
Kevin dan Michael dapat mendarat dengan selamat di bandara. Mereka beserta penumpang lainnya sedang berada di ruang tunggu untuk menanti penjelasan dari penerbangan mereka yang tertunda. Kevin sudah meminta Jim untuk mengabari partner kerjasama mereka yang berada di Los Angeles kalau mereka akan telat atau bahkan membatalkan pertemuan mereka.
"Apa yang kau lakukan? Bisa-bisanya kau bercanda di situasi seperti ini." Kevin menatap Michael yang sedang bercanda dengan Jim. Bisa dilihat ekspresi Jim hanya bisa tersenyum paksa.
"Oh ayolah, kita tidak kenapa-napa dan masih hidup dengan anggota tubuh lengkap tanpa luka segorespun. Jadi kenapa harus panik? Santai saja, Vin." Michael terkekeh pelan sambil menepuk pundak Jim dengan keras.
Kevin mengabaikan sahabatnya lalu menelepon Stella supaya datang ke bandara menggunakan taksi. Stella berkata Ia akan datang bersama Trevor nantinya sehingga Trevor akan memberikan tumpangan.
***
"Trev, kenapa daddy memintaku untuk datang ke bandara? Seharusnya daddy masih berada diatas awan. Semoga saja Ia baik-baik saja. Aku tidak ingin dia terluka." Nada suara Stella memelan dibagian akhir kalimatnya. Ia memegang tangan Trevor lalu menggenggamnya.
"Mungkin saja penerbangannya dibatalkan atau ada hal darurat yang membuat pesawat itu terpaksa kembali ke bandara." Trevor mengeratkan genggamannya. Ia sesekali mencium pergelangan tangan Stella hingga kekasihnya menarik tangannya karena tidak ingin membuat Trevor menjadi tidak fokus.
"Trev."
"Hm?"
"Kenapa saat di rumah, Ana menatapmu dengan tatapan yang sulit dijelaskan? Begitu juga dengan cara kau menatap dirinya. Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Stella menatap Trevor yang tiba-tiba terdiam. Stella yang melihat perubahan wajah Trevor ikut menjadi tegang. Suasana di mobil menjadi sangat tidak nyaman.
"Kita hanya jarang bertemu. Oleh sebab itu kita sedikit canggung."
"Tapi kau sangat sering bertemu dengannya. Kita bahkan makan malam bersama beberapa kali. Trev, jujur saja. Alasanmu sangat tidak masuk akal."
Trevor hanya bisa tersenyum tanpa bisa menjawab ucapan Stella. Tidak mungkin Trevor terang-terangan mengatakan bahwa Ia dan Anastasya sudah pernah tidur bersama apalagi Trevor dan Stella tidak pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman. Trevor tidak ingin merusak Stella. Gadis itu terlalu berharga untuknya. Walaupun sekarang Trevor sangat cemas karena takut kalau Anastasya hamil karena kegiatan mereka yang tidak memakai pengaman.
"Trev? Kenapa kau diam saja?"
"It's okay, Stella. I love you."
Stella tersenyum dan hanya mengangguk saja. Mobil menjadi hening sepanjang perjalanan. Bandara masih jauh sekitar satu setengah jam lagi baru sampai. Trevor tidak tahan jika harus berada di situasi canggung seperti ini. Stella juga hanya menatap jalanan padahal biasanya Ia memainkan handphonenya sambil beberapa kali memotret Trevor ataupun jalanan.
***
"Bagaimana?"
Anastasya berdecak kesal melihat Raven yang datang ke rumahnya langsung menanyakan hal itu. Bukan hanya dia yang mau rencana mereka cepat dan berhasil. Lagipula jika mereka membicarakannya disini kemungkinan besar mereka akan ketahuan.
"Jangan membicarakannya disini. Adik-adikku ada dirumah. Bagaimana jika mereka dengar hal ini?"
Lihatlah. Baru saja Anastasya membicarakannya dan Arthur muncul dengan gelas yang berada di tangannya. Matanya menatap tajam kearah mereka berdua. Benar-benar mirip dengan ayahnya. Anastasya memaksakan sebuah senyuman sementara Raven hanya tersenyum tipis sambil membalas tatapan Arthur dengan tatapan yang meremehkan.
"Ini urusan orang dewasa dan kau masih anak kecil. Jadi pergilah bocah, jangan ikut campur masalah aku dan kakakmu."
"Baiklah. Tapi aku hanya ingin memberitahukan satu hal. Karena perbedaan umur yang jauh bukan berarti kau lebih dewasa daripada aku. Sis, I know something is wrong and I will find out." Arthur melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang dibuatnya emosi. Arthur melirik kebelakang dan tersenyum tipis. Jangan pernah memanggilnya anak kecil hanya mommynya yang boleh memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Aku akan memberikannya pelajaran." Raven mengepalkan tangannya sambil berjalan mengikuti Arthur. Anastasya dengan sigap melarangnya karena itu akan menjadi masalah besar apalagi ada Kimberly disini.
"Ana, aku mau tau kenapa kau suka dengan Trevor." Raven menatap Anastasya. Ia selalu ingin menanyakan hal ini tetapi Ia selalu lupa. Trevor hanyalah murid biasa yang ketampanannya bahkan tidak melebihi teman-teman Anastasya secara wanita itu model.
"Aku hanya ingin memilikinya. Entah kenapa aku sudah sangat tertarik begitu pertama kali melihatnya. Bagaimana denganmu? Kenapa kau ingin sekali dengan Stella?"
"Adikmu sangat polos dan wajahnya sangat lugu. Dia lucu. Jujur, aku sedikit merasa bersalah karena sudah memisahkannya dengan Trevor tapi..." Raven diam dan tidak ingin melanjutkan ucapannya. Ia tidak bisa bilang begitu saja kalau Trevor selalu main dibelakang. Apalagi Stella yang tidak mungkin diajak berhubungan intim.
"Tapi apa?"
"Aku lupa apa yang ingin aku bicarakan." Raven berucap santai lalu pergi keluar dari rumah Anastasya. Dia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan.
"Goodbye, Ana."
"Bye."
Setelah Anastasya menutup pintunya, Kimberly baru selesai dari dapur dan Ia baru menyadari kalau tadi ada tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Kimberly hanya melihat sekilas wajah remaja tersebut. Mungkin saja itu adalah kekasih Anastasya.
"Mom?"
"Kenapa dia pulang begitu cepat? Kalian bisa mengobrol di kamar. Aku tidak akan mengganggu kalian."
"Dia sibuk, mom. Urusan kami juga sudah selesai jadi tidak ada yang perlu diucapkan lagi,"ucap Anastasya lalu pergi begitu saja meninggalkan Kimberly.
"Dasar."
**********************
**UPDATE🔥🔥🔥
Ada yang mau disampaikan kepada karakternya? Hujatan dan kritikan diterima😂😂😂**