
"Sudah sampai" ucap Raymond setelah mereka sampai di mansion utama
Mereka segera masuk dan di sambut oleh para pelayan yang ada di mansion tersebut.
"Bunda anneth dan Abang pulang!!" ucap anneth sambil berteriak memanggil sang bunda
"Yh ampun anneth jangan berteriak sayang bunda sudah tau hm" ucap bunda mereka dengan nada bicara yang lembut
"Heheh maaf bunda ..yh sudah anneth ke kamar dulu yh mau mandi abis itu bobo" ucap anneth
"Kau tidak makan dulu sayang?" Tanya sang bunda
"Sudah tadi di sekolah anneth udah makan banyak jadi anneth mau bobo aja abis mandi yh sudah yh dah bunda Abang"ucap anneth lalu pergi ke kamarnya
"Ray kau pasti capek juga kan istrihat lah di kamarmu hm" ucap sang bunda
"Baiklah Bun..Ray ke kamar dulu"dia pun pergi ke kamarnya, setelah sampai di kamarnya dia langsung merebahkan dirinya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil mengingat masa lalu nya bersama sahabat masa kecilnya yang tak pernah dia lupakan. Dia lalu mengeluarkan fotonya dari dalam laci foto bersama sahabatnya waktu dulu.
"Di mana kau sebenarnya ona.. kenapa Sangat sulit menemukan mu, maafkan aku yang mengingkari janjiku" ucap Raymond sambil melihat foto tersebut,dia begitu sangat merindukan sahabat masa kecilnya itu hingga tanpa sadar dia tertidur karena sangking lelahnya
...•SEMENTARA ITU DISISI LAIN•...
Tok
Tok
Suara ketokan pintu terdengar dari depan pintu kamar nya viona, terdengar juga suara sang bibi yang memanggil viona dengan lembut untuk makan malam.
"Viona..nak makan malam sudah siap kalau sudah selesai mandi dan ganti pakaian turun lah kebawah untuk makan malam yh" ucap bibi nya viona
"Iya bi aku akan segera turun" balas viona dari dalam kamarnya
Selesai dia berganti pakaian dan menyisir rambutnya dia langsung bergegas turun untuk makan malam.
Saat sampai di meja makan dia langsung duduk di samping bibi nya yang kebetulan sudah mengambilkan makanan untuknya.
"Makasih Bi"
"Sama-sama..makan yang banyak yah vio kau pasti lelah bekerja seharian di kantor..oh ia bagaimana pekerjaan mu di kantor hari ini? berjalan lancar hm?" Tanya sang bibi kepada viona
Saat ini di meja makan sudah terkumpul paman nya viona bibi nya beserta kedua saudara sepupunya yang baru pulang dari London, setelah urusan bisnis di sana selesai mereka langsung pulang karena merindukan ibu mereka, dan juga harus mengurus perusahaan ayah mereka.
Mereka makan dengan tenang dan di iringi obrolan ringan juga.
"Berjalan dengan lancar kok bi tak ada masalah"
"Baguslah kalau begitu bibi merasa lega jika kau tidak mengalami masalah di kantor"
"Kenapa kau tidak bekerja di kantor paman saja nak? agar nanti kau tidak perlu jauh-jauh naik bus untuk pergi ke kantor mu" ucap sang paman ikut bergabung dalam obrolan viona dan juga bibinya.
