
Disepanjang jalan Ethan terus menyumpah serapahi kakaknya yang sangat menyebalkan, sedangkan Sebastian terus menganalisis sekitar, siapa tahu ada barang yang menarik perhatiannya dan akan ia bawa pulang.
"Ukh Gerahnya.. Dan lagi apa apaan mereka menatap kita seperti itu." Ethan mengibas ngibaskan kerah bajunya karena kepanasan. Disekitarnya beberapa orang menatap mereka berdua dari tadi seperti orang kelaparan yang menemukan makanan gratis.
"Bos, beli minum yuk."
"Memangnya sudah?"
"Belum, tapi aku haus dan lagi kita sudah berkeliling didalam pasar daritadi." Ethan memasang wajah letihnya.
"Alah baru sekeliling aja udah ngeluh." disisi lain Sebastian memutar bola matanya malas.
"Udahlah ayo!" Segera setelah itu Ethan menarik tangan Sebastian tanpa memberikan banyak waktu padanya untuk bicara. Namun, dia tersentak tiba tiba seperti sesuatu menarik perhatiannya.
'Tuan?'
Dia merasakan aura yang sangat Familiar baginya. Dia yakin, sangat yakin aura itu milik tuannya. Ikatan kontrak antara Tuan dan dirinya itu sangat kuat, dan lagi itu terasa sangat dekat dengannya, tidak! Itu benar benar dekat dengannya, seperti baru saja melewatinya. Dia menoleh untuk memastikan keyakinannnya, namun tak ada sosok yang dicarinya, Auranya juga seperti perlahan memudar ataupun perlahan menjauh tetapi masih terasa kuat di indranya.
Ethan yang merasakan langkah Sebastian terhenti, menoleh dengan kerutan kening yang sudah menempel di dahinya.
"Ada apa?"
Sebastian tersadar dari lamunannya.
"Ah tidak. Kau pergi saja duluan aku menyusul nanti." Cepat cepat dia menyuruh Ethan pergi agar dia bisa mengikuti jejak auranya sebelum benar benar menjauh.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Aku ingin membeli sesuatu."
"Ohoho jangan jangan kau mau membeli.." Ethan menutup mulutnya dengan satu tangan dan juga memasang wajah menggoda.
"Jangan berfikir aneh aneh!" Dia jengkel setiap kali Ethan memasang wajah seperti itu kepadanya.
"Hihihi, Oke jangan lama lama." Ethan melepaskan genggamannya pada tangan Sebastian kemudian pergi dengan riang mencari minuman diluar. Dia tidak peduli dengan alasan Sebastian ataupun urusannya sehingga dengan mudah dia pergi tanpa menanyakan apapun lagi.
Setelah melihat Ethan menjauh, dia buru buru mencari jejak yang masih ditinggalkan auranya, dia berkeliling didalam pasar menyusuri para pedagang yang terus menerus menawari dagangan mereka, adapaun yang hanya menatapanya dengan intens, tapi dia benar benar tidak peduli. Yang dia pedulikan saat ini adalah segera menemukan tuannya, kemungkinan yang ia harapkan terjadi yaitu Tuannya sudah kembali!
'Aku terus saja bertanya tanya selama ini kenapa kau menghilang, kenapa tidak memberitahuku dulu jika kau ingin menghilang. Jikalau yang dikatakan oleh Ares bahwa dia telah tiada dengan racun yang ada ditubuhnya, itu tidak mungkin! Karena jika benar benar telah tiada, kenapa mayatnya tidak ditemukan, lalu ikatan kontrak yang aku jalankan dengan tuanku kenapa tidak berdampak apa apa padaku? Setidaknya itu akan berdampak besar padaku karena aku terikat dengannya. Dan satu lagi, dia adalah makhluk yang hampir abadi, dan dia pasti tidak akan mudah mati begitu saja oleh racun.'
'Tuan dimana kau?'
Bruk
Saat sedang linglung, Sebastian menabrak seseorang yang hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh seorang pria. Mereka adalah Nenek Dirah dan lelaki yang entah siapa namanya itu.
"Tuan?" Kata-kata itu lepas begitu saja dari mulutnya karena terlalu terkejut. Lelaki yang ditatap oleh Sebastian mengerutkan alisnya, aura tajam keluar menusuk Sebastian yang ia kira akan berbuat jahat, tapi Sebastian tidak peduli dengan aura intimidasi yang terus menerus menusuknya, dia terlalu terkejut sekaligus senang.
"Apa kau mengenalinya?" Nenek yang melihat reaksi aneh pria didepannya dan baru saja mengucapkan kata kata yang tidak tahu apa bertanya pada lelaki disampingnya. Lalu reaksi lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.
'Apa?' setelah kejutan pertama ia kembali terkejut.
'Apa dia tidak mengenaliku?' Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya.
"Maafkan nenek tadi karena tidak melihat jalan dengan benar." memecah keheningan dan tatapan orang orang yang tertuju pada mereka, nenek Dirah tersenyum meminta maaf.
"Tidak tidak nek! Saya yang salah karena tidak melihat sekitar." Dia akhirnya sadar.
"Hahaha kita sama sama salah."
"Haha iya..maaf sekali lagi nek. " Sebastian tertawa canggung karena orang disebelah nenek itu, alias tuannya, menatapnya dengan tajam.
"Kalau begitu nenek permisi dulu." kedua orang itu hendak pergi, Sebastian berusaha mendapatkan kesempatan sebelum mereka benar benar pergi.
"Ahh apa saya bisa membantu anda?"
"Tidak tidak. Tidak usah, nenek sudah ada yang bantu." Nenek Dirah menolak tawaran Sebastian dengan lembut. Sebastian memberanikan diri untuk menatap tuannya yang untungnya kewaspadaannya sedikit diturunkan.
'Huh syukurlah. Tapi, kenapa dia tidak mengenaliku? Apa yang sebenarnya terjadi setelah dia menghilang?' Dia menghela nafas lega. Jika lelaki disamping nenek itu terus menatapnya dengan waspada, bisa bisa dia mati tercekik kekurangan oksigen.
"Oh kalau begitu silahkan." Sebastian membuka jalan yang ia hadang. Dia terkejut melihat antrian dibelakangnya sedang menunggu dia menyingkir dari jalan.
'Kenapa mereka diam saja sih kalau mau lewat!' Orang-orang itu tidak memperingatinya tapi malah berdiri dibelakangnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu.
Dia harus segera mengikuti mereka berdua agar dia tahu tempat tinggal tuannya selama ini. Namun, suara yang akrab ditelinga Sebastian terdengar dari kejauhan dan tampaknya semakin mendekat.
"Hei bos! Ko lama sekali sih! Memangnya beli apaan?" Dia kesal telah menunggu lama diluar tapi Sebastian tidak segera menyusul.
"Ga jadi beli apa-apa." Sebastian menanggapi kekesalan Ethan dengan tenang. Tapi bagi Ethan, dia sangat menjengkelkan dengan sikap tenangnya.
"Yaudahlah mending kita pulang!" Dia langsung menarik tangan Sebastian untuk keluar pasar, tapi dihentikan olehnya.
"Tunggu sebentar. " Ethan berbalik.
"Kau ikut aku." Sekarang berbalik, dia yang menarik tangan Ethan entah kemana.
"Kita mau kemana? " Ethan sedikit bingung.
"Sshht! Ikut saja nanti juga kau tahu." Setelah itu Ethan terdiam dah hanya mengikuti kemauan Sebastian saja.