Viona tapi dia merasa sedikit takut karena harus berurusan dengan para mafia.


"Baiklah Aku mau bantuin Kamu tapi hanya sekali ini aku terlibat dalam urusan yang berbahaya kayak gini ya"


Viona tersenyum senang dan memandang binar kearah dhea


''hn baiklah kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya dan ku harap kau dan teman mu berhati-hati nanti, kakak permisi dulu ada yang harus kakak urus terlebih dahulu"


Juliany pun pamit dan langsung bergegas kembali lagi ke markas karna ada urusan penting yang harus dia selesaikan.


Viona dan dhea pun juga ikut pergi dan langsung menuju ke kantor lagi.





Malam harinya di apartemen terlihat Raymond sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap pergi.


Viona pun senang kalau Raymond tidak ada di rumah dengan begitu dia tidak akan mendapatkan pertanyaan dari Raymond jika dia pergi nanti.


Di pun berjalan ke dapur dan berpura-pura untuk minum, itu hanya alasannya untuk mengecek apakah Raymond benar-benar jadi pergi atau tidak.


Raymond yang melihat viona yang sedang minum di dapur pun menghampirinya.


"Vi, kau tidak usah memasak untuk makan malam. Aku akan makan malam di luar, dan ada yang harus ku kerjakan. jadi kau tak perlu memasak"


"Hn baiklah kalau begitu" selesai minum viona pun hendak kembali ke kamarnya tapi tangannya tiba-tiba di tarik oleh Raymond sehingga membuat dirinya menabrak dada bidang Raymond.


Raymond memegang dagu viona sehingga membuat viona mendongak menatap Raymond yang lebih tinggi darinya itu.


"A-apa K-kamu M-membutuhkan S-sesuatu?" Tanya viona yang gugup karena bertatapan dengan posisi tubuh yang begitu dekat dengan Raymond, pipi nya juga sudah ngeblush.


Yang di tanya bukan nya menjawab tapi dia malah mengelus pipi Viona dengan lembut, dan tersenyum tipis yang biasanya hanya dia tunjukan kepada ibu dan juga adiknya.Kini dia tunjukan kepada wanita lain selain ibu dan adiknya. Entah kenapa dalam hati kecil Raymond merasa begitu tidak asing dengan viona


"Jangan kemana-mana dan tetaplah di dalam rumah kau mengerti hm?" Ucap Raymond dengan deep voice nya sambil menatap penuh arti pada mata viona


"Baiklah aku tak akan kemana-mana, tapi bisakah kau lepaskan dulu tanganmu dari pinggang ku?"


Yah sedari tadi tangan Raymond melingkar di pinggang ramping viona, terlihat seperti dia sedang memeluk viona.


Raymond pun melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang viona.


"Hn baiklah aku pergi dulu ingat pesan ku tadi" setelah mengatakannya Raymond pun langsung bergegas pergi dan menaiki mobilnya menuju gedung pelelangan ilegal tersebut.


Viona yang melihat Raymond telah benar-benar pergi pun langsung mengambil tas nya di kamar,dan langsung keluar dari apartemen, tak lupa dia mengunci semua pintu apartemen menggunakan kunci berupa kartu yang di berikan oleh Raymond padanya.


Setelah mengecek semuanya telah terkunci dengan baik dia pun langsung menuju rumah bibi nya yang di sana telah berkumpul Dhea juga Juliany.




Di rumah bibi nya viona hanya ada para pelayan jadi membuat rencana mereka berjalan tanpa ada hambatan, sekarang viona, Dhea dan juga Juliany sedang berada di kamar milik viona.


"Jadi kak apa yang kau bawa?" Tanya viona


"Ini baju pelayan dan beberapa senjata,kalian beruntung karena pelayan di sana menggunakan topeng dansa untuk menutupi wajah mereka, jadi akan memudahkan kalian melakukan rencana kalian, ini pakailah dan ini ada Revolver dan juga Barrett M82 untuk membunuh target"


Dhea yang melihat senjata mematikan itu hanya terdiam dan menatap ngeri pada Juliany juga viona.


"Jadi aku akan melihat dulu posisi mana yang sangat aman dan strategis untuk menembak si Jhonatan itu dan dhea akan memberi kode dari lantai bawah dimana tempat mereka melakukan pelelangan, setelah misi ini berhasil kita akan berpura-pura panik dan mengikuti alur kepanikan yang akan terjadi nanti dan berpura-pura seperti tidak atau apa-apa" ucap Viona menjelaskan rencananya


"Wiih vio gila rencana mu bagus bagus banget" ucap dhea memandang takjub kearah viona


Viona hanya tersenyum mendengar perkataan dari Dhea lalu pandangan nya beralih menatap Juliany.