"Tidak paman aku hanya ingin menambah wawasan kerja ku dan juga jika aku bekerja di kantor paman nanti para karyawan lain akan membicarakan diriku dan menganggap kalau aku bekerja dengan mudah berkat bantuan paman..lagi pula aku sudah biasa kok naik bus paman tidak usah khawatir"
"Yh sudah kalau begitu tapi kau harus hati-hati hm kalau mau pulang dari kantor apalagi kau sering lembur banyak tindak kejahatan akhir-akhir ini" ucap sang paman memberi nasehat kepada viona
"Ia paman aku pasti akan berhati-hati lagi..dan aku ingin mengatakan sesuatu Presdir di perusahaan tempat ku bekerja meminta ku tinggal bersamanya agar lebih mudah untuk membahas tentang pekerjaan dan aku tidak perlu pergi ke rumahnya untuk membangunkan nya" ucap Viona membuat semua orang yang ada disitu sedikit terkejut
"Kenapa dia meminta mu tinggal bersamanya? Apakah kau tidak takut nanti bagaimana jika dia melakukan hal yang tidak-tidak padamu?" Ucap kakak sepupunya Viona yang bernama Eyden
"Iya vio kenapa dia minta tinggal bersama mu? Apakah kau yakin dia tidak akan melakukan hal yang buruk padamu? Bibi takut jika kau kenapa-kenapa"
"Kalian semua tidak perlu khawatir..aku akan baik-baik saja jadi tak perlu cemas hm" ucap Viona menenangkan keluarganya
"Baiklah jika itu keputusan mu tapi jika dia berniat jahat padamu maka aku dan Eyden tak akan mengampuni nya" ucap Darren sepupu tertuanya
"Lebih baik urungkan niat mu bang darren bagaimana bisa kalian memberi nya pelajaran jika dia saja seorang psikopat yang kejam seperti itu " batin viona tak bisa membayangkan jika kedua kakak sepupunya itu berhadapan dengan sang Presdir kejam itu.
"Yh sudah kalau begitu tapi kau harus lebih menjaga dirimu lagi yh nak..kalau ada apa-apa kabari kami hm" ucap sang paman
"Pasti paman vio akan mengabari kalian jika ada sesuatu yg tak diinginkan terjadi" jawab Viona sambil tersenyum
Lalu mereka makan dengan khidmat dan tenang,tak ada pembicaraan lagi setelah itu.
•KEESOKAN PAGINYA•
Pagi ini di RD Corps suasana nya tampak suram dan sedikit tidak mengenakan,di karenakan Presdir mereka sedang dalam mood yg kurang bagus.
Seperti saat ini Presdir Mereka sedang marah-marah karena ada berkas yg tercecer dan tidak di kerjakan dengan teliti. Sehingga membuatnya menjadi sangat marah dan memarahi semua karyawan.
"Bagaimana kalian bisa teledor seperti itu hah!!" Ucap Raymond dengan suara yang meninggi suasana hati nya sedang tidak bagus saat ini ingin rasanya dia melenyapkan orang-orang ini tapi di tahannya.
"Maafkan kami Presdir kami tidak lebih detail mengerjakan dokumen nya kami mohon berikan kami kesempatan untuk memperbaikinya kami janji akan lebih teliti lagi mengerjakannya" ucap salah satu karyawan dengan sopan sambil menunduk
Raymond hanya melemparkan berkasnya ke arah mereka dengan kasar.
"Ku beri kalian waktu sampai nanti jam istrihat makan siang jika masih ada yang salah kalian ku akan ku pecat'' ucap Raymond dengan nada bicara yang sangat dingin dan menatap mereka tajam
Mereka menganguk dan langsung mengambil berkasnya untuk di perbaiki setelah itu mereka langsung keluar dari ruangan tersebut.
Sadari tadi Viona hanya diam saja dia sedikit takut dan was-was jika Presdir nya itu melampiaskan kemarahannya pada dirinya.
Dia masih menyayangi nyawanya dan tak mau berurusan dengan kemarahan Presdir nya itu, baginya itu adalah sebuah masalah besar jika berurusan dgn Presdir nya yg dalam suasana hati yg kurang baik.
"Kenapa kau hanya diam saja seperti batu disitu?!!" Bentak Raymond secara tiba-tiba kepada viona
Viona yg mendapatkan bentakan tiba-tiba sedikit terkejut lalu beralih menatap Raymond.
"Maaf Presdir"
"Kenapa kau meminta maaf.. apakah berkas yg ku suruh kau kerjakan sudah selesai?"
