
Setelah dua kali berkeliling didalam pasar yang sekarang agak lengang karena hari juga sudah siang, nenek dan pria itupun pulang selepas memebeli kebutuhan yang mereka butuhkan.
Didalam angkutan umum seperti halnya saat berangkat kepasar, pria itu terus memandangi kota dari balik jendela angkot tanpa mengalihkan fokusnya kepada hal lain. Didalam angkot pun, semua penumpang menatap mereka berdua terutama pria yang sedang melihat keluar jendela. Dari mulai ibu-ibu hingga ke anak anak yang menatapnya tanpa berkedip dan wajah yang tak percaya.
Tiba-tiba pria itu berbalik dan membuat ibu-ibu yang tadi memandanginya terkejut lalu salah tingkah. Akan tetapi bukan ibu-ibu yang ditatapnya, melainkan sebuah mobil hitam dibelakang angkot ini yang membuntutinya. Setelah menatapnya lumayan terlalu lama, suara nek Dirah masuk kedalam telinganya dan berbalik untuk melihat nenek yang menepuk punggung tangannya menyuruh untuk turun karena rumah sudah hampir dekat.
Rumah Nek Dirah terletak dipinggiran hutan lebat yang konon katanya terdapat berbagai hewan buas didalamnya yang siap menerkam jikalau bertemu dengan seseorang. Oleh rumor itulah hutan ini jarang didatangi oleh manusia kecuali Nek Dirah. Dan karena itu juga saat menaikki kendaraan umum atau angkot, mereka harus berjalan beberapa meter untuk memukan halte terdekat.
Sesampainya mereka didepan rumah nek Dirah, lelaki itu masuk sebentar lalu pergi keluar dan berdiri diam cukup lama dibawah pohon yang rindang agak jauh dari rumah Nek Dirah.
...----------------...
"Sebenernya kita mau kemana sih? " Ethan menggerutu karena sebastian malah memilih jalan yang melewati semak semak.
"Sshhttt! Kau tunggulah disini. "Sebastian memimpin didepan Ethan.
"Lalu kau mau kemana?" Dia curiga kalau Sebastian akan melakukan hal yang aneh.
"Aku ada urusan. "
"Urusan ditengah tengah hutan begini? "
"Sudahlah turuti saja. Nih!" Sebastian merogoh sakunya mencari dompet lalu memberi tiga kertas uang merah.
"Wooaa.." Mulut Ethan terbuka lebar oleh pemandangan yang indah dan berharga ditangan bosnya.
"Ingat yah, tidak boleh ngintip! "
"Iya iya cepatlah kembali. " Ethan melambai lambaikan tangannya kebawah dan keatas mengusir Sebastian agar segera menyingkir dan memberikan waktu pada Ethan dan uangnya.
Setelah meninggalkan Ethan dibawah pohon, Sebastian mencari keberadaannya lagi. Usahanya membuahkan hasil, tidak lama dia mencari dia menemui siluet seseorang. Semakin dekat dan dekat, semakin jelas seseorang yang memunggunginya tersebut.
Dia tepat berdiri dibelakangnya. Mendengar suara langkah yang mendekat lalu berhenti, pria itu berbalik untuk menemukan seseorang bersurai silver dan mata hitamnya yang dalam seperti danau. Dia tidak membuka suaranya dan hanya mengamati diam diam pria yang membuntutinya dari saat didalam pasar.
"Tuan, Akhirnya kau kembali." Sebastian berlutut dengan sangat hormat namun, kata-kata yang keluar dari mulut tuannya membuat Sebastian bingung.
"Kau siapa?"
"Tuan? " Sebastian mendongak menatap mata tuannya dari bawah.
"Aku tidak mengenalmu. "
'Apa? Dia tidak mengenaliku?'
"Tuan, apa kau benar-benar tidak mengenalku? Orang yang ditanya hanya menggeleng sebagai tanda jawaban.
'Apa dia lupa ingatan? Atau jangan jangan aku salah orang?! Tidak tidak! Aku yakin 100% dia benar tuanku '
"Ekhemm.. Baiklah biar aku memperkenalkan diri, aku adalah pelayan setiamu, namaku adalah Sebastian Louis Petra. Aku sudah bersamamu dari 50 tahun sebelum perang besar Skyden."
Kepalanya berdenyut saat sebastian mengucapkan kata-kata tersebut.
