
*****
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang sedikit, kedua keluarga itu memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Kini, mereka sedang berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke kamar.
Mereka sudah lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan seharian ini, tak terkecuali Diara yang seharian ini menghadapi perjalanan panjangnya.
"Nanti sampai kamar Hp-nya di cas, Ra. Biar kalau ada apa-apa Mama bisa langsung hubungin gak kayak tadi, ngilang" sindir Sarah.
Diara yang mendengar sindiran sang Mama hanya mendengarkannya dengan hikmat."Iya, nanti di cas"
"Jangan nanti-nanti! Sampai kamar harus langsung di cas!" omel Sarah tanpa memperdulikan sekitar. Dia khawatir.
"Iya, langsung di cas sampai kamar" ucap Diara nurut, Diara tidak ingin memperpanjang masalah.
"Mama udah bilang ini tujuh kali"
"Namanya juga Ibu-ibu, Ra. Bawel dikit gak apa-apalah" ucap Dianto mencairkan suasana sambil merangkul bahu anak tunggalnya itu.
Budi, Kinan dan Adnan hanya diam mendengarkan celotehan wanita berusia empat puluh tiga tahun itu. Sedangkan, Mira tersenyum, memaklumi kekhawatiran Sarah karena ia juga seorang Ibu.
Lift masih setia berjalan berlahan menuju lantai yang akan dituju.
"Ara" panggil Mira memecah keheningan.
"Iya, tante?" jawab Diara sambil menoleh.
"Nanti kamu ke kamar diantar Adnan, ya?" ucap Mira tiba-tiba.
"Gak usah tante" tolak Diara.
"Kamu belum tahu kamarnya, kan? Kamar kamu satu lantai sama Adnan katanya tadi di lantai delapan. iya, kan Adnan?" tanya Mira pada Adnan.
Sebenarnya selain kerena kamar Adnan dan Diara satu lantai, Mira sengaja mengatakan hal itu agar Adnan dan Diara memanfaatkan waktu yang sebentar untuk mengenal sedikit lebih jauh sebelum sampai di kamar masing-masing. Meski, masih ada hari esok.
"Iya" jawab Adnan pendek.
"Nanti kamu antarin Diara sampai depan pintu ya!" pesan Mira.
"Iya, Bunda" Jawab Adnan sekenanya.
Pintu lift terbuka. Mira, Budi, Sarah,dan Dianto keluar dari lift karena mereka sudah sampai di lantai lima, tempat kamar mereka.
"Selamat malam kesayangannya Bunda, sweet dream sayang" ucap Mira manis sebelum keluar lift.
"Malam juga, tante" balas Diara.
"Malam, Bunda" ucap Kinan, sedangkan Adnan hanya diam dan membalas dengan anggukkan kepala.
Dasar pria kaku!
"Kami duluan ya, sayang" pamit Sarah.
"Iya, Ma"
Pintu lift tertutup menghilangkan empat wajah dua wanita dan dua laki-laki yang sudah berusia. Setelahnya lift melaju menuju lantai delapan bersama dengan keheningan, dengan posisi dua gadis berdiri sejajar dan satu laki-laki di belakangnya. Mereka bertiga dilanda canggung.
"Ini kenapa sepi gini, sih?" gumam Kinan yang tak paham kenapa suasana menjadi semakin canggung antara Adnan dan Diara setelah orang tua mereka keluar, karena ia juga baru bertemu dengan Diara.
Sebelumnya juga begitu, keduanya hanya akan berbicara ketika ditanya oleh Mira atau Sarah. Keduanya terlihat berbeda dari pasangan yang akan menikah lainnya, jika pasangan lain akrab dengan pasangannya lain hal dengan Adnan dan Diara.
"Diam-diam aja, gak ada yang mau ngomong nih?" batin Kinan.
"Kinan" panggil Diara memecah sunyi.
"Iya, kak?"
"Kamu di lantai berapa?" tanya Diara, tak lama pintu lift terbuka.
"Kita satu lantai, kak. Tapi, kamar aku belok kesini" Kinan berjalan ke arah kiri, ketika mereka berdua sudah keluar dari lift diikuti Adnan di belakangnya.
"Kayaknya kamar kak Diara deketan, deh sama kamarnya kak Adnan. Ya, gak, kak?" tanya Kinan pada Adnan namun Adnan hanya mengabaikan pertanyaan Kinan bagai angin sepoi-sepoi.
"Jutek banget, sih. Nanti kak Diaranya beneran kabur, takut sama kakak" ledek Kinan.
"Udah malam, buruan masuk kamar sana!" perintah Adnan.
Kinan menatap Adnan dengan tatapan permusuhan. Lalu, tatapannya berubah menjadi ramah ketika menghadap kepada Diara.
"Kalau udah jinak kak Adnan gak akan sejutek itu kok, kak. Pintar-pintar aja cari cara biar kak Adnan cepat luluh"
"Kamu beneran gak mau masuk Kinan? Mau tidur di lobi?!" ancam Adnan.
Mendengar penuturan Kinan barusan Diara hanya tersenyum kecut. Lalu, Kinan berjalan menuju kamarnya meninggalkan dua insan yang masih sama-sama merasa asing.