"Emm sebentar lagi selesai Presdir" jawab Viona
"Kau dari tadi melakukan apa hah!! Kenapa belum selesai juga!!? Dasar tidak berguna" ucap Raymond sambil melampiaskan kemarahannya kepada Viona
"Saya minta maaf Presdir jika lama tapi saya sudah dari tadi mengerjakan nya dan anda memberikan berkasnya tidak dalam jumlah yang sedikit dan tangan saya hanya dua jadi wajar saja jika berkasnya selesai sedikit lama" ucap Viona membalas perkataan Raymond, dia hanya tidak terima di bilang tidak berguna
"Kau berani membantah perkataan saya?"ucap Raymond menatap tajam Viona, lalu dia menghampiri Viona dan berdiri di depannya
"Kenapa anda juga marah kepada saya atas kesalahan karyawan lain Presdir? Anda marah kepada mereka tapi saya juga kena imbas kemarahan anda, tidak bisakah kau menghargai usahaku dalam mengerjakan berkas ini sedari tadi" ucap Viona lagi dia memberanikan dirinya untuk mengutarakan apa yang ad di pikiran nya
Raymond yang memang mudah terpancing emosinya menjadi semakin marah dengan ucapan viona yang lancang membantahnya.
Dia langsung mencekik viona membuat kuku jari nya sedikit tertancap di leher viona.
"Kau hanya sekertaris disini jadi sadarlah dimana posisi mu jangan sekali-kali kau membantah atau menjawab perkataan ku seperti itu kau mengerti hah!!" Teriak Raymond di depan wajah viona
Viona yang di cekik merasa kesulitan bernapas dia hanya mencoba melepaskan cekikan Raymond tersebut, air matanya menetes karena merasa sangat sakit dengan kuku jari Raymond yang menancap di lehernya.
Dia menatap Raymond dengan pandangan yang sendu. Raymond yang melihat tatapan itu merasa benar-benar tak asing tanpa sadar dia bergumam.
"Ona.." gumaman yang masih dapat di dengar oleh viona membuat dirinya sangat terkejut dengan panggilan tersebut
"Ona? Dia bergumam nama ona? Tapi hanya Almond yang mengetahui panggilan itu.. apakah Presdir adalah Almond? " Batin viona memandang Raymond tak percaya
Raymond pun langsung melepaskan cekikikan nya dari leher viona, membuat viona bisa bernafas lega. Setelah itu Raymond hanya diam dan kembali ke meja kerjanya dia seperti melihat sosok Ona nya di saat dia mencekik viona tadi.
"Tidak Ray tidak mungkin jika dia adalah ona mu" batin Raymond menepis jauh-jauh pemikiran nya itu
"Apakah benar jika Presdir adalah Almond? jika benar kenapa dia tidak mengingat ku? Apakah dia melupakan ku? " pikir viona yang masih sedih dan kecewa pada sahabat masa kecil nya yg sering dia panggil almond, lalu dia menyadari sesuatu kalau nama sahabat nya sangat mirip dengan Presdir nya dan sifat pemarah juga tempramen nya juga mirip.
Viona pun langsung memutuskan untuk mencari tau ini lebih dalam lagi ttg hal ini.
Viona lalu mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di lehernya akibat kuku Raymond yang menancap saat mencekiknya tadi.
Raymond kembali menatap Viona,dia merasa sedikit bersalah karena telah melampiaskan kemarahannya kepada wanita itu.
"Maafkan aku karena sudah mencekik mu tadi" ucap Raymond meminta maaf kepada viona
"Tidak papa Presdir saya juga yang salah karena telah lancang membalas perkataan anda saya juga minta maaf atas hal itu" ucap Viona yang juga meminta maaf atas kelancangan nya tadi
Setelah mereka berdua saling meminta maaf terjadi keheningan.
"Saat jam istirahat makan siang kau ikut dengan ku" ucap Raymond tiba-tiba
"Ikut kemana Presdir?" Tanya viona yang merasa bingung
"Ikut saja tak usah banyak bertanya"Jawan Raymond lalu dia kembali fokus ke laptopnya lagi
•
•
•
Istirahat makan siang pun tiba viona langsung membereskan meja kerjanya dan turun ke bawah, dia tak turun bersama Presdir nya itu karena Raymond telah terlebih dahulu turun ke bawah dan menunggu nya di mobil.
Tapi sebelum itu dia mendapat telfon dari kakak sepupu nya yang lain yang bernama Juliany.
