
Kalau di pikir, kita itu seperti air dan minyak. Sekeras apapun disatukan, pasti gak akan pernah menyatu.
-Raffa bagaswara
Bianca sedang mengelilingi taman yang berada dekat dengan komplek rumah nya saat sedang berjalan bianca melihat penjual gula gula dan menghampirinya.
"Mang harga nya berapa," tanya bianca, tangannya menunjuk gula gula.
"5 ribu neng, murah pisan ini mah."
"Yaudah deh mang beli 2. Ini duitnya mang," sambil ngasih duit ke penjual.
"Makasih ya neng. Dijamin habis makan gula gula neng tambah manis,"ucapnya bianca hanya tertawa dan pergi meninggalkan penjual gula gula.
Bianca berjalan menghampiri kursi dan duduk di kursi sambil membuka bungkus gula gula dan membukanya lalu memakan nya.
"Yang ini buat gua ya?" Tanya seseorang dari belakang yang tak lain adalah raffa.
"Lo bisa gak sih kalo datang ngucap salam kek kayak hantu aja tiba tiba ngomong," ucap bianca kesal.
"Emang hantu bisa ngomong?" Raffa membuka bungkus gula gula lalu memakannya.
"Ehh enak aja lo makan beli sendiri sono," bianca mengambil kembali gula gula dari tangan raffa.
"Gua kagak bawa duit," lalu mengambil kembali gula gula yang ada ditangan bianca.
"Terserah," ucap bianca ketus pergi meninggalkan raffa.
"Ehhh tungguin gue napa," bangkit dari kursi, berlari mengejar bianca dan merangkul bianca.
"Ihh apaan sih"bianca menepis tapi usahanya gagal.
"Gak pernah kan lo di giniin sama cowo yekan ngaku lo?"
"Ga juga"
"Gue Pengen makan dirumah calon mertua gue boleh kan?"tanya raffa dan berharap semoga bianca mau.
"Pergi sono ngapain lo bilang ke gue."
"Kan rumah calon mertua gue itu rumah lo," bianca membelalakan matanya.
"Kagak lo punya rumah kan makan aja di rumah lo sono."
"Mamah sama Papa gue cerai, sebenernya ada bibi cuman gue males makan sendirian dirumah," baru kali ini raffa bisa mengungkapkan keadaan rumahnya pada orang lain. Hanya pada diky dia bisa bercerita.
Setelah mendengar perkataan raffa akhirnya bianca luluh, "yaudah lo makan di rumah gue."
"Ntar kalo lo gak makan bisa mati," ucap bianca sambil tertawa.
"Lo doain gue biar mati ya,"ucap raffa sambil mengacak acak rambut bianca.
"Iss rambut gua berantakan kan," raffa hanya tersenyum dan mereka berjalan menuju rumah bianca.
Sesampai nya dirumah raffa sudah disambut baik oleh mama bianca.
"Loh ada tamu ternyata?"ucap lilis.
"Iya ma ini tem-"belum sempat bianca menjawab raffa langsung angkat bicara.
"Assalamualaikum calon mama mertua saya calon pacarnya bianca," bianca langsung membelalakan mata nya dan mencubit pinggang raffa.
"Aduuhh sakit."
"Bodo!" Lilis hanya tertawa melihat tingkah anak nya pasal nya baru kali ini anak membawa laki laki ke rumah nya.
Lilis sedang berada didapur menyiapkan makanan mengaduk sayur yang sedang dimasak melakukan berbagai pekerjaan selayaknya orang memasak.
"Tante biar raffa bantuin yaa,"ucap raffa sambil mengupas bawang.
"Emang kamu bisa masak?"
"Ihh tante mahh, jangan salah gini gini raffa pinter masak tau,"ucapnya sambil memasukan ayam kedalam penggorengan lalu mengaduk aduk sayur, mama bianca menyunggingkan senyuman.
"Biya, kamu gaada niatan buat bantuin mama?"
"Iya iya di bantuin, " bianca berjalan menuju dapur.
"Biya bantuin apa?"tanyanya.
"Emmm..kamu bantuin ulekin cabe yaa," bianca mulai mengerjakan apa yang diperintahkan lilis, Raffa menghampiri bianca dan mendekatkan bibirnya ke telinga bianca.
"Jadi cewe harus pinter masak biar disayang suami," ucapnya disertai tawa.
"RAFFAAAA" teriaknya bianca ingin memukul raffa dengan ulekan tapi Raffa kabur.
