
"Ana akan datang untuk makan malam. Dia akan mengucapkan sesuatu kepada dia. Terlebih lagi dia memberitahukan itu semua kepada Stella." Kevin mulai mengoceh kepada Kimberly saat melihat istrinya sudah terbangun.
"Itu karena kita semua sudah memblokirnya, Kev. Semoga saja Ia ingin memberitahukan sesuatu yang penting."
Kevin berdecak kesal mendengar Kimberly masih membela Anastasya. "Kau sudah mengusirnya dan kau sekarang malah membelanya?"
"Kita sudah merawatnya sejak kecil,"
"Aku tau Kim. Tapi kamu mau mengorbankan perasaan anak kandungmu demi anak yang bahkan tidak ada hubungan darahnya dengan kita?"
Sebelum Kimberly mengeluarkan kalimat lagi, Kevin keluar dari kamarnya. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya disaat Ia sedang tidak bisa mengendalikan emosinya. Kevin pergi ke kamar Stella dan melihat anaknya sudah tertidur. Kevin tersenyum lalu mencium kening Stella.
"Apapun yang terjadi, percayalah kalau daddy akan selalu sayang padamu dan akan selalu berada disisimu."
***
"Hi Stella." Anastasya melihat adik perempuannya sedang bermain permainan online dengan Arthur. Stella yang melihat kakaknya sudah pulang hanya terdiam dan tersenyum tipis. Ia sedikit senang karena kakaknya sudah sampai lebih cepat daripada perkiraannya
"Aku kira kau bercanda, sis. Jadi apa yang ingin kau bicarakan kepada kita?"tanya Stella. Ia kemudian melihat leher kakaknya yang mempunyai bercak kemerahan. Stella bukanlah anak kecil yang masih polos apalagi ditambah dengan kejadian semalam. Ia sudah tau apa yang dilakukan Anastasya sehingga menimbulkan bercak tersebut.
Stella buru-buru mengambil syal milik Arthur yang terletak disofa lalu segera memasangkan syal tersebut ke leher Anastasya. Anastasya awalnya bingung kenapa Stella memasangkan syal ke lehernya tapi saat Anastasya menunjuk lehernya, Anastasya mengerti lalu segera membanu Stella.
"Kau mau meminjam makeup?"
Anastasya menggeleng. Ia kemudian melihat Kevin sedang menatap mereka. Seketika ruangan menjadi hening dan muncul aura yang tidak mengenakkan. Stella yang bingung kemudian melihat kebelakang dan ada ayahnya.
"Dad, Ana sudah pulang. Kau tidak senang?"
Anastasya tersenyum melihat Kevin sedangkan Kevin tetap menatapnya datar lalu meninggalkan mereka bertiga. Anastasya kemudian menghampiri Arthur lalu memeluknya. Arthur yang sudah biasa hanya diam tanpa ada niatan membalas pelukannya.
"Kids, makan malam sudah siap. Segera pergi ke ruang makan okay,"ucap Kimberly.Mukanya tidak berbeda dari Kevin. Sama-sama datar.
Anastasya, Stella, dan Arthur kemudian bergegas pergi ke ruang makan. Saat sampai di ruang makan, Anastasya duduk di dekat Kevin. Stella duduk di sebelah Anastasya sehingga bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Anastasya nanti.
"Dad... Mom... Aku mau minta maaf dengan kelakuanku tadi pagi." Anastasya menatap Kevin dan Kimberly secara bergantian. Kimberly mengangguk pelan sementara Kevin hanya diam. Anastasya kemudian menatap Stella lalu memegang kedua tangan adiknya.
"Aku juga ingin meminta maaf kepadamu sis. Aku tidak tau akan menjadi seperti itu. Aku terlalu syok hingga tidak tau apa yang harus aku lakukan."
Stella mengangguk lalu mengucapkan kalau Ia tidak apa-apa. Stella mempercayai kalimat yang dilontarkan oleh Anastasya. Mungkin saja kakaknya memang syok dengan apa yang terjadi. Mengingat kakaknya tidak terlalu baik dalam memahami situasi.
"Jadi aku ingin memberitahu suatu hal sebelum kitamemulai makan malam ini." Anastasya menjeda lalu melihat semua orang yang berada disana satu persatu.
"Aku sudah mempunyai seorang kekasih."
Kevin dan Kimberly terdiam sementara anak-anak mereka saling mengucapkan selamat kepada kakak tertuanya. Kevin dan Kimberly tatap-tatapan seolah memiliki pemikiran yang sama. Kimberly tersenyum melihat Anastasya sementara Kevin menatap Anastasya dengan tajam.
***
Selesai makan malam, Kimberly sedang bermain dengan Arianna dan Brianna sementara Kevin berbicara berdua dengan Anastasya untuk yang kedua kalinya. Kevin dan Anastasya duduk di satu sofa.
"Siapa nama kekasihmu?"tanya Kevin tanpa banyak basa-basi.
Anastasya tersenyum kecut. "Nanti aku akan mengenalkannya kepada kalian. Dia masih belum mau bertemu dengan kalian."
"Daddy tidak tau permainan licik apa yang sedang kau mainkan. Tapi ingat saja satu hal Anastasya. Daddy tidak akan diam saja kalau adikmu sampai terluka."
Anastasya meminum gelas yang berada di atas meja lalu terkekeh kecil. "Daddy? Ternyata kau masih menganggapku sebagai anakmu? Tidak perlu jika untuk formalitas. Kalau kau tidak mau menganggapku sebagai anak tidak apa-apa. Toh aku tidak menganggap Stella sebagai adikku. Kita lihat saja kedepannya, Dad." Anastasya kemudian keluar dari ruang kerja Kevin.
Ia sudah lelah sehingga memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Untungnya masih ada pakaian tidur yang jarang Ia pakai tersimpan di lemari itu sehingga Ia bisa menggunakannya untuk tidur.
Kevin yang ditinggal hanya bisa menghela napas kasar. Perhatiannya teralhikan karena deringan handphonenya. Ia melihat sekretarisnya meneleponnya. Tanpa menunggu lama, Kevin langsung mengangkatnya.
"Sir, besok kita harus pergi ke luar kota untuk dua hari. Ada pekerjaan mendadak di Los Angeles."