LEMORRA

LEMORRA
Beatrix Park



Hai


******************************************


"Ha?"


"Nio kangen Amma ngga?"tanya Amma pada Nio.


Nio hanya menggeleng kan kepalanya. "Nio kok gitu"ucapnya mengerucut kan bibirnya.


Nio hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum kaku.


"Yo kita ke kelas dulu, lu disini aja"Ucap Gibran.


"Eh iya lu disini aja"sahut Adit cepat.


Nio membulatkan matanya "Eh ko gue ditinggal"teriak Nio pada tiga temannya itu.


"Amma ke kelas yu"Ajak Nuvy teman Amma.


"Emm oke, Nio ganteng Amma ke kelas dulu ya"ucapnya pada Nio."Dada jangan lupa besok lamar Amma"Lanjutnya melambaikan tangannya. Nio kembali mengangguk kan kepalanya.


Nio pun bergegas menuju kelasnya ia tak mau ketinggalan jam kelasnya karna ulah Jeck. keberuntungan bagi Nio ia tak bertemu Jeck, bukan takut pada Jeck ia hanya menuruti amanat Aron ayah angkatnya agar tak menyalah gunakan ilmu beladiri nya.


----------------------------------_________------------------------


Tak terasa waktu pulang pun tiba, Nio dan teman temannya berhamburan keluar kampus hari mulai sore Nio, Gibran,Adit ,dan Altaf pulang ke kontrakan seperti biasa dengan berjalan kaki.


Suasana kota Xan'y sangat indah di sore hari langit berwarna jingga sehingga dapat memanjakan mata. Nio dan temannya berjalan santai sambil menikmati angin semilir menerpa wajah.


Nio memincingkan mata melihat seseorang berjalan kearahnya dengan pakaian serba hitam, ia pun menghentikan langkahnya dengan alis berkerut.


"Eh Yo lu ngapain berhenti? belum sempat menjawab orang serba hitam berdiri tepat di depannya.


"Maaf, bisa anda berbicara pada saya di sebelah sana" pintanya menunjuk ke arah barat dengan dagunya dan berjalan meninggalkan nya.


Alis Nio kembali berkerut"Siapa ni orang"batinnya bertanya-tanya.


"Gue nyamperin tu orang dulu kalian balik aja". Adit dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu.


Nio berjalan ke arah barat di mana ia di suruh oleh orang tersebut. Tepat di depannya Nio menatap mata itu dengan inten


"Tuan muda Arsen" Ucap pemuda tersebut sedikit membungkuk."Hah tuan? lawak lu"balas Nio terkekeh.


"Arsenio Zayanza Argantara" ucap pemuda tersebut membuat mata Nio membulat.


"Eh eh bentar-bentar lu ko tau nama gue?.


"Akhirnya saya menemukan anda tuan"Ucapnya sembari tersenyum.


"Loh gue tanya ko kenal gue malah manggil tuan-tuan lagi, kaga beres ni"Batinnya tak paham.


"Maaf ni kayanya lu salah orang, gue bukan tuan lu"ucapnya tam enak.


"Saya yakin anda adalah anak mendiang tuan besar Skylicer Argantara"Ucapnya sungguh-sungguh namun terkesan berat."Karna anda memakai Liontin keluarga Argantara."lanjutnya.


Nio semakin bingung mendengarkan ucapan orang tersebut"Jangan-jangan ni orang kenal ortu kandung gue"Batinnya tak paham.


"Saya yakin anda bingung tuan,temui saya di Cafe Zoery jam 8 malam"Ucapnya memberikan kartu nama pada Nio.


Nio hanya menganggukkan kepalanya dan menerima kartu tersebut, tanpa sepatah kata pun orang didepannya berbalik dan berjalan meninggalkannya.


Nio membaca kartu nama tersebut kemudian memasukkan ke dalam saku celananya, membenarkan tasnya dan berjalan santai menuju kost nya.


Di lain tempat seorang yang berumur sekitar setengah abad itu duduk dengan beralasas kursi usang yang rapuh di terasnya. Dia Aron sedang menunggu seseorang yang sejak tadi menghantui pikirannya.


Matanya memincing melihat 3 orang turun dari mobil mewah yang tak main-main harganya, dengan balutan jas dan sepatu pantofel berjalan menghampiri nya.


