
Sebastian tiba disebuah rumah yang sementara ditempati Ellvis. Ditangan kanan dan kirinya membawa dua kantong plastik yang berisi makanan untuk diberikan kepada Nek Dirah. Dia baru datang siang ini karena dia harus mengurus beberapa kepentingan diperusahaannya terlebih dahulu dan lagi harus mendengakan sekretarisnya yang terus mengomel.
"Kenapa repot-repot bawa segala?" Nek Dirah menerima kantong plastik pemberian dari Sebastian.
"Tidak apa-apa, kebetulan saya lewat supermarket. Jadi sekalian mampir kesana."
"Terima kasih. Kalau begitu nenek akan buatkan sesuatu dulu." Nek Dirah masuk kedalam rumah untuk membuat sesuatu dan meninggalkan mereka berdua diteras menikmati angin yang berhembus dan melihat beberapa hewan yang berkeliaran.
"Tuan bagaimana keadaanmu?" Sebastian masih berdiri ditempatnya.
"Tidak buruk." Ellvis tak sekalipun melirik sebastian dan tetap fokus dengan pandangan lurusnya.
Keheningan pun datang untuk waktu dua puluh menit sebelum menemukan siluet seseorang yang sedang mendekat. Siluet itu semakin dekat dan dekat hingga terlihat jelas.
Ternyata siluet itu adalah milik pria bersurai coklat yang kini berada dihadapan mereka berdua.
"Siap- eh!" Awalnya dia terkejut oleh penampakan dua orang asing yang berada dirumahnya. Tapi, dia lebih terkejut lagi oleh salah seorang diantara keduanya.
"P-pak?" Dari kedua orang tersebut, mereka tidak tahu pria itu sebenarnya memanggil siapa.
"Dimas?" Nek Dirah keluar dari rumah dengan membawa nampan yang berisi dua teh panas.
"Ibu!" Akal sehatnya sudah kembali ketempatnya. Dia sejenak melupakan dua orang tersebut lalu fokus berlari ke ibunya untuk memeluknya.
"Ibu bagaimana kesehatanmu?" Mereka berdua berpelukan mencampakkan kedua orang yang berada disampingnya. Sebelumnya nampan itu sudah Nek Dirah pindahkan ketangan Sebastian, sehingga tidak terjadi masalah misalnya seperti 'teh tumpah'.
"Ibu baik nak. Bagaimana denganmu? Kamu jaga kesehatanmu kan disana?"
"Iya bu. Aku menuruti semua perkataanmu." anak dan ibu itu terlihat bahagia setelah sekian lama tidak bertemu.
"Syukurlah, ibu mengkhawatirkanmu. "
"Aku kan anak yang rajin." Nek dirah sangat senang, dia menoleh kepada dua orang yang mereka campakkan beberapa saat lalu.
"Oh Ya! Kenalkan mereka.. " Nek Dirah berhenti untuk mengingat nama mereka. Maklum lah faktor usia:D
"Saya Sebastian dan ini adalah tuan Ellvis."Sebastian meneruskan ucapan nek Dirah karena Sebastian tahu, kalau nek Dirah mungkin Lupa namanya beserta tuannya.
"S-senang bertemu dengan anda pak Sebastian dan juga pak Ellvis. Saya adalah Dimas Anak bu Dirah sekaligus karyawan bapak juga." Dimas mengepalkan tangan didadanya dan sedikit menunduk pada mereka.
"Karyawan?" Sebastian tidak tahu dia salah satu karyawannya, ini baru pertama kalinya mereka bertemu.
"Iya pak! Saya salah satu karyawan bapak yang bekerja di kantor pusat." Dimas tersenyum cerah hari ini.
"Ahaha maaf aku tidak tahu kalau kau karyawanku."
"Tidak itu bukan salah bapak. Tapi maaf apa boleh saya tahu kenapa bapak ada disini?"
