Love is Blind

Love is Blind
Kabur



*****


"Gak berasa ya, jeng anak-anak kita sudah mau nikah. Sebulan berjalan cepat banget, rasanya baru kemarin aku mampir ke rumah" ucap Mira pada Sarah.


Dua wanita yang sudah menjadi ibu itu kini sedang duduk-duduk sore di samping jendela kaca salah satu cafe yang ada di lantai bawah hotel sambil menatap ke arah luar, pantai.


"Iya, waktu berjalan begitu cepat. Aku juga baru kemarin merasa mengantar Ara masuk sekolah, sekarang akan mengantar dia ke pernikahannya" balas Sarah.


"Aku harap pernikahan ini berjalan lancar dan mereka berdua bisa hidup bahagia. Meski, dalam perjodohan dan dalam ketidak tahuan Ara"


"Aku juga selalu berharap yang terbaik buat mereka" ucap Sarah lalu meminum kopinya.


"Ara kira-kira kapan sampai, jeng?" tanya Mira pada Sarah.


"Harusnya sore ini sudah sampai karena katanya Ara ambil penerbangan siang"


"Oke. Mungkin masih di jalan, kita tunggu aja"


*****


"Sudah semua, Non? Ada yang ketinggalan gak?" tanya bi Inah.


"Gak ada, bi" jawab Diara sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi dibantu Pak Rud.


"Kalau gitu Ara berangkat, bibi baik-baik di rumah"


"Iya, Non Ara juga hati-hati di jalan" pesan bi Inah, yang dijawab dengan anggukkan oleh Diara.


"Kalau begitu Ara berangkat" pamit Diara.


Diara lalu masuk ke dalam mobilnya, dia akan diantar Pak Rud menuju bandara. Selama diperjalanan Diara hanya diam, melamun. Memikirkan banyak hal yang tak akan pernah kita fikirkan karena kita bukan Diara.


Setelah satu jam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta, Diara akhirnya sampai. Sesampainya di bandara Diara turun beserta dengan kopernya.


"Pak Rud hati-hati di jalan" pesan Diara.


"Iya Non, Non Ara juga" balas Pak Rud."Jaga diri baik-baik, Non. Kalau sudah sampai bandara Ngurah Rai tolong langsung kabarin Ibu sama Bapak, biar mereka gak khawatir"


"Sip" jawab Diara sambil tersenyum."Yaudah kalau gitu Ara berangkat"


"Iya Non, semoga lancar ya"


"Aamiin... makasih Pak Rud"


"Sama-sama, Non"


Diara berjalan menjauhi mobilnya untuk segera masuk ke dalam bandara. Setelah di dalam Diara segera check in dan menunggu sebentar.


Lalu, setelah mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang dirinya akan tumpangi akan segera berangkat, Diara segera memasuki pesawat tersebut lalu lepas landas menuju Bali.


*****


Jam menunjukkan pukul 20.05 PM yang menandakan Diara harusnya sudah tiba sejak tadi sore. Namun, kehadirannya kini belum terlihat sama sekali bahkan ketika jam sudah menunjukkan waktu makan malam.


Hal itu membuat Sarah, selaku Mama dari Diara Pradipta khawatir. Dirinya takut Diara akan melakukan hal yang tidak diinginkan. Seperti melarikan diri, mungkin? Mengingat pernikahan ini terjadi karena hasil perjodohan.


"Ara kok belum sampai ya, Pa? ini udah jam berapa? Harusnya dia udah sampai dari tadi. Bahkan harusnya sudah makan malam sama kita, apa jangan-jangan Ara kabur?" bisik Sarah cemas dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Membuat Dianto juga sedikit panik dan bingung harus menjawab yang mana."Hush... Ma omongan itu do'a jangan sembarangan, apalagi Mama seorang Ibu, Papa yakin Ara gak akan melakukan hal itu. Mungkin ada problem dia jalan dan kita juga gak tahu"


"Iya, jeng. Mungkin ada kendala" ucap Mira yang mendengar percakapan suami istri itu.


"Ara itu anak baik, jeng" tambah Mira.


"Aku cuma cemas aja, jeng"


"Sabar" Mira berusaha menenangkan Sarah.


Jujur, semua yang sedang berada di meja makan itu kini, sedang cemas dengar pikiran masing-masing sekarang. Bagaimana tidak? Diara harusnya sudah sampai sejak tadi sore.