"Ada apa kak Juliany tiba-tiba menelfon ku yh?" Gumam viona merasa bingung dia pun langsung mengangkat telfon nya
"Iya halo kak ada apa" tanya viona setelah mengangkat telfon nya
"Halo Vio..aku ingin memberitahu mu aku telah menyelediki lebih dalam dan teliti lagi ttg kasus pembunuhan ayah dan ibu mu dan kau tau orang-orang yang menyerang kalian 11 tahun yang lalu adalah sekolompok mafia yang pernah ayah mu tangkap dan jebloskan ke penjara, mereka kabur dari penjara dan merencanakan balas dendam atas kerugian yang mereka dapat" ucap Juliany dari telfon
Bagi yang tidak tau Juliany kakak sepupu perempuan viona adalah seorang FBI, jadi viona meminta bantuan kakak sepupu nya itu untuk membantu memecahkan kasus di balik kematian ayahnya.
Dan juga Ayahnya viona adalah seorang komisaris di kepolisian kasus yang dia tangani cepat terselesaikan dan juga kepintaran ayahnya viona dalam menyelidiki ttg para mafia dan kasus pengedaran narkoba.
Membuat para mafia yang ada menjadi waspada dan juga mengincar ayahnya viona maka dari itu musuh ayahnya ada di mana-mana.
•
•
"Tinggal selangkah lagi..aku akan mengetahui siapa orang-orang di balik pembunuhan itu" ucap Viona lagi dengan ekspresi datar lalu dia langsung turun ke bawa menghampiri Raymond yg sudah menunggunya di mobil.
Dia langsung duduk di kursi depan di samping Raymond, tak lupa dia memasang seatbelt ke dirinya sendiri.
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Raymond membuka pembicaraan dan langsung menjalankan mobilnya saat Viona telah masuk kedalam mobil.
"Maaf Presdir tadi ada telfon penting yg harus ku angkat" jawab Viona jujur
"Tidak usah memanggil ku Presdir jika kita berada di luar kantor, panggil saja aku Ray" ucap Raymond tanpa mengalihkan tatapannya dia masih fokus menyetir dan melihat ke depan
"Baiklah Presdir..eeh maksud ku Ray" ucap Viona membenarkan perkataan nya
•
•
Tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah toko perhiasan yang terlihat sangat mewah itu.
Raymond dan viona masuk dan melihat-lihat perhiasan-perhiasan yang ada.
"Silahkan tuan nyonya di lihat-lihat dulu perhiasannya" ucap seorang wanita yang menjaga toko
"Saya kesini mau mengambil pesanan kalung liontin yg saya pesan Minggu lalu apakah sudah jadi?" Tanya Raymond
"Oh ia dengan tuan Raymond Wijaya yh? liontin nya sudah jadi sebentar yh saya ambil dulu..duduk dulu tuan" ucap wanita itu dengan sopan lalu dia pergi mengambil pesanan kalung yang telah di pesan oleh Raymond.
Viona sedari tadi hanya diam, dia memperhatikan perhiasan-perhiasan yang terlihat sangat mahal itu.
Matanya langsung tertuju pada liontin yang bermotif bulan sabit yang terlihat sederhana tapi elegan.
Raymond yang melihat arah tatapan viona langsung mengerti.
"Kau menginginkan nya?" Tanya Raymond
"Eh? Tidak Ray aku hanya melihatnya saja liontin itu terlihat indah" jawab Viona seadanya
Setelah itu tak lama kemudian wanita yang mengambil pesanan Raymond tadi langsung menyerahkan kalung yg di pesan olehnya.
"Emm Ray aku keluar duluan yah" ucap Viona meminta ijin setelah di ijinkan dia langsung berjalan keluar toko
"Mbak saya mau membeli liontin itu" ucap Raymond menunjuk kalung liontin yang di lihat oleh viona tadi
Wanita itu pun langsung membungkus pesanan dari Raymond.
"Jadi berapa total semuanya ini?" Tanya Raymond
"Semuanya tambah liontin yang tadi semua totalnya menjadi Rp.28.980.000 tuan" ucap wanita itu
Raymond hanya mengangguk dan langsung mengeluarkan blackcard nya dan menyerahkannya pada wanita tersebut.