"Hai Aron lama tak berjumpa dengan anda"ucap seorang yang umurnya sama dengannya namun terkesan lebih gagah.


Aron mematung matanya berkaca-kaca, air mata yang selama ini tak pernah menetes akhirnya jatuh juga.


"Tu-Tuan apakah ini anda?"Tanya memastikan.


"Ck! hapus lah air mata mu itu Aron"Balasnya sambil terkekeh.


Aron menghapus cepat air matanya,"Saya tidak menangis Tuan" Sambil tersenyum Aron mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumahnya itu.


"Apa kau lupa namaku?"Tanya nya.


"Tentu saja tidak Tuan Wili"Balasnya.


Kembali ke Nio


Ia telah sampai di kostnya kemudian memutar knop pintu namun nihil tak bisa dibuka.


"Ni anak-anak pada kemana si"Kesalahannya. Sejenak ia bersandar di pintu tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.


Bruk!


Tubuhnya ambruk kelantai mencium lantai" Akhhh pinggang gue".Keluhnya sambil berdiri.


"Salah lu ngga sabar"ucap Adit.


"Lu pada kemana si lama amat dah."Gue belajar, noh 2 hama molor teros"Ucap Altaf nyinyir.


Gibran dan Adit menggaruk kepalanya tak gatal.


Malam pun tiba Nio, Adit, Gibran dan Altaf tengah menikmati mie instan, maklum anak kost.


"Oh ya gue nanti pergi bentar"Ucap Nio sambil mengunyah makanannya.


"Tumben, lu mau kemana?"tanya Gibran.


"Lu inget kan orang yang nyamperin gue nah itu."balasnya mengingatkan. Mereka hanya menggunakan kepalanya paham.


"Jam berapa lu mau pergi?"tanya Altaf.


"Jam delapan"jawab Nio.


"Ku liat jam berapa sekarang"Suruh Adit menunjuk jam dinding dengan dagunya.


"Eh buset jam delapan lewat"Kagetnya lalu berdiri menyambar kemejanya."Gue pergi bentar"Pamitnya berjalan melewati pintu.


Nio berjalan menyusuri jalan raya menikmati angin malam menerpa wajah nya memandang kendaraan berlalalu lalang, sebuah mobil berhenti di depannya jendela depan terbuka menunjukkan wajah seorang yang barusan di kenalnya.


"Mari masuk Tuan"Tawarnya pada Nio.


Nio diam sesaat kemudian bertanya"Apa Tuan bercanda menyuruh saya masuk kedalam mobil mewah anda"ucapnya mengganti cara memanggil nya.


"Tentu saja tidak Tuan apakah anda melihat wajah saya sedang bercanda?"Tanyanya.


"Baiklah"ucap Nio membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi.


"Oh ya tuan-"Ucapnya berhenti sejenak mengingat nama orang di samping nya.


"Beatrix"Sahut sang pemilik nama.


"Ah iya Tuan Beatrix Park "Ucap Nio dan hening sejenak.


"Bagaimana hari anda Tuan"Tanya Beatrix memecah keheningan.


"Baik ,Tuan sebaiknya anda menghilangkan kata Tuan jika memanggil saya"Pinta Nio.


"Tidak Tuan, seharusnya anda yang memanggil saya dengan nama"Ucap Beatrix sambil mengemudi.


"Bagaimana jika saya memanggil anda Paman dan anda memanggil saya NIO saja"Kata Nio menekan namanya.


"Terserah anda Tuan" Beatrix tetap kukuh memanggil Nio dengan sebutan Tuan.


"Paman kenapa anda bisa tau nama saya?dan sepertinya anda sangat kenal pada saya"Tanya Nio serius.


"Tentu saya mengenal anda tuan bahkan keluarga anda dengan baik"Balas Beatrix.


Nio cukup terkejut dengan kata keluarga yang di ucapkan oleh Beatrix."Keluarga?anda tau keluarga saya?"Tanya Nio bingung.


Beatrix yang sadar akan ucapannya merutuki dirinya sendiri"Ah tidak Tuan saya salah bicara"Balasnya cepat.


Nio sedikit curiga namun ia segera menepisnya"Sebenarnya anda siapa Paman?tanya Nio.


Beatrix diam seolah tak mendengarkan Nio.


"Saya adalah...