
Pagi harinya saat masih gelap, mereka berdua sudah pergi menuju kepasar. butuh beberapa waktu menunggu angkutan umum menjemput mereka di halte, matahari juga sudah mulai menampakkan sinarnya.
Di tengah perjalanan, lelaki itu terkagum kagum memandang jalanan kota yang penuh dengan gedung gedung tinggi dan kendaraan yang berlalu lalang tanpa sedikitpun membuka suaranya.
Lalu akhirnya sampailah ditempat tujuan, pasar yang sudah dipenuhi oleh banyak orang yang berlalu lalang ataupun yang sedang bernegosiasi. Melihat banyak orang disekitarnya, mata lelaki itu cemerlang dengan senang, juga seperti mengingat mempunyai ingatan samar samar seperti tentang kegiatan pasar ini padahal dia baru saja bangun dari tidur yang sangat panjangnya.
Jalan masuk kedalam pasar itu penuh dengan orang yang berdesak desakkan, hingga tak memungkinkan untuk berjalan lebih jauh kedalam pasar yang sudah ditebak akan seramai apa dan se sesak apa didalam sana.
Karena tidak tahu nenek akan membeli apa, lelaki itu hanya menuntun nenek hingga keluar dari desakan orang orang ini lalu setelah itu mengikutinya dari belakang.
"Bu cabai ini sekilo berapa?"
"Lima puluh ribu nek."
"engga bisa kurang?"
"Harga sekarang memang sedang naik nek, dan kami hanya mengikuti dari sananya saja."
Nenek dan lelaki yang tidak tahu siapa namanya itu sedang berhenti di penjual sayuran dan sedang tawar menawar cabai.
Saat nenek dan si penjual sedang bernegosiasi, lelaki itu mengambil satu cabai dan tiba tiba membuka suaranya.
"Dua puluh." suaranya pelan namun masih terdengar merdu mengejutkan kedua orang itu.
Sesaat mereka tampak bengong menatap lelaki yang baru saja mengucapkan dua kata tersebut.
'Lah bisa bicara rupanya.' Suara hati nenek Dirah.
Disisi lain sipenjual terus terusan menatap pemuda yang sedang menatap cabai ditangannya terus menerus tanpa sedikitpun berkedip lalu dikejutkan oleh suara orang tua.
"Bu? Jadi gimana?"
"Oh. Tentu saja boleh, kalau daritadi saya tau kalau nenek bawa cucu nenek yang tampan ini, pasti sudah saya bolehkan dari awal." Penjual yang dari tadi terus gigih akan harganya, kini luluh setelah melihat lelaki itu. Tentu saja sejak awal pergi dari rumah nenek dan berada dijalan, semua orang yang disekitar tak henti hentinya menatap lelaki itu namun, dia tak pernah peduli sedikitpun dan hanya sibuk sendiri dengan pikirannya sendiri.
Akhirnya cabai sekilo berhasil dibeli dengan harga dua puluh ribu saja. Dan sekarang lelaki itu menggandeng tangan nenek Dirah agar tetap aman tidak jatuh saat melawan arus orang orang ini dengan arahan nek Dirah ketempat selanjutnya.
...----------------...
Pria bersurai perak beriris hitam yang dalam itu sedang berkeliling didalam pasar dengan seorang pemuda yang membawa keranjang belanjaan digenggamannya. Pakaian kemeja rapihnya itu sangat kontras dengan keadaan pasar yang ramai dan kotor ini.
Alasan dia berada disini menemani belanja itu karena dia kabur dari sekertarisnya yang terus mengomel tentang pekerjaan yang tak segera di selesaikannya. Hari harinya sangat sibuk hingga hampir tak ada waktu untuk beristirahat atau piknik, dan satu satunya cara merefreskan otaknya adalah dengan pergi ke kafe didekat kantor yang menjadi salah satu usahanya, alias punya dia sendiri.
Flasback
"Uhhh rajinnya anak ini. Kesambet apaan?" Seorang pria duduk disalah satu kursi kafe dekat dengan pemuda yang sedang mengelap meja disebelahnya.
