
Tepat pagi hari, sebelum Yoona selesai dengan kegiatan di dapur. Wanita buta itu di kejutkan dengan kedatangan tim dari kepolisin kemarin. Membuat lututnya sedikit bergetar, ada informasi apa lagi ini. Karena firasat buruk tiba - tiba menguasai pikirannya.
Benar saja, ternyata nyonya Jin Sun istri dari Lucas telah memasukkan laporannya. Menyatakan bahwa anak Yoona telah melakukan penganiayaan terhadap suaminya hingga suaminya kini terbaring di Rumah Sakit sebab mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Wanita pemarah itu sengaja ingin mencari kambing hitam atas inseden suaminya. Mencuci tangan kotor suaminya dari segala kejahatan yang ia lakukan. Seperti semalam yang di katakan oleh para polisi, terdapat sidik jari Lucas di bebebapa bagian di dalam kamar Aril.
Dari laporan itu, Yoona di tuntut untuk bertanggung jawab biaya pengobatan Lucas hingga sembuh serta membayar kerusakan pada mobil yang di jatuhi tubuh Lucas. Terdengar jauh dari nilai manusiawi, mengingat Yoona hanya seorang wanita buta dan harus menghidupi putri semata wayangnya namun tetap saja ada seseorang yang dengan tega menjatuhkan tuntutan seperti itu. Dan jika Yoona tidak bisa membayar segala kerugian itu, maka ia harus menggantikan posisi Aril yang akan masuk ke dalam jeruji sel.
"Ini tidak masuk akal, bagaimana bisa seorang anak kecil sanggup mendorong pria dewasa yang ukurannya bahkan tiga kali lipat dari ukuran tubuhnya sendiri?"
Jeslyn dengan lantang menolak tuntutan dari pihak Lucas. Bahkan terlihat bibi Aril itu kurang bisa mengendalikan emosinya, air mukanya mendadak di kuasai amarah.
"Maafkan kami Nona, jika bocah itu tidak mau mengatakan apa pun kepada kami...Kami menjadi sulit untuk menyimpulkannya!"
Sehati - hati mungkin kedua polisi itu bersikap netral.
Sepagi ini sudah mendapat kabar buruk, bahkan Yoona dan Jeslyn belum sempat menelan sarapannya. Mendadak Yoona sangat gelisah, matanya mulai berkaca - kaca, jari jemarinya saling bertauhan berharap ini hanya sebuah ilusinya saja. Keningnya pun sudah basah oleh keringat dingin.
"Begini saja nyonya, kami memberi anda waktu tiga hari untuk mencari seorang pengacara, setidaknya ada orang yang mengerti tentang hukum dan bersedia membantumu".
Saran yang masuk akal.
"Huh, baiklah...Aku akan mencarikan kakakku pengacara yang hebat"
Ujar Jeslyn.
" Baiklah, aku tunggu sampai tiga hari. Jika tidak, maafkan kami harus bertindak tegas. Dan semoga kau di beri kemudahan"
Tutup polisi itu, lantas mereka pamit undur diri.
Yoona dan Jeslyn masih berdiri di depan pintu apartement, mencoba mendalami pemikiran masing - masing. Masih terdengar jelas bagaimana tuntutan nyonya Jin Sun itu di sampaikan kedua polisi tadi, sulit di percaya jika Yoona kini berada di situasi yang begitu sulit. Wanita buta itu bahkan tak pernah memikirkan jika ia akan menghadapi semua ini.
"Apa kau punya teman seorang pengacara Jes?"
Yoona bertanya pada Jeslyn dengan pandangan yang sedikit meleset.
"Aku sama sekali tidak mempunyai teman atau bahkan kenalan seorang pengacara kak"
Jeslyn berbicara dengan mengedikkan kedua bahunya, suaranya nampak putus asa. Ia kembali menatap kakak iparnya dengan seberkas kesedihan di matanya.
"Jangan menatapku dengan iba Jes, aku tau kau sedang melakukannya. Aku akan mencari cara agar segera menyelesaikan perkara ini. bagaimana jika meminta bantuan pada orang tuanmu?"
Hebat, Yoona bahkan bisa mengalihkan emosinya dengan seberkas senyuman di bibirnya.
"Kak, kumohon jangan seperti itu. Bahkan mendengar suaramu saja mereka tak pernah sudi"
Kini rasa iba itu menjadi buliran air mata yang menetes dari kedua manik Jeslyn.
"Aku tetap akan datang ke rumah orang tuamu untuk meminta bantuan. Jika mereka tak sudi mendengar namaku, setidaknya mereka masih menyayangi Aril sebagai cucunya bukan?"
Setuju atau tidak, Jeslyn mengakui bahwa Yoona memanglah wanita pemberani. Apa lagi menyangkut putrinya.
...****************...
Di sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Song, berulang kali Jeslyn bertanya pada Yoona untuk meyakinkan kakaknya itu. Atau bahkan bisa saja mengurungkan niatnya. Jeslyn tau betul jika keluarganya pasti menolak kedatangan Yoona, mengingat kedua orang tua mendiang Gerry itu selalu menyebut Yoona dengan sebutan wanita pembawa sial. Membenci setengah mati pada mantan menantunya, hingga melarang nama Yoona di sebut dalam rumahnya.