Dhea dan viona pun langsung berganti pakaian mereka menjadi pakaian pelayanan khusus di sana.



(Anggep aja bajunya kayak gini yh 😊)


"Baiklah kalau begitu ayo kita langsung pergi, kak Juliany sudah membawa kendaraan nya bukan?"


"Iya aku bawa ayo kita pergi sekarang lebih cepat lebih baik"


Mereka pun langsung bergegas pergi dan menuju ke gedung pelelangan tersebut.




Saat ini Raymond sedang duduk di bangku VIP yang di khususkan untuk dirinya, di sediakan langsung oleh Tuan Jhonatan Alret sendiri.


Raymond dan Fabio sedang duduk tenang sambil menunggu pelelangan nya di mulai.


"Mr. Raygan... Terimakasih sudah mau datang ke pelelangan senjata kami apakah anda berniat untuk membeli senjata nya juga?" Tanya Sang pemilik gedung pelelangan yaitu Tuan Jhonatan Alret.


"Hn tidak saya hanya ingin menonton saja" jawab Raymond dengan nada bicara yang datar


"Baiklah kalau begitu Tuan, semoga anda terhibur dengan pelelangan malam ini dan silahkan di nikmati minuman dan kudapan nya" ucap sopan tuan Jhonatan


Viona dan dhea juga Juliany telah sampai di gedung tersebut.


"Baiklah kalian hati-hati aku akan menyembunyikan Barrett M82 ini di toilet yang berada di lantai 3 di sana akan aman untuk menyembunyikan nya, dan nanti aku akan memberitahu mu vio di toilet mana aku menyembunyikan nya"


"Baiklah kak terimakasih ayo Dhea kita masuk lewat pintu belakang saja karena langsung terhubung dengan dapur, disana juga pasti sedang ramai"


Viona pun langsung menarik tangan dhea menuju pintu belakang yang terhubung dengan dapur dan benar saja sesuai dugaannya, saat ini dapur sangat ramai dengan para koki dan pelayan yang sibuk mengantarkan minuman berupa vodca dan juga minuman beralkohol lainnya pada para tamu.


"kalian sedang apa disitu?cepat bekerja jangan hanya diam saja..antarakan ini kepada tuan Raygan yang sedang duduk di kursi VIP" ucap salah satu koki menyuruh Viona dan Dhea mengantarkan vodca dan beberapa kudapan untuk Raymond dan juga Fabio.


Untung saja viona dan Dhea sudah pakai topeng untuk menutupi wajah mereka, jadi identitas mereka tidak akan ketahuan.


Viona pun mengambil nampan yang berisi botol vodca dan juga gelas khusus untuk meminum vodca tersebut.


Sedangkan Dhea membawa kudapan nya, lalu mereka langsung berjalan kedalam aula pelelangan. saat ini Dhea merasa takut melihat begitu banyak sekali orang,apalagi mereka adalah para mafia dan juga Yakuza yang sedang menunggu pelelangan nya di mulai.


Viona yang melihat bahwa Raygan yang di maksud adalah Raymond terkejut bukan main.


"Jadi Raymond adalah seorang mafia? astaga kau tidak boleh gegabah viona kalau dia sampai mengenali suaraku bisa gawat, dan jika kau melakukan kesalahan bisa habis nanti di tangannya" batin viona


Sama halnya dengan Dhea yang saat ini berkeringat dingin, betapa terkejutnya dia setelah mengetahui kalau Presdir di perusahaannya adalah salah satu bagian dari mafia juga.


"Astaga seharusnya aku tetap kekeh gk ikut kan jadinya harus berhadapan dengan Presdir yang ternyata bagian dari mafia juga, bagaimana jika Presdir tau? bisa berlubang kepala ku di buatnya " batin Dhea sangat takut


Mereka berdua pun memberikan vodca dan kudapan itu kepada Raymond juga Fabio.


"Ini Tuan minuman nya" ucap Viona dengan mengubah nada bicaranya agar tak di curigai oleh Raymond.


Fabio mengambil vodca dan kudapan tersebut dan meletakan meja kecil di depan mereka.


Sedari tadi Raymond sedang memperhatikan pelayan wanita di depannya ini, dia seperti tidak asing dengan wanita ini.


