Love is Blind

Love is Blind
Gak Bisa Datang? Sorry



*****


"Minggu depan aku minta tolong sama kamu buat kosongin jadwal sekalian absen dulu ngampusnya" ucap Bima di tengah makannya bersama Anna.


Kini Bima dan Anna sedang berada di ruang makan, keduanya tengah makan malam.


"Absen? Kenapa?" tanya Anna bingung.


"Aku mau ajak kamu ke acara sahabatku di Bali, aku diundang kesana" jawab Bima.


"Minggu depannya itu kapan?" tanya Anna sambil memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya.


"Tanggal 17" jawab Bima, sedetik kemudian Anna tersedak.


Bima yang dibuat kaget karena istrinya tersedak segera membantu Anna. "Minum! Makannya kamu pelan-pelan"


Bima segera memberikan segelas air kepada Anna dan Anna pun langsung meminum air yang diberikan Bima.


"Gak bisa, sayang kalau di tanggal itu!" protes Anna setelah membaik.


"Kenapa?" tanya Bima yang kini dibuat bingung.


"Kamu tahu Ara sahabat aku?"


"Ara?" Bima berucap dengan nada bingung.


"Diara Pradipta"


"Oh! Mahasiswi ambis di kelas kamu, kan?"


"Iya. Minggu depan dia nikah dan Ara ngundang aku, gak mungkin dong aku gak datang di pernikahan sahabatku?" jelas Anna.


"Kenapa gak bilang?" tanya Bima tenang.


"Rencana habis makan" jawab Anna dengan nada pelan sambil menatap Bima.


"Nikahnya dimana?"


"Bali"


"Pas dong kalau gitu! Sama-sama di Bali. Beres, kan?" usul Bima bangga.


"Masalahnya tanggalnya sama sayang, waktunya yang gak keburu nanti" ucap Anna frustasi.


"Terus kamu maunya gimana?"


"Yaudah gak usah ke acara sahabat kamu ke pernikahan Ara aja" putus Anna.


"Gak bisa gitu dong! Sayang. Dia sahabat lamaku udah lama juga aku gak ketemu dia karena dia sibuk. Dia juga sahabat baik aku, jarang banget dia datang ke acara orang. This's time dia buat acara sendiri" sela Bima.


Kedua pasangan suami-istri itu terdiam sejenak, sama-sama berusaha mencari jalan keluar. Lalu, tiba-tiba saja tidak tahu dari mana Anna mendapatkan ide.


"Yaudah kalau gitu kamu ke acara sahabat kamu aku ke acara sahabat aku, Diara. Kita misah aja" usul Anna.


"Gak! Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian!" Bima menolak usulan Anna.


"Terus kamu ada ide lain?" tantang Anna.


"Kita ke acara sahabat aku dulu abis itu ke acara Diara"


"Gak bisa gitu dong! Sayang. Kalau misalnya nanti ke acara sahabat kamu dulu lama, belum lagi nanti reunian dan segala macamnya. Nanti malah gak keburu" rengek Anna.


Sedangkan, Bima hanya diam. Pada akhirnya, pasangan suami-istri itu sama-sama belum menemukan jalan keluar. Karena tidak ada yang mau mengalah diantara mereka.


Sama-sama berkeinginan datang ke acara sahabat masing-masing."Masa, iya? Aku gak datang ke pernikahannya Ara?"


*****


a few days later...


"Ra, beneran berangkatnya gak mau bareng aja sama Mama dan Papa?" bujuk Sarah pada anak tunggalnya ini.


"Ma, besok abis dari kampus Ara langsung berangkat janji!" Diara berusaha meyakinkan Sarah.


"Kalau gak Mama besok aja deh berangkatnya biar bareng sama kamu"


"I'm not child Ma! Aku bisa berangkat sendiri besok ke Bali. Sayang tiketnya, mubazir"


Pernikahan Diara dan Adnan akan di laksanakan tiga hari lagi di Bali. Di salah satu hotel milik keluarga Mahardika.


Harusnya Diara sudah berada di Bali dua hari lalu sambil memastikan segala kebutuhan pernikahannya. Namun, dirinya tidak bisa lantaran banyak tugas yang tidak bisa ia tinggal.


Akhirnya, Diara harus menyelesaikannya terlebih dahulu. Lagi pula untuk penikahannya ini Diara cukup santai dalam menanggapinya Diara tidak mau ambil pusing. Harus kalian ingat bahwa pernikahan ini bukanlah kemauan Diara!


Tadinya Diara akan berangkat sore ini dengan Mama dan Papanya. Tapi, Diara kehabisan tiket untuk berangkat bersama dan hanya tersisa tiket untuk keberangkatan di malam hari.


Diara akhirnya memutuskan untuk berangkat besok siang setelah pulang dari kampus.


"Aku juga besok ada ujian jadi sekalian ujian juga" lanjut Diara.


