Love And Pain

Love And Pain
3



"Mom... Dad, aku pulang."


Stella kemudian menutup pintu rumah dan berjalan menuju ruang makan. Ia melihat keluarganya sedang bersiap makan malam. Sepertinya mereka semua menunggu kehadirannya.


"Akhirnya kau pulang. Daddy sudah menunggu kepulanganmu,"ucap Kevin. Ia tersenyum dan menghampiri Stella lalu memeluknya. Kevin membawa Stella menuju kursinya. Setelah anaknya duduk barulah Ia kembali duduk di tempatnya.


Setelah Stella duduk, mereka mulai berdoa sebelum makan. Keadaan menjadi hening sesaat sebelum akhirnya menjadi ramai kembali.


"Dad, tadi Ari memukulku."


"No, dad. Brianna berbohong. Aku tidak memukulnya. Dia yang memukulku."


Kevin menatap kearah anak kembarnya. Membiarkan mereka menyelesaikan adu mulut mereka. Pertengkaran yang selalu saja terjadi setiap hari dan diakhiri oleh tangisan salah satu dari mereka.


"Aku bertaruh seratus dolar kalau Bri yang memukul Ari,"bisik Arthur kepada Stella dan Anastasya. Mereka bertiga tersenyum tipis dan mulai bertaruh.


"dua ratus dollar. Arianna yang memukul Brianna." Stella tersenyum mendengar taruhan Anastasya. Ia kemudian mengeluarkan uang 300 dollar dan menaruhnya diatas meja.


"tiga ratus dollar. Brianna yang memulai duluan."


"Saat adik-adik kalian bertengkar yang kalian lakukan malah bertaruh?"tanya Kevin. Mereka bertiga serempak mengangguk sambil tersenyum.


"Tidak ada salahnya. Lebih baik daddy memisahkan mereka berdua,"ucap Arthur. Kevin menghela napas dan mencoba memisahkan anak kembarnya.


"Arianna... Brianna, kalau kalian tidak berhenti maka jatah snack kalian akan mommy potong,"ucap Kimberly sambil menatap tajam Arianna dan Brianna. Mereka yang mendengar ancaman Kimberly langsung terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Siapa yang memukul duluan?"tanya Kimberly. Arianna dan Brianna tetap saling menunjuk. Kevin mengangkat sebelah alisnya. Stella dan Arthur mati-matian menahan tawa mereka supaya tidak keluar.


"Ari, kau yang memulai duluan bukan?"tanya Anastasya. Arianna menggeleng dengan cepat sedangkan Brianna mengangguk. "Sudahlah, jujur saja. Aku melihat kalian tadi."lanjut Anastasya.


"Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?"tanya Kevin. Anastasya terkekeh pelan. Ia suka melihat pertengkaran adik kembarnya yang selalu saja terjadi.


"Itu bukan salahku. Bri yang mengejekku duluan. Ia bilang kalau aku jelek."


"Sudah, anak daddy tidak ada yang jelek. Lain kali kalau kalian diejek kasih tau daddy. Jangan langsung pukul." Ucap Kevin.


...***...


"Sis, apa aku membuat kesalahan?"tanya Stella. Anastasya melirik sekilas lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau terlihat marah padaku?"


"Aku tidak marah."


"Lalu?"


"Benci."


Stella terdiam mendengar penuturan Anastasya. Benci? Mengapa Ia benci kepadanya? Apa salahnya? Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Stella sekarang. Ia menatap Anastasya dengan tatapan tidak percaya. Anastasya yang ditatap hanya cuek.


"Kenapa kau benci padaku?"


Bukannya menjawab, Anastasya melempar kain lapnya dan pergi begitu saja. Membiarkan Stella yang membersihkan semuanya sendirian. Toh, tinggal mengelap meja. Itu bukan perkejaan yang sulit.


Stella menatap sendu kepergian kakaknya. Ia melanjutkan mengelap meja sambil menelepon Trevor.


"Kau merindukanku?"tanya Trevor. Stella yang mendengar suara kekasihnya tidak bisa tersenyum. Ia masih memikirkan ucapan Anastasya.


"Ya, kau mau temani aku malam ini? Aku tidak ada kegiatan,"jawab Stella. Terdengar kekehan Trevor dari speaker Handphone. Stella yang sudah menyelesaikan pekerjaannya memilih untuk pergi ke kamar.


Di kamar, Stella bercanda ria dengan Trevor. Anastasya diam-diam menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecemburuan.


"Sis, sedang apa kau disana?"tanya Arthur. Anastasya menggeleng sambil tersenyum. Ia lalu pergi meninggalkan Arthur.


Anastasya pergi ke taman. Ia memandang bintang-bintang di langit. Ia duduk di kursi taman sambil menggendong Molly. Ia menghela napas pelan dan mengelus bulu Molly. Ia tahu yang Ia lakukan itu salah. Tapi cinta harus diperjuangkan bukan?


"Molly, apa yang harus aku lakukan?"tanya Anastasya.


Ditengah kesunyian malam, Handphone Anastasya berdering. Ia melihat ada pesan masuk dari seseorang. Ia membuka pesan itu lalu membacanya. Karena merasa pesan tadi tidak penting, Anastasya mengabaikan pesan tersebut dan kembali merenung.


"Ah, sudahlah. Aku masih punya Raven bukan? Ia sahabat baikku,"ucap Anastasya. Ia membuka Instagram di Handphonenya dan melihat sebuah berita mengenai skandal terbaru dari seorang model. Karena penasaran, Ia membaca dengan teliti berita tersebut dan mendapatkan sebuah ide. Ide yang Ia pikir bisa membuat Trevor menjadi miliknya. Ide yang Ia pikir akan sangat berhasil. Ide yang tanpa Ia ketahui akan merusak segalanya.


"Molly, ini akan menjadi sangat menarik. Aku tidak sabar melakukan ini padanya."