Selang beberapa menit "Mahh, ini udah halus apa belum?"
"Udah kok, tumben kamu mau aja mama suruh atau ada raffa ya makanya kamu sok rajin," sambil tersenyum jahil dan tertawa
"Ihhh mamah apaan sih gak lucu tau," bianca berjalan pergi meninggalkan mamanya.
"Tante udah selesai ni,"ucap raffa.
"Yaudah ayo kita sajikan ke meja
makan," berjalan ke arah meja makan.
"Biya, bantuin mamah lagi dong mau gak?" bianca berjalan menuju meja makan.
"Bantuin apa?"tanya bianca.
"Susunin piring, nasi, lauknya sama gelas yaa."
Bianca mulai menaruh lauk, nasi, piring dimeja makan menyusun gelas tak lupa bianca mengelap meja makan tersebut.
"Bi, enak gak masakan gua?"tanya raffa dan bianca hanya mengangguk.
"Ckk, Iya iya enak" sambil tersenyum paksa.
Setelah mereka makan bianca membantu mamanya membereskan meja makan dan mencuci piring setelah selesai melakukan tugasnya bianca berjalan menuju kamar nya.
"Bi gue mau pulang," ucap raffa sambil memakai helm nya.
"Yaudah sih pulang aja sana,"ucap bianca ketus.
"lo mah gitu amat sama gua, anterin sampe depan pintu kek," ucapnya sambil menarik tangan bianca.
"Lebay banget lo pake dianterin segala emang lo anak kecil apa harus dianterin."
"Lo gak capek apa dari tadi ngomel mulu gua capek dengernya, yaudah gua pulang dulu," bianca hanya menganggukkan kepalanya dan raffa menaiki motornya dan melaju pergi dari rumah bianca.
"Dasar cowo aneh." gumamnya lalu menutup pintu rumah nya.
***
Hari demi hari dilewati bianca dan raffa, raffa masih saja senang mengganggu bianca seperti penguntit membuat bianca emosi tapi tetap ditahannya jika bukan karna risa menyuruh nya untuk tidak memukul, dia mungkin sudah memberi tanda di wajah raffa.
Jam menunjukkan pukul 15.00,bianca masih berada disekolah lebih tepatnya dia berada di perpustakaan bianca menggunakan Headset dan mulai membaca buku, suasana diperpustakaan memang sangat sepi hanya ada beberapa anak yang sedang mengerjakan tugas.
"Lo emang suka menyendiri ya?"tanya seseorang dari belakang.
"......"
bianca tidak menghiraukan karna dia tidak mendengar apapun lalu Raffa melepas Headset yang dipakai bianca.
"Ihhh lo gangu aja,bisa gak sih lo kalo datang ngucap salam atau apa kek lo kayak hantu aja datang gak ngucap salam," oceh bianca.
"Emang lo pernah didatengin hantu?" Tanya Raffa.
"yaa gak gitu juga kali,udah ah gue males debat sama lo yang ada gua naik darah," sambil membereskan buku dan pergi meninggalkan Raffa.
"lo mah kebiasaan main tinggal tinggal doang."
"Raff bisa gak sih lo jangan ngikutin gue?"ucap bianca memohon.
"Gabisa." jawab raffa.
"Terserah."
Bianca melewati koridor tak ada orang hanya dia dan raffa yang berada di koridor dan keadaan koridor saat itu sepi karna sdh tidak ada lagi siswa yang berkeliaran, mereka saling diam tidak ada yang mau angkat bicara sampe pada akhirnya Raffa menarik tangan bianca.
"Gue yang anter pulang," raffa menarik tangan bianca hingga ke parkiran sekolah nya hanya sedikit motor yang terparkir disitu.
"Ih lepasin dulu tangan gue," Raffa melepaskan genggamannya. Bianca hanya mengelus elus pergelangan tangan nya, "Raff gue bisa pulang sendiri kok, gue juga ada urusan sedikit. Lo pulang aja sono entar ma-" belum sempat bianca ngomong panjang lebar raffa langsung memotongnya.
"Yakin lo," Bianca mengganggukkan kepala nya yakin dan raffa sempat berfikir dan melanjutkan perkataan nya, "yaudah gua duluan hati hati dijalan bi," raffa memakai helmnya dan melaju pergi meninggalkan bianca.
Bianca berjalan keluar gerbang sekolah lalu dia menaiki taksi tersebut ternyata tanpa bianca tau raffa tengah mengikutinya.