"Yaudah! Kalau gitu Mama berangkat kamu hati-hati di rumah" final Sarah dengan wajah tak ikhlas.


"Iya" jawab Diara sambil memeluk sang Mama.


"Sampai ketemu di Bali sayang" ucap Dianto sambil memeluk Diara.


"See you in Bali Pa, Ma. Take care!" pesan Diara.


Setelah berpamitan dengan Diara, Sarah dan Dianto masuk ke dalam mobil mereka untuk pergi menuju bandara dengan diantar supir mereka, Pak Rud. Tak lama mobil meninggalkan halaman rumah menuju bandara yang akan melepas landaskan mereka ke Bali.


"Waktu semakin dekat apa ini keputusan yang benar?" fikir Diara.


*****


Setelah kelas selesai Diara dan kedua sahabatnya memutuskan untuk beristirahat di cafe dekat kampus untuk melepas rasa penat ketiganya. Sekaligus ada hal yang ingin dibicarakan Bianca dan Anna kepada Diara.


"Lo berdua yang benar aja! Masa, iya gak ada satu pun sahabat gue yang datang?!" ucap Diara dengan nada kesal dan marah, setelah mendengar hal yang di sampaikan kedua sahabatnya.


Bagaimana tidak kesal? Bagaimana tidak marah? Menjelang hari pernikahannya kedua sahabatnya ini tiba-tiba memutuskan tidak hadir. Siapa yang tidak marah?


"Gue beneran minta maaf, Ra" ucap Bianca dengan rasa bersalah.


"Gue juga, Ra. I'm so sorry" tambah Anna."Gue udah rencana mau bilang ke lo lima hari lalu pas Pak Bima bilang ini ke gue. Tapi, gue juga gak enak langsung bilang di saat lo baru aja invite gue, lima hari ini gue juga gak tenang, Ra. Gue mikirin lo juga"


Diara diam, tidak langsung menjawab. Dirinya berusaha mengatur nafas dan emosinya. Rasa kecewanya sedang mendominasi sekarang.


Tiga puluh menit berlalu dengan diamnya ketiga orang yang bersahabat ini. Sejak Bianca dan Anna mengatakan dengan berat hati bahwa mereka tidak bisa datang ke pernikahan Diara, Diara langsung ditelan bisu.


Ketiganya tidak ada yang membuka suara. Anna dan Bianca pun masih enggan berkata, mereka berdua berusaha memberi ruang untuk Diara. Anna dan Bianca tahu diamnya Diara adalah suatu kemarahan.


Dari mimik wajah dan kebisuan Diara, Anna dan Bianca bisa merasakan bahwa sahabat mereka tengah dilanda rasa bingung, sedih, kecewa, marah semua bercampur jadi satu.


Hingga Bianca memecah kesunyian dengan kalimat yang keluar dari bibirnya. Tidak mungkin juga, kan? Untuk tiga puluh menit ke depan mereka menghabiskan waktu mereka hanya dengan diam dan membisu, lagi.


"Gue tahu, Ra lo pasti bakalan kecewa sama gue. Tapi, gue juga bingung harus gimana nyai gue drop, dia udah tua. Gue cuma takut kalau nanti gak datang gue nyesal diakhir" ucap Bianca serius. Biasanya anak ini selalu dalam mode bercanda.


"Kalau lo suruh gue milih antara lo sama nyai gue jujur gue gak bisa dan ini juga berat banget buat gue, Ra. Gu---"


Diara menghela nafas."Jadi, kapan lo berangkat?" Diara memotong pembicaraan Bianca.


Bianca tidak langsung menjawab."Sore ini. Gue benar-benar minta maaf, Ra. Nyai gue bener-bener drop tiba-tiba"


"Lo berangkat sama siapa ke Lampung?" tanya Diara mengesampingkan egonya.


Kini, Diara berusaha memahami kondisi kedua sahabatnya. Dia juga tidak boleh egois, itu yang sendari tadi Diara fikirkan dan usahakan kini.


"Sendiri, bokap sama nyokap udah duluan seminggu yang lalu pas dikabarin mereka langsung berangkat" jawab Bianca sambil menunduk.


"Yaudah, kalau gitu nanti tiket pesawat lo gue kirim lewat email" ucap Diara.


Seketika Bianca langsung menoleh ke arah Diara dari tundukkannya."Lo mau beliin gue tiket? Gak usah, Ra! Gue aja gak dateng ke nikahan lo masa, iya lo--"


"Gak usah bawel! Biasanya juga suka yang gratisan!" protes Diara.


"Meski gue suka gratisan. Tapi, gue lagi sadar diri sekarang, Ra. Gue udah gak dateng ke pernikahan lo, tapi lo malah mau beliin gue tiket ke Lampung? yang bener aja, Ra gak murah loh tiket pesawat! Jangan bikin repot, deh!" tolak Bianca tak enak.


"Dari pada lo yang pesan sendiri? Nanti salah lagi kayak waktu pesan tiket ke Singapura!" omel Diara.


