LORD NESIA

LORD NESIA
Sesuatu Yang Belum Bisa Diungkap(1)



"Hahaha! kasian si Cale nyemplung ke got." pelayan kafe yang semula bersenda gurau sesaat terdiam lalu mengalihkan pandangan mereka pada seseorang yang baru saja tiba.


"Yoo Pak!" lelaki berambut merah yang duduk disebelah Ethan menyapa. Dia Cale yang baru saja disebut namanya oleh Ethan.


"Yoo!" Sebastian membalasnya dengan tos.


"Ini... " Falika yang ikut membaur dengan mereka menunjuk orang asing yang berada dibelakang Sebastian.


"Oh! dia Tuan Ellvis." dengan bangganya Sebastian memperkenalkan Ellvis pada mereka.


"Oohh salam kenal." Ellvis mengangguk menanggapi Falika.


"Dan tuan, mereka semua adalah pegawai dikafe ini, anggap saja mereka juga sama sepertiku. " Sebastian menyiapkan kursi dan mempersilahkan Ellvis untuk duduk.


"Anda mau teh? Atau mau mencoba kopi?" Ellvis tidak tahu kopi dan penasaran tapi dia tetap memilih teh kesukaannya sekaligus menguji Sebastian apa benar dia benar pelayan pribadinya.


"Teh." Sebastian telah menerima perintah dan langsung pergi sendiri kedapur untuk membuatnya. Melihat Sebastian yang rela pergi sendiri untuk membuat teh berhasil membuat mereka bertiga melongo untuk sesaat.


"Apakah dia tamu penting sampai sampai Sebastian membuat tehnya sendiri tanpa menyuruh kita?" Falika berbisik pada Ethan dan Cale yang bersebelahan.


"Kita lihat saja nanti." Bisik Cale. 


Tak berapa lama Sebastian keluar membawa nampan berisi cangkir dan teko dengan sangat hati-hati meletakannya dimeja tempat duduk Ellvis lalu menuangkan tehnya ke dalam cangkir.


Bau teh harum langsung menyebar kala dituangkan Sebastian, itu adalah teh Dandelion dengan kualitas terbaik yang hanya dibeli oleh kalangan Elite. Mereka bertiga yang sedari tadi duduk mencium bau harum teh langsung berasumsi bahwa


"Fix! Dia orang penting." Ucap Falika yang masih melotot tak percaya dan di balas anggukan kedua rekannya.


Ellvis yang melihat setiap gerak gerik Sebastian dari awal bertemu sampai hari ini yang ternyata juga tahu teh Favoritnya mungkin mulai sedikit percaya padanya tapi tidak akan pernah percaya sepenuhnya pada Sebastian kecuali kalau dia benar-benar pelayan setia pribadinya.


"Kenapa kalian melamun? Cepat bekerja, disana ada pelanggan." Mereka tersadar dan kembali ke pekerjaan masing-masing saat mengetahui beberapa orang duduk dan mulai memanggil mereka.


"Saya senang anda muncul kembali dihadapan saya setelah sekian lama." Sebastian sangat bersyukur bisa melihat masternya lagi setelah sekian lama.


Tak


Ellvis meletakan cangkir tehnya lalu memandang keluar kejalan raya yang terdapat banyak sekali manusia berkeliaran dan beraktivitas.


"Manusia cepat sekali berubah." Ucap Ellvis dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dulu mereka selalu bergantung pada pemimpinnya, tapi sekarang mereka sudah bisa berdiri sendiri." Meskipun Ellvis lupa ingatan tentang keberadaannya sebelum Tertidur panjang, tapi dia masih ingat kalau dulu dia pernah hidup dimana yang kuat lah yang berkuasa.


"Meskipun begitu, mereka juga mahluk yang serakah dan egois. Demi mencapai tujuan mereka, mereka akan melakukan apapun bahkan jika itu menggunakan cara kotor persis seperti kita." Ucap Sebastian.


