
Cinta itu kotak, adil di setiap sisi nya. Cemburu itu segitiga, tajam di tiap sisi nya. Rindu itu lingkaran, tak berujung.
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamar nya, bianca mengerjapkan mata nya jam menunjukkan pukul 06.00, bianca menuruni kasurnya berjalan ke arah kamar mandi, setelah selesai mandi bianca bersiap, memakai seragam sekolah meraih tas sekolah nya lalu menuruni tangga berjalan ke arah meja makan disana sudah ada mama dan Indy.
"Kak anterin Indy ya." Bujuk nya sambil menggoyang kan tangan bianca.
"Enggak ah kamu sama mamah aja entar kakak lagi yang telat."
"Iya ndy kamu biar mamah aja yang anter." Indy hanya menganggukkan kepalanya.
"Mah biya berangkat sekolah ya, assalamu'alaikum." Bianca menyalimi tangan mamah nya.
"Waalaikumsalam." Lalu bianca pergi memakai helm lalu menaiki motor nya menuju sekolah.
Sesampainya disekolah bianca memarkirkan motornya lalu berjalan menuju kelas menaiki setiap anak tangga melewati koridor dan melewati kelas kelas yang ada disekolah nya setelah bel berbunyi bianca masuk kedalam kelasnya mendengarkan guru, mengerjakan tugas, yaa seperti biasa tak terasa bel istirahat sudah berbunyi bianca pergi ke kantin hanya untuk membeli minuman.
"Biya lo kenapa, ada cowo yang nembak lo ya, raffa nyium lo ya, dia apain lo, lo sakit ya, gua beliin obat ya." tanya risa berturut turut dan bianca hanya tersenyum.
"Ihh kok gue berasa lo pacar gue ya hahaha." Risa menatap jijik bianca "gue gapapa ris, gue lagi gak mood makan aja." Lanjutnya risa hanya menganggukkan kepala lalu memakan bakso yang dia pesan.
"Ris"
"Hmm"
"Ga jadi deh hehehe." Kekeh bianca risa hanya menatap aneh bianca.
"Eh biya tumben banget biasanya ada aja tu si cowo yang sering gangguin lo sapa nama nya." Tanya risa.
"Ohh raffa, bersyukur banget gue gak ketemu dia, seenggaknya hidup gue tenang kalo gaada dia."
"Biya harusnya lo tu minta maaf sama dia karna lo udah nabrak dia." Usul risa.
"Enggak ah yang salah dia juga ngapain coba berdiri ditengah jalan sudah tau orang telat pake di tanya lagi mungkin dia gila ihh pokoknya sebel banget gue kalo samping dia, terus dia pake bilang ke mamah kalo dia calon pacar gue amit amit gue jadi pacarnya lagian ya ada aja gitu cewe yang tergila gila sama dia gue aja he-." Belum sempat bianca melanjutkan perkataan nya
"Biya." Panggil risa, tanpa bianca sadari ada raffa yang mendengarkan keluh kesahnya itu.
"Apasih ris gue juga belum selesai ngedumel nya masih banyak yang perlu gue ceritain ke elo ris kalo gue punya mesin doraemon ni yaa gue bakal mutar waktu terus gue gak bakal telat mungkin idup gue bakalan tenteram aman damai." Ucap nya panjang lebar bianca menatap risa aneh "lo kenapa sih ris, lo sakit ya, atau tukang bakso tadi campurin racun ke bakso lo."
Risa menunjuk ke arah belakang dan bianca menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia mengetahui siapa yang ada dibelakang.
ADUHHH MATI GUE! GUE NGOMONG APA NI, GUA UDAH JELEK JELEKIN DIA, DIA MARAH GAK YA, EH KOK GUE TAKUT SIH AYOO BIYA LO GAK BOLEH TAKUT!!. Ucapnya dalam hati.
Bianca tersenyum pada raffa memperlihatkan lesung pipi yang dalam "Eeee...hhh elo, lo mau duduk disini yaa?yaudah duduk aja gue sama risa mau balik kekelas." Tanpa menunggu jawaban bianca berdiri menarik tangan risa, raffa hanya tersenyum melihat tingkah bianca.
"Cantik." Ucapnya sambil memperhatikan punggung bianca yang mulai hilang dari pandangannya seperti raffa akan kecanduan dengan senyum bianca.
Bianca dan risa berjalan tergesa gesa sambil memasuki kelasnya.
"Astaga gue udah mau dijemput Tuhan yang maha kuasa aja pas ngeliat dia."
"Husss gaboleh ngomong gitu, lo juga sih ngomong gatau tempat asal jeplak aja untung dia gak cegat lo kalo gak ****** deh lo biya."
Satu
Dua
Tiga
"Hahahahahahaha." mereka tertawa bersamaan.
"Sumpah ya kita kayak orang ***** yang dikejar maut." sahut risa, bianca yang masih tertawa terbahak bahak seketika diam guru kiler memasuki kelasnya dan walaupun banyak siswa duduk didalam kelas tak ada satu pun suara ketika guru guru kiler memasuki kelas.