"Gue makin ngerasa bersalah, nih, karena gak bisa datang"


"Gak apa-apa. Gak perlu minta maaf atau ngerasa bersalah atas kekhawatiran lo buat nyai lo sendiri. Kalau gue jadi lo mungkin gue akan lakuin hal yang sama, mungkin sekarang nyai lo lebih butuh lo sebagai cucunya dari pada gue" ucap Diara pengertian.


"Ra" panggil Bianca dengan nada yang bergetar karena menahan tangisnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


Bianca bangkit dari kursinya menghampiri Diara lalu memeluknya dengan erat."Makasih ya, Ra. Lo udah respect sama gue"


Diara membalas pelukkan Bianca."Udah jangan nangis muka konyol lo gak cocok jadi mellow"


"Gue gak tahu harus bilang apa?!" ucap Bianca terharu. Lalu, melepaskan pelukkannya.


"Sekarang giliran lo, Na! Kenapa gak bisa datang" kini giliran Diara bertanya pada Anna.


Anna tidak langsung menjawab dia diam sebentar. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang sudah ia tahan selama lima hari ini harus di keluarkan, dia harus jujur!


"Sahabat lama Pak Bima bikin acara di waktu yang sama dengan pernikahan lo. Gue gak tahu kenapa bisa kebetulan gini, jujur acara di Bali juga cuma gue gak janji bisa datang" jawab Anna mulai bercerita.


"Gue udah coba tolak dan negosiasi sama Pak Bima tapi Pak Bima tetep kekeh karena ini acara sahabat lamanya. Gue benar-benar minta maaf" ucap Anna sesal.


"Jujur gue udah usul sama Pak Bima buat datang ke acara sahabat masing-masing. Tapi, langsung ditolak mentah-mentah sama Pak Bima, lo juga tahu, kan, gimana watak dosen kita yang satu ini?!"


Diara diam sama seperti tadi, tidak langsung menjawab. Diara berusaha mencerna semua penjelasan Anna.


"Lo gak boleh egois Diara, lo gak bisa bikin sahabat lo sama suaminya ribut cuma buat masalah datang pernikahan lo atau gak. Pernikahan ini aja udah jadi masalah buat lo! Jangan buat pernikahan ini jadi masalah juga buat orang lain" fikir Diara.


"Karena kita di kota yang sama gue harap lo masih bisa datang" harap Diara bijak.


Setenang apapun Diara, rawut kekecewaannya tidak bisa di sembunyikan dari ke dua sahabatnya ini. Anna dan Bianca tahu mereka berdua bisa merasakannya. Diara sudah pasti kecewa.


Anna memandang Diara tak enak hati."Gue bakalan usahain, Ra. Pasti!"


Melihat bagaimana Diara begitu berusaha memahaminya membuat Anna semakin tak enak hati kepada Diara. Pasalnya di pernikahannya dengan Bima, Diara datang.


Masa, iya? Giliran Diara sahabatnya sendiri menikah Anna tidak datang? fikir Anna.


Sebuah takdir yang mengejutkan dan mengecewakan bagi Diara. Di hari yang harusnya bahagia nanti, Diara tidak akan bisa merasa bahagia sedikit pun.


Bahkan di hari penikahannya nanti Diara berharap ada secercah kebahagiaan karena kehadiran kedua sahabatnya. Tapi, kedua sahabatnya bahkan tidak bisa datang di hari yang jika Diara memikirkannya saja sudah membuat nafasnya begitu sesak.


Apa tidak bisa Diara merasa bahagia? Meski hanya seperti setitik air yang jatuh dari jari tangan? Tapi, meski begitu Diara masih berusaha berfikir dewasa.


Diara berusaha memahami kedua sahabatnya. Dia tidak boleh egois dan mau menang sendiri, karena di sini mereka bertiga dalam keadaan yang bukan kemauan mereka. Takdir tuhan memang penuh dengan teka-teki.


"Kalau gitu gue langsung balik ya" pamit Diara.


"Kok buru-buru?" tanya Anna.


"Gak makan dulu? Masa minum doang" protes Bianca.


Diara tersenyum."Hm... gak deh, gue langsung cabut aja. Gue juga harus prepare, pesawat gue berangkat siang ini"


Sebenarnya Diara masih ingin tetap tinggal. Prepare tadi hanyalah alasan karena dirinya sudah prepare sebelumnya. Hanya saja Diara tidak ingin melihat lebih lama wajah dengan rasa bersalah milik kedua sahabatnya.


Dan tidak ingin pula kedua sahabatnya melihat wajahnya yang berusaha menutupi rasa kecewa.


"Lo berdua, kan, juga harus prepare" Diara mengingatkan.


"Iya, juga" jawab Bianca polos.


Diara beranjak dari duduknya."Kalau gitu gue duluan"


"Hati-hati!" ucap Bianca.


"Take care!" Pesan Anna.