"Terakhir kalinya kak, apa kau yakin?"
Jeslyn berkata dengan menggenggam erat tangan Yoona.
Anggukan Yoona sudah memastikan, bahwa wanita itu akan tetap mencoba masuk ke dalam rumah besar itu. Lantas Jeslyn mulai memegang pundak Yoona dengan harapan menyalurkan kekuatannya.
"Maka ingatlah, aku selalu berada dipihakmu kak"
Semangat Jeslyn di balas senyuman manis dari Yoona.
Jeslyn mulai membuka pintu rumahnya, objek pertama yang tampak yaitu nyonya Song. Berpenampilan layaknya keluarga kaya, wanita itu tidak ingin berbasa basi pada mantan menantunya. Mustahil jika mengharap ada sebuah salam hangat untuk Jeslyn. Nyatanya, bahkan wajahnya pun tak layak di tunjukkan bagi orang yang lama tidak berkunjung.
"Kau, pergi langsung temui suamiku di ruang kerjanya. Dan selama kau berbicara dengan suamiku, biarkan Aril bermain dengan Jeslyn di taman belakang"
Wanita tua itu hanya berkata demikian dengan mata yang dingin.
Lantas Jeslyn mengajak Aril berjalan menuju taman belakang rumah, dan Yoona siap menumui mantan ayah mertuanya.
Rumah dengan gaya Eropa kuno itu tak berubah, masih sama seperti kali pertama Yoona menginjakkan kakinya di sana. Saat Gerry mengajaknya meminta restu, namun justru makian yang di terima Yoona dari kedua
"Kalau bukan karena rengekan Jeslyn aku tak mau membuang - buang waktuku untuk bertemu denganmu..."
Sambutan yang luar biasa. Laki - laki berambut putih dan kaca mata tebalnya itu berkata dengan tajam.
"Maafkan aku ayah...aku sungguh - sungguh memerlukan bantuan anda. Jika Jeslyn sudah mengatakan semua, maka sudikah ayah memberi pinjaman uang untukku? Aku akan mengembalikan dengan mencicil..."
Dengan tenang Yoona mengatakan niatnya menemui mantan kedua mertuanya.
"Kau pikir kami mempunyai mesin pencetak uang? Itu kesalahanmu karena tidak bisa menjaga Aril dengan benar, dan sekarang kau ingin melibatkan kami dalam masalahmu?"
Pria tua itu berkata tanpa basa basi, terkesan mengejek.
"Maafkan aku ayah, aku berjanji tidak akan mengulang kelalaianku dalam menjaga Aril. Setidaknya kalian tau, aku harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup kami dengan kondisiku yang seperti ini..."
Yoona terus menahan air matanya agar tidak meleleh. Namun efeknya, pundaknya nampak bergetar. Berkali - kali ia juga terlihat menarik nafas dalam, mungkin ingin menyamarkan perasaanya.
"Itu karma yang harus kau bayar, karena kau telah lancang merebut putra kami satu - satunya. Sejak awal, kau tau aku tidak menyetujui hubunganmu dengan mendiang putraku. Namun karena keserakahan ayahmu, kami kehilangan putra yang selalu kami banggakan. Dan sekarang, rasakan saja apa yang dulu pernah kami rasakan..."
Mungkin kedua orang tua itu sudah tidak memiliki hati nurani, hingga kalimat sekeji itu pun mudah di ucapkan.
"Ayah salah faham, aku dan ayahku tidak pernah menghasut apalagi memaksa Gerry untuk membantu kami. Gerry sendiri yang datang untuk menolong kami dan.."
"Cukup!!! Jangan coba memutar balikkan fakta, dan kami sudah memutuskan tidak akan membantumu walau hanya sepeser pun. Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di tempat ini!!!"
Selesai, ucapan terakhir tuan Song bahkan bergaung keras di ruangan itu.
Tepat setelah itu, kedua orang tua Jeslyn pergi meninggalkan Yoona dalam ruangan itu sendiri seperti orang asing. Keputus asaan tiba - tiba menguasi dadanya. Air mata sudah tidak bisa di tahan lagi, semakin di tahan maka semakin kuat dorongan itu. Yoona tergugu sendiri di ruangan, berniat menghabiskan energinya dengan menangis agar tidak terlihat Aril. Setidaknya gadis kecil kesayangannya itu tidak harus mengetahui bagaimana sulitnya langkah ibunya untuk mencari bantuan bagi putrinya.
Maaf reader's...sedikit terlambat up nya...karena Author baru mendapat musibah. Putra kesayanganku yang baru berusia 10 tahun mengalami kecelakaan, apesnya lagi si penabrak lari dari tanggung jawab. Barang kali di sini pernah mengalami hal yang sama, please...siapa saja dan dimana saja kalian yang sudah bertindak tidak manusiawi...semoga segera dibuka mata hatinya...