Love is Blind

Love is Blind
Episode 4



Pria bertubuh besar itu memekik kesakitan, memegang daerah vitalnya dengan kedua telapak tangannya. Melonjak - melonjak hingga tak sadar dirinya sedikit menjauh dari mangsanya. Bocah malang itu tak melewatkan kesempatannya, ia berlari menjauh dari sang predator. Lari kemana saja asal bisa terlepas dari cengkramannya. Namun sialnya, Aril tak menyadari jika tempat berlindungnya hanya sebuah balkon. Buntu dan tak mungkin bisa melakukan pelarian kembali. Gadis kecil itu hampir putus asa setelah mengetahui Lucas tertawa lebar karena hampir meraih kemenangannya.


Pria besar itu menyeringai kegirangan saat tubuh Aril terusudut menempel pada besi pembatas balkon.


"Kemana lagi kau akan berlari sayang? Jangan membuatku bersusah payah jika kau tak ingin mendapat perlakuan kasar dariku...!!"


"Maaf kan aku paman, biarkan aku pergi.."


Iba gadis kecil itu, namun Lucas seakan tak mendengarkan kata apa pun yang keluar dari mulut Aril.


Seketika itu Lucas akan melakukan aksinya dengan menangkap tubuh Aril yang sudah siap dengan ancang - ancang kabur melalui celah di bawah ketiaknya. Lucas tak menyadari itu, tubuhnya terlalu bersemangat untuk menggapai hingga ia tak bisa menyeimbangkan gerakan tubuhnya yang besar.


Aril lolos dari dekapan Lucas, dan berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Sayangnya Lucas malah terperosok jatuh kebawah dari ketinggian lantai lima balkon apartement. Pria brengsek itu jatuh dan terpental di atas mobil yang tengah parkir di bawah balkon. Tak bisa di hindari, orang - orang berkerumun menemukan tubuh Lucas yang kesakitan di atas mobil. Satu per satu petugas keamanan datang dan mulai memanggil Ambulance, beruntung Lucas tidak sampai merenggang nyawanya.


Sementara Aril berlari lalu berhambur pada pelukan Jeslyn, saat bibinya itu baru sampai di bibir pintu.


"Aril...!!ada apa sayang?"


Tak ada sautan apa pun dari Aril, hanya isakan dan lelehan air mata yang menjawab kecemasan Jeslyn.


"Tenanglah sayang, bibi ada di sini. Jangan takut!"


Jeslyn penasaran, apa yang membuat keponakannya itu ketakutan. Namun ia tak bisa memberondong pertanyaan untuk gadis kecil itu, sebab sudah sangat jelas bahwa Aril berada dalam suatu tekanan.


Tak ingin membuat Aril semakin ketakutan, Jeslyn lalu menggendong Aril dan membawanya masuk ke dalam rumah. Memberinya segelas air putih, menyebarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Lantas ia berpikir keras, kenapa rumah itu nampak berantakan? Tidak biasanya Aril merusak tatanan rumah yang sudah di buat oleh Yoona sedemikian indah. Pintu kamar Aril terbuka, lemari di sudut ruangat tampak rusak daun pintunya. Dan lagi, pintu balkon kenapa terbuka?


Jeslyn semakin kawatir, tapi ia tak bisa langsung bertanya sebab Aril masih nampak sangat shock. Ia berinisiatif menelphon kakak iparnya. Namun sebelum meraih ponsel jeslyn, nampak Yoona sudah mulai memasuki rumahnya dengan mantel yang sudah basah kuyup.


Jeslyn memperhatikan Aril yang sudah duduk terdiam di atas sofa, manik birunya menatap janggal pada arah kamarnya.


"Kak, sebaikknya kau ganti baju dulu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu"


"Ada apa Jes? jangan membuatku khawatir?"


Yoona sama sekali tak mengetahui keadaan rumahnya yang rusak parah. Mencoba menajamkan pendengaran, menangkap jika ada suara Aril.


"Apa Aril baik - baik saja?"


Rupanya Yoona tak memiliki kesabaran jika menyangkut putrinya.


"Dia baik - baik saja kak, namun agaknya dia sulit berbicara untuk saat ini. Aku akan membantunya istirahat, dan kau cepat ganti pakaianmu"


Yoona tidak mudah mengabaikan kepanikan Jeslyn begitu saja, wanita buta itu masih berdiri berhadapan dengan adik iparnya. Sebelum akhirnya dua orang polisi datang ke Apartement Yoona.


"Aril, sayang. Katakan apa yang terjadi?"


Namun Aril menggeleng, lalu terisak.


