
Kehilangan penglihatan tidak membuat Yoona putus asa. Dia memanfaatkan informasi tentang pekerjaan yang di berikan melalui Jeslyn. Adik iparnya itu yang menolong Yoona saat terjadi kecelakaan, hingga yang mengurus pemakaman suami dan ayahnya.
Bagaimana kabar hatinya? Tentu saja hancur berkeping - keping. Tuhan telah berkehendak, bahwa dia harus kehilangan tumpuhan hidupnya. Orang - orang yang selalu mendukung setiap langkahnya. Menangis, mungkin hal kamuflase yang setiap orang akan mengalami ketika dia berada di titik terendah dalam hidupnya. Terhitung 2 hari lamanya Yoona terus meratapi, menangis meraung - raung seperti orang gila menyesali takdir yang ia miliki. Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Namun dia tak ingin menghilangkan satu fakta tentang Aril, malaikat kecilnya itu masih sangat membutuhkan dirinya. Ia di tuntut menjadi seorang wanita yang kuat dan tegar demi kehidupannya bersama Aril. Harusnya ia bersukur karena masih selamat dari kecelakan itu, dan memiliki kesempatan untuk merawat putri kecilnya.
Setidaknya masih ada peninggalan satu - satunya dari semua materi yang di tinggalkan Garry, suaminya. Uang asuransi, masih cukup untuk memulai hidup baru. Membeli apartemen sederhana di pinggiran kota, demi memudahkan ia untuk pulang pergi dari tempat bekerjanya.
Yoona memilih melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai telemarketing kartu kredit. Pekerjaan yang terdengar sangat mudah, namun tidak untuk di jalani Yoona. Mendapat penolakan dari beberapa calon customer yang akan ia tawari tak membuatnya menyerah dan patah semangat, demi putrinya. Bahkan wanita itu sering mendapat penolakan dengan kata - kata kasar tak pantas untuk di dengar. Sudah menjadi resikonya, pekerjaan yang ia dapat berkat bantuan Jeslyn ini akan tetap di pertahankan.
Aril, saat ini hanya dia yang menjadi pusat kehidupannya. Yah, hanya malaikat kecil itu yang sanggup mengambil poros perhatian Yoona. Berjuang demi mendapat senyuman yang agar tak akan luntur dari bibir Aril adalah prioritas utama dalam hidupnya.
Menjemput anaknya pulang sekolah, mengantar ke tempat les, lalu menitipkannya ke tempat penitipan anak. Sesederhana itu kehidupan Yoona, namun mampu membuatnya merasa sangat bahagia.
Kadang ada beberapa tetangga baik yang mau membantunya, ketika tempat penitipan anak sudah tutup dan Yoona harus lembur. Perilaku Aril yang baik dan sopan membuat para tetangga tidak keberatan jika harus menjaga Aril sampai Yoona pulang dari pekerjaannya.
Tak jarang juga Jeslyn banyak membantu Yoona jika kakak iparnya itu mengalami berbagai kesulitan. Ya walau pun apartement Jeslyn cukup jauh dari tempat tinggal Yoona, namun ia harus tetap menyempatkan diri membantu Yoona dan keponakannya di sela - sela waktu kuliahnya.
Walaupun Jeslyn sangat baik pada Yoona, namun kedua orang tua Jeslyn sangat membenci menantunya itu. Beranggapan bahwa Garry meninggal sebab kesialan yang di bawa oleh Yoona. Terus menempatkan Yoona di posisi bersalah atas insiden kecelakaan itu.
Tidak masalah bagi Yoona, karena saat ini yang terpenting adalah menyongsong kehidupan baru untuknya dan putri kecilnya, Aril.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, gerimis masih mengguyur di sudut kota. Dinginnya angin terasa sampai ke dasar tulang kala Yoona terus menerobos kawanan air kecil yang tertiup angin itu.
Hari ini, wanita buta itu menjalani lembur untuk kesekian kali. Beruntung Jeslyn selalu ada untuk menggantikannya mengasuh Aril saat waktu menjemput dari tempat penitipan anak. Tanggal merah membuat para tetangga pergi berlibur dan tidak ada yang dapat membantu Yoona. Namun, sialnya untuk saat ini Jeslyn mengalami kendala pada kendaraannya. Mobilnya mogok di tengah perjalanan saat akan pergi ke apartement Yoona. Membuat Yoona menelphon Aril agar tetap berada di dalam apartement sampai bibi atau ibunya datang.
Usia Aril yang genap tujuh tahun sudah tidak merasa kesulitan jika harus mengurus dirinya sendiri. Didikan Yoona yang selalu disiplin serta mandiri, membuatnya pandai dan mengerti dengan setiap perintah yang di ucapkan ibunya.