Tring


"Hahahhah" Tiga orang berseragam sekolah masuk kedalam Kafe dengan bersenda gurau, mereka sering kali mampir kesini untuk sekedar nongkrong ataupun hanya numpang Wifi saja.


"Halo anak muda, mau pesan atau hanya cuma numpang wifi saja hm?" Ethan menghampiri mereka lalu merangkul salah satu teman mereka yang berkacamata.


"Tentu saja memesan, jangan ragukan kami tahu." Ucap remaja berambut merah itu dengan percaya dirinya.


"Tumben sekali pesan, lagi punya duit?"


"Tidak kami ngutang hehe."


"Fak!! Mana bisa gitu sialan! " Ethan Memukul kepala Rangga dengan keras karena kesal. Sedangkan Rangga meringis dipukul Ethan dengan tenaganya.


"Giliran mau pesan dipukul." Dengan mengusap kepala dia menatap Ethan kesal.


"Kamu ngotak dong bisa-bisa aku tidak gajian besok. " Ethan tak kalah kesalnya dari Rangga yang barusan ia pukul.


"Bercada elah aku bayar kok." dengan masih kesal Rangga memasang wajah cemberut.


"Nah, mau pesan apa?" Ethan tiba tiba menjadi tersenyum manis pada mereka.


Drrrt drrtt ♪


Ponsel Sebastian bergetar di saku celananya, dia mengambilnya lalu melihat layar dan nama si penelepon setelah itu meminta izin undur diri sebentar pada Ellvis untuk pergi mengangkat panggilan.


"Hei Leon, daritadi kau ini sedang apa?" Rangga mengintip pada ponsel Leon karena penasaran apa yang dilihatnya sedari tadi.


"Oh ini- hei!" Belum sempat dia ingin berbicara, Rangga sudah terlebih dahulu mengambil ponsel Leon. Sirambut hitam bermata hazel dan memakai headsets itu mencoba mengambilnya kembali dari tangan Rangga yang selalu usil ini.


"Ohh kau sedang dekat dengan perempuaan toh? Tapi apa ini namanya CCiloa7 dan kau hanya mengirim sebuah □?" Rangga tak habis pikir dengan kawan pendiamnya ini, saking diamnya dia hanya mengirim sebuah tanda kotak kepada seorang perempuan.


"Tidak sopan." begitu mendapat celah Leon segera mengambil ponsel Miliknya dari tangan Rangga terdiam setelah matanya tak sengaja menangkap mata tanpa emosi pria berjas yang sedang duduk dimeja depan yang menatapnya balik, Leon berusaha menyapanya dengan tersenyum lalu diangguki oleh pria itu.


"Iya iya maaf. Habisnya daritadi kau sibuk sekali dengan ponselmu." Rangga merasa bersalah pada Leon.


"Sudah sudah minuman kita sudah datang." Remaja perempuan berkacamata atau Sèrta selalu menjadi penengah diantara mereka.


"Maaf tuan, tapi saya harus meninggalkan anda disini karena ada masalah didekat sini." Setelah mengamati ketiga bocah remaja itu dia menoleh untuk menemukan Sebastian sudah kembali.


"Pergilah." Ucap Ellvis


"Terima kasih."Sebastian segera berbalik untuk mencari mereka.


"Tolong jaga tuanku, aku ada urusan mendadak. Jangan mengotori pikirannya." Dia memperingati mereka yang sering kali berbuat hal yang diluar dugaan dan kerap kali menuangkan pikiran kotor mereka satu sama lain. Mereka hanya mengacungkan jempol mereka saja sebagai jawaban, lalu segera setelah itu Sebastian pergi dari kafe karena urusan sekaligus menyapa bocah remaja SMA itu.


kini hanya ada mereka berempat yang duduk terpisah dan Ellvis masih tetap menyesap tehnya damai sekali 'Dia pekat' dari pandangannya aura Ellvis sangat pekat hampir mendekati warna hitam.