Tapi, kini dari jam yang sudah dijanjikannya saja dia belum kelihatan batang hidungnya. Ketidak hadiran Diara membuat pikiran mereka berkelana. Kalang kabut.


Apalagi tadi Sarah sempat mengungkapkan kekhawatiran di kepalanya. Tapi, tidak hanya itu mereka semua juga takut terjadi sesuatu pada Diara.


Karena sejak tadi tidak ada tanda-tanda kedatangan Diara atau kabar darinya, dan fikiran tentang Diara kabur melarikan diri semakin tidak bisa dilepaskan dari fikiran mereka yang sedang menunggu Diara dengan khawatir.


Akhirnya, sambil menunggu kedatangan Diara, Budi memutuskan agar semua makan terlebih dahulu dan sebagai pengalih perhatian mereka atas Diara. Namun, nampaknya hal tersebut belum berhasil.


Mereka tetap makan, tapi justru dalam keheningan. Fikiran mereka nampaknya masih belum bisa teralihkan, meja makan menjadi hening karena mereka semua makan sambil di sibukkan oleh fikiran masing-masing.


Yang pasti sekarang sedang ada difikiran mereka hanya satu orang, Diara Pradipta dan Adnan menyadari hal itu. Namun, dirinya hanya diam dan tetap tenang, tidak cemas seperti yang lain. Karena Adnan sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Tiba-tiba suara ponsel Adnan berbunyi, memecah keheningan yang sendari tadi sudah terbangun."Saya permisi angkat telpon"


Lalu Adnan berjalan menjauhi meja makan."Jadi, bagaimana?"


"Sudah di lobby, Pak" ucap seseorang di sebrang sana.


"Terimakasih. Saya segera kesana" Adnan menutup telpon lalu pergi menuju lobby.


Setibanya di lobby dia bisa melihat sosok yang sudah tak asing baginya, meski baru bertemu dua kali. Dia berjalan mendekati sosok seorang gadis yang sedang berdiri di depan meja resepsionis.


Sosok yang sendari tadi ditunggu-tunggu semua orang, sosok yang sendari tadi dicemaskan semua orang, sosok yang sendari tadi menjadi perhatian semua orang karena ketidak hadirannya. Namun, kini sudah terpecahkan.


Jika kalian berfiki Adnan hanya akan diam saja, kalian salah! Kalian harus ingat Adnan adalah laki-laki cerdas dan pintar dan apakah semudah itu dia membiarkan Diara pergi sendirian menuju Bali? Adnan belum sepercaya itu pada gadis yang dikatakan Dianto pintar dalam hal berdebat ini.


"Malam, ada yang bisa dibantu?" jawab petugas resepsionis ramah.


"Saya mau---"


"Ara!!" panggil Adnan sambil berjalan menghampiri Diara. Seketika Diara menengok pada seseorang yang memanggil namanya.


"Ikut saya! Yang lain sudah menunggu kamu dari tadi" ucap Adnan to the point dan dibalas anggukkan oleh Diara.


"Tolong kopernya di bawa ke lantai atas!" perintah Adnan pada petugas repsesionis.


"Baik, Pak!"


Adnan dan Diara berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas. Lantai yang menjadi tempat tunggu para anggota keluarga menunggu kehadiran tokoh utama.


Setelah lift terbuka Diara masuk bersama dengan Adnan ke dalam, pintu lift tertutup. Di dalam mereka hanya berdua kecanggungan pun melanda mereka. Mereka sama-sama terdiam dengan kebisuan masing-masing.


Laki-laki yang kini sedang Diara liat dengan setelan kaos putih dan celana kain formal berwarna hitam sedang menatap lurus ke depan.


Menurut Diara style yang sedang dipakai Adnan agak aneh. Bukan, bukan aneh hanya saja unik? Mungkin, atau benar-benar aneh. Bagaimana bisa celana formal dengan kaos putih? Entahlah.


Selama di dalam lift mereka saling bungkam belum ada yang mau membuka suara. Mereka sama-sama nyaman tenggelam dalam keheningan.


"Sepertinya kita tidak seakrab itu" ucap Diara memecah keheningan.


Adnan yang merasa hanya dirinya satu-satunya manusia yang ada di dalam lift selain Diara pun mengalihkan pandangannya dari pintu lift.