Bel pulang telah berbunyi
"Ris, mau pulang bareng gue gua bawa motor." Ucap nya sambil memasukkan buku ke dalam tas nya.
"Kayak enggak, soalnya gua mau pulang bareng diky hehe." Jawabnya disertai kekehan.
"Hmmm, jomblo mah bisa apa." gerutu bianca. "Yaudah gua pulang duluan ya, oiya jangan lupa entar malem." Lanjut bianca.
"Iyaaa biyaaaa." Ucapnya sambil menarik pipi tembem bianca.
Mereka keluar dari kelas menuruni tangga, lalu risa berbelok munuju kelas 12 ips 2, dan bianca berjalan menuju parkiran, saat risa kekelas diky seseorang dari belakang mengejutkan nya dan tak salah lagi adalah pacarnya sendiri.
"Ihh kamu mah ngagetin aja." Ucap risa kesal.
"Jangan ngambek jelek diliatnya idung kamu tambah masuk ke dalam." Ejek diky risa memalingkan wajah nya malas menatap diky yang sedang membereskan buku.
"Ehh lo sepupunya bianca kan." Tanya raffa yang tiba tiba memasuki kelas, risa menganggukkan kepalanya.
"Bianca nya mana."
"Udah pulang"
"Naik apa."
"Tadi dia bawa motor kesekolah, jadi dia pulang naik motor." Jawab risa polos.
"Ohh, makasih yaa." Ucap raffa, raffa meraih tas nya keluar dari kelas berlari ke arah parkiran.
"Ehh bianca tunggu." Merasa namanya dipanggil bianca menengok ke belakang, bianca melihat seseorang yang tak asing baginya ya dia raffa.
"Kenapa." Jawab ketus bianca.
"Buset dah lo kayak mak lampir jutek banget." Ejek raffa.
"Bodoamat, buruan kenapa gue mau pulang nih."
"Nanti malam lo ada acara gak." Tanya raffa, bianca berfikir sebentar.
"Gue ada janji sama risa nanti malem" Ucapnya "Emang nya kenapa." Lanjutnya.
"Ohh gitu ya, yaudah deh lain kali aja lo temenin gue."
"Udah selesai kan, gue pulang ya." Tanya bianca, raffa menganggukkan kepalanya.
"Iya, dadah." Bianca melambaikan tangan nya seperti anak kecil raffa menatap gemas bianca dan membalas lambaian bianca.
Pukul 19.30 bianca sedang bersiap siap, dia memang ada janji dengan risa bianca menuruni tangga didepan tv sudah ada Indy yang asik menonton tv mamah nya yang sedang berada didapur memasak makan malam, lalu bianca menghampiri mamah.
"Mah, biya jalan dulu ya." Bianca menyalimi tangan mamah nya.
"Loh mamah belum selesai masak kok kamu jalan sih." Ucap Lilis.
"Nanti biya makan sama risa mah."
"Yaudah, hati hati dijalan ya nak kalo nyebrang liat kanan kiri jangan lupa makan ya sayang." Ucap nya panjang lebar.
"Baik boss." Bianca memberikan hormat pada ibunya dsertai senyuman manisnya menyalimi tangan mamanya lalu pergi.
Risa dan bianca sudah sampai ditempat yang mereka ingin kan, mereka menaiki berbagai wahana tapi yang sangat bianca suka adalah komedi putar, terakhir kali dia menaiki nya sekitar 9 bulan yang lalu saat ayahnya masih berada disisi nya, lalu bianca menaiki biang lala tapi bianca tidak duduk bersama risa, sangking senang nya risa sampe melupakan bianca yang sedang mengikat tali sepatu nya jadi bianca harus menaiki tempat yang lain hanya ada bianca dan cowo yang menggunakan topi hitam yang hampir menutupi setengah wajah nya hal yang paling dibenci bianca saat sedang naik biang Lala yaitu saat mesin nya tiba tiba berhenti.
"Kenapa mati, ayah tolongin biya." Bianca terisak tiba tiba cowo yang ada di depan bianca memeluk nya.
"Hey jangan nangis, ada gue disini jangan khawatir bentar lagi mesinnya nyala." Bianca membalas pelukan dan perkataan tersebut sedikit membuat bianca tenang selang beberapa menit mesin nya sudah baik tapi bianca enggan untuk melepas pelukannya.
"Ayah biya takut." Ucap bianca.
"Bi, lo gak perlu takut gue ada disamping lo" Ucapnya bianca merasa suara itu tak asing bagi lalu bianca mendongakkan kepala ternyata benar itu adalah raffa.
"Elo kok lo bisa disini sih." Ucapnya sambil menghapus air mata nya.
"Lah suka suka gue lah lagian ini kan tempat umum." Ucapan raffa ada benarnya.
