LITTLE GIRL

LITTLE GIRL
Hukuman



Pagi hari ini Eliana bangun dari tidurnya dia begitu merasa lemas pada tubuhnya. Badan Eliana panas sedangkan dia harus melakukan pekerjaan rumah di kediaman Pratama. Eliana mengerjakan pekerjaan rumah sedikit terlambat karena tubuhnya merasa tidak sehat.


"Nona bangun kesiangan?". ucap bibi pengasuh Eliana yang melihat Eliana belum menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya Bi badanku kurang enak, aku merasa lemas". ngucap Eliana kepada bibi yang mengasuhnya sejak dia kecil.


"Sebaiknya nona istirahat dulu". ucap bibi pengasuh itu akan tetapi ditolak oleh Eliana karena dia takut akan dihukum lagi oleh ayahnya.


"Maafkan bibi tidak bisa melakukan apapun nona". ucap bibi pengasuh kepada nona nya itu.


"Tidak apa Bi mungkin ini sudah takdirku". ucap Eliana yang hanya bisa pasrah dengan perlakuan keluarganya kepada dirinya.


"Saran bibi sebaiknya mana Eliana keluar dari rumah ini dan memulai hidup baru bibi akan menemani nona". ucap bibi pengasuh kepada Eliana yang merasa tidak tega akan melihat dia diperlakukan tidak adil padahal dia adalah anak kandung dari tuan Pratama akan tetapi tidak pernah diberikan kasih sayang dan selalu mendapat hukuman dari ayahnya itu.


"Tidak Bi aku sangat menyayangi Ayah walaupun Ayah tidak pernah memperlakukanku dengan baik". ucap Eliana yang tersenyum kepada pengasuhnya itu.


"BAGUS YA WAKTUNYA KERJA MALAH NGOBROL BERDUA". ucap Lia kepada Eliana dan pembantunya itu.


"Maaf Eliana sedang tidak enak badan tetapi Eliana janji akan menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan baik". ucap Eliana kepada dia yang sedang berdiri di depan pintu dapur.


"Sebaiknya begitu karena kalau pekerjaanmu tidak selesai kamu akan dipukul lagi oleh ibu dan ayah". ucap Lia yang langsung pergi meninggalkan pembantunya itu.


Eliana tidak mendapat jatah makan malam lagi karena dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik.


Eliana selalu merasakan kram pada perutnya akan tetapi Eliana selalu menepis rasa sakitnya itu karena Eliana tidak dapat mengeluh kepada siapapun.


Dulu dia selalu mengeluh kepada seorang anak laki-laki yang selalu ia temui di taman kota akan tetapi setelah dia dilarang oleh ayahnya untuk keluar dari kediaman Pratama dia tidak bisa menemui laki-laki itu.


Sudah 10 tahun Eliana tidak datang ke taman kota karena dia dilarang oleh ayahnya bahkan dia tidak memiliki waktu untuk istirahat karena ayahnya selalu menyibukkannya dengan pekerjaan rumah seperti pembantu.


Eliana tidak bisa melakukan apapun karena Eliana tidak memiliki hak untuk bisa istirahat ataupun bebas.


Padahal Eliana adalah Putri tunggal Tuan Pratama akan tetapi Tuan Pratama tidak pernah memberikan dia hak sepeserpun terhadap harta yang dia miliki yang seharusnya menjadi milik Eliana akan tetapi diberikan kepada kedua Kakak tirinya itu.


Malam ini Eliana tidak mendapat jatah makan malam dia merasa kram pada perutnya dia memiliki penyakit maag karena jarang makan.


Eliana tidak bisa memeriksakan rasa sakitnya ke dokter karena dia tidak mempunyai uang sama sekali.


Bibi pengasuhnya pernah memberikan uang kepada Eliana untuk pergi ke dokter akan tetapi diambil oleh beliau Kakak tirinya karena ketahuan akan keluar dan membawa uang.


Eliana hanya bisa pergi ke pasar dan kembali ke kediaman Pratama dia tidak memiliki waktu untuk sekedar jalan-jalan atau pergi ke taman kota tempat dulu dia selalu bermain dan mencurahkan isi hatinya kepada seseorang yang spesial dalam hidupnya.