
Eliana pergi dari rumah Pratama secara diam-diam di malam hari tepat pukul tengah malam. Dia berharap bisa keluar dari kediaman Pratama dan memulai hidup barunya. Kejadian yang menimpa dirinya sudah tidak bisa dia tahan lagi Eliana ingin pergi meninggalkan ayahnya dan ibu tirinya karena dia sudah tidak tahan dengan siksaan yang dia rasakan dan diberikan oleh ayahnya sendiri.
"Aku tidak tahan lagi dengan siksaan yang ayah berikan kepadaku". ucap Eliana kepada bibi pengasuhnya.
"Nona Eliana tapi bagaimana jika nona tertangkap oleh Tuan Pratama mungkin nona akan dihukum lebih berat bagi oleh beliau". ucapkan bibi pengasuh kepada Eliana yang sebenarnya takut ketahuan oleh Tuan Pratama.
"Bibi tenang saja kalau aku sudah tertangkap lagi oleh ayah mungkin itu akhir dari hidupku". ucap Eliana kepada bibi pengasuhnya yang tidak ingin dia mendapatkan masalah karena kepergian Eliana yang kabur dari kediaman Pratama.
"Saya berharap nona bisa menemukan kebahagiaan di luar sana". yang merelakan Eliana untuk keluar dari kediaman Pratama dan mengejar kebahagiaan di luar sana.
Eliana tersenyum kepada bibi pengasuhnya itu. Di saat yang bersamaan ternyata Lia mendengar percakapan pembantu nya dan Eliana yang berencana untuk kabur dari kediaman Pratama.
"Kau tidak akan bisa lari aku akan melaporkan ini kepada ayah aku yakin kamu akan mendapatkan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan Eliana". gumam Lia yang berjalan ke kamar sang ayah.
tok....tok...tok....
Lia mengetuk pintu kamar ayah dan ibunya.
Pintu terbuka menampakan Tuan Pratama yang bangun karena terganggu akan tidur malamnya itu.
"Selamat malam Ayah ada yang ingin aku sampaikan kepada Ayah ini mengenai Eliana". Saut Lia kepada ayahnya.
"Ada apalagi dengan anak sialan itu?". tanya Tuan Pratama kepada Lia.
"Ayah dia berencana kabur untuk malam ini". jawab dia kepada ayahnya.
Lia dan Tuan Pratama berjalan menuju gudang di mana tempat Eliana tidur karena Eliana selalu tidur di gudang tidak mendapatkan kamar ataupun fasilitas lainnya yang seharusnya menjadi hak milik Eliana.
"JADI KAMU INGIN PERGI ELIANA?". suara Tuan Pratama yang begitu dingin dan tinggi kepada Eliana yang akan pergi meninggalkan kediaman Pratama.
"Ayah aku mohon kalau kalian tidak menginginkan aku aku akan pergi meninggalkan rumah ini!". ucap Eliana kepada ayahnya yang menangis karena sudah tidak tahan diperlakukan begitu kasar.
"Baiklah tapi sebelum kau pergi kau harus mendapat siksaan yang lebih keras dariku baru setelah itu kau bisa pergi itupun jika kau masih memiliki nyawa". Tuan Pratama mengambil cambuk yang sudah dia pegang.
cetar...cetar...cetar...
Suara cambukan mengenai tubuh Eliana yang begitu keras menggema dalam ruangan tempat Eliana beristirahat.
Eliana tidak bisa menahan rasa sakitnya sehingga dia tidak mengeluarkan suara apapun karena apabila dia berontak maka cambukan itu akan bertambah lebih keras.
"Ampun Ayah Eliana mohon hentikan". ucap Eliana kepada ayahnya yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit akibat cambukannya.
Noda darah dan pakaian koyak karena cambukan itu begitu keras dan membekas sehingga pakaian Eliana penuh dengan darah yang merambas ke dalam pakaiannya.
"Sekarang aku kabulkan permintaanmu kau tidak akan pernah kembali lagi dan kau bukan anakku lagi sekarang juga kau pergi dari kediamanku". ucap Tuan Pratama kepada Eliana yang sudah lemas dan tidak bertenaga lagi.
Lia begitu menikmati pertunjukan itu yang membuat dia puas akan penderitaan Eliana. Amelia sendiri datang ke ruangan Eliana dan melihat dia begitu tersenyum puas melihat penderitaan.
Mereka hanya cuek melihat Eliana diperlakukan seperti itu karena mereka semua senang dan apabila Eliana diusir otomatis semua harta Pratama akan jatuh ke tangan Lia dan Amelia beserta ibu tirinya.