LEMORRA

LEMORRA
Kabar Buruk



Nio paham apa yang dimaksud Adit"Tenang gue punya kok."


"Lu yakin."Adit sedikit tak percaya,karna untuk makan saja sudah pas pasan.


"Lu kaga percaya sama gue?"


Adit menggaruk sukunya tak gatal"Bukan gitu gue heran aja, tumben juga lu."


"Yaudah lu bangunin noh tu 2 orang."tunjuk Nio dengan dagunya."Gue ke kamar mandi bentar."lanjutnya.


Adit beralih ke kasur"Taf, Bran lu mau ikut kaga."


Merasa tidurnya terganggu Altaf dan Gibran membuka matanya. Gibran yang sedang mengucek matanya menatap Adit.


"Mau kemana si malem malem gini."


"Lu mau ikut makan kaga?"Bukanya menjawab Adit bertanya balik.


"Makan?makan mie."tanya Gibran mulai sadar dari tidurnya kemudian mengambil posisi duduk.


"Nio ngajakin keluar nyari makan."


"Hah! yang bener."Gibran sedikit terkejut mendengar ucapan Adit.


"Iya."


"Gue siap-siap bentar,tu bangunin Altaf molor lagi dia."


Gibran berdiri melangkahkan kakinya menuju lemarinya dan mengambil hoodie hitam polos dan memakai nya.


Nio keluar dari kamar mandi sambil bernafas lega."Udah siap lu Gib."


"Udah ni tinggal nunggu Altaf sama Adit."seru Gibran.


"Ck! emang Altaf kebo."Nio menggeleng kan kepalanya melihat Altaf duduk mengumpulkan kesadaran.


"Taf lu mau ikut kaga?"


Altaf hanya menanggapi dengan anggukan. Kemudian berdiri mulai bersiap-siap.


 -------------------------------------------------


Empat pemuda berjalan santai di malam hari. Nio akan mengajak mereka makan di restoran lumayan dekat dengan kostnya.



Arsenio Zayanza Argantara.



Altaf Ravendra.



Aditya Magherta



Gibran Athena Ghyl


"Kalian mau makan ke restoran itu kan."


Tunjuk Nio pada restoran mewah di depannya.


"Yang bener nyo, Tu resto kan buat kalangan elit, lah kita sulit."Adit sedikit tak percaya.


"Iya nyo lu kaga becanda kan."Gibran menanggapi.


"Kaga, udah ayo masuk."Nio berjalan santai, Adit dan yang lainnya menatap Nio dengan tatapan sulit di artikan.


Mereka pun masuk ke dalam resto dan di tatap sinis oleh para pegawai.


Nio Memilih duduk di meja no 6,ia ingin di ruangan VIP namun ia malas menjawab pertanyaan teman-temannya.


Nio membuka buku menu menampilkan gambar makan yang sangat cantik dan terkesan mahal.


"Kalian mau yang mana"Nio bertanya menggeser buku menu ke tengah-tengah mereka.


"Lu kaga sakit kan nyo,tu nominal makanan nya kaga maen-maen"Gibran berceletuk.


"Udah tenang aja kalian tinggal pilih."


"Gue ini"Altaf berbicara sambil menunjukkan pesanannya.


"Oke, lu Gib Dit"Nio bertanya pada dua sejoli itu.


"Gue terserah lu aja nyo."


"Gue juga."


"Oke, bentar gue panggil dulu."


Nio celingukan mencari pelayan"Pelayan."Nio melambaikan tangan ke arah pelayan yang tak jauh dari mereka.


Pelayan menghampirinya, dan Nio menunjukkan pesanannya.


Tak berselang lama pelayan menghampiri mejanya dan meletakkan pesanan Nio.


Di saat pelayan sudah pergi mata Adit membelak tak percaya"Yo ini ngga kebanyakan?"


Nio menggeleng dan mengangkat bahunya."Udah makan aja nanti gue bayar."


Nio mulai menyantap makanannya dan disusul yang lainya.


"Eh gue lupa ngga nanya password ni kartu."batinnya mulai panik.


"Gue ke kamar mandi bentar"pamit Nio di angguki yang lainnya.


Sampai di kamar mandi ia berdiri di wastafel dan merogoh sakunya dan mengambil handphone bututnya"Untung paman Beatrix ngasi kartu nama+no nya."


Nio mulai menghubungi nomor Beatrix.


Tut Tut Tut tak berselang lama panggilan mulai tersambung.


Nio bernafas lega"Halo paman."


"Tuan muda apakah ini anda."Suara Beatrix mulai terdengar.


"Iya, paman saya mau nanya."


"Tanya apa tuan?"


"Eemm, kode password Black Crad ini apa?


"Tanggal lahir anda tuan."


"Benarkah?"


"Cobalah tuan"


"Baiklah terimakasih paman, saya tutup telfonnya."


"Tunggu tuan ada kabar buruk untuk anda"


"Kabar buruk?"ucap Nio cepat.


"Iya tuan ayah angkat anda..........


.