"Ibu akan ceritakan semuanya, tapi lebih baik kita masuk dulu kedalam." Nek Dirah menyarankan agar mereka masuk terlebih dahulu dan melanjutkannya didalam karena sepertinya akan turun hujan dilihat dari angin yang lumayan kencang dan langit yang tiba tiba mendung.
Suara merdu rintik hujan dari langit turun ketanah terdengar ditelinga mereka.
"Oh jadi begitu." Dimas mengangguk anggukan kepalanya, mereka duduk bersila disatu karpet sembari mendengar penjelasan nek Dirah yang menceritakan dari awal ia bertemu dengan Ellvis dan Sebastian.
"Jadi kalian akan pergi setelah hujan berhenti?" Sebastian mengangguk sementara itu Ellvis terus menyesap teh nya daritadi membiarkan Sebastian yang mewakilinya berbicara.
Satu jam kemudian hujan mulai reda, melihat keluar, Dimas keluar untuk melihat keadaannya lalu memberitahu mereka yang masih didalam dan benar, langit tak lagi mendung dan matahari juga mulai muncul kembali dari balik awan hitam.
"Kami akan pergi sekarang. Kalau ada apa-apa beritahu saja aku apapun keadaannya." Sebastian menyodorkan kartu nama miliknya pada Dimas, meskipun tahu dia menolak ataupun bisa dia bisa menghampirinya langsung dikantor, tapi dia lebih memilih memberikan kartu nama padanya.
"I-ini.. " Ibu anak itu menatap kartu nama yang diberi oleh Sebastian.
"Ingat ya beritahu apapun kondisinya, aku akan membantu. Jangan sungkan kepadaku. Dan ini adalah bentuk terimakasihku dan tuan Ellvis karena telah menjaganya."
"Kami rasa ini terlalu berlebihan. Bagiku bekerja dikantor bapak saja sudah cukup bagiku."
Greb
"Ini bukan hanya untukmu, tapi juga untuk ibumu." Ibu anak itu tekejut karena Sebastian tiba-tiba mencengkeram bahu Dimas dan berbicara dengan sorot mata tajam.
"I-iyaa.." 'Njirr serem. ' Dimas tertegun karena sorot tajam Sebastian yang mengurung pandangan matanya, setelah itu Sebastian tersenyum mendengar jawaban dimas lalu melepaskannya.
"Nah, ada satu hal lagi! Kalian bisa tinggal disalah satu apartemenku."
"A-apa!" Rahang mereka jatuh bersamaan.
"Kenapa? Ini juga sebagai bentuk terima kasih kami. Benarkan tuan? " Dia mengalihkan pandangannya kepada Ellvis yang masih asik melihat genangan air. Ellvis menoleh pada sebastian yang memanggilnya lalu mengangguk dan setelahnya dia kembali fokus pada genangan air kembali.
"Tapi.."
"Tidak tidak, Terima saja." Dia benar-benar memberi salah satu kamar apartemennya kepada mereka sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih." ucap ibu anak itu serempak.
Tiba-tiba Ellvis bangkit dari tempat duduknya yang membuat ketiga orang itu memperhatikannya. Sebastian paham kalau sudah waktunya bagi mereka untuk pergi dari sini, dia pun pamit kepada mereka berdua.
"Hati-hati dijalan!" ibu anak tersebut melambaikan tangan mereka pada dua orang yang semakin menjauh dari rumah mereka untuk kembali pulang.
Di mobil
"Tuan, semenjak anda menghilang dunia ini sudah banyak mengalami perubahan." Ellvis yang masih mengutak atik hiasan yang ia pungut di dasbor mobil karena masih heran dengan kendaraan ajaib yang ia naiki menoleh.
"Berapa lama waktu sudah berlalu?"
"Sekarang adalah masa pemerintahan Kekaisaran Zeris atau Lynix VIII, yang artinya anda sudah menghilang selama 565 tahun." Ellvis terdiam.