"Baiklah ini bukti pembayarannya" ucap wanita itu lagi dan langsung menyerahkan kembali kartu blackcard nya
Lalu setelah itu Raymond langsung berjalan keluar toko perhiasan tersebut dia melihat viona sedang berdiri di depan toko yang menjual eskrim, dia lalu langsung menghampirinya.
"Pak aku eskrim satu cup ukuran besar yh dengan 3 macam rasa, aku pilih rasa coklat vanila sama stroberi oh ia kasih ekstra toping Oreo sama poky yh" ucap viona dengan semangat
"Baiklah nona tunggu sebentar saya buatkan" ucap penjual eskrim tersebut
"Kau suka eskrim?" Tanya Raymond yang sudah berada di belakang viona sedari tadi
"Yh aku suka eskrim dari dulu" jawab Viona seadanya
Lalu Raymond langsung menyerahkan liontin yang dia beli tadi untuk Viona.
"Apa ini Ray?" Tanya viona
"Buka saja tak usah bertanya"
Viona pun langsung membuka paper bag nya.
"Ini? Liontin tadi?" Tanya viona yang terkejut karena liontin yang dia lihat tadi harganya sangat mahal dan sekarang Raymond membelikan nya untuk dirinya
"Hn anggap saja sebagai permintaan maaf ku karena kejadian tadi pagi" jawab Raymond yang menatap arah lain
"Terimakasih banyak" ucap Viona yang tersenyum tulus
"Mau ku pakaikan?" Tanya Raymond menawarkan diri untuk memakaikan kalung itu kepada viona
Yang di tanya hanya mengangguk sebagai jawaban dia lalu menyerahkan liontin dan mengangkat sedikit rambutnya agar memudahkan Raymond memakaikan liontin itu padanya.
Raymond pun langsung memakaikan liontin tersebut di leher viona, terlihat pas dan indah saat Viona memakainya.
"Ini nona pesanan anda" ucap sang penjual eskrim memberikan eskrim pesanannya
Viona mengambil eskrim nya tapi ketika dia ingin membayar sudah terlebih dahulu oleh Raymond.
"Tuan ini kebanyakan uang yang kau berikan" ucap penjual eskrim karena harga eskrim nya cuman 50k tapi di bayar 200k oleh Raymond.
"Tidak papa ambil saja lebih nya untuk anda" jawab Raymond lalu menarik lembut tangan viona menuju mobil
Dan disinilah mereka telah duduk dengan tenang di dalam mobil.
"Oh ia apakah aku boleh bertanya padamu?" Ucap Viona yang memulai pembicaraan sambil memakan eskrim nya
"Hn Silahkan" jawab Raymond
"Emm itu liontin yang satunya kau beli untuk siapa?"
"Itu untuk adik ku aku sengaja memesan untuknya"ucap Raymond menjawab pertanyaan viona
"Oh begitu" viona pun tidak bertanya lagi dia lanjut memakan eskrim nya
"Sekarang kita ke apartemen ku pribadiku sudah menyuruh pelayan untuk mengambil semua baju dan barang-barang mu dan memindahkan nya di apartemen ku jadi kita akan langsung ke apartemen ku saja" setelah mengatakan hal itu Raymond pun langsung menjalankan mobilnya menuju ke apartemen pribadi miliknya
Viona hanya mengangguk saja sambil memakan eskrim nya. Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di apartemen.
Viona sempat takjub dengan apartemen nya yg terlihat mewah dan elegan itu.
"Kamar mu ada di samping kamar ku jika aku butuh sesuatu nanti kau harus selalu cepat datang ke kamar ku" ucap Raymond lalu berjalan ke kamarnya
Viona pun berjalan ke kamarnya dan langsung duduk di kasur king size. Dia memandang kamar nya itu habis itu dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.
Time skip
Malam pun tiba viona sedang berada di dapur menyiapkan makanan untuk Raymond dan dirinya,lama dia berkutat di dapur ia pun langsung menyajikan makanan yang telah dia masak setelah selesai dia pergi ke kamar Raymond untuk memanggil nya makan malam.
