
"Seorang pria duduk merenung di teras rumahnya,rumah papan dengan atap tambal-tambalan ,ia Nio pria berumur 19 tahun yang sedang memikirkan ucapan Ayah angkatnya tadi"
"Siapa kedua orang tuaku?kenapa mereka tega membuang ku di panti?apa aku ini anak yang tak di harapkan?, pertanyaan beruntun muncul di benaknya."
"Agrhhhh!!".teriaknya kesal sambil menjambak rambutnya.
Ayahnya yang mendengar teriakan Nio pun lari keluar rumah dengan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Nio, apa yang kau lakukan bo*oh."ucap Aron kepada anaknya itu.
"Kenapa mereka tega membuang ku ?tanya Nio sambil menangis."Ck kau ini, apa kau tak malu menangis seperti ini,apa aku mendidik mu menjadi pria pengecut yang hanya bisa menangis."jawab Aron tegas."ia tak mau Nio menjadi pria cengeng yang hanya cm bisa menangis.
"Tunjukan bagai mana aku mendidik mu ,pergilah ke kota x, dimana aku mengambilmu dari panti asuhan bunda."lanjut nya sambil merogoh sakunya dan mengambil beberapa lembar uang.
ia menatap anaknya datar,di lubuk hatinya Aron sebenarnya sedih membiarkan Nio pergi ke kota meninggalkannya.
"Apa Ayah mengizinkankan ku?tanya Nio memastikan,ia ragu pada ucapan ayahnya itu.
Aron mengangguk"Jika aku yang menyuruhmu,pasti aku mengizinkanmu."balasnya menepuk pundak Nio.
Nio yang mendengarkan ucapan Ayahnya pun langsung memeluknya"terimakasih telah merawat dan mendidik ku yah"ucapnya tulus.
Aron membalas pelukan Nio dan dan menepuknya pelan kemudian melepasnya.
"Pergilah."kata Aron.
Nio pun mengangguk dan berjalan memasuki rumahnya,ia memasuki kamarnya kemudian membuka lemari dan mengemasi beberapa pakaian nya.kemudian keluar kamar menuju depan rumahnya,Aron sudah berdiri menunggu Nio.
Aron kembali merogoh sakunya dan memberikan sebuah liontin emas,jika dijual liontin tersebut sekira 2 Miliaran.Aron tau jika harga sebuah liontin tersebut lumayan untuk kehidupan nya ,tapi ia tak menjualnya Aron tau Liontin tersebut bisa tuk petunjuk Nio kelak, contohnya sekarang.
"Pakailah Liontin ini aku mendapatkannya saat mengambil mu dari panti,Liontin ini berguna untuk mencari identitas mu."Kata Aron.Nio hanya mengangguk dan mengambil Liontin tersebut dari tangan Aron dan memakai nya.
"Jaga Liontin tersebut,karna itu bukan sembarang Liontin,karna harganya yang fantastis."lanjut Aron.
Nio kemudian berjalan sambil menoleh ke arah Aron dan melambaikan tangannya.dan di balas oleh Aron .ia akan pergi ke terminal terdekat dengan menumpang mobil pick up yang membawa sayuran kekota
2 jam perjalanan ia sampai di terminal kotanya.Nio berjalan menuju kasir penjualan tiket,dan membeli satu tiket untuknya,
dan menuju tempat antrian bus.
30 menit kemudian bus yang akan membawa nya ke kota x pun tiba,ia kemudian naik dan duduk di kursi yang sudah di pesanya.
Bus yang akan membawa nya pun mulai berjalan membelah jalanan kota ,Nio menikmati perjalanannya sambil melihat Liontin nya.
"Kok gue kaya ngga asing sama ni Liontin."Gumamnya sambil mengingat -ngingatnya.
"Ni Liontin gue liat waktu di sekolah ,ada orang serba item kaya nyari seseorang dan salah satu orang ada yang make ni Liontin"kagetnya sambil membuka mata lebar.
" Jangan-jangan tu orang nyari gue."batin Nio."eits tapi kaga mungkin ngapain tu orang nyari orang miskin kek gue."lanjutnya.
