
"SEKARANG JUGA KAU PERGI DARI RUMAH INI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI". ucapkan Pratama kepada Eliana yang dibawa pergi oleh para bawahan Tuan Pratama menuju gerbang luar kediamannya itu.
Tidak ada yang bisa menolong Eliana termasuk bibi pengasuhnya karena bibi pengasuhnya itu dipecat oleh Tuan Pratama pada saat itu juga dan menyuruh para bawahan Tuan Pratama untuk mengembalikan bibi pengasuh itu ke kampung halamannya pada saat itu juga.
Eliana hanya bisa meratapi nasibnya yang sekarang tidak mempunyai tempat tinggal dia berjalan tertatih-tatih dan lemas akibat luka cambukan itu.
Wajah pucat dan tubuh bergetar hebat dia terus berjalan tidak tahu arah harus ke mana apalagi ini sudah menjelang pagi. Tidak ada yang bisa menolongnya dan meminta pertolongan kepada orang karena tidak ada seorangpun di sekitar sana karena semua orang sedang beristirahat pada jam tengah malam seperti ini.
"Tuhan aku harus ke mana aku benar-benar tidak mempunyai siapapun lagi". ucap nada sedih Eliana yang tidak tahu harus pergi ke mana.
Eliana tidak sengaja menundukkan kepalanya dan tangannya meraba sebuah kalung di lehernya dia teringat akan sesuatu yang dulu pernah ada orang yang memberikan kalung itu kepadanya.
"Kalau kamu membutuhkan bantuan ku kamu datang ke tempat di mana kita sering bertemu kamu duduk saja di tempat ini nanti akan ada orang yang datang menemuimu". ucap pria yang dulu pernah menolongnya dan dia selalu menceritakan kehidupannya kepada pria itu.
"Sebaiknya.... aku coba saja pergi ke taman kota itu mungkin pria itu masih bisa mengingatnya walaupun, itu janjinya 10 tahun yang lalu tidak ada salahnya untuk mencoba". ucap Eliana meyakinkan dirinya bahwa pria itu masih menunggunya.
Eliana berjalan tertatih-tatih walaupun taman kota jauh tapi Eliana berusaha untuk bisa sampai pergi ke taman kota dia ingin menemui pria yang dulu pernah berjanji akan menolongnya akan tetapi Eliana tidak pernah datang ke taman itu karena setelah Eliana pulang dari taman Eliana tidak dapat keluar dari kediaman Pratama lagi.
Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi Eliana sudah berdiri di dekat taman kota yang sepi karena ini sudah dini hari dan tidak ada orang di sana tetapi Eliana tetap pada pendiriannya akan menunggu pria itu sampai datang di taman kota.
Eliana duduk di kursi tempat dulu dia sering bercerita kepada pria yang selalu mendengar kan keluh kesahnya itu. Walaupun udara dingin dan tubuh Eliana merasa lemah akibat darah yang terus menetes dan perutnya sakit karena dia belum makan dari dua hari yang lalu. Eliana tetap duduk di sana Dan tidak pergi kemanapun dia yakin bahwa pria itu akan datang menemuinya walaupun di sana tidak terdapat siapapun.
Pikiran Eliana sudah kacau dia takut pria itu tidak datang dan dia tidak tahu harus pergi ke mana karena dia tidak mempunyai siapapun.
Eliana tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan dari kejauhan oleh beberapa orang pria berpakaian hitam.