Love And Pain

Love And Pain
5



"APA MAKSUDNYA TIDAK BISA? DIA SUDAH BERUSAHA UNTUK MENCELAKAI ANAKKU. BUKANKAH ITU SUDAH MENJADI SEBUAH ALASAN YANG BAGUS?"


Amarah Kevin tidak bisa dibendung lagi. Ia sedang menelepon pengacara Anastasya untuk masalah semalam. Tapi Darian, pengacara Anastasya bilang kalau Ia tidak bisa membatalkan pengadopsian Anastasya. Sebelum meninggal, Evelyn memberikan wasiat kepadanya kalau Kevin tidak boleh mengembalikan Anastasya dan harus merawatnya seperti anak sendiri.


Kevin mematikan teleponnya lalu melemparnya ke kasur. Ia menghela napas kasar sambil memijat keningnya yang pusing.


"Daddy, kenapa kau berteriak? Apa ada yang salah?"tanya Stella yang baru saja terbangun. Kevin mendatangi Stella lalu mencium kening anaknya.


"Maafkan daddy. Kalau saja semalam daddy menelepon dia lebih cepat."


Stella menggeleng. Ia merubah posisinya menjadi duduk lalu memeluk Kevin. "Ini semua bukan salah daddy. Aku juga tidak menyangka Ia akan melakukan hal itu. Jangan menyalahkan diri sendiri, dad. Lagian aku belum di apa-apain. Hanya dicium."


"Itu juga sudah termasuk pelecehan,"ucap Kevin. Ia kemudian menatap lekat anaknya. "Kau tahu siapa pria itu?"tanya Kevin.


Stella mengangguk pelan. "Ia murid laki-laki di sekolahku. Namanya Raven. Dia selalu menggangguku dan dia merupakan teman Ana."


"Nanti daddy akan cari orangnya,"ucap Kevin. Ia memeluk Stella erat dan sesekali mencium kepalanya. "Daddy sudah bilang ke gurumu kalau kamu tidak akan masuk hari ini."


"Baiklah. Dad, mommy mana? Apa dia sedang memasak?"


"Mommy sedang berbicara dengan Ana. Hari ini dia akan pergi dari sini,"jawab Kevin.


Kevin sadar jika Ia tidak bisa mengontrol emosinya apalagi dengan sikap Anastasya yang berubah. Jadi, Ia membiarkan istrinya saja yang berbicara dengannya. Sebagai orang tua, tentu saja Kevin sedih karena anaknya tidak akur. Semalaman Kevin tidak bisa tidur memikirkan Anastasya.


"Dad, aku lapar. Apa mommy sudah memasak sarapan?"


"Tentu saja sudah. Bahkan semuanya sudah sarapan kecuali kamu,"ucap Kevin yang diakhiri dengan kekehan. Ia kemudian mengajak Stella untuk memakan sarapan.


...***...


Saat berjalan menuju ruang makan, Stella dan Kevin melihat Anastasya yang menarik kopernya sambil berlari keluar rumah. Anastasya membanting pintu rumah ketika keluar. Kevin melihat kebelakang dan ada istrinya yang berlinang air mata. Kevin yakin istrinya gagal meyakinkan Anastasya untuk tinggal di rumah dan meminta maaf kepada Stella.


"Kau gagal?"tanya Kevin.


Kimberly menggeleng. "Aku mengusirnya."


Kimberly berjalan kearah Kevin. Ia menatap Stella sambil tersenyum dan meminta gadis itu untuk sarapan sendiri. Stella mengerti lalu berjalan ke ruang makan sementara Kevin diam disana dengan Kimberly.


"Apa yang terjadi?"tanya Kevin.


"Aku pusing memikirkannya kembali,"jawab Kimberly. Lalu Ia mulai menceritakan kejadian sebelumnya.


flashback


Kimberly sedang membujuk Anastasya atas saran Kevin. Anastasya yang sudah tetap dengan pendiriannya tidak mau mendengar Kimberly. Ia terus memasukkan pakaiannya kedalam koper yang berukuran besar.


"Ana, dengarkan mommy. Mommy tidak mau kalian tidak akur seperti ini. Mom-"


"SUDAH MOM,"teriak Anastasya. Kimberly diam melihat Anastasya. Anastasya membanting tutup kopernya. Ia sudah lelah dengan semua nasehat Kimberly.


"Aku cinta sama Trevor. Aku tidak peduli dengan Stella. Yang aku mau hanya Trevor."


"Lebih baik kau keluar dari rumah ini sekarang. Aku kira kau akan lebih baik dari orang tuamu. Ternyata kalian sama saja. Aku menyesal, Ana."


Anastasya menarik resleting kopernya. Ia lalu tersenyum kearah Kimberly. Senyum yang sama dengan senyuman Evelyn ketika berkhianat. Kimberly yang sudah tersulut emosi ingin menampar Anastasya namun tangannya dicekal oleh Anastasya.


"Tidak usah menamparku. Aku bisa keluar sendiri, Kimberly,"ucap Anastasya. Ia kemudian keluar kamar dengan langkah cepat. Hampir berlari.


flashback end


"Sudahlah, kita tidak bisa berbuat banyak,"ucap Kevin setelah mendengar cerita Kimberly. Sebenarnya, Ia mempunyai ide gila yaitu membuat Stella berpisah dengan Trevor. Tapi Ia takut kalau Stella tidak akan percaya dengan alasannya.


"Vin, aku mual."


Kimberly berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan cairan bening. Kevin yang melihat Kimberly muntah hanya tersenyum. Anaknya akan bertambah lagi. Kimberly yang sudah selesai keluar dari kamar mandi dan melihat Kevin yang tersenyum. Ia yang mengerti kemudian memukul dada Kevin pelan.


"Jangan salahkan aku. Kau harusnya senang. Nanti kita akan cek ke dokter,"ucap Kevin. Ia dan Kimberly berjalan menuju ruang makan dimana Stella sedang memakan sarapannya.


"Kenapa daddy dan mommy lama?"tanya Stella.


Kevin terkekeh lalu mengusap perut Kimberly. Stella menaikkan satu alisnya. Dilihat dari gerakan Kevin, sepertinya Ia akan mempunyai adik lagi.


"Selesai sarapan, bersiap-siaplah. Kita akan pergi ke dokter. Daddy mau memastikan anak daddy disini."


"Baiklah,"ucap Stella. Ia menghentikan sarapannya lalu melihat Kevin dan Kimberly secara bergantian. "Apa yang terjadi pada Ana?"


"Jangan membahasnya. Daddy sedang tidak ingin membicarakan Ana."


Stella mengangguk. Ia kemudian membereskan piring bekas sarapannya lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.