Viona yang sadar di perhatikan langsung undur diri bersama Dhea jika nanti dia semakin lama di sana akan membuat Raymond semakin curiga.




Lama mereka menunggu akhirnya pelelangan pun di mulai, di buka oleh salam pembuka dan ucapan selamat datang dari pemilik pelelangan tersebut yaitu Jhonatan Alret.


Viona memandang penuh benci kepada pria tua itu,dia pun mendapatkan pesan dari Juliany, setelah itu dia langsung bergegas menuju tempat yg di maksud oleh Juliany.


Tak lupa dia juga tadi telah mengirimkan pesan kepada Dhea dan harus memberinya kode setelah di rasa benar-benar tepat suasana nya.


Ketika telah sampai di toilet yang di maksud oleh Juliany viona pun langsung mengeluarkan Barrett M82 yang di sembunyikan di toilet itu, dari jendela kecil di toilet itu tepat menuju kearah panggung yang di mana terdapat Jhonatan yang sedang melakukan pelelangan.


Viona pun langsung membuka sedikit jendelanya yang ad di toilet itu dan langsung bersiap-siap untuk menembak Jhonatan,dia membidik dengan sangat teliti.


Tiba-tiba saat ingin menembak viona teringat sesuatu


"Tidak,terlalu mudah untuk nya mati seperti ini aku harus membuat nya merasakan penderitaan lebih parah sehingga dia mati perlahan-lahan karena penderitaan itu" ucap Viona dengan menampilkan senyum liciknya


Dia pun langsung menembak dua kali tepat di kedua kaki dan kedua lengan orang tersebut membuat Jhonatan berteriak kesakitan. Viona memang sengaja hanya menembak kedua kaki dan lengan Jhonatan, karena jika Jhonatan masih hidup dia akan kembali lagi dan membuat dia tersiksa lebih parah lagi dari ini.


"AAAAARRRGGGHH!!!!" teriak kesakitan dari Jhonatan yang mendapat empat tembakan di bagian tubuh juga kaki nya.


Terjadi kekacauan di aula itu,para anak buah Jhonatan langsung mencari siapa pelaku dari percobaan pembunuhan terhadap ketua nya itu.


Viona pun langsung menyembunyikan senjata tersebut dan dia tadi memakai sarung tangan 4 lapis agar sidik jari nya tidak terdeteksi di senjata tersebut dia langsung keluar dengan cepat dari toilet tersebut, tak lupa dia melepaskan semua sarung tangan nya lalu membakarnya.


"Dengan begini tak ada yang akan mengetahui siapa pelakunya"


Setelah dia membakar sarung tangan itu dia langsung turun ke lantai bawah tanpa di ketahui siapapun, dan kemudian dia berniat melarikan diri dengan Dhea tapi di hadang oleh Raymond dan juga Fabio,


Raymond pun langsung menarik tangan Viona keluar dari gedung pelelangan itu , sedangkan Dhea di bawa oleh Fabio.


Viona yang di bawa keluar oleh Raymond pun mencoba melepaskan cengkraman Raymond dari tangannya.


Bukannya di lepas Raymond justru semakin kuat mencengkram lengannya membuat viona meringis kesakitan.


Lalu Raymond langsung membuka topeng yang di pakai oleh viona, membuat viona terkejut bukan main.


"Kau pikir aku tidak bisa mengenali penyamaran mu viona?" Nada bicara yang sangat dingin dan pandangan yang sangat tajam Raymond tujukan untuk Viona.


Tadi saat Viona selesai mengantarkan vodca nya dia tidak sadar kalau kalung yang di belikan oleh Raymond terlihat sehingga membuat Raymond terkejut dan begitu marah melihat viona berada di tempat pelelangan ini.


"Ray.. lepaskan aku, ini semua tidak seperti yang kau pikirkan aku punya alasan kenapa aku disini ak-"


PLAK


tak sempat viona melanjutkan perkataannya Raymond telah lebih dulu menamparnya.


satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Viona, membuat sudut bibirnya sedikit sobek dan mengeluarkan darah, viona terdiam karena tamparan tersebut.


"Ikut.Pulang.Denganku" ucap Raymond sangat di dingin dengan penekanan di setiap katanya.


Dia menarik kasar viona dan membantingnya masuk kedalam mobil,lalu dia ikut masuk juga kedalam mobil dan menjalankan mobil nya dengan kecepatan tinggi me menuju apartemen nya, dia mau memberikan hukuman untuk Viona karena melanggar perintahnya.