"Anda sudah merasa akrab dengan saya?" tanya Diara yang lebih mengarah pada pertengkaran.


Adnan megerutkan dahinya."Saya tidak merasa begitu"


"Lalu kenapa anda memanggil saya dengan sebutan Ara?"


"Bukannya itu nama kamu?"


"Ara, hanya digunakan untuk orang terdekat dan orang itu harusnya bukan anda!" sindir Diara.


Adnan mendengus."Bahkan bagaimana cara memanggil kamu saja ada aturannya?"


"Iyalah! Saya bukan orang sembarangan!" jawab Diara terkesan jutek.


Adnan mengalihkan pandangannya pada pintu lift lagi. Dia tidak mau menanggapi pembicaraan yang menurutnya tidak bermutu dan berkualitas. Merasa tidak ditanggapi Diara pun terdiam.


"Perempuan dengan segala keribetannya" batin Adnan.


Tiba-tiba Diara teringat sesuatu, mau dibawa kemana dirinya?.


"Kita mau kemana?" tanya Diara penasaran.


Adnan tidak menjawab dia hanya diam dan tetap menatap lurus ke depan. Sudah dibilang topik pembicaraan Diara ini tidak menarik dan bermutu bagi Adnan. Tak berselang lama pintu lift terbuka.


Adnan melangkahkan kakinya keluar lift terlebih dahulu diikuti oleh Diara. Diara dibawa ke sebuah restaurant yang berada di lantai atas hotel Gutomo. Ya, hotel ini milik ayah Adnan, Budi Gutomo Mahardika.


Diara dibawa menuju salah satu meja yang ada di sana, meja yang sudah diisi oleh lima orang. Sarah yang menyadari kehadiran putrinya langsung bangkit dari duduknya. Rasa khawatirnya sudah terpecahkan sekarang.


"Ara!!!" Sarah menghampiri Diara lalu memeluknya, Diara pun membalas pelukkan sang Mama.


"Kamu kemana lama banget, kemarin katanya sore sampai!! Ini jam berapa coba?!!" protes Sarah.


Diara melepas pelukkan sang Mama lalu tersenyum. "Ara tadi transit tiga jam di Jogja makanya baru sampai Ma, maaf. Hp Ara juga lowbat, jadi gak kefikiran buat ngabarin"


"Mama fikir kamu kabur!" Sarah menyuarakan pemikirannya pada Diara. Pemikiran yang sendari tadi berlari di kepalanya.


"Iya, ya? gak kefikiran" canda Diara. Namun, mampu membuat orang-orang yang ada disana menengang.


Diara yang menyadarinya pun tertawa kecil."It's joking"


"Kamu ini! It's not funny!" ucap Sarah kesal.


"Jangan serius-serius banget Ma, remember! I promised" ucap Diara.


"Duduk dulu, Ra" tawar Mira pada Diara, memecah petengkaran ibu dan anak itu.


Diara mengangguk, sebelum duduk Diara menyalimi tangan Papanya, Mira, lalu Budi dan tak lupa bersalaman dengan seorang gadis yang kira-kira lebih muda dari dirinya, entahlah Diara belum mengenalnya.


Diara duduk diantar Gadis itu dan Adnan. Dirinya sedikit mengeluarkan ekspresi bingung yang disadari oleh Mira sebagai tanda tanya.


"Kenapa gue duduk di sini, sih? Canggung banget gila!" batin Diara.


"Ara kenalin ini Kinan, adiknya Adnan" ucap Mira memperkenalkan Kinan. Menjawab segala kebingungan Diara sendari tadi tentang gadis ini.


"Kinan kenalan dulu sama kakaknya" perintah Mira.


"Aku Kinan, kak" Kinan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum. Senyum yang menurut Diara sama indahnya dengan senyum miliknya.


"Diara" sahut Diara sambil membalas jabatan tangan Kinan.


Kembali ke pernyataan Diara sebelumnya. Saat ini Diara belum dekat dengan Kinan makanya Diara tidak memperkenalkan nama panggilannya. Mungkin, nanti Kinan bisa memanggilnya dengan nama 'Ara'.


Mungkin saja, jika Kinan bisa mengambil hati Diara dan tidak membuat Diara merasa asing seperti saat ini padanya. Setelahnya, dua keluarga itu melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda sebentar dengan perasaan yang lebih baik sekarang.


"Jadi, Ara mau makan apa?" tawar Mira.