"Tapi kata Ayah ni Liontin sekira 2 Miliar brati bukan sembarang orang punya kan."Gumamnya."ck makin pusing ni gue."
Tak ingin ambil pusing ia pun memilih untuk tidur menenangkan pikirannya.
5 jam kemudian Buss pun berhenti dan membangun kannya.ia kemudian turun dari Bus dan mencari tempat untuknya bisa makan.
Ia merogoh saku celananya dan mengambil handphone bututnya dan menekan tombol tuk menelpon ayah nya.setelah panggilan tersambung ,telinganya mendengar suara dari sebrang.
"Halo." panggil Aron.
"Sebelah selatan dari terminal , carilah di google maps bodo*".jawab Aron dari sebrang.
"Ah iya lupa."terdengar pun Nio sedikit tertawa.
"Sejak kapan kau pelupa."tanya Aron mengejek nya.belum sempat Nio menjawab Aron kembali berbicara.
"Sudah Sibuk kau cari sendiri ,dan ingat aku mengajari mu bela diri bukan untuk kejahatan,tapi untuk melindungi diri dan membantu orang ,gunakan dengan sebaik baik nya."jelasnya dan mematikan telpon dari Nio.
"Huhhh"Nio menghembuskan nafasnya gusar. kemudian memasukkan handphone nya kedalam sakunya.kemudian berjalan dan keluar dari kawasan terminal. ia akan mencari angkotan umum dan menuju Panti Asuhan Bunda yang tak jauh dari terminal.
Setelah lima menit menunggu sebuah angkot menghampiri nya,"Angkot bang arah jalan mawar."ucap supir Angkot kepada Nio.
Nio pun menganggukan kepala dan mulai menaiki Angkot.
Sudah ada tiga orang di angkot tersebut ,Nio pun duduk dan meletakkan tasnya di sampingnya.
Angkot berjalan kembali menuju jalan mawar Nio hanya diam sambil menatap jendela.
"Mau kemana dek?"tanya salah satu penumpang.
" Mau ke Panti Asuhan Bunda bang."Jawab Nio.
Sang Abang hanya mungut-mungut mengerti,Dan angkot kembali hening.
Di Lain tempat Aron sedang memikirkan Liontin milik Nio.
"Sepertinya Liontin tersebut simbol keluarga dan aku seperti tak asing oleh liontin tersebut,tapi dimana?dan siapa?"Batin Aron sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing,sebuah ingatan muncul dibenak nya.
Kejadian dimana dirinya menembak beberapa orang di suatu tempat.
"Kejadian apa tadi."gumamnya masih memegangi kepalanya.
Ia berusaha kembali mengingat namun nihil,ingatan tadi tak muncul kembali.
Pov Aron
Aron kemudian pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah kotak di dalam lemaringa kasurnya,ia pun duduk dan membuka kotak tersebut dan mengambil Liontin milikinya.
ia juga memiliki Liontin namun tak semahal milik Nio.
Seingat nya ia dulu berada di rumah sakit dengan balutan perban di kepalanya dan kakinya,ia tak mengingat apa-apa.
Ia sendiri di rumah sakit tak ada keluarga,untung ia memiliki cincin yang harganya fantastis untuk biaya rumah sakit dan juga membeli tanah kemudian membangun rumah kecil²an.
Setelah sembuh ia berniat pergi ke Panti Asuhan,untuk mengasuh anak agar ia tak kesepian.
Di sana ia menemukan Nio,Bayi mungil yang masih berwarna merah di gerbang Panti, sepertinya Panti belum tau jikalau ada Bayi di luar gerbang.Tanpa babibunia menggendong Bayi tersebut dan juga membawa tas yang ada di samping Bayi mungil itu.
Sesampainya di rumah ia meletakkan Bayi yang sedang tidur lelap itu di kasur nya,dan membuka tas tersebut.
Di dalamnya ada beberapa pakaian bayi lengkap dengan botol susu, susu formula juga.
Ia tertarik dengan secarik kertas yang ada di dalam botol susu tersebut,Aron pun mengambil nya dan membacanya.
"Arsenio Zayanza Argantara."Gumamnya.