Love And Pain

Love And Pain
2



"Tenang saja, Raven tidak akan berani berbuat yabg aneh-aneh terhadapmu. Sudah cukup Ia membuatku kehilangan Amanda. Aku tidak mau kehilanganmu juga,"ucap Trevor. Mereka sedang dalam perjalanan menuju mall.


"Aku tahu. Aku hanya tidak nyaman karena Ia terus menerus menggangguku. Ia juga bilang kalau kau tidak baik. Tentu saja aku tidak percaya dengan kata-katanya."


"Sudahlah, kita sebentar lagi akan sampai."


Stella tersenyum lalu mencium pipi Trevor singkat. Ia kemudian memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Trevor tersenyum lalu mencium balik kekasihnya.


"Sudah, kau harus fokus,"ucap Stella. Trevor terkekeh pelan lalu kembali fokus menyetir.


...***...


"Kau ingin makan siang terlebih dahulu atau kita pergi bermain? Kemarin kau bilang ingin bermain bola basket bukan?"tanya Trevor.


"Ya, tapi sepertinya kita akan makan terlebih dahulu supaya kita punya energi untuk nanti,"ucap Stella. Ia kemudian melihat dua orang yang berada di depannya dan Ia langsung menghampiri kedua orang itu. "Hi, Al. Sedang apa kau disini? Kau bersama uncle dan aunty?"


Aldrich yang melihat Stella kemudian tersenyum. "Aku sedang berdua dengan adik jelekku. Ia terus memaksaku untuk membelikannya mainan."


"Siapa yang kau bilang adik jelek? Dasar kakak menyebalkan. Aku bingung kenapa kau bisa jadi kakakku."


"Aku juga bingung kenapa kau yang harus menjadi adikku." Aldrich yang melihat keberadaan Trevor langsung melambaikan tangannya. "Kau sedang berkencan? Maafkan aku yang tidak tahu. Sampai jumpa Stella. Oh ya, Ana ada disini sebaiknya kau hindari saja dia." Setelah mengatakan hal tadi, Aldrich melangkah pergi meninggalkan Stella dan Trevor.


"Kau sudah selesai berbicara dengannya?"tanya Trevor.


Stella mengangguk. "Ayo kita pergi makan terlebih dahulu. Kita akan pergi ke tempat biasa."


Saat mereka sudah sampai di depan restoran, Stella melihat keberadaan kakaknya dan langsung memanggilnya. Awalnya Anastasya pura-pura tidak melihatnya tetapi saat Ia melihat ada Trevor, Anastasya langsung mendatangi mereka.


"Hai, Stella. Bolehkah aku bergabung? Jika tidak boleh tidak apa. Aku juga akan pergi dari sini,"ucap Anastasya. Ia tersenyum tipis karena mengetahui sifat adiknya yang terlalu baik jadi tidak mungkin menolak permintaannya.


"Tentu saja kau boleh ikut kalau Trevor membolehkan."


Anastasya dan Stella menatap Trevor. Trevor yang ditatap hanya menghela napas kemudian mengangguk. Ia tidak enak jika menolak permintaan Anastasya walaupun sebenarnya Ia ingin berduaan saja dengan Stella.


Mereka bertiga berjalan ke meja yang kosong. Stella meminta menu untuk mereka bertiga. Seorang pelayan datang dan membawakan 3 buah buku menu. Anastasya yang tidak lapar hanya memesan salad dan air mineral.


"Kau hanya memesan itu? Nanti daddy akan marah jika mengetahui kau hanya makan salad."


"Kalau begitu jangan kasih tahu daddy."


Stella mengangguk lalu menyebutkan pesanannya bersamaan dengan Trevor. Anastasya kembali mengajak bicara Trevor. Namun Trevor mengabaikannya dan berbicara dengan Stella.


"Aku tidak sabar untuk bermain."


"Aku juga tidak sabar. Kita lihat nanti siapa yang lebih hebat."


Stella dan Trevor kembali bercerita dan bercanda. Anastasya mendengus kasar karena keberadaannya diabaikan. Anastasya kemudian mengirim pesan kepada seseorang untuk menjemputnya.


"Bagaimana bisa?"


...***...


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Mungkin mereka kenal karena pekerjaan mereka,"ucap Trevor. Ia kemudian memberikan koin untuk bisa memulai permainan basket. Stella tersenyum lalu menerima koin itu. Ia memasukkan koin kedalam mesin dan permainan dimulai. Mereka memainkan satu permainan di dua mesin yang berbeda.


"Kita lihat saja. Aku yang akan memenangkan permainan ini."


Stella dan Trevor berlomba-lomba untuk memasukkan bola basket kedalam ring. Awalnya poin mereka sama hingga di detik-detik terakhir Stella berhasil memasukkan bola hingga poinnya lebih unggul dibanding Trevor.


"Lihatlah, aku yang menang. Sudah kubilang aku akan menang. Aku sudah latihan berhari-hari di rumah hingga tanganku pegal."


Trevor mencubit hidung Stella pelan. "Pantas saja. Kau sangat licik ternyata."


"Aku hanya berlatih."


Trevor terkekeh lalu membawa Stella untuk bermain dengan permainan yang lain. Mereka juga kembali berlomba di beberapa permainan. Saat koin mereka sudah hampir habis, mereka memutuskan untuk menghabiskan koin mereka untuk mengumpulkan karcis hingga bisa ditukarkan dengan barang.


"Biarkan aku yang menekan tombolnya,"pinta Stella.


"Baiklah, semoga kau mendapat jackpot."


Stella kemudian menunggu saat yang tepat hingga akhirnya menekan tombolnya. Sebuah bola jatuh tepat kebagian jackpot.


"Kita mendapatkan banyak karcis. Ayo kita tukarkan sekarang,"ucap Stella. Ia mengambil semua karcisnya lalu berjalan cepat ke bagian penukaran tiket. Trevor berjalan di belakang Stella sambil tersenyum.


"Apakah aku bisa mendapatkan dua boneka beruang yang itu?"tanya Stella sambil menunjuk boneka yang berada di rak.


"Tentu saja, biar aku ambilkan."


Sang pegawai kemudian mengambilkan dua boneka beruang yang diminta oleh Stella lalu memberikannya.


"Terima kasih."


Stella kemudian pergi kearah Trevor yang menunggunya lalu memberikan satu boneka. Trevor menerima bonekanya lalu cemberut.


"Ada apa? Kau tidak suka?"


"Aku suka. Hanya saja menurutku bonekanya lebih lucu daripada aku."


"Tenang saja, kau akan selalu menjadi nomor satu bagiku."


Trevor tersenyum lalu mencium bibir Stella secara cepat. Stella tidak protes dan hanya memukul dada Trevor pelan.


"I love you, Stella."