Dia yang sedang asik menikmati sereal buatannya, tiba - tiba mendapat telphon dari neneknya, ibu dari Garry. Walau pun keluarga Gerry membenci Yoona, bukankah tidak adil jika Aril juga harus menjadi korban kebencian dari neneknya. Tak jarang juga Jeslyn mengajak Aril berkunjung ke tempat nenek dan kakeknya.
Aril yang terlalu asik bercerita kegiatannya dengan sang nenek, di kejutkan dengan suara bel rumah yang berbunyi.
"Nenek, itu mungkin ibu atau bibi yang datang. Aku tutup dulu telphonnya ya? Aku harus membuka pintu dulu"
Tanpa mengucap salam perpisahan pada neneknya,gadis lucu itu langsung berlari ke arah pintu dan menyambar gagang pintu lalu membukanya tanpa melihat siapa yang datang terlebih dahulu.
"Iya bi___?"
Laki - laki berkumis lebat itu berusaha tersenyum pada Aril, menyapa dengan lembut namun tak bisa menghilangkan kesan bajingan pada sorotan matanya.
" Hai Aril, apa ibumu belum pulang?"
Hanya dengan kalimat itu Aril sudah memahami jika pria tua itu bukanlah orang baik.
Sudah bukan rahasia lagi, jika pria tua itu memliliki sifat brengsek pada setiap wanita. Bahkan ia tak segan selalu menggoda Yoona yang memang seorang janda buta. Walau pun Yoona selalu membalasnya dengan sikap yang cukup nekat.
Tak ingin berbasa - basi, Aril tak mau menjawab sapaan laki - laki itu. Lantas menutup pintunya kembali agar pria brengsek itu tidak sampai masuk ke dalam rumahnya.
Benar saja dugaan Aril, pria tua itu memang memiliki niat buruk padanya. Terbukti saat Aril mencoba menutup pintu, pria bernama Lucas itu malah mendorong berlawanan dengan Aril.
" Apa ibumu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun, Huh? Beraninya kau menutup pintu saat ada tamu di rumahmu!"
Lucas berteriak tepat di wajah Aril.
Gadis kecil itu bergetar kala niat jahat Lucas sudah tergambar jelas di kedua matanya. Namun ia mampu mengendalikan dirinya, ingat semua pesan dari Yoona bahwa ia harus segera berlari menuju kamar dan bersembunyi di dalam lemari jika ada seseorang jahat datang mengancam.
"Hei, jangan takut nak. Kemarilah!..ibumu sulit sekali ku taklukkan setidaknya sekarang kau bisa menggantikannya!"
Samar - samar Aril mendengar suara menjijikkan itu dari dalam lemari. Lucas jelas berada di dalam kamar itu, dan siap menemukan Aril. Gadis manis itu meredam tangisnya dengan menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Walau sebenarnya ia tak mampu menahan dan ingin berteriak saja. Sesekali memejamkan matanya memohon pada Tuhan agar segera datang bantuan untuknya.
"Hei, bocah sialan. Cepat buka pintunya atau akan ku dobrak sekarang juga!!"
Sergah Lucas penuh amarah.
Sebenarnya Lucas tahu keberadaan Aril, namun ia menginginkan gadis itu merasa takut dan menyerahkan dirinya. Lantas ia mendobrak lemari yang berisikan Aril setelah beberapa kali mendobarak dan mencongkelnya. Pria brengsek itu bersorak kala menemukan Aril di balik pakaian yang di gantung di dalalmnya.
"Kemarilah nak, jangan takut karena aku tidak akan menyakitimu jika kau menjadi anak yang baik"
Gadis kecil itu menggeleng, air matanya jatuh satu per satu sebab gerakan kepalanya. Tangisannya mulai bersuara, tubuhnya bergetar menahan ketakutan.
Lucas yang seluruhnya sudah di kuasi ***** birahi tak ingin berbasa basi lagi, lantas ia segera memanggul Aril dari dalam lemari dan melemparnya dengan kasar ke atas ranjang. Pria bajingan itu mulai menyentuh seluruh bagian wajah Aril dengan tawa yang menggelegar.
Tak di sangka, tindakan Lucas itu ternyata menyulut keberanian Aril untuk menghindari sentuhan tangan Lucas. Bocah itu mulai memberontak dengan bergerak dan menendang - nendang kesegala arah. Beruntung kakinya tanpa sengaja menendang daerah paling Vital Lucas, pria brengsek itu memekik kesakita.
Aku sedang membutuhkan Vote kalian..beri ak Vote maka aku akan memberikan ide paling cemerlangku dan aku usahakan update setiap hati...😘