"Iya juga sih." Ucap bianca, raffa terkekeh mendengar pernyataan bianca.
Setelah turun dari biang lala bianca sudah tidak melihat risa ternyata risa sedang berduaan dengan diky, dan bianca lebih memilih pergi ke penjual es serut.
"Mang es nya satu ya." Bianca duduk di kursi yang sudah disediakan oleh penjual.
"Siap neng." Penjual es itu mulai menyerut es "Ini neng" Lanjutnya setelah selesai menyerut es dan memberi sirup dan susu diatasnya.
"Makasih mang." Bianca tersenyum dan mengambil es serut yang dia pesan tadi, tiba tiba seseorang menarik es serut yang dipegangnya "Ehh kok diambil sih raff." Protes nya merasa tidak terima es serut nya di ambil, tapi raffa tidak menghiraukan perkataan bianca malah asik memakan es serut, bianca menatap kesal raffa lalu bianca berdiri dari kursi nya pergi meninggalkan raffa tanpa satu kata pun.
"Bi, tungguin gua, gua belum selesai makan." Raffa hendak mengejar bianca tapi tangan nya ditahan oleh penjual es
"Mas bayar dulu atuh." Raffa mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memberi penjual es "Ini teh gaada angsulnya mas." Lanjut nya.
"Ambil aja mang." Sesegera mungkin raffa mengejar bianca.
"Makasih mas semoga pacarnya mas ga marah lagi."
Bianca berjalan dengan rasa kesal mencari angkot tapi tidak ada angkot yang ingin mengantar ke arah rumahnya, motor ninja berwarna hitam berhenti tepat Dihadapannya, yaa bianca tidak asing lagi dengan orang itu, bianca mengalihkan pandangannya ke arah lain tidak ingin melihat wajah raffa.
"Bi biar gue yang anter lo pulang."
"Gak makasih." Jawab nya ketus, bianca membalikkan badan nya hendak pergi dari hadapan raffa tapi raffa menahan tangan nya memakai kan helm ke kepala bianca dan membopong badan "Ehh turunin gue bisa pulang naik angkot" lanjutnya.
"Diem"
raffa mendudukkan bianca di motornya lalu raffa menaiki motornya menyalakan mesin nya lalu mengantar bianca pulang di sepanjang perjalanan tidak ada suara, bianca enggan berbicara dengan raffa dan raffa pun masih enggan untuk bicara dia hanya fokus pada jalanan dan pada akhirnya mereka sudah sampai dirumah bianca.
"Makasih." Ucap bianca lalu melepas helm dan memberikannya ke raffa.
"Bi gue minta maap tadi gue haus banget."
"Ya"
"Bi gue serius lo malah jawabnya gitu."
"Iyaaa raffaaaa gue maafin lo, udah kan puas." Bianca membalikkan badannya tapi raffa menahan tangan bianca.
"Ikhlas gak maafin gue." Tanya raffa lalu mengulurkan tanda sebagai permintaan maaf.
"Ikhlas raffa." Lalu membalas uluran tangan raffa.
"Makasih bi." raffa tersenyum.
"Oiya satu lagi bisa gak sih lo jangan manggil gue bi risih gue denger nya emang gue **** apa lo panggil bi."
"Hahahhahahahha."
Satu
Dua
Tiga
"Udah ketawanya. " Ucap bianca dengan wajah datar.
"Udah." Raffa diam beberapa detik lalu melanjutkan perkataan nya "Jadi gue manggil lo apa, sayang." Ucapnya sambil tersenyum jahil.
"Najis." Bianca menatap jijik raffa yang sedang menahan tawa.
"Gimana gue manggil lo bocil." Raffa tersenyum jahil ke arah.
"Enak aja badan gue gak kecil kecil amat ya awas lo manggil gue bocil gue hajar lo." Menatap raffa yang menahan tawa "Panggil gue biya aja." Lanjut nya dan raffa menganggukkan kepala.
"Gue masuk dulu." Tanpa menunggu raffa menjawab bianca membalikkan badannya membuka pintu rumahnya.
Setelah pulang jalan bianca mengganti baju nya dan mencuci muka lalu bianca merebahkan dirinya ke bantal menatap aksesoris bintang bintang pemberian ayah nya, menurut nya jika ia menempelkan bintang bintang itu di langit langit kamarnya dia merasa ada wajah ayahnya yang tersenyum ke arahnya di salah satu bintang yang terang saat bianca mematikan lampu kamarnya, tiba tiba handphone bianca bergetar tanda ada pesan masuk, bianca meraih handphone.
Bianca membuka room chat nya betapa terkejutnya dia melihat ada nama raffa bagaswara diroom chat nya dia membuka pesan yang dikirim raffa lalu membacanya dan sesaat kemudian bianca tersenyum setelah membaca pesan dari raffa, perlahan matanya mulai meredup dan tertidur pulas menuju mimpi indahnya.
Good night
I Wish I was in Your dreams