Salah satu polisi itu akhirnya angkat bicara.


"Permisi nyonya, seseorang telah terjatuh dari lantai tepat dari Apartementmu. Bisakah kalian membantuku, biarkan kami memeriksa ruangan dimana tempat laki - laki itu terjatuh"


"Tentu saja pak, silahkan kalian periksa kamar itu"


Jeslyn jelas harus lebih tegar di banding Yoona, perempuan itu mengantarkan kedua polisi ke kamar Aril yang berantakan. Lantas salah satu dari kedua polisi itu mengambil gambar di setiap sudutnya tanpa ada yang terlewatkan.


Kurang dari tiga puluh menit, kedua polisi itu mengerjakan segala tugasnya. Tak ada pertanyaan apa pun dari Jeslyn, karena ia memang tak mempercayai apa yang telah terjadi. Melihat keadaan Aril yang belum stabil, membuat kedua polisi itu akhirnya pamit undur diri. Yoona mengangguk dan siap mengantar kedua polisi itu sampai depan pintu. Sementara itu tergambar jelas jika Yoona menginginkan sebuah keterangan dari polisi itu.


"Nyonya Kim, apa anda tau jika seorang laki - laki terjatuh ke bawah dari sisi balkon kamar putrimu?"


Tanya salah satu polisi itu pada Yoona, sedang Jeslyn mulai menidurkan Aril.


"Aku memang mendengar keributan di bawah sana, namun aku tidak tahu jika ada seseorang yang terjatuh dari atas. Aku baru saja pulang dari bekerja dan adik iparku belum sempat mengatakan apa pun"


Tampak memang Yoona menjelaskan tanpa ada yang di sembunyikan. Tak berselang lama Jeslyn menyusul datang.


"Lalu bagaimana denganmu Jes, apa kau tau jika ada yang terjatuh dari tempat kita?"


Yoona bertanya pada adik iparnya.


"Tidak, aku tidak mengetahui apa - apa. Hanya saja tempat ini menjadi berantakan dan Aril langsung memelukku saat aku baru sampai. Aku kira dia baru saja bersembunyi dari dalam lemari dalam kamarnya saat perampok mencoba membongkar rumah. Karena kakak iparku mengajarkan seperti itu pada Aril"


Jeslyn mencoba menjelaskan, berharap keterangannya sedikit menguak kebenaran.


"Ada apa pak? Apa ada sesuatu yang bisa kau jelaskan?"


"Tidak, hanya saja secara kebetulan Lucas terjatuh dari balkon kamar putrimu bertepatan rumahmu terjadi sebuah perampokan"


Polisi itu mencoba besikap senetral mungkin, dengan beberapa kali mengangkat kedua bahunya.


"Kau menuduh keponakanku melakukan sesuatu pada orang yang terjatuh itu?"


Tebak Jeslyn.


"Tidak, aku tidak mengatakan begitu. Hanya saja semua terasa sangat kebetulan. Baiklah besok aku akan datang kembali, sementara ini hanya ini saja bukti yang bisa aku bawa. Pastikan besok putrimu bisa berbicara pada kami. Selamat malam Nyonya..."


Jeslyn lalu mengunci pintu Apartement Yoona, berjalan menuju kamar kamar Yoona untuk memastikan keponakannya sudah tertidur. Memeriksa kembali keadaan Aril, bahwa tak ada luka sedikit pun pada tubuh mungil itu. Tak berselang lama ia pun keluar dari kamar dengan penuh hati - hati, agar langkahnya tak sampai membangunkan Aril.


Dan Yoona...sudah tidak bisa di gambarkan lagi bagaimana kegelisahan itu seketika menguasainya. Hampir frustasi memikirkan semua yang di katakan kedua polisi tadi. Jeslyn menghampiri kakak iparnya itu, dan Yoona menyadari kehadirannya.


"Jes... kau masih disini?"


"Yah, malam ini aku akan menginap di sini. Kumohon kak, jangan pernah memikirkan hal yang belum tentu kebenarannya. Kau pasti tidak ingin melihat Aril semakin tertekan bukan?"


Jeslyn mencoba menguatkan Yoona, menatap mata Yoona dari arah berlawanan dan memastikan jika benar mata buta itu sudah di penuhi air mata.


"Tenanglah kak, jika memang kejadian yang di katakan polisi tadi benar adanya aku akan terus membantumu. Kau jangan khawatir, aku akan menyewa pengacara terbaik di kota ini"


Lagi...tak bosan - bosan aku meminta tolong pada kalian, dukung aku dengan nge vote karyaku ini. Please, dan aku akan menampilkan cerita terbaikku...😘