"Bolehkah saya tahu selama itu anda pergi kemana? "
"Aku tidak ingat. Yang aku ingat hanyalah terbangun didalam gua dan bertemu dengan nenek." Sebastian mencoba berpikir tentang pernyataan masternya.
'Ini memang aneh.' batin Sebastian.
Laju Mobil ia sengaja pelankan agar tuannya bisa melihat pemandangan kota dan menikmatinya. Dari raut wajah Ellvis dia senang melihat orang orang yang berlalu lalang sangat ramai dipinggiran kota yang membuat Sebastian tak heran lagi karena wajar saja tuannya berekspresi seperti itu karena melihat sesuatu yang menakjubkan, toh memang dia baru melihatnya.
Dari awal tuannya memang selalu menyendiri dan tidak pandai bergaul, meskipun begitu ada saja yang tidak suka padanya karena jabatan yang dimilikinya sebagai orang penting kerajaan Lynix dari awal raja Lynix IV sampai kepada raja Lynix V yang beratus-ratus tahun lamanya menjabat. Dia adalah orang kepercayaan sekaligus murid Raja Lynix IV, dia juga pernah ditunjuk sebagai raja selanjutnya oleh Pirtle atau Raja Lynix IV karena pada saat itu dia belum juga memiliki anak sebagai penerusnya kelak jadi dia memutuskan untuk menunjuk Ellvis sebagai raja selanjutnya karena dia sangat percaya padanya. Tapi, harapan pada Ellvis harus pupus karena Ellvis menolak untuk menjadi raja, baginya menjadi raja itu sangat merepotkan dan sangat melelahkan.
Setelah Ellvis menolak tawaran tersebut, sang putra mahkota lahir kedunia dan disahkan sebagai raja selanjutnya yang memimpin. Setelah raja Pirtle wafatpun hubungannya dengan anak raja Pirtle yaitu Eletor maupun anggota kerajaan yang lain masih berlanjut hingga Raja Lynix VI.
...----------------...
Tibalah mereka disebuah rumah mewah berlantai tiga yang seperti istana itu, mungkin Sebastian, dirumah sebesar ini dia hanya tinggal dengan karyawan kafenya. Kenapa dengan karyawan kafenya? Apa karyawannya tidak punya rumah sampai tinggal dengan bosnya? Tidak, karena Sebastian sendirilah lah yang membawa mereka dan mengizinkan mereka untuk tinggal dirumahnya dengan syarat mereka yang membersihkan rumah.
"Silahkan masuk tuan." Lantai pertama yang ia masuki sangat bersih dan rapi dengan tataan barang yang menambah kesan elegan diruangan tersebut.
"Biar saya antar kekamar anda." Sebastian menuntunnya untuk menaiki tangga kelantai dua tempat dimana kamar Ellvis berada. Lantai dua juga sama halnya lantai pertama sangat bersih dengan cat dinding yang berwarna krem dan pintu kamar milik Ellvis yang berwarna putih dengan gagang pintu emas.
"Sekarang kamar ini milik anda, anda bisa istirahat disini kapanpun." Ellvis mengangguk dan mengirim kode pada Sebastian bahwa dia ingin istirahat tanpa diganggu.
"Jika anda butuh sesuatu kamar saya berada di tiga kamar dari sini. Saya permisi." Sebastian pergi setelah menutup pintu dengan pelan membiarkan Ellvis beradaptasi sendirian dikamarnya.
Dia meraba dan mengutak atik barang dikamar tersebut untuk mengatasi rasa penasarannya sedari tadi. Dia menemukan sebuah benda persegi panjang pipih berwarna hitam, dia menyentuhnya lalu benda itu menyala menampilkam sebuah gambar kucing yang berpose lucu.
"Eh!" Awalnya dia terkejut dengan benda tersebut, dan dia juga terus menerus menatap benda tersebut hingga layarnya mati lalu dinyalakan lagi dengan menyembunyikan setengah wajahnya diantara laci yang akan masih ragu dengan benda tersebut.