"Mulutmu diam saja." dia tampak jengkel dengan kedatangannya.
"Buat apa diciptakannya mulut, kalau tidak bisa dimanfaatkan?" sahut pria bersurai perak itu.
"Iya iya bos Sebastian, aku mengerti." dia masih jengkel oleh kakaknya Rena juru masak kafe ini yang terus mengomel padanya dan kali ini ditambah oleh makhluk jadi jadian disebelahnya itu.
"Bagus bagus sepertinya otakmu tidak lagi error. Lanjutkan mengelapnya." Pria tadi yang dipanggil Sebastian mengacungkan jempolnya.
"Itu lagi tuh." Perintah ini masih bisa bisa ditoleransi olehnya, namun setelahnya dia meledak.
"Tuh tuh disana!"
"Hei! Berhenti mengotori meja yang sudah ku bersihkan. pergi sana jauh jauh!" dia meledak ledak meneriaki bos yang tak tahu malu ini.
"Hahaha!" puas mengerjainya dia langsung kabur menjauh darinya menuju ke dua orang.
Sebenarnya dia tahu kalau Sebastian lah yang mengacau kerjaannya dengan menempelkan beberapa bercak coklat di atas meja saat Ethan tak melihatnya.
Sebastian masih terus berada dikafenya dan sedang menyesap kopi dan ditemani oleh beberapa cemilan yang disediakan gratis kepadanya oleh juru Rena, dan wajar saja dia mendapatkan gratis, toh karena dia pemiliknya.
Perusahaan maupun usaha lainnya yang dipimpin oleh Sebastian sangat terkenal dan sukses, pasalnya selain dia loyal terhadap pegawai pegawainya, dia juga sangat jenius dan partner kerja yang menguntungkan hingga hal tersebut membuat dia disegani oleh banyak orang. Perusahaannya selain di negara Linyx juga memiliki cabang di beberapa negara dan produknya sangat terkenal dan bermanfaat sehingga terus terjual habis. Dia juga mempunyai beberapa kafe di seluruh Linyx, salah satunya adalah yang berdekatan dengan kantor pusatnya Donesly dan yang paling sering ia kunjungi. Tak seperti yang lain, Sebastian menganggap selurih pegawai dikafe ini sebagai keluarganya ataupun teman temannya. Namun sayangnya dia masih lajang dan seperti tidak ada ketertarikan untuk menjalin sebuah hubungan cinta.
"Ethan tolong kamu belanja kepasar!"
"Kenapa harus aku?" Bilal yang baru saja selesai mengelap langsung disuruh oleh kakak iblisnya.
"Sudah jangan banyak omong, sini!"
"Huh!" dia menghampiri kakak yang sudah memegang sebuah kertas ditangannya yang pasti bisa ditebak, itu adalah daftar belanjaan.
"Nih uang dan daftar belanjaannya." benarkan.
"Kenapa harus aku sih!"
"Falika tidak bisa karena membantu kakak. Udah lah sana pergi."
Ethan mengulurkan telapak tangannya.
"Apa?" Rena menaikkan sebelah alisnya tak paham.
"Ongkos."
Kakaknya hanya bisa menghembuskan nafas panjang karena sikap adiknya yang sebelas dua belas seperti dirinya, yang membuat Rena seperti melihat dirinya sendiri pada diri adiknya.
"Aku ikut." Pria berambut perak itu bangkit dari duduknya. Melihat dari cangkirnya, dia setelahnya dipastikan tidak akan kembali kekantornya.
"Nah kebetulan sekali, aku tidak harus panas panasan." secercah harapan muncul dihadapannya karena mempunyai keuntungan selain uangnya aman, dia juga tidak harus panas panasan.
"Siapa bilang naik mobil?" Baru saja dia melihat secercah harapan tapi kini harapan itu hancur dan menenggelamkannya.
"Lalu?"
"Kita naik angkot."
"APA?" Berbeda dengan Ethan yang terkejut, Sebastian hanya mengatakannya dengan wajah datar miliknya.
Flasback off