LORD NESIA

LORD NESIA
Terbangun



Jauh didalam gua dipegunungan yang tinggi, dinding gua bergetar hebat. Puing puing berjatuhan, dan seluruh tumbuhan di kawasan sekitar gua tumbang dikarenakan getaran yang hebat.


Didalam gua,terdapat peti yang terbuka menampakkan seorang lelaki terbaring didalamnya. Pakaian yang unik dan wajah putih pucat yang begitu indah orang akan berfikir bahwa dia sempurna. Mungkin jika dia berkeliaran dijalan, orang akan menganggap dia sedang syuting film dengan wig panjang dan pakaian sederhana dan nyaman seperti abad pertengahan eropa.


Perlahan bulu mata indah itu terbuka, menampilkan mata sayu berwarna merah yang haus akan darah, hidung mancung, rahang tegas, rambut hitamnya yang halus dan bentuk tubuh yang indah sangat menyenangkan untuk dipandang sekaligus bermanfaat untuk senam jantung setiap kali melihatnya.


Setelah menyesuaikan penglihatannya dengan sekitar, dia perlahan bangkit lalu memegang kepalanya yang diserang rasa sakit luar biasa.


"Arghh"


Setelah beberapa saat rasa sakit itu mereda, kemudian sosok lelaki itu turun dari tempat peti lalu meraba dinding dinding gua yang masih bergetar. Tepat, setelah tangan itu menyentuh dinding gua, barulah getaran itu berhenti. Dia terlihat bingung saat melihat sekitarnya, lalu dengan penasaran dia berjalan menyusuri gua hingga melihat cahaya diujung jalannya.


Saat dia keluar dari gua, mata merahnya disambut oleh beberapa pohon yang tumbang juga semilir angin yang berhembus menerpa wajah dan rambutnya, tumbuhan pun ikut menyambut sosok tersebut dengan anggun melambai lambai diterpa angin.


Disepanjang jalan dia sesekali melihat hewan berkeliaran, adapun yang sedang makan, minum air sungai, melompat kesana kemari, ataupun hewan yang sedang mengintai mangsanya, termasuk dia. Akan tetapi, setelah lelaki itu menatap seekor harimau yang sedang mengamatinya dibalik semak semak, harimau itu langsung pergi ketakutan menjauh darinya, mungkin ada predator lain disekitar yang juga mengintainya.


Dia menepi ditepi sungai untuk minum karna haus, tak jauh darinya seorang nenek terlihat kewalahan membawa kayu bakar dipunggung dan tangannya. Melihat hal tersebut lelaki itu menghampiri sang nenek lalu berhenti tepat didepannya menghadang jalan.


Nenek itu mendongak melihat pemuda tampan didepannya dengan mata sipitnya.


Tanpa pemberitahuan lagi, lelaki itu langsung mengambil kayu sang nenek dari punggungnya dan memakaikannya dipundak sendiri.


"Tidak usah nak biar nenek yang bawa saja." Nenek itu tidak enak oleh bantuan pemuda yang tiba tiba muncul di hadapannya ini.


Akan tetapi, lelaki itu menggelengkan kepalanya menolak memberikan keranjang kayu itu kembali kepada si nenek. Meski usia yang sudah senja, nenek itu tetap saja membawa hal hal yang berat dipunggungnya membuatnya tak tega untuk membiarkan nenek itu membawa kayu.


Akhirnya dengan tolakan keras lelaki itu yang tidak mau menyerahkannya kembali, nenek itu terpaksa menerima bantuannya meskipun merasa tidak enak.


"Baiklah, mungkin nenek akan merepotkanmu."


Lelaki itu tersenyum mendengar kata kata nenek itu. Senyumnya sangat menawan dengan dukungan wajah yang memadai, menambah kalimat 'orang yang hampir sempurna'.


Dijalan nenek itu bertanya padanya.


"Nak, apa kamu tersesat?" sang nenek menatap lelaki itu, wajahnya benar benar sempurna dengan rambut panjang hitam legamnya yang disinari oleh cahaya matahari dan mata merah yang tak pernah dilihat si nenek.


Lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lalu apa kamu ingat tempat asalmu?" kali ini dia hanya menggeleng.


"Siapa namamu?" Sejenak, Lelaki itu menoleh dan menatap Nenek. Dia terdiam tidak menjawab, membuat nenek Dirah tidak lagi bertanya, mungkin dia tidak mau memberi tahu namanya.


Setelah beberapa jam dia didalam hutan, sinar matahari kini berubah menjadi jingga menandakan akan datang malam hari dan dengan itu bertepatan dengan ia keluar dari hutan yang sangat lebat hingga menemui jalan raya menuju gedung gedung tinggi. Dan juga rumah nenek Dirah juga sudah terlihat dari sini itu tidak terlalu jauh mungkin hanya beberapa meter saja.


Rumahnya sedikit reyot yang sepertinya sudah lama ditempati dan sudah lama juga tidak mendapat renovasi yang layak. Saat memasuki rumahnya pun hanya beralas tanah ataupun karpet di sisi ruangan.


Lelaki itu melihat lihat sekitar seperti mencari sesuatu. Nenek Dirah yang mengerti maksdunya, membuka suara.


"Nenek tinggal sendirian disini. Anak nenek pergi bekerja dikota." Tepat setelah mendengar jawabannya dia mengangguk pelan.


"Duduklah dulu disitu, atau jika kamu ingin mandi, kamu tinggal lurus saja dari sini hingga bertemu dengan dapur dan pintu kayu. Kamar mandinya dibalik pintu kayu. Dan untuk bajunya, akan nenek pinjamkan baju anak nenek yang masih tersimpan." Nenek Dirah mengarahkannya dengan sangat baik hingga lelaki itu paham dan langsung pergi kedapur, lalu nenek Dirah menyiapkan bajunya.


Kamar mandinya pun sederhana hanya ada ember dan gayung. Jambannya pun menyatu dengan kamar mandinya. Dia tidak peduli dengan itu, dia hanya ingin mandi karena tidak nyaman.


Setelah beberapa saat selesai mandi, ia keluar dengan handuk yang menggantung dilehernya. Rambut panjangnya basah oleh air yang terus menetes kebawah, badannya juga sangat terlatih membuatnya sangat indah bak keluar dari lukisan.


Disatu sisi, nenek baru saja selesai memasak terlihat dari semangkuk sup bayam dan juga nasi.


"Oh kamu sudah selesai? Kalau begitu kita akan makan malam. Bajumu sudah nenek siapkan dikamar sebelah, pakai saja disana."


Angguk


Setelah selesai bersiap siap, nampaknya nenek sudah menyiapkan semuanya dari mulai piring, sendok, nasi, dan minumnnya sekalian.


"Duduklah." Pria itu menurut dan duduk. Karena tidak ada kursi dan meja makan, mereka duduk dan makan beralaskan karpet.


"Maaf ya nak, nenek hanya bisa menyediakan ini saja untuk malam ini." Nenek terlihat memaksakan senyumnya kali ini. Melihatnya, lelaki itu segera menggelengkan kepalanya tanda 'Tidak apa apa'


Mereka berdua makan dengan tenang, lalu selesai makan lelaki itu segera menunduk hormat sebagai tanda terima kasih. Piring yang mereka pakai, mereka cuci piring mereka sendiri, nenek Dirah sudah mengatakan padanya tidak usah mencuci biar dia yang akan mencucinya sendiri, namun lelaki itu bersikeras dia juga akan ikut mencuci. Oleh karenanya nek Dirah hanya mengikuti kamuannya saja.


"Nak apa kamu mau ikut kepasar besok? Nenek akan membeli kebutuhan disana dan siapa tahu kamu akan ingat sesuatu tentang asalmu. "


Setelah mengatakannya mata lelaki itu bersinar dengan gembira dia langsung segera mengangguk beberapa kali meng iyakan.


"Kalau begitu sekarang pergilah tidur,  ini sudah larut malam. Kamu pakai saja kamar anakku." Pria itu segera menunduk dengan dalam meng iyakan sekaligus berterima kasih.


'Polosnya. '