
"Ana, mommy mau bicara. Tolong buka pintunya. Mommy tidak akan marah kepadamu,"ucap Kimberly. Sesaat setelah Ia mengatakan itu, pintu langsung dibuka oleh Anastasya. Terlihat mukanya merah dan matanya sembab karena menangis. Kim kemudian duduk di kasur Anastasya dan Anastasya duduk disebelahnya.
"Jujur sama mommy. Kau suka Trevor?" Anastasya kemudian mengangguk sebagai jawaban. Kimberly menghela napas pelan lalu mengusap rambut anaknya.
"Kau tahu itu salah bukan? Ikhlaskan Trevor saja untuk adikmu. Masih banyak pria lain di dunia."
"Tapi aku mencintainya."
"Sudah daddy bilang bukan? Hilangkan rasa cinta itu. Daddy tidak mau adikmu menjadi korban keegoisan kakaknya,"ucap Kevin yang tiba-tiba masuk ke kamar Anastasya.
"Kenapa kau tidak bekerja?"
"Aku tidak mood untuk bekerja. Kau tahu sendiri. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanku. Jadi lebih baik kita bicarakan hal ini,"ucap Kevin. Ia kemudian menarik kursi dan duduk di depan Kimberly dan Anastasya.
"Dad, aku mencintainya."
"Pilihanmu hanya ada dua, Ana. Menyerah atau menghancurkan adikmu dan daddy tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi,"ucap Kevin dengan tatapan tajamnya.
"Vin, kau bisa bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini. Kau terlalu keras padanya."
Kevin hanya diam dan terus melihat Anastasya. Menunggu sebuah jawaban keluar dari anaknya. Anastasya kemudian tertawa pelan yang membuat Kevin semakin marah. Tanpa ditanya, Ia juga sudah tahu jawaban anaknya.
"Daddy kira semudah itu untuk melepaskannya? DADDY TIDAK PERNAH MERASAKAN APA YANG KURASAKAN SEKARANG. BAGAIMANA JIKA SEANDAINYA MOMMY SUDAH PUNYA LELAKI LAIN?"teriak Anastasya tepat dihadapan Kevin. Kevin terdiam sambil berusaha untuk menahan amarahnya.
Anastasya kemudian tersenyum sambil menatap kedua orang tuanya. "Aku tidak akan menyerah daddy. Tidak akan. Daddy tidak pernah menyayangiku seperti daddy menyayangi anak daddy yang lainnya. Apa karena aku bukan anak daddy?"
"Kalau begitu lebih baik daddy dari awal tidak merawatmu. Tapi kenyataannya berbeda bukan? Daddy menyayangimu seperti saudaramu yang lain. Daddy tidak akan pernah membenarkan tindakanmu itu. Jadi lebih baik kau pikirkan ulang daripada menyesal seumur hidup."
Kimberly kemudian keluar untuk mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering. Setelah selesai menelepon, Kimberly masuk kembali ke dalam kamar Anastasya.
"Vin, twins sudah pulang. Jaga emosimu."ucap Kimberly. Kemudian Ia menatap Anastasya. "Kau juga, Ana. Pikirkan kembali apa yang diucapkan oleh daddymu. Kita semua menyayangimu."
Setelah Kevin dan Kimberly keluar kamarnya, Anastasya langsung bangkit dari kasur dan berjalan kearah meja belajarnya. Ia kemudian membuka laci meja yang terletak paling bawah. Laci itu berisi semua foto Trevor yang Ia kumpulkan secara diam-diam. Anastasya mengambil satu foto secara acak lalu menciumnya.
"Aku tidak akan menyerah. Tunggu saja."
...***...
"Ada apa Stella? Kenapa kau murung begitu? Kau ada masalah dengan Trevor?"tanya Wendy, sahabat Stella. Stella menggeleng lesu. Ia teringat dengan sikap kakaknya pagi ini.
"Apa ini karena Ana lagi? Sudah kubilang, Ia menyukai Trevor."
"Tidak mungkin. Ia sepertinya marah kepadaku karena urusan lain. Tapi aku tidak tahu apa. Aku yakin dia tidak sejahat itu hanya karena Trevor. Lagipula sebentar lagi ujian akhir, mungkin dia hanya stress."
Wendy kemudian hanya menghela napasnya. Stella terlalu dimanja sejak kecil sehingga mengira semua orang itu baik kepadanya. Tapi setidaknya Ia tahu kalau ada satu orang yang Ia benci dan sekarang orang itu tepat berada dihadapan mereka.
"Hi, Stella. Kau mau jalan denganku? Aku tahu kau sudah punya kekasih. Tapi tenang saja, Ia tidak akan tahu selama kau diam,"ucap Raven sambil menghentikan langkah Stella dan juga Wendy. Mereka yang ingin ke kelas terpaksa berhenti. Stella sudah berdecak kesal tetapi diabaikan oleh Raven. Raven kemudian menyentuh wajah Stella lalu membelainya. Stella seketika menghindar lalu menampar Raven dengan keras.
"Jangan sentuh aku dan jangan ganggu aku lagi,"ucap Stella. Ia kemudian menarik Wendy untuk pergi dari sana.
Raven hanya tersenyum sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan. "Jangan kau kira kalau Trevor sebaik itu."
Stella mengabaikan ucapan Raven dan terus berjalan. Ia tidak boleh terpengaruh oleh pria itu. Trevor sudah sangat baik kepadanya dan Ia tidak mau mengkhianati kepercayaannya.
"Kau berani juga menamparnya. Kalau aku jadi kamu, mending aku langsung lari dan mengadu kepada Trevor."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi."
Wendy melihat Handphone Stella yang berada di kantong bajunya dan langsung mengambil handphone itu. Stella ingin mengambil balik Handphonenya namun tidak bisa. Wendy kemudian membuka Handphone Stella dan menelepon seseorang. Kemudian, Ia mengembalikan Handphonenya disaat yang ditelepon sudah mengangkat teleponnya.
"Kenapa Stella? Raven mengganggumu?"
Stella yang ingin memarahi Wendy langsung terdiam. Ia kemudian melihat nama yang ditelepon dan ternyata itu Trevor. Ia kemudian melihat kembali ke Wendy yang ternyata sudah meninggalkannya.
"Stella? Kau disana?"
"Ya aku disini. Raven menggangguku seperti biasa,"ucap Stella. Stella kemudian menceritakan semuanya kepada Trevor.
"Baiklah, saat kau pulang sekolah kita akan pergi jalan saja. Anggap saja ini kencan."
"Baiklah. Akan kumatikan teleponnya."
Stella kemudian mematikan teleponnya lalu mengejar Wendy yang sudah sampai di kelas. Stella melihat Wendy yang sedang tersenyum kearahnya.
"Bagaimana? Apa suasana hatimu membaik?"tanya Wendy. Stella mengangguk sebagai jawaban. Wendy terkekeh lalu mulai meminta Stella untuk menceritakan reaksi Trevor sambil menunggu kelas dimulai.
********************************************
Auristella Giselle O'Leary
Anastasya O'Leary
Wendy Rones
Albert Raven Uzkiel