Tanpa aba-aba apapun Adnan berjalan sendiri, meninggalkan Diara yang masih berdiri di depan pintu lift. Diara yang merasa bahwa harusnya ada seseorang yang memberi tahu di mana kamarnya pun mempercepat langkahnya agar sejajar dengan langkah Adnan.
"Jadi, kamar saya di mana?" tanya Diara, setelah menyamakan langkahnya dengan Adnan.
Adnan tidak menjawab, dia masih tetap setia berjalan lurus ke depan tanpa satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Hingga mereka berhenti di ujung kamar yang berada di bagian kanan ini.
"Gak bisa ngomong apa ini orang?" batin Diara jengkel.
"Kamu ngapain ngikutin saya?" tanya Adnan dingin. Ketika mereka sampai di depan sebuah kamar.
Diara memasang tampang bingung."Terus saya harus ngikutin siapa? Bukannya anda yang akan menunjukkan kamar saya?"
"Psycho, nih orang" batin Diara.
"Berarti kamu menganggap pernikahan ini hanya sebuah game yang bisa saja over sewaktu-waktu?" tanya Adnan tak percaya.
"We can't always be like this. This is not healthy! Setidaknya kita berdua sudah berusaha berbakti"
Adnan diam dan tidak langsung menjawab, dia sedang berusaha mencerna segala kalimat yang dikatakan Diara barusan.
"Kalau begitu tidak perlu pakai perjanjian" putus Adnan.
Setelah dipikir-pikir apa yang dikatakan Diara ada benarnya. Gadis ini juga butuh cinta yang kini belum bisa Adnan berikan dan mungkin tidak akan pernah? Adnan tidak boleh selamanya mengikat gadis ini di dalam hidupnya. Dia tidak boleh egois.
Lagi pula jika ada perjanjian ini bukannya menguntungkan dirinya juga? Mungkin nanti dirinya juga bisa menemukan orang yang ia cintai setelah berpisah dari Diara.
"Suatu hari cukup kamu datang pada saya dan bilang bahwa kamu sudah menyukai seseorang yang bisa membuat mu bahagia, setelah itu saya akan melepaskan kamu. Kita akhiri semuanya"
"Kalau begitu anda setuju menandatangani perjanjian ini?"
"Saya tidak akan menandatangi perjanjian itu karena saya sedang tidak melakukan janji dengan sebuah perusahaan"
Diara menatap Adnan tak percaya."Kalau begitu gimana saya bisa menjamin ucapan anda barusan? Perjanjian ini adalah bukti yang nyata"
"Saya laki-laki Diara, kamu bisa pegang ucapan saya! Ucapan saya sebagai laki-laki lebih berharga dari perjanjian pernikahan kamu" balas Adnan dingin.
Laki-laki itu memang selalu begitu cuek, dingin, jutek, dan tidak banyak bicara tapi memiliki hasil yang nyata.
Diara tersenyum sinis."Saya pegang ucapan anda. Saya harap anda gak ingkar janji"
"Tidak akan!" balas Adnan tegas.
"Saya harap tentang perjanjian ini tidak ada yang tahu selain kita berdua" harap Diara.
"Jadi Papa mu tidak tahu?" tanya Adnan. Sedangkan Diara hanya diam tidak menjawab dan malah mengalihkan pandangan kesembarang arah. Diara gelisah.
Pertanyaan macam apa itu Adnan?!!!
Adnan yang menyadari kegelisahan Diara pun tidak mau memperpanjangnya lagi."Saya juga tidak tertarik mengumbar hal konyol seperti ini"
Lalu keduanya terdiam beberapa saat. Setelah sama-sama setuju dengan kesepakatan yang baru saja mereka setujui.
"Bagaimana kalau suatu hari saya bisa membuatmu jatuh cinta?" tanya Adnan tiba-tiba setelah menyesap kopinya.
Pertanyaan ini spontan saja hinggap dipikirannya dan Adnan ingin tahu bagaimana respon Diara tentang hal itu?
Diara yang sedang meminum ice cappucinonya segera menjauhkan gelas itu dari bibir dan langsung menatap ke arah Adnan dengan bingung.
"Maksud anda?"
"Saya ulangi" intruksi Adnan."Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu jatuh cinta kepada saya? Apa perjanjian tadi akan tetap berlaku?"
Diara tertawa sumbang."Itu tidak akan mungkin terjadi!"
"Nothing's impossible!"
"Berani taruhan? 100 juta jika apa yang anda bicarakan barusan terjadi" tantang Diara bertaruh.
"Kamu menakar cinta dari uang? Cinta tidak bisa dinilai dengan angka. Apalagi cinta dari perempuan seberharga kamu" ucap Adnan.
"Anda tidak berani? Berarti itu impossible!" ucap Diara mengejek.
"900 juta saya genapkan uang kamu 1 miliyar, kalau sampai suatu hari saya duluan yang menyatakan cinta sama kamu" pada akhirnya Adnan terpancing dan menerima taruhan Diara.
Diara tersenyum remeh."Deal! Kita liat aja nanti"