LORD NESIA

LORD NESIA
Sesuatu Yang Belum Bisa Diungkap(2)



"Hoamm,  aku lelah sekali." Ethan sesekali menguap kala bekerja.


"Dimanapun kau ini memang selalu lelah." Ucap Cale yang sedang mengelap meja.


Hari sudah malam lebih tepatnya pukul 9 malam dihari Sabtu malam minggu, dimana orang-orang lebih banyak berkeluyuran dibanding hari-hari biasanya dikarenakan sebagian rutinitas pekerjaan atau sebagainya biasa dihentikan pada hari pekan. Jalanan depan cafe ramai dipenuhi orang-orang, beberapa pelanggan juga masih stay dicafe bersama dengan teman mereka atau pasangan mereka.


"Tumben Sebastian tidak kemari pada malam ini." Ucap Ethan.


"Ohoo Kangen yak sama papah?" Cale iseng menggodanya dengan raut wajah menjengkelkan.


"MANA ADA!!"


"Halo Pak?" Cale mengambil ponselnya dan segera menempelkannya ke telinga pura pura.


Bletak


Sepatu melayang tepat mengenai wajah Cale kalau dia tidak segera memiringkan kepalanya yang mungkin akhirnya akan menghantam wajah dan hidungnya yang mancung.


"Mau rusak mukaku hah?! Mana sepatunya kotor lagi!" Cale dan Ethan mulai berteriak memulai bibit kegaduhan dalam cafe yang membuat beberapa orang melirik mereka.


"Oh kurang kotor? Sini sini tak tambahin lagi." Ethan memasang mimik Cabul dan segera mendekati Cale yang membuatnya merasa ngeri lalu buru-buru bersembunyi dibalik punggung besar Satria. Mereka tak berhenti-berhentinya bermain didepan dan belakang tubuh Bartender Satria, membuat Satria kewalahan kala sedang membuat kopi karena ulah mereka berdua yang menyulitkannya.


"Kalian berdua diamlah!" Karena kesal Satria menarik telinga mereka berdua hingga mereka meringis.


"Yoyo aku kembali brader." Suara itu dari arah pintu masuk cafe Freefly.


"Oh Sebastian kau datang?" Falika menyambutnya didepan pintu.


"Tentu tentu aku datang apa ada yang rindu padaku?" Sebastian dengan percaya diri masuk dengan Ellvis yang berada dibelakangnya.


"Ethan tadi terus menanyakanmu kupikir dia rindu padamu." Dengan polosnya dia menuduh Ethan. Ethan yang namanya disebut sebut dengan cerita yang dilebih lebihkan membantah.


"Hei! Jangan mengarang yang tidak-tidak bodoh!"


"Loh iya kan?" Wajah tanpa dosanya itu mencolok sekali hingga membuatnya muak bagi Ethan.


"Nanya sekali saja Hoi jangan nambah-nambahin ****!"


Boom!!


Suara itu keras sekali hingga memekakan semua orang yang berada di cafe, Mereka yang sedang didalam cafe melihat semua jalan raya yang dipenuhi dengan orang-orang yang berlarian kesana kemari sambil berteriak panik. Salah satu orang didalam memastikan keadaan diluar lalu memberitahu mereka yang berada didalam. Staff cafe berusaha menenangkan mereka yang didalam supaya tidak ikut panik seperti orang-orang yang diluar.


Boom!!


Prang!!


Beberapa orang mundur dan sempat ada yang terjatuh, Seekor kuda tak terkendali masuk kedalam cafe yang berhasil membuat orang-orang panik. Dia terlihat sangat marah dan bisa sewaktu waktu menerjang. Kuda itu melihat orang-orang yang ketakutan dan mulai menerjang salah satu orang yang berada disudut, untungnya orang tersebut menghindari serangan itu tepat waktu yang hasilnya kuda itu menabrak meja yang berada disudut hingga patah. Disisi lain para staff hanya termangu bukan karena takut akan kuda tersebut melainkan merasakan firasat dari reaksi Sebastian saat melihat salah satu meja dicafenya patah.


"Da-darimana kuda ini berasal?" Ucap Rangga yang tak kalah panik. Mereka seperti biasanya nongkrong disini pada malam akhir pekan.


