
"Pergilah, lebih baik kau tinggal bersamanya jika dia benar orang terdekatmu." Sebastian menceritakan segalanya tentang hubungannya dan tuannya, tentu saja ada cerita yang ia sembunyikan dan diberi sedikit bumbu kebohongan tapi tidak sepenuhnya bohong.
"Untukmu. Jika kau berani berbohong dan berbuat tidak tidak padanya maka, aku tidak akan mengampunimu. Walaupun aku mati arwahku akan selalu menggentayangimu, camkan itu!" Telunjuknya mengarah kepada wajah Sebastian.
"Percayakan saja pada saya."
"Lalu kalian akan pergi kapan?"
Mereka berdua memandang satu sama lain.
"Kemungkinan besok?"
Angguk
Nek Dirah tidak sepenuhnya percaya pada pria bersurai perak itu. Tapi, Bersyukur bahwa pria yang ditemuinya beberapa hari lalu di dalam hutan kini mempunyai seseorang untuk menjemputnya.
"Oh ya. Tadi nenek menerima surat dari anak nenek, lusa nanti dia akan pulang untuk menjemput nenek untuk tinggal bersamanya dikota."
Pria itu menatap Sebastian. Sebastian paham apa yang ingin dikatakan tuannya meskipun tidak berbicara.
"Tuanku bilang, dia akan tetap tinggal disini menunggu hingga anak anda datang menjemput." Pria itu mengangguk menyetujui kata-kata Sebastian.
"Baiklah. "
...----------------...
Dia tidak pulang ke kediamannya, dan malah pergi kekantor untuk mengurus dokumen dokumen yang masih tertunda akibat ulahnya. Setelah bertemu dengan dia, moodnya sedang dalam keadaan sangat baik.
"Pak kemana saja dirimu? Saya sudah menelepon anda berulang kali tapi tidak pernah anda angkat, anda tahu? dokumen di meja bapak sudah menumpuk dan harus segera di tanda tangani sesegera mungkin kare-"
"Iya iya aku tahu kok, akan segera ku tanda tangani." Baru saja dia memasuki kantor, dia sudah disambut omelan sekretarisnya yang cerewet.
Dia pergi keruangannya untuk mengurus dokumen dokumen yang menumpuk setinggi gunung. Tapi, begitu ia memasuki ruangan, semangatnya sedikit menurun karena orang merepotkan sedang duduk manis di kursinya.
"Yoo!" dia melambai pada Sebastian.
"Sedang apa kau disini?" Sebastian menatapnya dengan sengit.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat kinerjamu saja dikantor ternyata begini." dia melihat beberapa dokumen dengan tanda tangan masih kosong.
"Bukan urusanmu." Dia tak suka jika orang sinting didepannya ikut campur dalam urusannya.
"Bukan urusanku ya? " Dia berdiri dan beralih duduk diatas meja.
"Yah memang bukan urusanku sih."
"Jika sudah selesai cepatlah pergi dari sini."
"Aduh aduh jangan marah dong aku hanya bercanda."
"Aku tidak punya waktu mengobrol denganmu."
"Jahat sekali. " Dia merengut seperti anak kecil.
"Baiklah aku akan pergi tapi kau tidak lupa kan?" Pria itu berbisik ditelinga Sebastian, kata kata yang diucapkannya membuat Sebastian tersenyum miring mengejek.
"Yah yah terserah." pria pirang itu membuang bahunya
"Kau ini sejak kapan semangatmu kembali lagi? Yang aku tahu kau ini kehilangan semangat sejak tuanmu tiada. Se bas tian. "
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu." Jika Sebastian bertemu dengannya maka hanya akan timbul petikaian diantara keduanya.
"Oke aku pergi. Dah!" dia pergi dengan santai, ruangan yang beberapa detik yang lalu menegangkan kini mulai berangsur menurun.
"Apa kalian pikir aku bisa dikendalikan oleh kalian semudah itu?" Senyumannya mengembang dengan mengerikan.
////////////////////////////////////////
Suara bom dan teriakan tak lagi terdengar dimana mana, bangunan hancur setengah kota,mayat berserakan dimana mana, darah menggenang disepanjang jalan menandakan medan perang dan perang yang telah usai.
Ditengah lubang besar ditanah, Pria bersurai hitam dengan setengah mata darah dan putihnya yang kini berubah hitam bertumpu pada pedang yang tertancap ditanah menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak roboh. Didepannya tergeletak seorang lelaki bersurai biru dengan tubuh setengah hancur dan dipastikan dia tidak lagi bernafas.
"Bastian.. " Dia mengeluarkan suara lirih memanggil pelayan setianya tapi belum sempat dia akan berbicara lagi tubuhnya sudah dahulu roboh dan pingsan karena terlalu kehabisan tenaga dan memaksa untuk mencapai batasnya.
"Tuan!! " Sebastian berlari menuju tubuh Ellvis yang tergeletak bersimbah darah.
Dia membawa tubuh Ellvis kemarkas terdekat untuk dirawat. Dia juga sudah melebihi batas kemampuannya, beruntung dia mempunyai sisa tenaga untuk membawa tubuh Ellvis juga lukanya tidak separah tuannya yang mengerahkan seluruh tenanganya untuk kemenangan perang ini hingga batas tubuhnya.
Matanya terbuka setelah koma sebulan, dan dia menemukan Sebastian tertidur disamping ranjang tepat disebelah tangannya yang menenggelamkan kepalanya diantara tangan sebagai tumpuan.
Ellvis menggerakan tangannya perlahan mencoba mengelus rambut lelaki yang berusia lebih dari setengah abad dengan wajah awet muda.
Sebastian tersentak dan langsung bangun dari tidurnya. Dia terkejut mendapati ilusi tuannya sudah bangun sebelum mengucek matanya, tapi setelah mengucek matanya ilusi tuannya tidak segera pergi, yang artinya tuannya sudah benar benar bangun dari komanya.
Dia hampir menangis saat kenyataan bahwa tuannya sudah bangun dari tidurnya. Dia sangat khawatir akan kesehatan Ellvis pasca perang berkepanjangan telah usai. Setiap hari dia selalu menemaninya dari pagi hingga malam, atau malam hingga pagi tanpa keluar mansion dan tanpa menjaga kesehatannya sendiri.
"Tuan.. Kau bangun! Syukurlah." Tangisannya pecah karena terlalu bahagia, walaupun umurnya 180 tahun tapi dia seperti anak kecil saat ditinggalkan oleh Ellvis.
"Sudahlah berhenti menangis. Kau seperti anak kecil padahal kau sudah tua." Ellvis tersenyum. Hanya pada Sebastianlah dia berbicara panjang lebar padanya karena dia percaya pada lelaki berambut perak itu.
"A-aku tadi kelilipan debu, jangan salah paham. " Rona merah tercetak dipipinya yang berarti dia malu.
"Ya ya terserah apa katamu."
"Aku akan membawakanmu makanan." Dia bangkit hendak pergi membawa makanan tapi kemudian
"Sebastian." Ellvis memanggilnya, dia berbalik menatap Ellvis dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
"Berjanjilah padaku kalau dirimu tidak akan mengeluarkan semua kekuatanmu apapun yang terjadi. kalaupun harus, kau harus bisa mengendalikannya sebisa mungkin."
"Apa yang-"
"Berjanjilah atas namaku." Ellvis menyela Sebastian yang hendak bertanya. tuannya tak akan pernah menyerah sebelum dia benar benar berjanji padanya.
"Baiklah aku berjanji."
///////////////////////////////////////////