Melihat tuannya memegang kepala saat dia selesai berbicara, dan mengatakan Skyden dia sudah curiga.
'Sepertinya dia memang lupa ingatan. apakah kepalanya terbentur sesuatu atau suatu hal lain? Aku harus mencari tahunya, tapi utuk saat ini lebih baik dia bersamaku.'
Auranya tiba tiba berubah menjadi gelap dan cuaca pun mendadak mendung, pria yang disebutnya sebagai tuan menatap sinis kearahnya. Dia sudah tahu tabiat tuannya, kalau sudah seperti ini dia buru buru menenangkannya sebelum badai terjadi.
"Aku tidak berbohong padamu, yang aku katakan adalah kebenaran, jika aku berbohong maka kau boleh mengambil kepalaku sebagai gantinya." Rasanya canggung saat Sebastian berbicara dengan tuannya disaat dia lupa ingatan seperti ini.
Awan gelap berangsur angsur menghilang dan mulai menampakkan langit yang cerah, aura disekitarnya juga sudah mulai mereda. Sebastian tahu kalau tuannya bisa mendeteksi kebohongan, jadi saat dia mengatakan hal seperti itu dia memang tidak berbohong sehingga dia selamat dari mautnya. Tuannya adalah tipe yang tidak suka dibohongi ataupun ditipu.
"Kau.. tahu identitasku?" Pria itu menatapnya dengan seksama sambil menyelidik.
"Tentu, aku tahu dirimu. Dimana kau tinggal sebelumnya, sesuatu yang kau sukai, ataupun orang orang yang berada disekitarmu dulu. Aku berjanji, jika aku berbohong padamu, anda bisa membunuhku kapanpun dan aku tidak akan melawan." Sebastian merasa senang saat masih punya kesempatan untuk berbicara.
Untuk sesaat pria itu mendeteksi kebohongannya namun tidak terdeteksi atau yang berarti dia mengatakannya dengan jujur dan dia akhirnya sedikit mempercayai Sebastian. Lagipula tidak ada gunanya berbohong padanya, jikalaupun ternyata dia berbohong, tuannya bisa saja membunuhnya dalam sekejap.
"Kau telah lama hilang selama 760 tahun. Zaman sudah berubah dan dirimu kembali dengan keadaan lupa ingatan, akan lebih baik untuk saat ini kau tinggal bersamaku."
Dia tidak menanggapi tapi berbalik lalu berjalan kembali kerumah dengan kode tangan yang menyuruh Sebastian ikut dengannya. Sebastian pun ikut dibelakangnya dengan senang hati hingga melupakan Ethan yang ditinggal dibawah pohon rindang.
"Ini kok lama yah?" Ethan mulai bosan. Dia merogoh sakunya mencari ponselnya untuk menelpon Sebastian karena lama sekali.
Drrtt drrtt
Ponsel Sebastian bergetar disaku celananya lalu dia meminta izin pada tuannya untuk berhenti sebentar karena ada yang menelepon. Tuannya hanya menurut dan berhenti, dia tak paham apa arti menelepon tapi dia juga tidak bertanya dan diam saja sementara Sebastian mengeluarkan benda pipih dari sakunya lalu menempelkannya ditelinga.
"Ya halo?"
"Bang! Dimana lah kau ini lama sekali!" Suara dari sebrang bernada tinggi hingga Sebastian menjauhkan ponselnya.
"Oh Ethan? Aku lupa kau masih disana hehehe. Kau pulang saja duluan."
"Hah?! Seenak jidat kau tinggal pulang, memangnya kau sedang apa sampai begitu lamanya."
"Kau tidak usah tahu mending kau pulang duluan saja, kemungkinan aku masih lama disini. "
"Tidak mau! Kecuali..." Suaranya berhenti tapi Sebastian paham apa yang ada dipikirannya hingga dia menghela nafas panjang.
"Iya iya paham, dasar mata duitan!"
"Nah dari tadi kek." suara terputus dan dia beralih menatap pria yang duduk di salah satu batu terdekat dengan bosannya.
"Maafkan hambamu ini tuan karena membuatmu menunggu lama." Pria itu berdiri dan langsung pergi saja tanpa mengatakan apapun lagi. Sebastian cukup peka terhadap sifat seseorang hingga ia mengerti dan mengikuti pria itu hingga kesebuah rumah yang sudah reyot.