Tok
Tok
Tok
"Ray makan malam sudah siap apa kau mau makan?" Tanya viona yang masih menunggu di depan pintu kamar Raymond
Lama dia menunggu dia pun masuk ke kamar Raymond yang kebetulan tidak di kunci,dia melihat Raymond yang sedang tertidur. Lalu dia pun langsung menghampirinya dan membangunkan nya dengan lembut
"Ray bangun waktunya makan malam" ucap Viona masih berusaha membangunkan Raymond
"Hmm 5 menit lagi anneth Abang bangun" ucap Raymond yang masih memejamkan mata dia mengira bahwa yang membangunkan nya adalah adiknya anneth
"Ray ini aku Viona bukan anneth ayo bangun" ucap Viona lagi
karena mendengar suara viona Raymond pun langsung bangun dan duduk di kasur.
"Hm maaf aku mengira tadi adik ku yang membangunkan ku"
"Hm tidak papa kau mandilah habis itu turun makan malam"
Raymond hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi, tapi Raymond tidak menyadari bahwa foto yang dia pegang untuk menemani nya tidur terjatuh dan viona pun melihat foto itu.
Dia pun memungut foto yang jatuh itu dan betapa sangat terkejut nya dia saat melihat ada foto diri nya saat kecil bersama dengan anak laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabatnya
"Almond" gumam viona sambil meneteskan air matanya, dia tak menyangka jika Raymond Presdir nya selama ini adalah sahabat masa kecilnya, ketika mendengar suara pintu kamar mandi di buka dia pun cepat-cepat menghapus air mata nya tapi dia lupa meletakan foto tersebut di meja membuat Raymond yang melihatnya merasa sedikit marah.
"Jangan pernah menyentuh barang-barang ku kau boleh tinggal disini tapi jangan pernah menyentuh barang pribadi milikku" ucap Raymond sangat dingin dan penuh penekan di setiap kata nya dan langsung merebut foto tersebut
Viona yang mendengar perkataan Raymond hanya diam, Dia ingin mengatakan pada Raymond bahwa dia adalah ona tapi dia urungkan dia ingin Raymond mengenali nya sendiri tanpa dia harus memberitahukan nya.
"Maafkan aku tadi fotonya terjatuh jadi aku ambil untuk meletakan nya di meja" ucap Viona
"Hn sekarang kau keluar dari kamar ku" ucap Raymond masih dengan nada bicaranya yg dingin
Viona pun hanya bisa mengangguk dan keluar dari kamar Raymond, dia turun kembali kebawah dan menunggu Raymond.
"Aku pikir kau telah melupakan ku Almond...tapi ternyata tidak kau masih menyimpan foto kita berdua, aku tak akan mengatakan siapa diri ku sebenarnya aku ingin melihat jika kau bisa mengenali ku atau tidak" ucap Viona dia pun menghapus air mata yang ada di pipi nya lalu duduk di kursi meja makan sambil menunggu Raymond datang.
Setelah Raymond selesai berganti pakaian dia pun hendak turun tapi terhenti karena sebuah telfon dari seseorang.
"Hn ada apa?"tanya Raymond
"Maaf Tuan saja sudah menemukan siapa yang menyuruh orang untuk menyusup dalam Markas dia adalah orang suruhan dari ketua mafia Red Blood..dan mereka sedang mengincar persenjataan yang kita pesan dan mereka membuat rencana untuk memblock kapal yang akan berlabuh di pelabuhan" jelas Fabio orang kepercayaan Raymond
"Hm terimakasih infonya kau bisa kembali menyelediki ttg mereka kita persiapkan semuanya besok untuk membalas mereka" jawab Raymond kemudian mematikan sambungan telefon nya
"Hn mafia Red Blood rupanya kalian ingin bermain-main dengan ku rupanya.. baiklah ku ikuti alur permainan kalian" ucap Raymond dengan senyum iblis nya
setelah itu dia turun ke bawah dan melihat viona yang sedang menunggu nya.
Dia pun duduk dan langsung makan bersama viona. Tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya terjadi keheningan .