Taksi bianca berhenti di sebuah rumah penampungan anak penderita kanker, bianca membayar ongkos lalu keluar dari taksi bianca memasuki tempat tersebut perawat disana sudah tak asing dengan gadis satu ini karna bianca ada salah satu pengajar anak yang menderita kanker.
Bianca menyunggingkan senyum lebar nya setelah memasuki ruangan melati anak menyambut baik kedatangan bianca mereka sangat senang dengan kedatangan bianca mereka mendatangi bianca lalu memeluk bianca.
"Kak biyaa rambut ara sudah mulai tumbuh," ucap anak tersebut pada bianca.
"Wahhh,nanti kalo udah panjang kak biyaa yang ikatin rambutnya yaa," sambil memeluk ara.
"Kak biyaa liat gambaran bagas," menjulurkan buku gambar ke arah bianca
"bagus kan?" Lanjutnya.
"Wihhh bagus banget kak biyaa mau kasih nilai 90 aja deh" ucapnya lalu mengambil pulpen ditas nya "nih" lanjut nya sambil memberi buku gambar ke bagas.
"Makasih ya kak biya." ucap bagas biya menganggukkan kepala lalu tersenyum.
"Eumm....kak biyaa,"ucap bagas ragu. Bianca menatap binggung ke arah bagas "bagas boleh peluk kak biya gak," Lanjutnya dan bianca tertawa.
"Boleh dong masa gak boleh."
bianca langsung memeluk bagas erat tiba tiba bagas menangis dalam pelukan bianca pundaknya naik turun lalu bianca melepas pelukan nya dan menghapus air mata bagas memang diantara anak yang lain bagas lah yang sangat dekat dengan bianca.
"Bagas kenapa nangis?"
"Bagas takut suatu saat nanti bagas gabisa liat kak biya lagi," ucapan tersebut membuat hati bianca seperti teriris pisau mata bianca mulai perih tapi bianca harus kuat didepan anak kecil itu.
"Bagas gak boleh ngomong gitu, bagas harus kuat bagas pasti sembuh kalo bagas sudah sembuh kak biya pasti beliin bagas ice cream janji deh" ucap bianca mengacungkan jari kelingking nya.
"Janji" bagas menghapus air matanya lalu melingkarkan jari kelingking nya dijari kelingking bianca.
Setelah bianca berjumpa dengan anak anak, bianca keluar ruangan.
Tanpa sadar dari tadi ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari awal, bianca masuk ruangan sampe bianca keluar ruangan. Raffa sempat memperhatikan bianca yang sedang mengobrol dengan salah satu perawat sebelum akhirnya bianca berjalan keluar Raffa yang penasaran mengapa gadis SMA rela meluangkan waktu ke tempat ini, raffa mendatangin perawat yang sempat ngobrol dengan bianca.
"Mbak, saya mau nanya."
"Mau nanya apa mas?" Tanya sang perawat.
"Mbak kenal cewe yang ngobrol sama mbak itu?" Sambil memperhatikan punggung bianca yang menghilang dari pandangan nya.
"Ohh mbak biyaa, dia itu salah satu pengajar anak anak penderita kanker," ucap sang perawat dan raffa benar benar terkejut.
"Sejak kapan dia jadi pengajar mbak?"
"Sejak ayah nya meninggal, sebulan setelah ayahnya pergi menghadap Tuhan Karna divonis dokter terkena kanker paru paru. Mbak biya memutuskan untuk jadi pengajar anak anak penderita kanker," ucap sang perawat panjang lebar.
"Ohh gitu yaa mbak, makasih ya mbak."
Raffa berjalan keluar dari tempat tersebut diperjalanan pulang raffa terus memikirkan perkataan perawat tersebut, "mbak biya salah satu pengajar anak Anak penderita kanker" Raffa terkejut mengetahui hal tersebut gadis kelas 3 SMA rela membuang buang waktunya menjadi pengajar anak anak penderita kanker, sekarang Raffa tau dibalik cuek dan dinginnya bianca ternyata sebenarnya bianca baik dan memiliki hati yang sangat baik.
"Ternyata gue udah salah nilai lo bi, gue kira lo gadis manja yang tak peduli sama sekitar lo, cuek dan sifat dingin lo itu sebenarnya bukan diri lo pasti ada penyebab nya lo gini, pas gue ngeliat lo tadi gue bener bener yakin kalo gue udah jatuh cinta sama lo," ucap nya lalu menjalankan motornya.