Kuda coklat itu mulai siap menerjang kembali orang-orang yang berkumpul, namun beberapa orang-orang kembali menghindar dan kuda tersebut semakin marah karena tak mendapatkan mereka dan lagi lagi menabrak, kali ini yang ditabraknya adalah meja kedua dari depan meja yang sebelumnya ia patahkan. Mereka was was karena tidak segera bertindak melihat dari kepanikan dan dari kemarahan Sebastian yang kini mulai meninggi hingga atmosfer disekitar sangat membuat mereka tertekan.


"K-ku-KUDA SIALAN!!"  Kekesalannya tak dapat ditampung lagi, para staff merasa bulu kuduk mereka berdiri lalu semuanya buru-buru bersembunyi dibalik punggung Satria karena tidak ingin kena amukannya, kecuali Ellvis yang masih duduk diam damai dikursinya tanpa bergerak.


Sebastian menghela nafas dan mulai melangkah kearah kuda tersebut yang menambah kegelisahan para staff. Semua menelan saliva mereka saat memperhatikannya tak terkecuali kudanya yang memperlihatkan sikap permusuhan kepada Sebastian yang mendekat padanya.


Kakinya berhenti, wajahnya terlihat serius menatap mata kuda itu bersamaan. Semua orang tegang, gugup dan khawatir dengan apa yang akan dilakukan orang itu pada kudanya. Namun, kekhawatiran mereka tak perlu, alih alih dia menghajar kudanya dia malah tersenyum lalu mengusap kuda tersebut.


"Ehehehe." Dia tertawa saat mengusap kudanya meskipun mendapat tolakan mentah-mentah dari seekor kuda tapi dia tetap melakukannya tanpa menghilangkan tawanya.


"Nah ayo, aku akan mengantarmu menuju pintu keluar." Dia menuntun kuda tersebut menuju pintu keluar meskipun kuda itu terus memaksa agar Sebastian melepaskan tangannya dari ikatan, bukannya melepaskan ia malah menariknya semakin kencang yang hampir membunuh si kuda tanpa menghilangkan senyumannya didepan orang-orang yang menambah kengerian para staff. Kuda itu terus memberontak dari tarikan Sebastian yang membuatnya memasang wajah mengerikan.


"Kurasa daging kuda tidak terlalu buruk." Kuda ketakutan dan akhirnya memilih pasrah dan jinak, dia tidak mau berakhir menjadi makanan orang sinting ini.


"Untuk kali ini aku merasa kasihan terhadap kudanya." Ucap Ethan.


"Ya aku setuju." dibalas anggukan Cale, Lika, Satria, Rena dan Ellvis.


Saat dia keluar, Sebastian melihat sekitar jalan untuk menemukan pemilik kuda ini. Dia juga melihat bangunan dekat Cafenya terdapat api yang lumayan besar, dia tak tahu apa orang-orang sudah memanggil pemadam kebakaran atau belum, jadi dia berinisiatif menelepon untuk jaga-jaga semisal belum ada yang memanggil. Saat benda pipih itu menempel ditelinganya sesuatu melayang kearahnya dan menghantam kepalanya kalau dia tidak segera menunduk.


"Whoaa.. " mereka bertiga yang masih berada didalam takjub akan insting Sebastian yang tajam.


"Mungkin jika aku yang disana, kepalaku akan segera bocor ditempat." Ucap Ethan.


"Hohoho..Kau kan pendek, aku yakin benda itu akan lewat diatas kepalamu." Cale terus mengolok oloknya itu karena tinggi Ethan hanya sekitar 163 cm saja.


"BERISIK!!" Ellvis tiba tiba berdiri dari duduknya menarik perhatian mereka berdua.


"Mau kemana?" Kakinya berhenti kala seseorang bertanya. "Sebastian." Dia menjawab Tanpa melihat orangnya, dia menyusul Sebastian yang masih diluar.


"Siapa dia?" Ketiga remaja itu tidak pernah melihatnya dicafe apalagi dia sepertinya mempunyai hubungan dengan Sebastian sehingga cukup membuat mereka penasaran.


"Oh dia? Aku juga tidak tahu identitasnya tapi, sepertinya dia orang penting bagi Sebastian." Ucap Ethan.