Love Diary Rehan [LDR] Part 2

Love Diary Rehan [LDR] Part 2
Kedatangan Seorang Pangeran Bagian 2



"dia bukan kakakku kan?" kataku dengan menujuk Rendi,


"dia kakakmu Rehan" kata ibuku" kata ibuku,


"kenapa ibu baru memberitahu" kataku sambil marah karena aku yang tak percaya aku mempunyai kembaran,


"nanti ayah jelaskan, sekarang kita kumpul diruang tamu" kata ayah dengan muka seramnya.


...🕰ΩΩ🕰(Diruang tamu)🕰ΩΩ🕰...


"jadi begini, ayah dulu pernah pisahkan kalian berdua karena, kalian berdua gak pernah bisa diam sejak kecil, selalu menangis bila kalian dekat, namun ayah membuat fikiran untuk memisahkan kalian, namun ibu kalian tidak setuju dengan pendapat ayah dan itu membuat ibu marah dan terjadilah perpecahan antara kita berdua termasuk kalian juga" kata ayahku yang menjelaskan asal usulku di pisahan dengan Rendi,


"tapi lebih baik di pisahkan begitu kan" kataku yang tak setuju dengan adanya Rendi,


"jika kalian terpisah sekarang, ibu yang repot mengawasi kalian berdua" jawab ibu


"kamu mengertilah Rehan, kita mencoba untuk adil sama kalian berdua" jawab ayah dengan menenangkanku,


"pokokya Rehan gak mau berbagi kamar dengan Rendi" kataku yang tak mau Rendi tinggal dirumahku, karena masih mengingat mimpi burukku Kemarin malam, aku pun pergi dan mengunci diri di kamarku,


"ibu, ayah, Rendi paham apa yang di alami Rehan, Mungkin Rehan butuh waktu beradaptasi, ibu dan ayah istirahat saja biar aku yang hadapi Rehan" kata Rendi dan menuju kearah kamarku, untuk menenangkan ku,


"Tok Tok Tok" bunyi pintu diketuk Rendi,


"Han! kamu boleh anggap aku tak ada, aku sadar aku bukan siapa siapa, tapi tolong izinkan aku tinggal disini" kata Rendi dari Balik pintu kamarku,


"bodoh! sudah gua bilang, lu gak boleh tinggal disini" kataku sambil membentak Rendi,


"yah lalu bagai mana aku pulang ke kampung lagi Han, uang ibu habis dan kereta juga susah mencari tiketnya" jawab Rendi, aku pun berubah fikiran,


"baiklah, lu boleh tinggal disini, tapi ingat jangan pernah bicara kepadaku, kau mengerti" kataku yang memberikan peraturan kepada Rendi,


"ya, oke, baiklah kalo begitu, kalo kamu ada apa bilang kepadaku, aku akan membantu semampuku bila kau butuhkan" kata Rendi membuka hatinya kepadaku,


"gua gak butuh bantuanmu" jawabku kepada Rendi,


Seperti biasaya, aku tak mau keluar dari kamarku, walapun Rendi baik kepadaku, aku selalu selalu menolak kebaikannya, karena mimpi buruk itu, aku selalu berfikir bahwa mimpi itu akan terjadi dan menjadi kenyataan, harapanku sih tidak, tidak akan terjadi, namun selalu saja aku berfikir buruk dan selalu saja terbayang bayang difikirku begitu saja.


Dan anehnya Rendi pun berhasil membuatku nyaman tinggal denganya, dengan kata katanya yang romantis dan lebih dewasa membuatku berhasil lebih mengenal arti cinta yang sesungguhnya, dia banyak menggajariku tentang hal hal yang baru, seperti mengajakku keluar dalam kotak yang penuh kesunyian,


...🕰ΩΩ(10-01-2008)ΩΩ🕰...


Sebulan penuh aku tak menyapa Rendi bila kita sekolah pun aku tak pernah anggap dia ada, kita satu rumah tapi tak ada pembicaraan apapun, kita satu sekolah tapi beda tingkatan, dia kelas 3 aku kelas 4 Walapun umur dia lebih tua dariku, tentu saja aku merubah penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambutku agar tidak mirip dengan Rendi, karena aku tidak mau disamakan dengan Rendi.